GADIS SEWAAN CHAIRMAN

GADIS SEWAAN CHAIRMAN
PRIA DINGIN DAN MENYEBALKAN


__ADS_3

"Kamu tidur di sini."


Allandra membuka sebuah pintu. Di dalamnya ada dipan queen size bersprey abu tua. Sebuah lemari ukuran sedang, serta meja rias. Zachira tampak ragu, mengeratkan pegangan pada kopor dengan perasaan tidak menentu.


"Tunggu apa lagi? Sana masuk, dan ganti pakaian kamu." Pria itu menatap ke arahnya dengan ekspresi sedingin es. Suaranya jauh dari kata ramah, memperhatikan pakaian yang dikenakan Zachira dari ujung kaki hingga kepala.


"B-baik pak," gadis itu mengangguk dan bergegas masuk. Tidak mau bersitatap dengan laki-laki di hadapannya.


"15 menit lagi aku tunggu di meja makan. Pastikan kamu membangunkan Zio dan membawa dia turun." Sebelum pergi, kembali pria itu bersuara. Zachira mengangguk pelan, menutup pintu tanpa suara.


"Sialan! Sikap macam apa itu? Dasar pria menyebalkan!"


Begitu menaruh kopor di sudut meja dia membantingkan tubuh ke atas ranjang. Nyaman, jauh berbeda dengan ranjang tua di kost lamanya. Jangan lupa AC di ruangan itu juga berfungsi dengan sangat baik. Ada kamar mandi pribadi dengan shower di dalamnya.


Awal tiba di mansion mewah itu mulut Zachira terbuka lebar. Seumur hidup ini kali pertama dia menginjakan kaki di bangunan semewah itu. Marmernya saja jelas bukan marmer biasa, belum lagi perabotan mewah dan modern yang menghiasi tiap sudut rumah.


Waktu kecil Zachira pernah bermimpi bisa punya mansion semewah ini. Dengan selusin pelayan yang siap melayani apapun yang dia inginkan. Sayangnya seiring bertambahnya usia, juga semakin beratnya hidup yang dia jalani, mimpi itu hanya tinggal mimpi. Baginya, bisa hidup cukup saja sudah syukur bumi langit.


"Jangan bengong begitu, ayo masuk." Daniel membuyarkan lamunannya, membuat Zachira tersadar, menepis angan konyol dan bergegas mengikuti pria itu.


Di sebuah sofa berwarna abu tua pria dengan wajah es duduk dengan melipat kaki. Sibuk berkutat dengan macbook di pangkuannya. Sama sekali tidak mempedulikan siapa yang datang.


"Dimana Zio?" Daniel menegur. Pria itu mendongak sejenak, "dia masih tidur di kamarnya." Jawab Allandra pendek, kembali berkutat dengan layar tipis di hadapannya.


"Baiklah, nona Zach kuserahkan padamu. Aku pamit dulu."


Selepas mengatakan itu Daniel pamit pergi. Allandra sama sekali tidak mengalihkan pandangan, acuh.


Zachira ragu berbalik, sebaiknya diaengantar pria itu pergi sambil mengucapkan terimakasih.


"Mau kemana kamu?"


Baru saja Zachira hendak melangkah, suara berat menghentikannya.


"Anu ... saya mau mengantar-"


"Kau pikir dia anak TK yang harus diantar saat pergi?" Tohoknya, masih dengan nada ketus. Zachira menelan saliva, enggan dia berbalik dan melepaskan kucing yang sejak tadi dipeluknya. Membiarkan makhluk berbulu itu lari ke bagian lain mansion.


"Kenapa berdiri saja? Ayo ikuti aku!"


"Dasar Es Batu! Nyebelin!"


Kembali dia menyumpah, ingin rasanya mencabik-cabik wajah pria yang sayang sekali begitu tampan rupawan itu.


