GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL

GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL
Bab 32: Terjebak Dalam Kegelapan


__ADS_3

"Pagi,"


Sherly yang baru membuka matanya disambut ucapan selamat pagi oleh Rey yang ternyata sudah bangun lebih awal. Wanita itu bangkit dari berbaringnya, bibirnya mengukir senyum tipis.


"Pagi juga, Rey. Kenapa sudah bangun? Apa tidurmu tidak nyenyak semalam, apa lukanya masih terasa sakit?" Sherly mengulurkan tangan kanannya, jari-jarinya menyentuh permukaan perban yang membalut mata kiri Rey.


Rey menggeleng. "Tidak, mataku sudah tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir," ucap Rey meyakinkan. Meskipun sebenarnya dia tidak baik-baik saja, dia hanya tidak ingin membuat Sherly semakin cemas.


"Aku mau pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju. Perlu aku bawakan apa?" Tanya Sherly pada suaminya.


"Baju ganti saja, pakaian rumah sakit membuatku sedikit tidak nyaman." Ucapnya. Sherly mengangguk. "Hati-hati saat mengemudi, jangan mengebut. Aku tidak mau kau kenapa-napa." Ucap Rey sambil membelai pipi Sherly.


Sherly menggenggam jari-jari Rey yang menyentuh pipinya. "Aku tau, sebentar lagi Leon akan tiba disini. Dia yang akan menemanimu disini, aku akan segera kembali." Sherly mengecup singkat bibir Rey sebelum meninggalkannya.


Selain pulang. Ada hal yang ingin dia lakukan, dan pulang hanyalah sebuah alasan. Karena Rey tidak mungkin mengijinkannya jika dia sampai tau tujuannya pergi untuk apa.


-


-


"Ada yang ingin bertemu denganmu, cepat keluar."


Seorang penjaga penjara sel menghampiri Bima dan memberitahunya jika ada yang ingin bertemu dengannya. Pria itu bangkit dari duduknya lalu ikut keluar bersama penjaga sel itu. Tangannya dib*rgol, kakinya di rantai sehingga tak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri.


Mata kiri Bima membelalak melihat siapa yang sedang duduk menunggunya di bilik kaca itu. "Sherly," ucapnya setengah berbisik. Dengan semangat dia melangkah menghampiri mantan istrinya itu.


Brugg...


Tubuh Bima tersungkur ke lantai setelah mendapat dorongan keras dari Sherly ketika pria itu hendak memeluknya. "Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu!!" pinta Sherly dingin.


"Sherly, kenapa kau setega ini padaku?! Apa kau lupa dengan masa lalu kita, dulu kita sangat harmonis. Apa kau lupa? Dulu kau sangat mencintaimu dan aku sangat mencintaimu. Apa semua itu tidak berarti lagi bagimu?"


"Omong kosong!! Memangnya kapan kita pernah saling mencintai dengan tulus? Apa kau lupa bagaimana perlakuanmu padaku saat kita masih menjadi suami istri?"

__ADS_1


"Sherly, kenapa kau bicara begitu? Apa aku tidak pernah ada artinya di matamu?" Bima menatap Sherly dengan sendu.


Wanita itu menyeringai. "Di mataku, kau tak lebih berharga dari butiran debu dijalanan. Mulai hari ini, jangan pernah berharap kau bisa melihat cahaya, karena selamanya kau akan hidup di dalam kegelapan yang tidak akan pernah ada ujungnya."


"Apa maksudmu?!"


"Kau telah membuat satu kesalahan besar yang tidak akan pernah termaafkan. Kau membuat suamiku kehilangan satu mata, meskipun aku sudah membuatmu membayarnya, tapi itu belum cukup. Itu belum cukup untuk membuatku puas."


"Aku ingin kau merasakan penderitaan yang tidak pernah terbayangkan. Karena itu adalah hal yang layak kau dapatkan!!"


"Sherly!! Kenapa kau jadi begitu kejam, kenapa kau jadi tidak berhati?! Kenapa hanya demi lelaki itu, kau berubah menjadi iblis yang tak berhati?!"


