GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL

GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL
Bab 9: Lebih Bahagia


__ADS_3

Sebuah Lamborghini Veneno berhenti di halaman luas sebuah bangunan megah yang memiliki tiga lantai. Seorang pria tampan dan gadis cantik keluar dari mobil tersebut, keduanya lalu berjalan masuk ke dalam. Si gadis mempersilahkan pria itu untuk duduk, sementara dia pergi ke dapur untuk membuat minuman.


Selang beberapa saat gadis itu kembali dengan sebuah nampan yang berisi dua jenis minuman berbeda. Yang satunya untuk teman prianya, dan satu lagi untuk dirinya sendiri.


"Kopi tanpa gula." Ucap gadis itu sambil meletakan cangkir berisi cairan hitam itu di atas meja. Dan si pria menatap gadis itu tak percaya. Bagaimana bisa dia masih ingat dengan minuman kesukaannya.


"Sherly, kau masih mengingat minuman apa yang aku sukai dan tidak aku sukai?!"


"Tentu saja!! Aku ini memiliki ingatan yang sangat tajam. Tentu saja aku masih ingat apapun tentang dirimu, termasuk hobi, makanan dan minuman kesukaanmu, apa yang paling kau benci dan apa yang paling kau sukai. Aku masih mengingat semuanya." Jawab Sherly.


Rey kemudian tertawa. "Tidak disangka kau memiliki ingatan yang sangat tajam sekarang, padahal dulu kau itu sangat pelupa!!" Cibir Rey yang langsung mendapatkan pukulan dari Sherly.


"Dasar Rusa kutub menyebalkan, berhenti mencibirku. Sebaiknya segera habiskan kopi-mu lalu pulang!!" Ketus Sherly sambil mempoutkan bibirnya.


Sedangkan Rey hanya tersenyum geli melihat tingkah gadis yang duduk disampingnya ini. Sherly memang begitu menggemaskan dan terkadang menggelikan.


"Aku sangat lelah, bisakah malam ini kau mengijinkan ku untuk numpang tidur? Di sini juga tidak apa-apa. Aku terlalu malas untuk mengemudi."


"Bodoh!! Kau bisa sakit dan masuk angin jika tidur di sini. Aku akan meminta pelayan menyiapkan kamar tamu untukmu." Kemudian Sherly bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Sedangkan Rey menatap kepergian gadis itu dengan senyum terurai di bibir Kiss Ablenya.


"Aku pasti akan mendapatkan-mu kembali, Graciella Sherly. Dan selamatnya aku tidak akan pernah melepaskan-mu lagi, karena kita memang ditakdirkan untuk selalu bersama dan saling memiliki!!"


-


-


"Memikirkan mantan istrimu lagi?!"


Bima mengangkat wajahnya dan menatap dingin wanita yang berdiri di depannya itu. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Bima bangkit dari kursinya dan melenggang pergi. Delima yang merasa diabaikan pun menjadi tidak terima. Dia mengejar Bima dan menghentikannya.


"Brengsek!! Berani sekali kau mengabaikan ku, hah?!"

__ADS_1


PLAK...


Sebuah tamparan mendarat mulus pada pipi Delima. Bima menatapnya dengan tajam. "Aku pikir sudah cukup semua tingkah buruk mu padaku, Delima Sonata!! Aku ini suamimu, bukan kacung mu!! Kapan kau bisa bersikap sopan dan lebih menghargai ku?!" Bentak Bima penuh emosi.


Delima pun menjadi terkejut. Pasalnya ini pertama kalinya Bima marah apalagi sampai membentak dan menampar dirinya. "Bima, kau...!! Kau berani menamparku dan berteriak padaku?! Apa kau sudah bosan hidup, hah?!"


PLAK...


Bima menampar Delima sekali lagi. Saking kerasnya tamparan itu. Sampai membuat wajah Delima menoleh ke samping. "P*lacur tetap saja pel*cur. Jika boleh jujur, aku sangat menyesal karena Tah menikah dengan orang sepertimu!!"


"Apa kau bilang?! Menyesal?! Bima kau ingin mati ya?!"


Blam...


