GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL

GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL
Bab 14: Juragan Darwis!!


__ADS_3

Setelah lebih dari satu Minggu dirawat di rumah sakit. Hari ini Rey diijinkan untuk pulang. Sherly sengaja mengambil cuti supaya bisa menemani calon suaminya tersebut.


Saat ini keduanya sedang berada di dalam mobil Sherly menuju kediaman pribadi Rey. Rey masih belum bisa mengemudi karena cidera pada bahu kirinya. Bahkan perban juga masih belum mau beranjak dari keningnya.


Sherly menoleh, menatap pria yang duduk disampingnya. Rey terlihat menutup matanya.


"Apa kepalamu masih pusing?" Tanya Sherly cemas.


"Sedikit. Mungkin efek dari benturan malam itu." Jawab Rey sedikit datar.


Benturan itu sangat keras, wajar jika Rey masih merasakan efeknya sampai sekarang meskipun satu Minggu telah berlalu. Di tambah lagi luka di atas alisnya yang masih terbuka dan belum kering. Itu memberikan efek nyeri dan pening.


Luka yang Rey alami memang lumayan parah. Tapi paling parah luka di perutnya. Perutnya tertusuk pecahan kaca. Untungnya luka itu tidak terlalu dalam dan mengenai titik vitalnya. Sehingga nyawa Rey tidak dalam bahaya.


"Kalau begitu minum obatmu lalu tidurlah. Saat sampai aku akan membangunkan-mu." Ucap Sherly yang kemudian dibalas anggukan oleh Rey.


Setelah menelan beberapa butir obat pereda sakit kepala. Rey kembali menutup matanya. Dan kali ini Sherly tidak akan mengganggunya lagi. Dia akan membiarkan Rey untuk istirahat.


-


-


"Baiklah, jika memang itu adalah syaratnya. Aku mau menikah dengan juragan Darwis!! Tapi aku juga punya syarat!!"


Juragan Darwis menatap Sasa dengan mata berbinar-binar. "Katakan, Sayang. Apa syaratnya?" Tanya pria yang sudah memiliki 7 istri itu bersemangat.


"Pertama, kau harus memberiku dan Ibu tempat tinggal yang bagus dan mewah. Kedua, aku mau mobil pribadi dan seorang sopir. Ketiga, sebulan kau harus memberiku uang belanja sedikitnya 20 juta. Keempat, dalam tiga bulan sekali kau harus memberiku dan ibu liburan ke luar negeri. Dan yang terakhir, aku harus menjadi istri kesayangankmu. Bagaimana, Juragan Darwis sanggup memenuhinya bukan?!"


Pria berkepala botak dan bertubuh sedikit gembul itu lantas mengangguk. Jika hanya itu syaratnya tentu bukan masalah. Toh hartanya tidak akan habis dimakan sampai 7 turunan.


"Jika syarat Dek Sasa hanya itu, Juragan Darwis tentu bisa memenuhinya. Dan hari ini juga Dek Sasa dan Ibu mertua bisa menempati rumah utama. Aku akan meminta istri tuaku untuk angkat kaki dari sana." Ujarnya.

__ADS_1


"Bagus. Kalau begitu ayo kita menikah. Bukankah Juragan suka bermain di atas ranjang?" Sasa menyeringai.


Mendengar kata Ranjang membuat pria yang paling kaya sekota itu pun menjadi sangat bersemangat. Lagipula siapa yang bisa menolak wanita dengan body aduhai seperti Sasa. Apalagi dia adalah bintangnya.


-


-


Sherly membuka pintu kamar Rey dengan perlahan dan mendapati pria itu sedang berbaring sambil menutup matanya. Sebelah lengannya menutupi sebagian wajah tampannya.


Dengan langkah pelan dan nyaris tak bersuara. Gadis itu menghampiri Rey lalu meletakkan bubur yang baru saja dia buat di atas meja. "Rey, apa kau tidur? Buburnya aku letakkan disini ya." Ucap Sherly namun tidak ada jawaban.


