
Kabar tentang pernikahan Rey dan sherly telah sampai ke telinga nyonya Veronica. Dia sangat marah dan murka karena Rey berani menikahi Sherly tanpa sepengetahuan dan persetujuan darinya.
Bagaimana bisa Rey lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya, yang merupakan ibu kandungnya. Apakah Sherly lebih penting dari ibunya sendiri?!
Nyonya Veronica pun tak tinggal diam, dia akan membuat perhitungan dengan mereka yang telah terlibat dalam pernikahan tersebut.
"Ivanka, keluar kau!! Wanita ****** aku tahu kau ada di dalamnya, jadi cepat keluar aku ingin membuat perhitungan denganmu!!" teriak nyonya Veronica di depan kediamannya Ivanka.
Pintu utama bangunan yang memiliki tiga lantai itu pun terbuka. Sosok yang dicari oleh Nyonya Veronica akhirnya menampakan batang hidungnya.
Byurrr...
Sekujur tubuh nyonya Veronica basah kuyup karena satu ember air nyonya Ivanka lontarkan padanya. "Yakk!! Wanita ******!! Apa yang kau lakukan padaku?!" teriak nyonya Veronica sambil mengusap wajahnya dengan sapu tangan.
"Mengajari seorang wanita terhormat apa itu etika dan tata krama!!" jawab Nyonya Ivanka. Tidak terlihat penyesalan sedikitpun diraut wajahnya.
"Kau wanita gila!! Bagaimana bisa dia lebih memilihmu dibandingkan diriku!!" teriak Nyonya Veronica penuh emosi.
Nyonya Ivanka menyeringai. "Karena Robert tau mana berlian dan butiran kerikil!!" jawab Ibu dua anak itu dengan santainya.
"Kau!! Benar-benar ******!! Kembalikan Rey padaku!! Aku tidak sudi memiliki menantu seperti putrimu. Dan aku tidak rela, jika putraku menikah dengan barang bekas pakai seperti Sherly!!"
Nyonya Ivanka melipat kedua tangannya di depan dada. "Kenapa aku harus melepaskan menantu yang sangat hebat seperti, Rey?! Lagipula aku bukan orang sepertimu, kebahagiaan mereka tidak ada hubungannya dengan perselisihan diantara kita berdua."
"Dan ibu macam apa yang rela menghalalkan segala cara untuk memisahkan putranya dari wanita yang dia cintai, dan demi kepentingan sendiri mengorbankan kebahagiaan putranya. Kau, memang wanita tidak berhati!! Pergilah, aku tidak memiliki waktu untuk berurusan dengan wanita gila sepertimu!! Scurity, cepat usir wanita ini dan jangan biarkan dia datang lagi!!"
"Baik, Nyonya."
"Yakk!! Lepaskan aku. Aku bisa jalan sendiri dan kau tidak perlu mendorongku keluar!! Ivanka, ini belum selesai. Aku pasti akan memisahkan mereka berdua bagaimana pun caranya!!"
Sebagai seorang Ibu yang mengutamakan kebahagiaan putrinya. Tentu saja Nyonya Ivanka tidak akan tinggal diam. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak apalagi menghancurkan kebahagian Sherly.
Jika Nyonya Veronica berencana memisahkan mereka berdua, maka nyonya Ivanka akan membuat mereka tetap bersama. Dia tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan Rey dan Sherly karena mereka saling mencintai. Dan bagi Nyonya Ivanka, tidak ada yang lebih berharga dari kebahagiaan putrinya.
__ADS_1
-
-
Rey dan Sherly terlihat memasuki sebuah cafe yang berada dipusat kota. Rencananya hari ini mereka akan makan siang bersama Leon dan Sandra. Sandra adalah sahabat lama Sherly yang baru kembali dari Belanda.
Dari kejauhan, mereka berdua melihat dua orang yang sedang berdebat dan beradu argumen karena hal yang sepele. Siapa lagi mereka kalau bukan Sandra dan Leon. Memang bukan lagi rahasia jika mereka berdua musuh bebuyutan sejak lama.
"Sandra, bodoh!! Jelas-jelas bunga tulip itu ada di Belanda, bagaimana bisa kau mengatakan itu ada di Amsterdam?!"
"Jelas kau yang bodoh dan kurang wawasan, Amsterdam itu apanya Belanda. Jelas-jelas jika Amsterdam adalah ibu kota Belanda!!" Kata Sandra menegaskan.
"Eh, benarkah?! Memangnya sejak kapan Ibu kota Belanda pindah ke Amsterdam. Bukankah Ibu kota Belanda itu New Delhi ya?" Ucap Leon dengan polosnya.