Andai saja mau tersenyum barang sedikit, Allandra tentu adalah pria sempurna. Garis wajahnya seolah diukir dengan sempurna oleh seniman langit. Benar-benar wujud dewa Yunani versi Zachira.


"Dasar konyol!" Gadis itu tertawa getir, mengasihi pikirannya sendiri. Buat apa punya wajah rupawan kalau sikapnya menyebalkan seperti itu? Masih mending Daniel, selain tampan dia juga baik dan hangat.

__ADS_1


Walau masih ingin berleyeh-leyeh gadis itu bangkit. Mengeluarkan pakaian dari dalam kopor dan membuka lemari, menaruh tumpukan kecil pakaian dan beberapa pasang sepatu serta tas ke dalamnya.


Setelah mencuci muka dan menghapus make up serta mengganti pakaian dengan jeans hitam dan sweater turtleneck marun gadis itu keluar kamar. Mencari kamar 'putranya'.


Awalnya dia kebingungan. Tempat itu cukup luas, ada beberapa ruangan yang saat di buka ternyata bukan tempat yang dia tuju.


Home theater, area Gym, perpustakaan ....


Dan dia menepuk jidat sendiri karena kamar yang dia cari justru ada tepat di sebelah kamarnya.


***


"Mbu!"


Baru saja membuka pintu seorang anak yang tadinya sibuk bermain dengan kereta mainan tiba tiba berseru, buru-buru berlari ke arah Zachira.


"Zio sayang ... baru bangun?" Perempuan itu memeluk Zio kemudian menggendongnya. Sepertinya mulai malam ini dia harus membiasakan diri menjadi ibu yang baik. Terlepas dari bagaimana sikap dari ayah anak ini.


Untungnya, berbeda dengan sang ayah Zio begitu manis dan penurut. Sejak awal bertemu Zachira sudah jatuh hati pada anak itu. Terlebih ketika ingat bagaimana Zio memeluknya, debar jantung mereka seolah menyatu satu sama lain.


"Kita makan ya?" Gadis itu menciumi pipi tembam yang menggemaskan itu sambil menuruni tangga. Dari bawah sana terlihat Allandra melipat lengan di depan meja makan. Ada beberapa boks makanan di hadapannya. Dahi Zachira berkerut, dia baru sadar sejak masuk ke dalam mansion itu tidak tampak satu pelayanpun.


"Kau lihat apa? Cepat kemari dan siapkan makanan!" Seru pria itu, membuat Zachira kaget bukan main. Tidak sempat berpikir, dia bergegas menuruni tangga. Menghampiri si tukang perintah itu.


"Tunggu di sini." Dia mendudukkan Zio di salah satu kursi dekat ayahnya. Anak itu menolak, tidak mau lepas dari gendongan.


Zachira mengalihkan pandangan. Rasanya aneh mendengar pria itu menyebutnya 'ibu'.


"Ngapain bengong, siapin makanannya buruan! Keburu dia rewel lagi." Pria itu menggebah. Zachira tersadar, bergegas membawa boks makanan itu ke kitchen bar yang ada tepat di belakang meja makan. Mencari wadah yang diperlukan tanpa bertanya.


Sewaktu perjalan ke tempat itu Daniel sudah mewanti-wanti agar dia tidak banyak bertanya kepada Allandra soal apapun.


Makanan yang dipesan kebanyakan makanan italia. Hanya ada satu boks kecil berisi soup jamur dalam cup. Sepertinya ini menu untuk Zio.


"Apa baik membiarkan Zio makan makanan pesanan?"


Dia menatap Allandra sekilas, menaruh beberapa piring di atas meja. Pria yang sedang asyik meladeni putranya berceloteh itu mendongak, menatap dengan tajam.


"Kalau benar kau berperan baik sebagai ibunya, buatkan dia makanan! Aku hidup sendiri, pekerjaanku sudah lebih dari banyak, dan aku tidak tahu caranya memasak!" Serunya bertubi-tubi. Membuat tubuh Zachira bergetar ketakutan.


