GADIS SEWAAN CHAIRMAN

GADIS SEWAAN CHAIRMAN
ANAK SIAPA?


__ADS_3

Alphard hitam mengkilap itu berhenti di depan sebuah bangunan lantai dua dengan ornamen bata merah. Aneka bunga hias dari mulai anturium, aeonium, eviciera, juga anggrek bulan tampak menghiasi berandanya.


Seorang pria tua dengan kaos oblong serta sarung yang tersampir di bahu tampak berdiri, menaikan alis sambil memperhatikan siapa gerangan yang bertamu sore hari seperti ini.


"Ayah ...!"


Mengerjap, perempuan cantik yang rambutnya kini dipotong pendek lima senti di bawah telinga tampak tersenyum lebar, begitu manis dalam balutan sweater hitam turtleneck yang membungkus tubuh rampingnya.


"Zachira? Ya Tuhan ...!"


Pria tua itu spontan memburu, bermaksud memeluk putrinya yang sudah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba saja langkahnya terhenti.


Sepasang alis itu bertaut manakala kepala bocah kecil melongok keluar dari dalam mobil. "Siapa dia?" Tatapan matanya menyelidik. Menuntut penjelasan dari anak gadisnya itu.


Zachira sudah menduga ayah akan bereaksi demikian. Dia menarik napas, mencoba untuk tetap tenang. Selepas meminta pak Min menurunkan semua kopor dan barang bawaan, dia menggendong Zio, perlahan mendekati ayahnya.


"Nanti Zach jelaskan." Ucapnya pelan. Walau masih ingin bertanya, pria tua itu mengurungkan niat. Jelas berusaha mengangguk sambil membantu putrinya membawa barang-barang masuk ke dalam rumah.


"Zalina ... Zavier ... Zaidan! Lihat siapa yang datang ...!" Ayah berteriak memanggil ketiga anaknya yang lain.


Seorang gadis remaja dengan rambut dikucir berlari menuruni tangga kayu. "Kak Zach!" Panggilnya bersemangat, buru-buru memeluk kakaknya. Zhachira balas memeluk, meskipun pelukan itu tidak lama karena Zio merengek kehabisan napas.


"Loh ... kakak bawa anak siapa?" Zalina tampak bingung. Memperhatikan bocah kecil yang jelas sekali bertampang indo di hadapannya.


"Zach ... pulang juga kamu!" Zavier dan Zaidan, kedua kakak kembarnya datang dari bagian rumah yang lain. Memburu adik mereka sambil bergiliran memeluk. Sama saja, mereka juga mempertanyakan anak yang kini ada dalam gendongan Zachira.


"Santai ... nanti Zach jelasin, sekarang boleh enggak Zach istirahat dulu?" Gadis itu melempar wajah memelas, dia sudah begitu lelah, perjalanan Jakarta-Bandung bukanlah perjalanan singkat.


"Yasudah sana, biar Zalina siapkan makan malam." Ayah mengibaskan lengan. Melempar tatapan penuh arti kepada ketiga saudara Zachira.


***

__ADS_1


"Jadi gimana Zach?"


Malam itu selepas makan bersama mereka duduk bersama di beranda depan rumah. Menikmati secangkir teh melati dengan gula batu. Zachira menggeser duduk tak nyaman, rasanya saat ini dia sedang berada dalam ruang sidang. Ketiga saudara dan ayahnya menatap lurus, menunggu penjelasan.


Gadis itu menelan saliva, meneguhkan hati kemudian menjelaskan semuanya.


Selama beberapa saat, selepas penjelasan panjang lebar yang keluar dari mulut Zachira semua orang di beranda itu diam, tidak mengeluarkan suara apapun. Saking heningnya, hanya derik jangkrik dan hewan malam lain yang terdengar lembut diantara gelap malam.


"Apa kamu sudah kehilangan akal?" Zaidan menatap adiknya dengan tajam.


Zachira mengerjap, baru kali ini kakaknya berbicara dengan nada yang cukup tajam.


"Zach enggak punya pilihan kak," gadis itu menggeleng lemah. Teringat bagaimana dia kebungungan mencari pekerjaan setelah ditipu oleh agen pekerja itu.


"Kamu bisa balik Zach! Aku dan Zaidan bisa menghidupi kamu bahkan untuk seumur hidup! Kenapa kau memilih bekerja sebagai gadis sewaan?!" Zavier menggebrak meja. Betul-betul kesal.


"Kakak ini masih muda, masa depan kakak masih panjang, kenapa harus pura-pura jadi ibu dari anak balita?" Zalina yang biasanya tidak banyak bertanya, malam itu juga mempertanyakan keputusan yang sudah diambil kakaknya.


