
"Hei, kemarilah. Aku mau ke toilet."
Salah seorang sipir penjara menghampiri Bima yang terus berteriak, minta diantarkan ke kamar mandi. Tanpa rasa curiga sedikit pun. Sipir itu membuka sel Bima lalu mengantarkannya ke kamar mandi yang berada di belakang sel.
Bima yang kedua tangannya di borgol sesekali melirik pria yang berjalan dibelakangnya itu. Dia seperti sedang merencanakan sesuatu. Dan saat melewati belokan sepi, dia pun melanjutkan rencananya.
Brugg...
Tubuh pria itu tersungkur di lantai dan tak sadarkan diri setelah dipukul Bima di bagian ulu hati dan tengkuknya.
Berburu dengan waktu, Bima pun mencari kunci borgol yang mengikat kedua tangannya. Setelah berhasil melepaskan borgol itu, Bima menukar pakaian tahanan yang dia pakai dengan pakaian yang dipakai sipir itu.
Upaya melarikan dirinya berjalan mulus. Tidak akan ada yang mengenalinya dengan penyamarannya ini. Bahkan Bima tidak dicurigai ketika dia meninggalkan kantor polisi. Pria itu menyeringai. Kali ini dia kembali untuk menyelesaikan urusannya yang masih belum selesai.
Sudah dapat dipastikan jika Shelry tidak akan pernah menjadi miliknya lagi. Jika dia tidak bisa memilikinya. Maka orang lain juga tidak, untuk itu dia harus disingkirkan.
Bima ingin membuat Rey hancur sehancur-hancurnya, seperti dirinya. Orang yang telah merebut kebahagiaannya tak layak bahagia diatas kesedihannya karena kehilangan Shelry.
-
-
Sherly mendatangi cafe tempat Delima bekerja. Entah sejak kapan kedua wanita yang dulu pernah bermusuhan itu menjadi dekat seperti sekarang. Sejak Delima berubah menjadi orang baik, dia dan Sherly memang sering bertemu dan berbincang.
Delima menyambut kedatangan Shelry dengan senyum yang lebar. Dia senang karena wanita itu datang mengunjunginya. Bibi dan Paman pemilik kedai juga sudah terbiasa dengan kedatangan Sherly, dan mereka selalu memberi ijin pada Delima untuk menemaninya mengobrol.
"Bagaimana kandunganmu, apa sehat-sehat saja?"
__ADS_1
Sherly mengusap perutnya yang masih rata dengan bahagia. Dia tersenyum dan mengangguk. "Ya, dia sangat sehat malah. Aku selalu bisa merasakan detak jantungnya. Dan aku sudah tidak sabar menunggunya terlahir ke dunia."
"Sayangnya aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!!" Sahut seseorang dari belakang.
Sherly dan Delima menoleh dengan serempak mendengar suara yang familiar itu. Kedua wanita itu sama-sama membelalakkan matanya melihat siapa yang menghampiri mereka dengan seringai iblis tercetak di sudut bibirnya.
Sherly bangkit dari duduknya. "Bima, bagaimana kau bisa ada disini? Bukankah kau ada dipenjara? Apa kau melarikan diri?" Tanya Sherly meminta penjelasan.
Bima tersenyum meremehkan. "Memangnya berapa lama mereka bisa menahanku? Awalnya aku datang untuk mengambil nyawamu, tapi tidak diduga malah mendapatkan dua nyawa sekaligus. Tuhan benar-benar maha adil." Pria itu menyeringai.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Bima? Apa kau ingin uangmu kembali? Aku akan mengembalikannya sekarang juga!!"
"Aku tidak butuh uangmu, karena yang aku inginkan adalah nyawamu!!" Jawab Bima dengan seringai yang sama.
"Jika tau akan seperti ini. Bukan hanya mata kananmu yang aku ambil, tapi nyawamu!!"
"Kau terlalu banyak bicara dan itu membuatku semakin muak padamu, Sherly. Sebaiknya aku membunuhmu sekarang juga," ucap Bima sambil mengacungkan sebuah senjata api pada Shelry.