"B-baik ... mulai besok aku yang memasak." Dia berkata takut-takut, kembali meraih Zio yang menggapai ingin digendong.


Ya Tuhan ... kehidupan macam apa ini? Baru satu jam tinggal di sana saja Zachira sudah berasa akan kehilangan nyawa. Apalagi dalam waktu yang belum dipastikan?


Dan lagi kenapa di mansion sebesar ini tidak ada satupun pelayan? Apakah harus dia sendiri yang melakukan semua tugas yang umumnya dilakukan seorang ibu? Keterlaluan.


"Kenapa masih melongo? Ayo makan!"

__ADS_1


Seperti robot gadis itu buru-buru duduk. Meraih mangkuk sup dan mulai menyuapi Zio, berusaha tersenyum dan menanggapi celoteh kecil anak itu.


Allandra menatapnya sekilas, mulai menikmati makanan dalam hening. Walau sedikit aneh duduk satu meja dengan seorang gadis setelah sekian lama, dia tidak terlalu ambil pusing. Baginya melihat Zio mau makan saja sudah untung. Sejak lama anak itu selalu menangis dan rewel jika diajak makan atau disuapi oleh babysiter.


***


Oh darling don't you ever grow up


Don't you ever grow up


Just stay little ....


Langkah Allandra terhenti saat melewati kamar Zio. Dari celah pintu yang sedikit terbuka terdengar senandung lirih seseorang bernyanyi. Dia mengintip ke dalam kamar, suara itu berasal dari Zachira yang sedang mengelus kepala putranya. Berbaring menyamping di sebelah Zio.


Alunan itu berhenti saat pandangan mereka bertemu. Zachira buru-buru bangkit, menghampiri pria itu.


"A-ada apa ya pak?" Gugup ia bertanya. Takut sudah berbuat sesuatu yang salah.


"Eh ... itu ... tidak, aku hanya kebetulan lewat." Allandra tersadar, menggeleng. Dia bermaksud pergi ketika Zachira kembali bersuara.


"Bapak tidak mau memberikan ciuman selamat malam?"


Deg!


"Apa?! Lancang sekali kamu ini!" Pria itu berbalik, tangannya terangkat.


"Apa? Memangnya salah memberi kecupan selamat malam kepada anak sendiri?" Zachira menautkan alis heran.


"Anak?"


"Iya, Zio maksud saya. Bapak pikir siapa?" Zachira tidak bisa menahan senyum. Dia sadar boss nya sudah salah paham.


Allandra gelagapan.


"Itu ... sudahlah, aku masih ada pekerjaan." Dia menggaruk kepala tak gatal kemudian berbalik pergi. Dalam hati menyumpahi kekonyolan dirinya yang salah mengartikan kalimat ambigu dari gadis berpiyama hitam itu.


"Ah ya satu lagi," dia berbalik. Menatap perempuan yang masih berdiri di depan pintu.


"Besok jangan lupa siapkan sarapan untuk Zio. Usahakan beri dia makanan sehat dan bergizi, dan jangan coba-coba memberi dia apapun yang berbau ikan. Anakku alergi semua jenis ikan termasuk camilan. Susu yang dia minum hanya dari bahan organik, dia gatal-gatal setiap kali diberi minum susu sapi." Beber pria itu.


"Baik pak," Zachira mengangguk tanda mengerti.


"Ada lagi?"


Sejenak Allandra diam, agak ragu mengucapkan kalimat selanjutnya. Tapi akhirnya dia bersuara juga, "lain kali, cobalah hindari kalimat ambigu. Aku tidak suka." Tandasnya sambil berlalu, meninggalkan Zachira yang mengulum senyum, bossnya yang otoriter itu tidak terlalu rupanya bisa salah arti juga. Dalam hati dia tertawa puas dengan itu.


[Bagaimana ceritanya? Jangan lupa rate, vote, dan komen yaaa😊🙏 see you di next episode!]

__ADS_1


__ADS_2