
"What are you doing now Zach?"
Di belahan bumi yang lain. Tepatnya di rooftop mansion megahnya, Allandra termenung menatap langit malam. Sejak tadi dia tidak ingin beranjak dari sana. Malas masuk ke dalam mansion yang kini terasa begitu sunyi, tidak terdengar gelak tawa Zio, juga senandung riang Zachira.
Mungkin ini terkesan berlebihan, apalagi mereka baru pergi pagi tadi. Namun tetap saja, terbiasa hidup dengan mereka berdua membuat Allandra kesulitan berdiam seorang diri di tempat seluas ini.
"Telpon jangan ya?"
Dia menimbang-nimbang ponsel yang ada dalam genggamannya. Sejak tadi sudah ada nama Zachira tertera di sana, namun berkali mencoba, berkali pula urung. Dia terlalu gugup dan bingung.
Sekali lagi dia menyalakan layar ponsel, menampilkan dengan jelas foto dirinya bersama Zio juga Zachira di layar utama sebagai wallpaper. Mereka tampak tersenyum lebar mengenakan bunny hat sambil memegang kembang gula.
Allandra masih ingat, foto itu diambil saat mereka bertiga mengunjungi Funfair yang diadakan di pinggiran Jakarta. Zachira mendengar kabar soal acara itu dari pembantu tetangga sebelah yang kerap mengajaknya berbincang saat membeli sayur depan komplek.
"Kenapa harus jauh-jauh ke Funfair begitu sih Zach? Kalau mau kita bisa ke Mall yang dekat, di sana juga udah banyak wahana macam itu." Allandra mengeluh dari balik kemudi. Seumur-umur dia belum pernah yang namanya datang ke acara Funfair.
"Beda! Funfair itu lebih mirip festival. Lebih ramai, apalagi di sana enggak terlalu mahal macam dunia fantasi atau yang ada di mall kelas atas." Zachira berargumen. Di saat pria disebelahnya manyun, dia malah tampak bercanda ria dengan Zio. Berceloteh tentang apa saja yang akan mereka lakukan di tempat hiburan itu.
Setelah perjalanan satu jam lebih, Allandra memarkirkan mobil mewahnya di pinggir jalan. Seorang juru parkir dadakan melambai-lambaikan tangan sambil meniup peluit.
"Duh boss, mobil bagus begini kok dibawa ke tempat murah? Enggak sayang?" Si juruparkir menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Allandra mendelik kesal, lihatlah, belum apa-apa mereka sudah jadi sorotan.
"Yayah come!"
Ketika tersadar, dia kaget melihat Zachira dan anaknya sudah berlari-lari kecil ke arah loket pembelian karcis.
"Sialan, seenaknya aja main tinggal ... woy, tungguin!"
Allandra berteriak, setengah berlari mengejar mereka.
"Kok yayah ditinggal sih?" Dia ngosngosan di depan Zio dan Zachira yang nyengir. Memegang tiga buah tiket. "Anda lambat sih, udah deh yuk masuk!" Zachira kembali meraih tangan Zio dan menuntunnya. Allandra buru-buru menyambar tangan anaknya yang satu lagi, tidak mau sampai ditinggal seperti tadi.
Dan mata mereka terbelalak menyaksikan keramaian di sana. Ada biang lala, komidi putar, go-car ... dan berbagai permainan lain yang umumnya menghiasi Funfair seperti itu.
Banyak sekali penjual yang menjajakan makanan, aksesoris, lampion warna-warni, gulali, dan banyak lagi.
Allandra menatap keramaian itu tanpa berkedip, ketika Zachira menoleh, dia bahkan tertawa karena mulut laki-laki 28 tahun itu setengah terbuka.
'Sudah kubilang, dia akan menyukai tempat ini' gadis itu bergumam dalam hati.
"Mbu pen naik tu ...." Zio menarik-narik lengan Zachira. Menunjuk komidi putar yang berkerlap-kerlip oleh lampu.