Bima tidak mengambil tindakan apapun, mereka tak ada hubungannya dengan dirinya. Karena urusannya bukan dengan mereka melainkan dengan kedua wanita dihadapannya itu. Bahkan Bima juga tidak berpikir jika mereka akan memanggil polisi untuk menangkapnya.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini, mantan istriku tersayang. Dan kau Delima, kau bisa menunggu kematianmu dengan bangga. Hahaha.." Bima menarik pelatuknya dan mengarahkan tepat pada jantung Sherly.
Mata Delima membelalak dia menggeleng. Tidak boleh, Sherly tidak boleh mati. Jika dia mati lalu bagaimana dengan suami dan keluarganya. Pasti banyak orang yang akan sedih dengan kepergiannya. Tidak seperti dirinya yang sudah tidak memiliki siapa-siapa.
Delima berdiri di depan Sherly dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi wanita itu. Sedikitnya 3 tembakan menerjang tubuh Delima. Wanita itu ambruk seketika.
"DELIMA!!" Jeritan Sherly langsung menggema di ruangan itu. Dia menahan tubuh Delima yang telah ambruk. Tidak ada napas dan kehidupan lagi, Delima meninggal seketika. Sherly menggeleng, air matanya jatuh tak tertahankan. "BIMA!! KAU BENAR-BENAR BIADAB!!" teriak Sherly penuh emosi.
__ADS_1
"Hahaha!!!" Bukannya merasa bersalah telah menghilangkan satu nyawa. Bima malah tertawa keras. Dia mengangkat kembali pistolnya. Di dalam senjata itu tersisa dua peluru lagi. "Sekarang giliran mu, kau akan segera menyusul sahabatmu itu!!"
Shelry bangkit dari posisinya. Dia menerjang senjata ditangan Bima, mereka saling berebut senjata itu. Orang-orang banyak yang melihatnya, tapi tak satupun ada yang berani ikut campur karena Bima membawa senjata api. Sementara itu, polisi juga belum datang.
Mereka terus berebut senjata itu. Ujung pistol mengarah pada perut Sherly, lalu berpindah pada Bima. Bima menarik pelatuk pada pistol itu dan...
Dorrrr ..
Dorrrr ..
Mata Sherly membelalak. Bima menjatuhkan senjata ditangannya, darah segar mengalir dari sudut bibir Sherly juga Bima. Keduanya sama-sama memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah.
Cairan Cristal bening mengalir dari sudut mata Sherly. "Inikah yang kau inginkan, dan apa kau pikir aku akan membiarkanmu bebas berkeliaran setelah membunuhku dan Delima. Kau, akan menemani kami pergi ke neraka!!" Sherly berkata dengan senyum dan tangis. Pandangannya semakin lama semakin berkunang-kunang.
Tubuh Sherly terhuyung beberapa kali tapi dia masih bisa berdiri, sedangkan Bima ambruk di lantai dengan kesadaran sedikit tersisa. Dia mengulurkan tangannya pada Delima yang sudah pergi lebih dulu, namun tangan itu jatuh begitu saja dan matanya tertutup rapat.
"Sherly!!!" Rey menjerit histeris. Dia menahan tubuh Shelry yang hampir ambruk. Shelry mengulurkan tangannya yang berlumur darah pada wajah Rey.
"Rey, maaf. Aku tidak bisa menemanimu lagi. Apalagi bersamamu sampai tua, hi..hiduplah dengan baik. A..aku sangat mencintaimu. Terimakasih telah memberikan kebahagiaan untukku. Meskipun kebersamaan kita sangat singkat, tapi aku sangat bahagia karena pernah menjadi milikmu."
"Jangan katakan apapun lagi, kita akan segera ke rumah sakit. Kau akan selamat, tidak akan terjadi apapun padamu." Rey sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
Sherly menggeleng. "Waktuku sudah tidak banyak. Hiduplah dengan baik dan cari penggantiku. Lanjutkan kembali hidupmu, mungkin jodoh kita hanya sampai disini saja. Uhuk.. Uhuk..." Genggaman Sherly pada wajah Rey perlahan melemah dan jatuh begitu saja. Kedua matanya tertutup.
Masih merasakan denyut nadi Sherly. Rey pun segera melarikan wanita itu ke rumah sakit. Buah cintanya dan Sherly memang tidak bisa diselamatkan, tapi setidaknya nyawa Sherly masih bisa diselamatkan.
-
__ADS_1
-
Bersambung.