GADIS SEWAAN CHAIRMAN

GADIS SEWAAN CHAIRMAN
PIKNIK


__ADS_3

Taman kota ramai pagi ini, banyak keluarga lain juga sedang asyik menghambiskan waktu sambil mengasuh anak mereka. Sebagian lagi ada yang bersepeda atau main badminton.


Zachira menggelar tikar plastik yang mendadak dia beli saat perjalanan ke taman. Di Mansion mewah itu sama sekali tidak dia temukan benda seperti ini. Mungkin karena pemilik rumah adalah seorang single dad yang bodo amat akan segala sesuatu.


"Kenapa kita tidak cari restoran saja? Gelar tikar begini kan repot!"


Allandra mengeluh, berusaha membantu Zachira menggelar tikar itu namun tidak bisa. Sementara Zio, dia sudah asyik bermain dengan bola di atas rumput.


"Kalau di restoran namanya bukan piknik! Udah ah, anda diam saja di pinggir. Biar saya yang menyelesaikan semuanya!" Zachira menggebah pria di seberangnya dengan galak. Bukan membantu, baginya Allandra hanya menghalangi saja.


Usai tikar digelar dia membuka sandal kemudian duduk sambil mengeluarkan makanan dari dalam tas anyam rotan. Ada nasi goreng seafood kesukaan Allandra, kue cokelat, biskuit, salad buah, kripik kentang rendah lemak, susu, serta kopi dari dalam tumbler khusus.


"Kau menyiapkan makanan sebanyak ini?" Allandra membulatkan mata. Ikut duduk di sebelah gadis yang hari ini mengepang rambutnya. Dia tampak cantik dengan sweater cardigan berwarna merah muda berpadu dengan kaos polos putih dan rok sulur berbahan jatuh yang sempurna menunjukan betis mulusnya.


"Kita kan bertiga, segini cukup." Gadis itu menjawab seadanya, melambaikan tangan ke arah Zio.


Selama beberapa saat mereka terdiam, menonton tingkah menggemaskan anak itu yang kini sedang mengejar capung. Jelas sekali dia tampak senang diajak piknik.


"Aku tidak pernah melihat Zio sesenang itu."


Tahu-tahu Allandra bersuara. Membuat gadis di sebelahnya menoleh.


"Dia senang bermain di ruang terbuka, makanya kalau ada waktu luang saya sering membawa dia jalan-jalan." Zachira menjelaskan sambil mulai menuang kopi ke sebuah cangkir plastik. Menyerahkan itu kepada bossnya.


"Ya ... aku terlalu sibuk bekerja, tidak pernah sempat mengajak dia bermain seperti ini. Sejak lahir dia hanya bolak-balik antara Mansion dan Kantor." Pria itu berkata pelan, jelas ada getar dalam suaranya.


"Figur ayah yang buruk." tambahnya.


"Semua itu anda lakukan semata untuk masa depan Zio bukan?" Zachira mencoba menghibur. Dia tidak tega melihat raut mendung dari pria di sebelahnya.


"Kau benar, aku bekerja siang malam agar dia mendapat masa depan yang lebih gemilang." Ungkapnya. Melambaikan tangan ke arah Zio yang kini sedang berlari ke arah mereka.


"Oy, kalian di sini?"


Seseorang tiba-tiba menghentikan sepeda. Zachira dan Allandra menoleh.


"Daniel? Kau sedang apa di sini?"


Daniel melempar senyum, melepas helm kemudian tanpa diminta ikut duduk di atas tikar. Memeluk Zio kemudian mendudukan anak itu di pangkuannya.


"Aku biasa bersepeda di sini tiap minggu." Jelasnya.


"Pantas badan anda kuat, sering olah raga rupanya." Zachira tersenyum sekilas. Menuang kopi ke cangkir lain kemudian memberikannya pada Daniel.

__ADS_1


Mendengar ucapan gadis itu Daniel tertawa. Sementara Allandra justru mengalihkan pandangan, entah kenapa dia sedikit tidak nyaman akan kehadiran pria itu.


"Kau dengar Al? Orang yang suka olahraga itu lebih diperhatikan!" Daniel melempar senyum seraya menaikan alis ke arah kawannya.


"Biarin, lagi pula tanpa olahraga saja aku sudah tampan!" Pria itu melipat lengan dengan sombong.


"Apa hubungannya olahraga dengan tampan?" Zachira menautkan alis, heran dengan cacat logika dari ucapan bossnya.


"Orang berolahraga karena ingin terlihat tampan bukan? Sementara aku tanpa olahraga saja sudah tampan. Jadi buat apa?"


Ungkapan macam apa itu?


"Setahuku olahraga itu untuk kesehatan badan, bukan untuk ketampanan!" Zachira menyanggah. Membuat Daniel spontan terbahak.


"Sudah cukup, aku lapar ... ayo makan!" Allandra menghentikan obrolan itu kemudian membukan tepak berisi nasi goreng seafood. Menyendok isinya dengan gemas dan kesal hingga tersedak.