"Boleh, sebentar ...."
__ADS_1
Zachira menepuk bahu pria di sebelahnya yang masih bengong. "Mangapnya udah dulu, yuk ke sana. Zio pingin naik itu."
Allandra tersadar. "Naik apa? Komidi putar?" Dia tampak kaget. Menatap wahana itu dengan ngeri, tidak bisa dibayangkan kalau tiba-tiba benda itu berputar dengan kecepatan tinggi dan menerbangkan mereka semua.
"Iyup, boleh?"
"But Zach ... it's look like ... danger, gimana kalau nanti-"
Kalimatnya terhenti, gadis di dekatnya itu terbahak, benar-benar terbahak hingga jongkok sambil memegangi perut. Allandra mendengus, memangnya apa yang lucu dari perkataannya sampai-sampai gadis itu tertawa?
"Itu cuma komidi putar Tuan Allandra ... anda ada-ada saja!" Gadis itu masih berusaha mengendalikan tawanya yang tidak mau berhenti. Kemana saja laki-laki yang katanya pengusaha muda paling kaya di Jakarta itu? Kenapa urusan Komidi Putar saja dia tidak tahu?
"Udah deh ayok, kita naik sama-sama." Gadis itu menggendong Zio dengan satu lengan sementara tangan yang lain meraih jemari laki-laki di sebelahnya.
Deg!
Allandra merasakan jantungnya berhenti sejenak. Ini kali pertama Zachira menggenggam jemari tangannya. Sayangnya dia tidak menyadari apapun karena saat itu gadis yang membuat debar aneh di jantungnya sudah lebih dulu menarik nya ke arah komidi putar.
Hampir tiga jam mereka bermain-main di Funfair itu. Mencoba berbagai wahana, termasuk biang lala. Rupanya begitu diajak menaiki komidi putar, Allandra yang awalnya ketakutan setengah mati justru ketagihan, berkali-kali menarik lengan Zachira dan Zio mencoba wahana lain.
"Ini pakailah ...."
Zachira mengasongkan bunny hat yang dijual di sebuah kios kepada pria di sebelahnya. Dia juga membeli satu untuk Zio dengan model yang sama, berjongkok dan memakaikan benda itu ke kepala anak asuhnya.
"Loh kenapa enggak dipakai?" Gadis itu mendongak ke arah boss nya. Allandra yang sejak tadi memperhatikan dirinya tersadar, tampak salah tingkah sambil meremas topi yang diberikan Zachira.
"Sini aku pake in," gadis itu tanpa permisi merebut topi di tangan Allandra dan memasangkannya di kepala pria itu.
"Hei ... enggak sopan!" Pria itu buru-buru mundur. Dia baru saja ingin mengomel dengan sikap tak sopan pegawainya itu. Namun urung ketika di depannya Zachira tertawa lebar hingga matanya yang kecil itu nyaris tenggelam. Kedua pipinya merona seperti tomat. Sungguh pemandangan indah di tengah keramaian bermandi cahaya malam ini.
"Yuk ambil gambar!" Ajaknya sambil menggendong Zio yang asyik mengunyah kembang gula. Walau awalnya malu-malu, Allandra akhirnya mau juga mereka beberapa kali mengambil gambar, terakhir tangannya tanpa sadar bahkan merangkul pinggang ramping Zachira, menghimpit Zio yang tetap berada di gendongan itu.
Potret yang begitu mengena. Mereka tampak benar-benar seperti keluarga. Keluarga utuh yang saling mencintai.
Cinta?
"Ada-ada saja!" Pria itu menggeleng, menutup layar ponsel sebelum meninggalkan rooftop. Ini sudah lewat tengah malam. Zachira pasti sudah tidur bersama Zio, dia tidak ingin mengganggu. Biar besok saja, siapa tahu Zachira akan menghubungi dirinya lebih dulu.
***
Dan sampai tengah haripun telpon itu tidak kunjung ia terima.
