
Sebuah Lamborghini Veneno berhenti dihalaman luas sebuah bangunan megah nan mewah yang memiliki tiga lantai. Seorang pria muda yang tengah diliputi emosi dan amarah terlihat keluar dari mobil tersebut.
Brakk...
Bantingan keras pada pintu mengejutkan dua wanita berbeda usia yang sedang duduk tenang menikmati secangkir teh. Keduanya lantas menoleh pada sumber suara dan melihat Rey yang sedang diselimuti emosi menghampiri keduanya.
Amanda terlihat senang dengan kedatangan Rey, namun tidak dengan Nyonya Veronica. Dia memiliki firasat buruk, apalagi dengan aura suram pada putranya itu. "Rey, akhirnya kau pulang juga. Aku senang melihatmu datang," Amanda langsung menghambur ke dalam pelukan Rey.
Bukannya sebuah pelukan hangat yang dia dapat, tubuh Amanda malah di dorong keras oleh Rey hingga tersungkur di lantai. Rey merasa jijik disentuh oleh wanita itu.
"Rey, kenapa kau sangat kasar pada Amanda?! Bagaimana pun juga dia adalah calon istrimu!!" Seru Nyonya Veronica. Dia tidak terima karena Rey memperlakukan Amanda dengan sangat kasar.
"Cukup, Ma!! Berhenti mengatakan jika perempuan ****** ini adalah calon istriku!! Aku sudah menikah dan beristri. Dan kedatanganku kali ini hanya untuk mengingatkan Mama, jangan pernah ikut campur dalam urusan rumah tanggaku dengan Sherly. Karena jika tidak, jangan salahkan aku jika sampai memutuskan hubungan ibu dan anak!!"
PLAKK.
Nyonya Veronica menampar Rey dengan sangat keras. "Dasar anak durhaka, berani-beraninya kau mengancam ibumu sendiri demi membela wanita ****** itu!! Aku adalah orang yang telah merawatmu dari kecil, dan beginikah caramu berterimakasih?!" Bentak Nyonya Veronica penuh emosi.
Rey menahan pergelangan tangan Nyonya Veronica yang hendak menamparnya lagi. Pria itu menatap sang ibu dengan tajam.
"Kau yang memulainya lebih dulu. Jika kau tidak terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadiku, aku juga tidak akan bersikap kurang ajar padamu! Ingat baik-baik apa yang aku katakan tadi. Atau kau akan menerima akibatnya!!" Rey menyentak tangan Nyonya Veronica dan pergi begitu saja.
"Dasar anak durhaka!!"
-
-
Sherly memejamkan matanya. Angin sepoi-sepoi berlalu, memainkan rambut panjangnya yang terurai. Hembusan angin membuat rambutnya sedikit berantakan, namun Sherly tak mau terlalu ambil pusing.
Gadis cantik itu tersenyum. Ia meraba tanah tempatnya duduk. Tanah itu berkerikil, namun di beberapa tempat tumbuh rumput. Rumput-rumput itu basah, nampaknya karena tersiram hujan tadi siang. Sherly menjumput air dari rumput tersebut dan meniupnya.
__ADS_1
Sherly membuka mata. Sang surya mulai tenggelam di garis horizon, terlihat setengah lingkaran berwarna jingga, memancarkan citra kelembutan. Kembali terangkat kedua ujung bibirnya. Sherly senang melihat senja, namun petang ini terasa begitu istimewa.
Angin yang merasa diacuhkan pun mulai marah. Kini ia bertiup lebih kencang dan lebih dingin, membuat rambut Sherly tersapu lebih jauh ke udara sekaligus membuat tubuhnya kedinginan.
Pukk!!!
Sherly sedikit terlonjak kaget karena sesuatu yang hangat jatuh di atas bahunya. Sontak ia menoleh dan mendapati Rey berdiri tepat dibelakangnya.
"Rey," gadis itu berseru sedikit keras.
"Aku mencarimu kemana-mana, dan rupanya kau ada disini," ucap Rey kemudian mengambil tempat disamping istrinya.