"Hei, makan pelan-pelan!" Zachira buru-buru mengasongkan air minum. Memijat tengkuk leher pria di sebelahnya pelan-pelan.


Daniel terdiam, ada sesuatu yang mengganjal di hati melihat Zachira begitu perhatian kepada kawannya. Entah, dia sendiri tidak tahu apa.


"How do you feel now?" Zachira kembali bertanya. Disambut anggukan kecil dari Allandra, "lebih baik." Ungkapnya.


"Yasudah lanjutkan makanya. Zio sini ... makan dulu," gadis itu menarik lengan Zio dari pangkuan Daniel.


Bibir yang menurutnya mungkin semanis permen kapas rasa strawberi. Andai saja bisa dia rasakan.


"Ah ya, apa saja." Daniel menjawab gugup. Melepas sepatu yang dia kenakan kemudian ikut bersila di atas tikar, memulai kembali obrolan dengan Allandra lewat bahasan kantor. Menyimpan rapat apapun yang sempat terlintas di kepalanya saat menatap obsidian hitam milik gadis itu.


***


"Kau menyukai gadis itu?"


Deg!


Kepala Daniel spontan menoleh, pria di sebelahnya menyesap kopi dengan kalem, kedua matanya tidak lepas memperhatikan Zachira dan Zio yang sedang bermain bola. Tampak begitu riang.


"A-apa? Apa maksudmu?" Daniel tampak gelagapan. Sejak dulu dia memang tidak pandai menyembunyikan perasaan. Lihat saja, sekarangpun wajahnya sudah memerah macam tomat.


"Sejak awal aku tahu kau tertarik pada gadis itu." Allandra kembali berbicara, masih tanpa ekspresi. Entahlah apa yang ada di benaknya saat ini.


"Kau sendiri?" Daniel balas bertanya. Membuat kepala cokelat pria itu menoleh sejenak. Dia hanya menaikan sebelah alis sebelum kembali mengalihkan pandangan.


"Aku? Untuk apa aku menyukai dia?" Dari getar suaranya jelas dia sedang tidak jujur sepenuhnya.

__ADS_1


"Kau sudah hidup seatap dengan gadis itu lebih dari dua bulan. Membesarkan anak yang sama, berperan sebagai ibu dan ayah. Apa benar kau tidak merasakan apa-apa?" Kembali Daniel bertanya.


Allandra terdiam.


Dia sendiri bingung dengan perasaannya. Gadis itu seperti matahari di waktu pagi, hangat ... menerangi dunia seusai gelap. Dia seperti pelangi di hidup Zio ... juga hidupnya.


"Ayo ajak yayahnya main!" Zachira terdengar bersuara. Melambaikan tangan bersama Zio, menunjukan bola.


"Yayah come hele!"


Pria itu menghela napas, menepuk bahu Daniel sebelum bangkit berdiri.


"I don't know about my feel. I think ... i just need her, for my son." Jelasnya, gegas bergabung dengan mereka berdua. Bermain layaknya sebuah keluarga.


Daniel menaikan seulas senyum, "Just need for his son? Bullsh*t!" Desisnya. Ikut berdiri dan bergabung dengan mereka. Melupakan sesuatu yang mendadak sakit, entah apa.


***


"Thank's for today," ucap Allandra begitu Zachira menutup pintu kamar Zio. Gadis itu terdiam sejenak, ini kali pertama dia mendengar boss nya mengucapkan terimakasih tanpa di minta.


"Kenapa harus berterimakasih? Ini sudah kewajiban saya bukan?" Gadis itu tersenyum simple, beranjak meninggalkan pria di depannya. Namun baru dua langkah lengannya di raih oleh sesuatu.


Deg!


Jantungnya mencelos, jemari Allandra kini tengah menggenggam lengan miliknya dengan kuat.


"A-ada apa?" Gadis itu tergagap. Kaget dengan apa yang dilakukan boss nya.


"Bisakah tetap jadi ibu Zio dalam waktu yang lama?" Pintanya, begitu pelan dan dalam. Sejenak Zachira tidak menyangka pria yang kini bicara di depannya adalah Allandra.


"Kenapa anda bilang begitu? Saya ... saya sudah terikat kontrak bukan?" Gadis itu terdengar kebingungan.


Bukan menjawab Allandra justu mengalihkan pandangan.


"Aku hanya takut kau akan pergi, meninggalkan putraku yang sudah sangat mencintaimu."


Entahlah ... apa yang dia rasakan saat itu. Hanya saja untuk kali pertama dia melihat sorot lain di mata pria dingin itu. Sorot yang dulu ... dulu sekali pernah diberikan seseorang juga untuknya.


"S-saya permisi, sudah larut." Gadis itu menarik halus lengannya. Mengangguk sebelum masuk ke dalam kamar.


Dia tidak sempat menengok lagi, langsung menutup pintu dan menguncinya.


Jatuh ... terduduk dan bersandar ke pintu. Memegangi dada yang entah kenapa terasa sakit, mata itu ... sorot itu ....

__ADS_1


'Kenapa harus kulihat lagi?' Bisiknya dalam diam.


__ADS_2