GADIS SEWAAN CHAIRMAN

GADIS SEWAAN CHAIRMAN
PERTEMUAN


__ADS_3

Sekali lagi gadis itu memilah pakaian, bingung apa yang harus dia kenakan ketika menemui Daniel dan atasannya. Kalau memakai setelan melamar kerja, dia bukan akan bekerja di perusahaan.


"Anda bisa memakai pakaian apa saja nona Zach, asal sopan dan nyaman untuk anda sendiri."


Penjelasan dari pria bernama Daniel itu juga tidak membantu banyak. "Pakaian yang sopan dan nyaman?" Akhirnya setelah memijat pelipis, pilihan perempuan kelahiran kota kembang 23 tahun silam itu jatuh pada blouse berwarna biru telur asin dengan span selutut berwarna putih gading. Dia mengikat rambutnya dengan rapih, memakai make up tipis agar tidak mencolok.


Sebelum pergi, seperti biasa gadis itu menitipkan kucingnya kepada Chi Mei.


"Rapih banget Zach, udah dapat kerja?" Chi Mei menatap dengan berbinar.


Zachira mengangguk kaku, berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja. Sudah diputuskan kalau dia tidak akan menceritakan perihal pekerjaan barunya kepada orang lain.


"Yasudah, cepat berangkat sana, jangan telat di hari pertama." Chi Mei menggebah, gadis itu mengangguk, mengelus kepala kucing miliknya sebelum menuruni tangga.


"Zach, entar malam uang sewa jangan lupa!" Mamih Lusi, si tambun juragan kost sudah berkacak pinggang di depan rumahnya.


Zachira mengangguk pelan, 'bodoh, bekerja saja baru akan diperkenalkan hari ini, bagaimana mungkin aku punya uang untuk bayar kost?' Dalam hati gadis itu menyumpahi diri sendiri.


Tiba di perempatan Zachira meminta salah satu ojek pengkolan langganan mengantarnya ke alamat yang diberikan Daniel.


"Waduh ... ini sih perusahaan gedean Zach, kamu diterima kerja di sana?" Bang Udin, si tukang ojek berdecak kagum.


Zachira hanya tersenyum kaku, andai saja benar dia bekerja untuk perusahaan itu, bukan untuk salah satu boss di sana.


Walau awalnya ragu, gadis itu akhirnya memutuskan untuk menerima saja tawaran pria itu. Dia sudah kebingungan di mana lagi bisa mendapat pekerjaan. Apalagi ibu kost tidak henti merecoki dirinya untuk segera membayar uang sewa. Si Meong juga perlu diberi makan dan susu. Dia jelas tidak punya banyak pilihan.


"Sudahlah ... kita lihat saja bagaimana baiknya." Gadis itu memejamkan mata, meneguhkan hati.


***


"Anak nakal! Jangan lari-lari!"


Baru saja memasuki lobi teriakan seorang pria membuat gadis itu mendongak, dari lantai dua terlihat seorang pria dengan tuksedo gelap berlari, mengejar anak kecil berkaos putih di depannya yang tampak tertawa-tawa riang.


Dia tampak masih tersandung-sandung, berusaha menjaga keseimbangan saat berlari. Semakin mendekati eskalator yang sedang bergerak turun. Zachira menahan napas, sadar akan bahaya yang menanti bocah nakal itu.


"Zio! Jangan ke sana bahaya!" Pria itu terdengar panik, berteriak. Serentak semua orang yang ada di lobi menatap ke sumber suara.


Zachira melupakan amplop yang dibawanya, berlari sekuat tenaga menaiki eskalator. Anak itu jatuh tersandung, kepalanya sudah siap menghantam tangga yang sedang melaju saat sepasang lengan sigap menyambarnya.


"Oh God ... hampir saja," Zachira memeluk bocah yang entah siapa itu dengan bahu naik turun. Napasnya masih memburu karena kaget dan capek sekaligus. Ia tidak sadar berlari menaiki eskalator yang berjalan berlawanan.


Dia membiarkan saja ketika tangga berjalan itu membawa serta dirinya dan si bocah turun ke bawah.