Baru saja dia hendak beranjak. Namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Sherly. Janda cantik itu menoleh. "Berbaringlah sebentar, aku tau kau lelah." Pinta Rey sambil mengunci langsung ke dalam biner mata indah itu.


Sherly menatap Rey sejenak dan kemudian mengangguk. "Baiklah," Rey menuntun Sherly untuk berbaring disampingnya. Posisi mereka saling berhadapan. Sebelah tangan Rey memeluk pinggang ramping janda cantik ini.


"Apa ini masih terasa sakit?" Sherly menyentuh perban yang menutup tulang pipi Rey dengan lembut.


"Kenapa kau tidak bisa menyayangi dirimu sendiri, Rey? Kenapa kau harus membuat dirimu terluka sampai seperti ini?! Apa kau tau betapa cemas dan takutnya aku saat pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahu jika kau mengalami kecelakaan lalu lintas. Aku sempat berpikir jika luka-lukamu tidaklah separah ini."


Rey menarik turun tangan Sherly lalu mendekap tubuh itu ke dalam pelukannya. "Ini tidak sebanding dengan luka di hatiku ketika aku melepaskan-mu. Dan kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kita lagi, termasuk Mama. Aku akan memperjuangan hubungan ini sampai akhir!!" Rey menarik tengkuk Sherly lalu mel*matnya singkat.


"Aku mencintaimu, Rey." Bisik Sherly di depan wajah pemuda tampan itu.


"Aku juga," jawab Rey lalu mengeratkan pelukannya.


Rey tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan membiarkan Sherly lepas dari pelukannya lagi. Kesalahannya dimasa lalu tak akan ia ulangi dimasa sekarang. Dia akan memperjuangkan Sherly sampai akhir.


-


-

__ADS_1


7 jam lebih 20 menit. Adalah waktu yang dibutuhkan untuk tiba di Seoul. Bima dan Delima saat ini sedang dalam perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap. Bukan hotel mewah dengan harga jutaan rupiah permalamnya. Melainkan sebuah motel di pinggiran kota yang sangat murah harganya.


Meskipun awalnya Delima sangat keberatan, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Dia harus menyembuhkan wajahnya dengan cepat. Yakni dengan cara operasi plastik.


"Jadi ini adalah, Korea. Sungguh negara yang makmur dan penuh gedung-gedung tinggi. Bim, bagaimana kalau kau cari pekerjaan disini saja dan kita tidak usah pulang lagi ke Indo?!" Usul Delima yang sepertinya langsung betah berada di negeri ginseng ini.


Bima menggeleng. "Jika kita menetap di sini. Lalu bagaimana dengan Ibu dan Kak Sasa?! Ditambah lagi kita memiliki hutang yang sangat besar pada juragan Darwis. Aku tidak setuju, aku juga tidak akan membiarkan Ibu menderita sementara kita enak-enakan di sini." Tutur Bima menegaskan.


Delima mendecih tidak suka. Kenapa Bima harus peduli dan memikirkan mereka berdua. Apa dia lupa siapa yang sudah membuatnya menderita seperti ini. "Itu artinya kau lebih menyayangi mereka dibandingkan diriku. Baiklah jika kau tidak mau, mending kita cerai saja!!"


"Jangan, Sayang. Bagaimana kau begitu kejam padamu?! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Baiklah, kita menetap di sini."


Delima menyeringai lebar. "Begitu dong, ini baru suamiku."


-


-


Seorang perempuan muda terlihat melenggangkan kakinya memasuki sebuah bangunan mewah yang memiliki dua lantai. Ditangannya menggenggam sebuah bingkisan yang rencananya akan dia berikan pada si pemilik rumah.


Perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Amanda memicingkan matanya melihat sebuah mobil asing terparkir di halaman rumah Rey. Tapi dia tak mau ambil pusing, mungkin teman Rey. Begitu yang dia pikirkan.


Tapp ..


Amanda menghentikan langkahnya saat dia melihat siluet seorang perempuan terlihat keluar dari kamar Rey. Amanda pun segera menghampiri perempuan tersebut.


"Kau..!! Sedang apa kau di sini?!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2