Bima membanting pintu kamarnya ketika Delima hendak masuk lalu menguncinya dari dalam. Lama-lama Bima merasa muak pada wanita itu. Dia semakin keterlaluan dari hari ke hari.


"Bima, aku pasti akan membalas perbuatan-mu ini!! Kau sangat keterlaluan!!"


-


-


Di sebuah bangunan mewah nan megah, lebih tepatnya di sebuah dapur, terlihat seorang gadis yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan juga seseorang yang semalam menumpang nginap di rumahnya.


Tidak banyak hidangan yang dia siapkan. Hanya tiga menu saja. Tapi itu lebih dari cukup untuk mengganjal perut mereka yang lapar di pagi hari. Selain makanan, gadis itu juga menyiapkan kopi dan susu serta air putih.


Semua sudah tersedia, dan yang perlu dia lakukan sekarang adalah menunggu tamunya itu datang. Dia tidak mungkin membangunkannya karena itu sangat tidak sopan.


"Jika diperhatikan kau terlihat seperti seorang istri yang sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya!!" Seru seseorang dari arah belakang.


Sontak gadis itu menoleh dan mendapati sosok tampan dengan senyum lembutnya yang sedang menuruni tangga. "Dan kau mirip seorang suami yang baru saja bangun dan bersiap untuk bekerja." Jawab si gadis tak mau kalah. Dan keduanya kemudian terkekeh bersama.

__ADS_1


"Tidak disangka, Sher. Kau masih saja pandai memasak." Ucap laki-laki itu yang pastinya adalah Rey.


"Begini-begini aku juga pernah jadi ibu rumah tangga. Sebaiknya jangan banyak bicara dan ayo kita sarapan. Aku bisa terlambat tiba di kantor jika terus menemanimu mengoceh!!" Protes Sherly yang hanya disikapi kekehan oleh Rey.


Dan selanjutnya kebersamaan mereka diwarnai keheningan. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersentuhan.


Sejak berpisah dari Bima, Sherly mendapatkan kembali hidupnya, dia bisa menjadi dirinya sendiri dan hidup lebih bebas. Sherly bahagia dengan hidupnya yang sekarang, dan masa lalu mengajarinya banyak hal.


-


-


Delima menatap tajam pada Bima yang sedari tadi mengabaikan dirinya. Bukan!! Tapi dari semalam, Bima tak menyapanya sama sekali dan dia juga bersikap acuh meskipun melihat Delima dalam balutan baju laknat yang paling di sukai oleh pria itu.


Delima yang sudah tidak tahan pada sikap Bima pun segera mengambil sikap. Dia menghampiri pria itu dengan emosi yang membuncah. "Sampai kapan kau akan mengabaikan ku, Bim?! Sebenarnya kau ini menganggap ku apa? Istrimu atau hanya pajangan mu yang bisa kau pakai sesuka hatimu?!" Tanya Delima mengebu-gebu.


Bima lantas berbaring dan menatap dingin wanita itu. "Seharusnya pertanyaan itu untukmu sendiri, bukan untukku?! Selama kita menikah, kau menganggap ku sebagai apa?! Suamimu atau robot yang bisa kau peras keringatnya untuk memenuhi kebutuhanmu?!" Bima memutar balik pertanyaan Delima.


Wanita itu terhuyung kebelakang. Memangnya sejak kapan Bima berani berkata sekasar itu padanya. "Bima, kau?! Kenapa kau jadi seperti ini padaku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?!" Delima menatap Bima dengan mata berkaca-kaca.


Bima terkejut. Ini pertama kalinya dia melihat Delima yang hampir menangis karena dirinya. Dan seketika Bima teringat pada sikapnya semalam pada Delima. Dia berbuat kasar pada wanita itu.


Bima maju satu langkah kemudian membawa wanita itu kedalam pelukannya. "Maafkan aku, Del. Aku tidak bermaksud kamar padamu, aku juga minta maaf karena sudah menamparmu semalam. Aku terbawa emosi, kau membuatku kesal dan marah. Sekali lagi aku minta maaf, Sayang." Ucap Bima penuh sesal.


Delima menyeringai. Memang tidak sulit meluluhkan seorang Bima. Dan jangan panggil dia Delima jika tidak bisa membuat Bima luluh padanya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2