
Sherly bukanlah tipe wanita yang mudah menunjukkan perasaannya pada orang lain. Termasuk pada Bima, mantan suaminya. Namun sikap perlahan berubah semenjak dia menikah dengan mantan kekasihnya, Zian Rey.
Sherly yang selalu bersikap acuh pada apa yang ada disekelilingnya, perlahan menunjukkan kehangatannya. Bahkan tak jarang dia bersikap manja pada pria yang kini telah berstatus sebagai suaminya tersebut. Meskipun sikap manjanya itu masih berada dibatas wajar.
"Nyonya, makan siang yang Anda minta telah kami siapkan." Terlihat seorang pelayan menghampiri Sherly yang sedang memberi vitamin pada bunga mawar kesayangannya.
Wanita itu mengangguk. "Letakkan saja diatas meja. Malam ini tidak perlu memasak apapun untukku dan Rey, kami berencana makan malam di luar. Kalian bisa menyiapkan makan malam untuk diri kalian sendiri.",
"Baik, Nyonya.",
Meskipun status mereka adalah pelayan dan dia majikan. Tetapi Sherly tak pernah membedakan apalagi membentuk jarak dengan mereka. Baginya tidak ada majikan dan bawahan. Karena Sherly sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
.
.
Beberapa pegawai membungkuk saat berbapasan dengan Sherly. Mereka tau siapa wanita itu dan apa kedudukannya di kantor ini. Meskipun pernikahan mereka tak banyak di datangi tamu undangan. Namun berita pernikahan mereka sudah menyebar.
Hari ini Sherly datang mengantarkan makan siang untuk suaminya. Sherly tau betul suaminya itu orang seperti apa. Jika sudah bekerja, Rey pasti lupa makan dan minum. Lalu jika bukan dirinya yang memperhatikan, lalu siapa lagi?!
"Rey, sebenarnya apa hebatnya wanita itu dibandingkan diriku, sampai-sampai kau lebih memilihnya dibandingkan aku?!"
Tapp...
Sherly menghentikan langkahnya di depan pintu setelah mendengar suara yang tak asing dari dalam sana. Kemudian Sherly membuka pintu di depannya dan mendapati Amanda yang tengah berlutut memohon pada Rey supaya dia mau menerimanya.
Wanita itu menyeringai sinis. "Sungguh memalukan, beginikah kelakuan seorang wanita terhormat yang katanya berpendidikan tinggi?! Berlutut sambil memohon pada pria supaya diterima cintanya?!" Ucap wanita itu dengan sinis.
Sontak Amanda mengangkat wajahnya. Dia langsung berdiri dan menghampiri Sherly yang sedang menatapnya dengan pandangan meremehkan.
"KAU!!"
PLAKK...
Wajah Amanda menoleh kesamping setelah sebuah tamparan mendarat mulus pada pipinya dengan keras. "Jangan pernah menunjukku dengan tangan kotormu itu!!" Ucap Sherly memperingatkan.
"Dasar ****** sialan!! Sherly, aku akan membunuhmu!!!"
Bruggg..
__ADS_1
Amanda tersungkur dilantai setelah mendapatkan tendangan dari Rey. Pria itu tidak suka jika ada orang yang menyentuh istrinya. Apalagi dia berniat menyakitinya.
"Enyah kau dari hadapanku, dan jangan pernah menunjukkan batang hidungmu lagi di depan mukaku!! Keluar dari ruangan ini sekarang juga sebelum aku melemparmu melalui jendela!!"
"Rey, kau sangat keterlaluan!! Lihat saja, aku pasti akan membuatmu menyesal!!" Teriak Amanda dan pergi begitu saja.
Dan selepas kepergian Amanda. Di dalam ruangan itu hanya menyusahkan Rey dan Sherly. Mimik wajah Rey berubah saat menatap wanitanya. "Kenapa tidak memberitahuku jika mau datang?" Rey menarik Sherly lalu menempatkan wanita itu dipangkuannya.
"Karena kedatanganku tidak terencana. Aku membawakan makan siang untukmu. Selesaikan pekerjaanmu terlebih dulu, setelah ini kita makan malam sama-sama." Ucap Sherly. Rey mengangguk, mengiyakan.
"Tentu saja. Tapi setelah aku mendapatkan makan siang pembukaku terlebih dulu," jawab Rey lalu memagut bibir Sherly dan mel*matnya singkat. Ciuman yang tidak lebih dari dua puluh detik. "Nanti kita lanjutkan lagi,"
"Baiklah."
-
-
Menyedihkan...
Itulah gambaran hidup Delima saat ini. Berada di negeri orang tanpa uang dan tempat tinggal. Delima hidup terlunta-lunta setelah kehilangan semua uangnya. Uang yang awalnya akan dia pakai untuk mempercantik dirinya malah raib dibawa perampok.