Sebuah bogem mentah mendarat mulus di kepala Leon. Lama-lama Sandra emosi sendiri berdebat dengan si bodoh Leon. Dia tidak tau apa yang sebenarnya ada di kepala lelaki jangkung satu ini. Dan bodohnya, bagaimana bisa dia jatuh cinta pada pria bodoh seperti Leon.
"Dasar kalian berdua, sudah tidak lama bertemu pun masih bisa bertengkar?!" Sontak keduanya menoleh pada asal suara. Sandra tersenyum lebar, dia berdiri dan langsung menerjang tubuh Sherly.
"Sherly, aku merindukanmu, huhuhu. Dasar sahabat durhaka, bagaimana bisa kalian berdua menikah tanpa memberitahuku?!" Sandra meneteskan obat mata agar lebih dramatis.
Sandra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehehe, lupa. Aku kenangan ponselku saat musim dingin dingin bulan lalu. Aku kehilangan kontak kalian semua, dan itu membuatku frustasi." Tutur Sandra menjelaskan.
"Pantas saja, aku pikir kau sudah bahagia dengan pasangan bulemu di sana, terus kau melupakan kami bertiga!!" Sahut Leon menimpali.
"Mana ada, kalian bertiga tetap orang terpenting dalam hidupku, jadi bagaimana mungkin aku bisa melupakan kalian begitu saja. Dan asal kau tau saja, Leon bodoh. Selama di sana aku belum pernah pacaran sama sekali!!" Jawab Sandra menegaskan.
Rey dan Sherly hanya menjadi penonton saja. Perdebatan mereka berdua yang tiada ujungnya menjadi hiburan tersendiri bagi mereka berdua. Mengabaikan mereka berdua yang masih asik berdebat. Sherly kemudian memesan makanan dan minuman, dia sudah sangat lapar.
Ting...
Perhatian Sherly tersita oleh pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ibunya mengirimkan pesan singkat dan memberitahunya jika tadi Nyonya Veronica datang dan membuat keributan.
Rey yang penasaran lalu mengambil ponsel itu dari tangan Sherly, tangannya terkepal kuat. Emosi terlihat jelas pada mimik wajahnya. Kali ini ibunya benar-benar sudah keterlaluan dan Rey harus bicara dengannya.
__ADS_1
"Sherly, maaf aku harus pergi. Kau tetaplah disini dan temani mereka. Masalah mama biar aku sendiri yang menyelesaikannya."
"Tapi, Rey~"
"Aku akan segera kembali untuk menjemputmu!!"
Sherly menghela napas berat. Dihentikan juga tidak ada gunanya. Rey sangat keras kepala. Dan Sherly hanya bisa berdoa semoga dia tidak melakukan hal yang tidak diinginkan pada Ibunya.
-
-
Bima membuka matanya dan mendapati dirinya terbaring disebuah ruangan putih dengan aroma khas yang menyengat. Perban tampak melingkari kepalanya. Bima mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Dan kenapa dia bisa terbaring di rumah sakit.
Perhatian Bima teralihkan oleh kedatangan seorang perempuan muda. Perempuan itu tersenyum saat melihat Bima telah membuka mata.
"Kau sudah sadar. Sebaiknya jangan banyak bergerak dulu. Atau luka jahit pada kepalamu akan terbuka lagi." Ucap perempuan itu mengingatkan.
"Kau siapa? Dan kenapa aku ada disini?" Tanya Bima, dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Tapi kepalanya terlalu pusing sehingga dia tidak mengingat apapun tentang yang menimpa dirinya.
"Orang tuaku menemukanmu tak sadarkan diri di jalan. Ada yang melihat kau pingsan setelah dipukul oleh seorang wanita yang tinggal bersamamu." Jelas wanita itu.
Bima mengangguk. Dia ingat sekarang. Semalam dia terlibat pertengkaran dengan Delima, lalu wanita itu memukulnya dan membawa kabur semua uangnya. "Sebaiknya aku pergi saja dari sini. Aku tidak memiliki biaya untuk membayar rumah sakit!!" Bima hendak bangun tapi dicegah oleh wanita itu.
"Kau tidak perlu memikirkan soal biaya, orang tuaku sudah membayar semua biaya rumah sakitmu. Dan kau bisa menggantinya nanti. Oya perkenalkan, aku Yuri." Perempuan itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri pada Bima.
"Aku Bima,"
"Senang mengenal Anda, Tuan Bima," Yuri tersenyum, begitu pula dengan Bima. Entah bagaimana Bima harus membalas kebaikan gadis ini dan keluarganya.
-
-
__ADS_1
Bersambung.