"Bagaimana kalau ibunya datang lagi? Apa yang akan anak itu pikirkan tentang kamu kalau suatu hari nanti dia tahu kamu bukan ibunya?"


Pertanyaan Zaidan begitu telak. Selama beberapa saat Zachira hanya terdiam. Jelas kemungkinan itu sering terlintas di benaknya. Setelah sejauh ini ... apa jadinya kalau sampai perempuan yang melahirkan anak itu kembali dalam hidup Allandra dan Zio?


"Kakak cuma enggak mau kamu terluka suatu hari nanti Zach, berpura-pura jadi ibu sangat berbeda dengan menjadi ibu sungguhan." Zavier menambahkan.


Zachira menunduk, iya, dia juga tahu semua itu. Cepat atau lambat Zio pada akhirnya akan tahu sendiri kalau dirinya bukanlah anak dari Zachira Djuanda. Perempuan yang selama ini mengaku sebagai ibunya hanyalah pengasuh bayi yang dibayar tinggi agar mau dipanggil ibu oleh dirinya.


Dan itu jelas bukan hal yang mudah untuk diterima.


***


"Belum tidur?"

__ADS_1


Zachira yang tengah malam itu masih mematung di bingkai jendela kamarnya menoleh, ayah tahu-tahu sudah masuk ke dalam kamar, membetulkan letak selimut anak laki-laki yang ada di ranjang putrinya. Mengusap kepalanya sekilas sebelum menghampiri Zachira dan ikut berdiri di sebelahnya.


"Kenapa ayah tadi enggak ikut bertanya?" Gadis itu menoleh, menatap pria yang di usia senjanya masih tampak gagah.


Sejak tadi dia berpikir keras kenapa ayah hanya diam saja ketika kakak dan adik Zachira mengatakan berbagai macam hal juga menasehati dirinya yang dianggap sudah keliru dalam mengambil keputusan.


Ayah menaikkan segaris senyum, "ayah cuma ingat ibu kamu, bagi ayah ... saat ini kamu persis sekali dengan ibu kamu 28 tahun lalu, saat pertama kali bertemu dengan Zavier dan Zaidan." Ungkapnya, menerawang, mencari senyum penuh kelembutan dari wanita yang dia cintai di atas langit malam.


Sudah bukan rahasia lagi, Zachira tahu kalau kedua kakak kembarnya hanya kakak seayah, bukan seibu. Istri pertama ayah, meninggal sewaktu melahirkan kedua kakaknya. Setahun kemudian ayah akhirnya bertemu dengan ibu. Mereka memutuskan untuk menikah dan menjalani rumah tangga sampai berpuluh tahun lamanya.


"Zalikha pertama kali jatuh cinta bukanlah kepadaku, tapi pada kedua putraku. Baginya, Zaidan dan Zavier adalah malaikat yang dikirim ke dalam hidupnya. Dia menikah denganku dan memutuskan sendiri untuk jadi ibu bagi kedua anakku. Komitmen seumur hidup."


Zachira menghela napas, jelas posisi dirinya berbeda dengan ibu. Dia dibayar! Dan mustahil pria bernama Allandra itu jadi suaminya seperti ayah.


"Bagaimana ayahnya? Apakah dia memperlakukan kamu dengan baik?"


Zachira kembali mengerjap. Dia tidak menyangka ayahnya akan menanyakan tentang hal itu. Selama beberapa saat dia menerawang, menatap gugusan bintang di atas sana, jelas itu adalah sirius.


Ia teringat bagaimana perlakuan pria bernama Allandra di awal pertemuan mereka, bukan perlakuan yang menyenangkan. Juga bagaimana tingkah laki-laki iti selama mereka tinggal dalam satu atap.


"Dia ... dia baik kok yah, cuma memang ya orangnya agak susah sedikit." Zach tersenyum kecil.


"Laki-laki memang begitu, unik dan sulit dimengerti. Walau demikian, masih kalah dengan kalian, para perempuan yang lebih rumit dan sulit untuk dimengerti bagaimana jalan pikirannya." Ayah menambahkan, sepertinya beliau tahu benar apa yang Zachira sebut 'agak sulit' itu.


"Yasudah, sebaiknya kamu istirahat ... besok pagi kita aja anak itu jalan-jalan di perkebunan." Ucap ayah seraya mengusap kelapa Zachira pelan, pamit pergi setelah mengucapkan selamat malam.


Zachira tersenyum tipis, kembali memandangi langit malam di luar bingkai jendela.


"Allandra ... sedang apa kamu sekarang?"


[yeay ... maaf ya baru up!😁😁✌🙏 jangan lupa tinggalkan jejak, like, rate, dan vote oke? See you di chapter selanjutnya!]

__ADS_1


__ADS_2