"Kenapa sih uring-uringan begitu?" Daniel menegur kawannya kesal. Sejak tadi Allandra gelisah dan marah-marah tidak jelas. Sewaktu rapat bersama bawahan saja dia berkali-kali marah tanpa alasan yang jelas. Membuat beberapa pegawai baru tampak mengkeret ketakutan.
"Gue kesel, kenapa sampai jam segini cewek itu enggak juga nelpon gue! Padahal udah gue wanti-wanti supaya langsung ngasih kabar begitu nyampe di Bandung." Laki-laki itu mengomel.
__ADS_1
Daniel mendecakkan lidah, "memang kenapa sih? Dia mungkin masih capek, belum lagi mungkin sibuk sama keluarganya. Namanya juga pulang kampung."
Mendengar ucapan Daniel tidak meringankan apapun. Dia malah makin kesal karena merasa diacuhkan, lihat saja, begitu menelpon akan dia beri pelajaran gadis itu!
"Memang dia berencana berapa lama di sana?"
Daniel kembali bertanya, karena sebetulnya dia juga akan merasa kesepian kalau Zachira tidak ada. Biasanya kalau ada Zachira, tiap dia bertandang ke Mansion milik Allandra tentu akan disuguhi aneka kue dan kopi. Gadis itu sudah macam barista dan koki aneka pastry. Berbakat!
"Aku tidak tahu pastinya. Dia bilang paling cepat 10 hari ...." Allandra menjawab lemah.
"Mamp*s!" Daniel terbahak, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kelabakannya Allandra berada jauh dari Zio dalam waktu yang lama. Apalagi sekarang ditambah dengan Zachira. Dipastikan pria itu akan semakin kesulitan lepas dari mereka.
"Tahu begini enggak akan izinin mereka pergi deh, bikin khawatir aja." Keluh pria yang hari itu tidak memakai dasi. Tampilannya benar-benar acak-acakan seperti tidak tidur semalam suntuk.
"Memang sebergantung apa sih sama gadis itu? Sampai dia baru pergi sehari saja kelabakan?" Daniel menaikkan sebelah alis. Tatapannya jelas menyelidik.
"A-apa? Siapa juga yang bergantung sama gadis itu? Aku ... aku cuma khawatir soal Zio!" Allandra menyanggah dengan gelagapan. Jelas sekali saat ini dia sedang salah tingkah.
"Terserah kau saja." Daniel berdecak sebelum meninggalkan ruangan kawannya itu. Melihat Allandra tampak salah tingkah seperti itu entah kenapa meninggalkan sedikit rasa kesal di hatinya.
Perasaan janggal yang sudah sering hadir namun masih belum jelas apa alasannya.
***
Sepeninggalan Daniel, Allandra juga terdiam. Kalimat sahabat karibnya itu masih terngiang di telinga.
Tergantung?
Benarkah dia terlihat begitu tergantung kepada Zachira? Tapi ... bagaiman bisa? Bukankah sejak awal baginya Zachira itu tidak lebih dari pengasuh bayi?
"Apa anda masih memikirkan nona Zachira sir?"
Sekretaris Yu tiba-tiba saja bertanya, menaruh setumpuk kertas di atas meja. Allandra tampak salah tingkah, ebegitu jelaskan kebingungan dari wajahnya saat ini?
"A-aku? T-tidak ... aku hanya-"
"Kalau memang merindukan mereka, kenapa tidak menyusul saja?" Sekretaris Yu menambahkan. Membuat boss besarnya sempurna terdiam.
Menyusul mereka?
Apa mungkin?
Dan apa maksudnya itu tadi? Rindu?
[maaf ya up nya slow sekali๐๐๐ jangan lupa tinggalkan like dan komen di bawah ya, biar neng author makin semangat up ceritanya. Jangan lupa singgah juga di projek Fanfic terbaru judulnya "Just Three Days : Mitsuki" ceritanya seru dan enggak ketebak loh, See you di next chapter yaaa ....]
__ADS_1