Lalu Sherly meletakkan kepalanya di bahu lebar sang suami. Pandangannya lurus ke depan, lebih tepatnya pada bunga-bunga yang tumbuh subur dihalaman belakang tempat tinggal mereka.
"Aku tadi menunggumu sangat lama, aku pikir kau tidak kembali jadi kuputuskan untuk pulang saja."
"Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku dan kembali kesana tepat waktu. Bahkan aku membuatmu sampai menunggu," ucap Rey penuh sesal.
Rey menggeleng. "Aku hanya memberikan peringatan sedikit keras padanya. Jujur saja, Sherly. Aku tidak suka jika mama terlalu ikut campur dalam rumah tangga kita. Lagipula aku bukan lagi anak kecil yang bisa dia kendalikan dengan sesuka hatinya." Tutur Rey panjang lebar.
Sherly menutup matanya. "Bukan seperti ini yang aku inginkan, Rey. Aku ingin sekali memperbaiki hubunganku dengan ibumu, tapi sepertinya itu sangat sulit sekali. Mengingat seberapa bencinya dia padaku."
Rey menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dia memahami betul apa yang Sherly rasakan saat ini. "Kau jangan terlalu banyak berpikir. Aku saja sudah cukup," ucap pria itu setengah berbisik.
Lalu pandangan Sherly lurus ke depan. Pohon mawar berdiri anggun. Daun dan bunga mereka melambai-lambai mengikuti irama kicauan burung gereja yang berkicau saling bersahutan.
Burung-burung itu hinggap di dahan pohon mawar, terkadang menyembunyikan kepala di dalam rengkuhan sayap mereka sendiri, entah karena kedinginan atau karena tidak ingin mengganggu pasangan yang sedang mesra di hadapan mereka.
Atau mungkin keduanya...?
Seekor kupu-kupu hinggap di buket mawar yang digenggam oleh Sherly. Sayapnya yang merupakan kombinasi warna hijau dan kuning dengan bingkai hitam mengepak perlahan.
__ADS_1
Sherly mengelus sayap indah itu dengan penuh kasih, namun ternyata kupu-kupu itu tak suka disentuh. Ia terbang begitu saja, meninggalkan sumber makan malamnya.
"Ya, dia terbang." Seru Sherly seolah tak rela kupu-kupu itu terbang menjauh darinya.
"Sudah biarkan saja. Hampir petang, ayo pulang."
Rey berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Sherly. Gadis itu tersenyum lalu menerima uluran tangan suaminya. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan taman dan masuk ke dalam. Angin semakin kencang dan udara semakin dingin.
-
-
Delima melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang padat kendaraan. Dia tidak tau kemana harus pergi, jangankan sanak saudara, tempat bernaung pun dia tidak punya.
Dia pikir hidupnya akan berubah setelah meninggalkan tanah kelahirannya. Niatnya untuk operasi plastik gagal total, semalam dia dirampok dan seluruh uangnya dibawa pergi. Dan sekarang dia tidak memegang uang sepeser pun.
Delima melihat seseorang berhenti di depan tong sampah lalu membuang sebuah kotak putih yang sepertinya isinya masih utuh. Tau jika kardus itu berisi makanan, Delima pun memungutnya lalu membawanya ke tempat sepi.
"Bu, apa kakak itu tunawisma? Lihatlah, pakaian yang dia pakai seperti gembel. Bahkan dia mengambil makanan dari dalam tong sampah," ucap seorang bocah laki-laki. Dia memberitahu ibunya sambil menunjuk Delima.
"Mana ibu tau, sudah biarkan saja. Jika dia mengamuk bagaimana, ayo kita cepat pergi. Orang itu seperti ingin menerkam kita." Ucap si Ibu lalu membawa putranya pergi dari sana.
Delima memakai mereka dengan keras. Ia kembali menikmati makanan itu, meskipun sisa orang. Tapi setidaknya makanan itu masih baru dan layak makanan.
"Ini semua gara-gara Bima. Dasar suami tidak berguna, bisa-bisanya dia ingin menceraikanku. Lihat saja, aku pasti akan membalasnya suatu hari nanti!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1