Tiba di bawah dia mendengar orang-orang bertepuk tangan. Mengerubunginya dengan berbagaimacam ekspresi, Zachira gugup, tidak sadar sudah menarik perhatian.


"You okay kid?" Dia beralih pada bocah yang sama sekali tidak mengeluarkan suara sejak tadi. Bocah itu tidak menjawab, matanya hanya membesar, menatap ke arah gadis itu dengan wajah melongo yang nampak lucu sekaligus menggemaskan.


"Zio? Dimana kamu?"


Seseorang menyibak kerumunan. Begitu melihat anak itu di pelukan seseorang, dia langsung menyambarnya tanpa permisi, memeluk dan menciumi si anak dengan napas yang masih memburu. Sepertinya dia habis berlari.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?"


"Ada apa ya?" Suara lain menyibak kerumunan. Zachira membulatkan mata, rupanya suara itu milik Daniel, dia baru saja tiba saat terdengar keributan di dalam kantor.


"Barusan anaknya pak Allan mau jatuh di atas sana pak, untung mbak ini sigap nolong." Salah seorang karyawan menjelaskan. Daniel tersadar perempuan yang dimaksud adalah Zachira.


"Ah, anda rupanya nona Zach." Dia tidak bisa menghilangkan senyum cerah di wajahnya.


Lihatlah, belum diperkenalkan saja mereka sudah bertemu. Sejak lama Daniel tidak pernah percaya apa itu kebetulan, kejadian pagi ini tentu saja menjelaskan sesuatu.


"Kau kenal perempuan ini?" Allandra menatap pria di hadapannya. Daniel mengangguk, "tidak mau bilang terimakasih dulu? Dia sudah menyelamatkan anakmu loh ...."


Pria itu tampak salah tingkah, dia belum pernah merasa perlu berterimakasih pada seseorang. Tapi berhubung gadis itu jelas menyelamatkan putranya, dan saat ini dia sedang diperhatikan oleh satu kantor, bibirnya perlahan terbuka, "terimakasih," ucapnya, hampir berbisik.

__ADS_1


Zachira hanya mengangguk kecil. Perhatiannya masih terbagi antara Daniel, pria itu, dan anak kecil yang masih tidak lepas memperhatikan dirinya. Seolah dia adalah kembang gula warna warni yang siap dilumat.


"Yasudah semuanya, kembali ke pekerjaan masing-masing." Daniel kembali bersuara. Membubarkan kerumunan karyawan, setelah itu beralih pada pria di hadapannya yang melayangkan tatapan menyelidik, seolah minta penjelasan.


"Ayo kita bicara di ruangan kamu." Daniel mengisyaratkan dengan dagu, mau tidak mau Allandra menurut, mengikuti kawannya ke arah lift.


"Anda juga ikut nona Zach."


Mendengar itu Zachira tergagap, memunguti amplop yang tadi dia lempar begitu saja ke lantai dan bergegas mengikuti dua pria yang sudah masuk lebih dulu ke dalam lift khusus.


Hening.


Selama berada dalam benda persegi yang berdesing naik itu mereka semua hanya diam dalam pikiran masing-masing. Allandra melirik gadis yang berdiri di pojokan depan itu, tubuhnya tinggi dan proporsional. Kaki jenjang dipadukan dengan heels bertali perak tampak sangat indah dipandang mata.


Ekhm!


Allandra gegas mengalihkan pandangan dari kaki-kaki indah itu saat pria di sebelahnya berdeham. Sial, kenapa pula dia harus tertarik hanya karena sepasang kaki?


Dia menggelengkan kepala, menepis pikiran konyol yang tidak masuk akal seperti itu.


Perempuan, mau seperti apa dan bagaimana juga tetap saja hanya seorang jal*ng. Hanya datang disaat butuh dan pergi dengan meninggalkan luka.


***


"Ini, bacalah perjanjiannya sebelum kamu setuju." Daniel mengasongkan kertas bermaterai, ada sekitar 22 poin di dalamnya. Sementara itu Allandra tampak memasang wajah acuh, tidak begitu memperhatikan.


"Lihat saja, apakah Zio menyukainya atau tidak." Ucapnya acuh saat Daniel mengenalkan Zachira sebagai perempuan yang diminta oleh pria itu.