"Sial!! Ini semua karena si brengsek Bima. Jika bukan karena dia, hidupku tidak akan menyedihkan seperti ini!!"
Delima terus saja menghujani Bima dengan berbagai sumpah serapahnya, karena jika bukan karena mantan suaminya itu. Dia tidak akan mengalami kesialan hidup seperti ini. Dan Delima sendiri tidak tau apakah Bima masih hidup atau sudah mati.
Saat hendak menyeberang jalan. Tanpa sengaja Delima melihat Bima yang sedang berada di dalam sebuah mobil mewah yang dikemudikan oleh seorang wanita. Tampak sebuah perban melilit keningnya.
Mata Delima membelalak. Dia membuang makanan yang baru saja dia dapatkan dari sampah lalu berusaha mengejar mobil yang melaju kencang tersebut.
"BIMA, TUNGGU!! BAJINGAN, MAU KABUR KEMANA KAU!!"
Sekencang apapun dia berlari, dan sekeras apapun dia berteriak. Namun tetap saja tidak bisa mengejar apalagi membuat mobil itu berhenti. Delima mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Bima bersenang-senang setelah mencampakkan dirinya.
"Bima, tunggu saja. Meskipun harus ke ujung neraka. Aku pasti akan menemukanmu!!"
-
-
__ADS_1
"Amanda, apa yang terjadi pada wajah dan lenganmu?"
"Huaa... Bibi, huhuhu. Tolong aku, Bibi. Selamatkan aku dari wanita gila itu. Sherly menghajarku dan membuat wajahku terluka. Dia mencakarku, memukulku, menendangku dan menonjok perutku. Huhuhu, sekujur tubuhku rasanya sakit semua."
"Apa?! Dia berani melakukan hal itu padamu?!" Amanda mengangguk. "Dasar wanita kurang ajar. Apa dia sudah bosan hidup. Dia pikir dia siapa bisa memperlakukan calon menantuku seperti ini?! Amanda, kau tenang saja. Pasti bibi akan memberi pelajaran pada wanita tak tau diri itu!!"
Amanda menyeringai puas. Tidak sia-sia dia membuat dirinya sendiri babak belur. Ternyata Nyonya Veronica mempercayainya, dia memang selalu berdiri di pihaknya. Dengan begini akan lebih mudah baginya untuk memisahkan Rey dari Sherly.
Sejak awal Amanda hanya memanfaatkan wanita itu demi kepentingan pribadinya. Jika dia bisa menikah dengan Rey, itu artinya seluruh aset kekayaan keluarga Zian bisa jatuh ke tangannya. Dengan begitu ayahnya tidak akan pernah lagi membandingkan dirinya dengan kakak tertuanya.
Namun Amanda masih memiliki satu batu sandungan, yakni papa Rey. Tuan Zian sejak awal tidak menyukai dirinya. Dan merebut hatinya bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Amanda sudah mencoba berbagai cara, tapi tetap saja tidak berhasil.
"Hiks, Bibi. Tolong lakukan sesuatu untukku. Aku tidak ingin jika wanita itu terus-terusan menindasku. Apalagi Rey yang terus saja membelanya."
"Kau tenang saja, Sayang. Masalah ini serahkan pada Bibi. Biar Bibi yang memberi pelajaran padanya. Dia harus sadar diri akan posisinya."
"Terimakasih, Bibi. Kau memang yang terbaik."
-
-
Rey dan Sherly baru saja selesai menyantap makan siangnya. Kali ini mereka berdua sedang berada di dalam sebuah ruangan yang biasanya Rey pakai untuk beristirahat atau ketika malas pulang. Sebelum menikah dulu pastinya.
Sherly berdiri di depan dinding kaca yang memperlihatkan pemenangan sebagian kota Seoul. "Rey, lihat di sana. Aku rasa, aku menemukan tempat tinggal kita." Sherly menoleh dan menatap suaminya itu. Rey bangkit dari duduknya lalu menghampiri sang dara lalu berdiri dibelakangnya.
Kedua tangan Rey memeluk Sherly dari belakang. "Kenapa matamu sangat jeli sekali, Sayang? Bahkan aku tidak pernah memperhatikannya meskipun sering berdiri disini ketika jam istirahat tiba." Ucap Rey.
"Jangan salah, karena penglihatan wanita itu lebih baik dari laki-laki. Oya, Rey. Malam ini kau tidak lembur bukan? Bagaimana kalau kita makan malam di luar saja." Usul Sherly dan disambut baik oleh Rey.
"Sepertinya tidak buruk. Baiklah, tentukan dimana kau ingin makan malam. Aku harus kembali bekerja. Kau istirahatlah disini." Rey mengecup kening Sherly dan meninggalkannya begitu saja.
Wanita itu menarik sudut bibirnya. Tak pernah dia merasakan kehangatan seperti ini, menikah dengan Rey adalah pilihan terbaik dalam hidupnya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1