Sherly menyeringai. "Karena dia suamiku, orang yang paling aku cintai dan selalu ingin aku lindungi. Mulai hari ini, terimalah takdirmu. Apa yang menimpamu saat ini bukanlah kesalahan takdir, tapi karena kebodohanmu sendiri. Sampai jumpa Bima, ini adalah pertemuan terakhir kita." Sherly bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.


Bima akan dijatuhi hukuman yang sangat berat. Dia dijerat dengan pasal berlapis. Sherly hanya ingin membuat Bima menyadari semua kesalahannya dan merenungi dosa-dosanya. Karena sampai kapanpun, orang seperti Bima tidak akan pernah berubah.


-


-


Orang itu memiliki sebuah kedai sederhana. Dan Delima bekerja di sana sebagai pelayan. Kedai itu selalu ramai pengunjung meskipun tempatnya tidak terlalu besar. Dan yang dijual di sana adalah makanan asal Indonesia seperti Sate, Rendang dan masih banyak lagi.


"Delima, antar ini kemeja nomor tiga." Pinta seorang wanita paruh baya yang merupakan istri dari pemilik kedai.


Delima tersenyum dan mengangguk. "Baik, Bibi." Jawabnya.


Delima menghampiri wanita muda yang sedang menunggu pesanannya. Dari postur tubuhnya, terlihat tidak asing. Tapi Delima tidak terlalu yakin juga, apakah dia orang itu atau bukan.


"Nona, silahkan. Ini pesanan Anda."


Wanita muda itu lantas menoleh, matanya dan Delima sama-sama membulat sempurna setelah mata mereka saling bersirobok. Dengan serempak mereka saling memanggil nama.


"Sherly//Delima!!"

__ADS_1


.


.


"Begitulah ceritanya. Sejak malam itu aku dan Bima tidak pernah bertemu lagi. Kami benar-benar berpisah."


Mereka berbincang dari hati ke hati. Delima sampai berlutut agar Sherly mau memaafkan dirinya. Bagaimana pun juga dia pernah menjadi duri dalam rumah tangganya dan Bima. Selain Sasa dan Mirah, salah satu alasan Sherly dan Bima berpisah adalah Delima.


Tapi semua itu sudah berlalu. Sekarang Sherly sudah memaafkan Delima. Wanita itu benar-benar telah berubah dan menyadari kesalahannya. Pelajaran hiduplah yang telah mengajarkan Delima untuk menjadi orang yang lebih baik.


"Delima, maaf aku harus pergi sekarang. Saat ini suamiku ada di rumah sakit. Aku harus kembali ke sana untuk menemaninya."


Delima mengangguk. "Baiklah, hati-hati Sherly." Wanita itu kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya karena jumlah pengunjung semakin banyak. Kali ini Delima tidak akan menyia-nyiakan kembali hidupnya. Dia tidak akan terjatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.


-


-


Sherly tiba di rumah sakit dan mendapati Rey yang sedang mengobrol dengan Leon. Tidak hanya Leon saja yang ada di sana, tapi ada Sandra juga. Sherly menghampiri mereka bertiga kemudian duduk disamping suaminya.


"Dasar istri tidak bertanggung jawab, sudah tau suaminya sedang sakit tapi masih ditinggal kelayapan diluar," kedatangan Sherly langsung disambut Omelan oleh sahabatnya itu. Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala hitamnya.


"Jangan sembarangan bicara!! Aku pergi juga bukan tanpa alasan, baru juga datang sudah ngajak ribut."


Sandra mengusap kepalanya yang baru saja di kotak oleh Sherly. "Iya, tapi tidak perlu menjitak kepalaku juga. Sakit tau," wanita itu mempoutkan bibirnya. Tapi Sherly tidak peduli. Sedangkan para pria hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah sepasang sahabat itu.


Mereka benar-benar kekanakan. Begitulah yang Rey dan Leon pikirkan. Tapi memang begitulah mereka berdua. Dekat sering bertengkar, tapi saat jauh saling merindukan.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2