Dan tidak perlu ditanya, anak itu sejak di dalam lift sudah nempel kepada 'ibu' barunya. Awalnya hanya minta diturunkan oleh sang ayah, setelah itu dia justru menarik ujung rok yang dikenakan Zachira, "mbu khan?" Bibir mungilnya bersuara, membuat tiga orang dewasa di dalam lift terkaget-kaget.


"A-apa?" Perempuan itu gelagapan.


"Mbu?" Kembali dia bertanya dengan matanya yang membesar macam boneka itu. Sungguh begitu menggemaskan.


"Aku ... aku ini bukan-"


Grep!


Tanpa diduga anak itu memeluknya dengan erat, memutus kalimat yang belum selesai dia ucapkan. Walau awalnya ragu dia akhirnya membalas pelukan itu, merasakan hangat tubuh anak kecil yang detak jantungnya bahkan terdengar dengan jelas di telinganya.


Allandra dan Daniel menatap adegan singkat itu dengan hati yang basah.


"Jadi ... saya harus tinggal dengan anda?" Zachira tidak bisa menahan kekagetan. Menatap pria di depan meja dengan dahi berkerut.


"Tentu saja! Dasar bodoh, mana mungkin kau jadi ibunya kalau tidak tinggal serumah?!" Pria itu mendelik, Zachira mengepalkan lengan kesal. Sikap pria itu benar-benar menyebalkan, dia kan hanya bertanya.


"Pokoknya nona Zach, biaya hidup dan semua keperluan anda ditanggung oleh pak Allandra. Anda hanya perlu merawat Zio seperti pada anak anda sendiri. Setiap bulan gaji anda akan di transfer ke rekening pribadi atas nama anda." Daniel membantu menjelaskan, gadis itu menghela napas. Digit angka yang begitu besar di kertas perjanjian itu tidak begitu dia perhatikan. Sekalipun nominalnya tidak wajar untuk ukuran babysiter.


Yang jadi fokus perhatian justru peringatan di kertas itu. Dia tidak boleh mengatakan apapun ke orang lain bahkan orangtua sendiri tentang perjanjian tersebut, hanya boleh keluar atas izin langsung dari Allandra, tidak boleh berteman dengan orang asing tanpa sepengetahuan Allandra ... dan seabrek peraturan lain yang jelas otoriter dan mengekang.


"Kenapa disini tidak ada jatah libur?" Gadis itu mendongak ke arah Daniel. Pria itu gelagapan, "kau pikir jadi ibu ada liburnya?" Pria bernama Allandra itu justru balas menatap gadis di depannya. Membuat mata kecil milik gadis itu membesar, yang benar saja?


"Lalu bagaimana kalau saya ingin pulang? Bertemu ayah dan keluarga?" Zachira tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran, dia memang butuh pekerjaan, tapi bukan berarti harus merelakan keluarga dan kehidupannya.


"Ya kau tinggal bilang saja bodoh, Anakku bisa ikut kalau dia mau!"


"Tolong berhenti memanggil saya bodoh! Surat ini memang tidak masuk akal, makanya saya terus bertanya!" Gerah dipanggil bodoh gadis itu balas menatap calon boss nya dengan tajam.


"Ah sudah, sudah ... kalian kan sebentar lagi bekerja sama. Jangan bertengkar begitu." Daniel berusaha menengahi. Sementara Zio sudah terbang ke alam mimpi, tampak nyaman berada dalam dekapan gadis itu. Sejenak Allandra terenyuh, ini pertama kalinya dia melihat Zio senyaman itu ada dalam pelukan seorang wanita. Sejak lahir dia tidak pernah mendapat momen seperti itu.


"Kau baik-baik saja Allan?" Daniel menegur. Pria itu tersadar, "kalau sudah selesai cepat tandatangani dan Daniel, tolong bantu dia membereskan semua barang untuk kepindahannya ke rumahku malam ini juga."


"Apa?!" Zachira tampak kaget bukan main.


"Kau pikir akan meninggalkan putraku setelah dia begitu?" Ditunjuknya Zio dengan dagu. Zachira menurunkan pandangan ke surai cokelat yang ada di bahunya. Anak itu tampak melingkarkan lengan di lehernya, seolah tidak mau berpisah. Ia menelan saliva.

__ADS_1


"Baiklah ... tapi, bolehkan saya meminta sesuatu?" Gadis itu memberanikan diri bertanya.


"Apa?" Allandra dan Daniel menyahut hampir bersamaan.


"Bisakah pinjami saya lima ratus ribu untuk membayar tunggakan sewa rumah?" Ragu gadis itu bertanya, teringat wajah bringas Mamih Lusi di tempat dia tinggal.


"Kau urus itu Niel, ada lagi?" Allandra kembali menatap perempuan di depannya.


"Bolehkah saya membawa serta kucing peliharaan?"


Allandra menaikan alis, dasar perempuan bodoh! Dia hanya meminta dua syarat saat dituntut 22 syarat oleh dirinya? Benar-benar lugu, semoga saja keputusannya menjadikan gadis itu ibu sewaan bukanlah hal yang keliru.


***


"Apakah dia selalu seperti itu?"


Zachira menatap pria bertuksedo biru tua di sebelahnya. Mereka sedang bersisihan, memasuki jalanan kecil tempat gadis itu tinggal.


"Allandra? Well ... yeah, sejak dulu dia memang dingin."


Gadis itu menunduk, menendang kerikil kecil dengan ujung heelsnya. Sedikit ada timbul penyesalan, kenapa pula dia harus menerima pekerjaan itu? Bagaimana dia akan menjelaskan semua ini kepada keluarganya?


"Kalau anda merasa kesulitan, jangan sungkan meminta bantuan saya nona Zach ... sebisa mungkin akan saya bantu." Daniel kembali bersuara, dia jelas bisa melihat kegundahan pada wajah cantik di sebelahnya.


"Ah, itu tidak perlu pak ... saya sudah banyak merepotkan anda." Zachira buru-buru menggeleng, mengibaskan lengannya.


"Heh perempuan! Mana uang sewamu?"


Baru saja tiba di depan bangunan kost, perempuan tambun sudah berkacak pinggang. Mengamati pria di sebelah Zachira dengan pandangan menyelidik.


"Anu ... itu-"


"Ini, uang sewa bulan ini semuanya ada di dalam amplop."


Daniel memotong perkataan terbata Zachira, mengasongkan amplop ke arah perempuan itu.


"Kau ini siapa?" Mami Lusi mendongak ke arah pria itu, masih dengan tatapan curiga.


"Anda tidak perlu tahu siapa saya. Nona Zach, bisa bereskan pakaian anda sekarang? Kita harus sudah kembali sebelum pukul 9 malam," ucap Daniel acuh sembari menoleh ke arah gadis itu.


Zachira tidak banyak berkomentar, buru-buru menaiki tangga.


***


"Jangan pergi dong Zach, Chi Mei enggak ada temen."


China tua tetangga gadis itu mengikuti Zachira turun. Tampak jelas keberatan, Daniel menanti dengan sabar. Mengambil alih kopor Zachira sementara gadis itu memeluk kucingnya.


"Zach enggak punya pilihan Chi, pekerjaan ini mengharuskan Zach pindah ke tempat yang lebih dekat. Nanti deh kalau ada waktu Zach mampir." Jelas gadis itu.


"Emang kerja apaan sih Zach? Jadi istri simpenan?" Celetuk Mami Lusi sambil menyunggingkan bibir dengan ekspresi menghina.


"Nona Zach bekerja jadi sekretaris atasan saya."


Baru saja hendak menjawab, Daniel kembali mendahului gadis itu. Jelas sekali dia berniat melindungi Zachira dari perempuan dengan lidah tajam di hadapannya.


"Pak-"


"Shhh ... ayo, kita pergi sekarang?" Pria itu mengibaskan lengan, menatap Zachira dan mendahului pergi.


Gadis itu mau tidak mau mengikuti, melambaikan tangan ke arah Chi Mei untuk terakhir kali.


Dia menarik napas dalam, kehidupan baru sebagai ibu akan segera dimulai.


[Bagaimana ceritanya? Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, dan Comment ya😊🙏 See you in the next episode!]

__ADS_1


__ADS_2