GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL

GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL
Bab 39: Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Rey mondar-mandi di depan ruang operasi. Di dalam sana istrinya tengah bertaruh nyawa antara hidup dan mati. Sudah lebih dari 4 jam, namun masih belum ada tanda-tanda jika dokter akan keluar dari ruangan itu.


Derap langkah kaki yang saling bersahut-sahutan memecah dalam keheningan. Rey menoleh pada asal suara. Nyonya Ivanka dan Tuan Robert terlihat menghampirinya.


"Rey, bagaimana keadaan Sherly?" Nyonya Ivanka menatap Rey dengan wajah sembabnya.


Rey menggeleng. "Masih belum tau, Ma. Dokter masih belum keluar," jawab Rey lemas. Nyonya Ivanka kemudian memeluk menantunya itu, dia bisa merasakan apa yang Rey rasakan. Ia dan suaminya juga sama hancurnya seperti Rey.


"Kuatkan dirimu, Rey. Mama yakin Sherly pasti kuat, dia adalah wanita yang kuat dan tangguh." Nyonya Ivanka mengusap punggung Rey dengan gerakan naik-turun.


Dan sepanjang dia mengenal Rey, baru kali ini Nyonya Ivanka melihat Rey yang begitu lemah. "Demi Sherly, kau harus kuat, Rey. Jika kau kuat, Sherly juga pasti akan kuat."


Sekali lagi Rey melihat ke arah ruang operasi yang tertutup rapat. Dia berharap jika ruangan itu segera terbuka lalu dokter menghampirinya dan mengatakan jika istrinya baik-baik saja.


"Sebaiknya kau pulang dulu, Rey. Bagaimana reaksi Sherly saat dia bangun dan melihatmu yang begitu berantakan." Ucap Tuan Robert.


Kemudian Rey memperhatikan penampilannya. Benar apa kata mertuanya. Dia benar-benar kacau. Wajah kusut, rambut acak-acakan dan kemeja yang penuh noda darah. Rey mengangguk lalu dia meminta ijin untuk pulang sebentar. Dia memang harus membenahi penampilannya.


-


"BIMA!!!"


Mirah menjerit histeris setelah merima kabar jika putranya telah meninggal. Mirah tidak tau siapa yang menghubunginya, tapi orang itu mengatakan jika Bima telah meninggal, bahkan dia mengirimkan foto mayat Bima padanya.


Ibu dua anak itu jatuh pingsan sebanyak tiga kali. Mirah benar-benar syok mengetahui jika putra kesayangannya telah tiada. Sementara itu, Sasa hanya bisa tertunduk lesu mengetahui apa yang menimpa adiknya. Dia tidak tau apa yang terjadi dan bagaimana nasib tragis bisa menimpanya.


"Sasa, katakan pada Ibu. Katakan jika itu tidak benar. Katakan jika Bima tidak mati!!"


"Itu benar, Bu. Bima memang sudah tiada. Dan polisi Korea sendiri yang memberitahu kita. Dia juga menunjukkan kartu identitas Bima dan foto mayatnya. Dan Bima akan dimakamkan di sana."


Mirah menggeleng. "Tidak, Bima tidak mati. Anakku tidak mati, DIA TIDAK MATI!! BIMA!!!"


-


"Sherly!!"


Rey langsung kembali ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar jika operasinya berjalan lancar dan Sherly sudah sadar. Pria itu tidak bisa membendung kebahagiaan dan rasa harunya, bahkan Rey sampai menangis melihat Shelry yang sedang tersenyum padanya.


Pria itu menghampiri Sherly dan langsung memeluknya dengan erat. "Aku pikir aku telah kehilanganmu, Sayang. Aku pikir kau tidak akan membuka matamu lagi. Apa kau tau betapa takutnya aku." Bisik Rey ditengah isakannya.


Sherly tersenyum tipis. Dia mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan suaminya.

__ADS_1


"Mana mungkin aku meninggalkanmu, aku ini adalah wanita yang kuat. Sayang, karena insiden itu kita harus kehilangannya. Dan kemungkinan besar aku tidak bisa hamil lagi," suara Sherly terdengar serak seperti menahan tangis.


Rey menggeleng. "Aku tidak peduli. Yang terpenting kau berada di sisiku dan tidak pernah meninggalkanku. Kita akan baik-baik saja, aku yakin itu."


Nyonya Ivanka menyeka air matanya. Sungguh beruntung Shelry memiliki suami seperti Rey yang begitu mencintainya. Tuan Robert kemudian memberi kode pada Istrinya untuk meninggalkan mereka berdua. Mereka membutuhkan waktu untuk bersama.


Kemudian Rey melepaskan pelukannya. "Kau harus istirahat. Aku akan menemanimu disini," ucap Rey lalu menuntun Sherly untuk berbaring. Menggunakan kepala coklat wanita itu sebagai tumpuan dagunya.


-


Satu bulan telah berlalu. Kini keadaan Sherly sudah baik-baik saja. Dia di rawat selama 2 Minggu lebih di rumah sakit. Saat ini, dia dan Rey sedang berada di makam Delima. Sejak keluar dari rumah sakit, baru kali ini Sherly datang ke sana.


Sesekali wanita cantik itu menyeka air matanya yang menetes membasahi wajah cantiknya. Sungguh hancur hati Sherly mengingat apa yang telah Delima lakukan untuknya.


Sherly meletakkan beberapa tangkai bunga Lilly di pusara wanita itu. Dia terus berbicara pada gundukan tanah di depannya. Sedangkan Rey yang berdiri dibelakangnya hanya diam sambil menatap sendu sang istri. Rey bisa memahami betul apa yang Sherly rasakan.


"Bagaimana kabarmu di sana, Del? Maaf, karena aku baru sempat mengunjungimu. Aku sungguh beruntung karena masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan. Tapi aku sedih karena kau harus pergi. Kita baru saja menjadi teman baik, tapi kau malah secepat ini."


"Apa kau tau, Del. Aku sangat bahagia memiliki teman sepertimu. Baik-baik ya di sana, aku sangat merindukanmu. Maaf, aku tidak bisa lama-lama disini. Saat ada waktu, aku akan datang mengunjungimu lagi."


Kemudian Sherly bangkit dari posisinya. Ia dan Rey berjalan beriringan meninggalkan tanah pemakaman. Rey menggenggam tangan istrinya dan mencoba untuk menguatkannya. Dia tau, meskipun Shelry selalu terlihat tegar. Tapi sebenarnya dia itu rapuh.


-


Sherly sedang duduk di beranda rumahnya. Jari-jari lentiknya mengusap perutnya yang membuncit. Meskipun dokter mengatakan jika kemungkinan besar Sherly tidak bisa hamil lagi, tapi takdir Tuhan berkehendak lain.


Sembilan bulan yang lalu Sherly dinyatakan hamil oleh dokter. Dan tentu saja itu menjadi sebuah berita yang sangat membahagiakan bagi pasangan muda tersebut, saking terharunya Sherly sampai menangis histeris. Antara percaya dan tidak percaya.


"Aaahhh..."


Tiba-tiba Sherly merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Sebenarnya dia sudah mulai kontraksi sejak pagi tadi. Tapi Sherly tak terlalu menghiraukannya, karena rasa sakitnya belum terlalu terasa.


Tapi semakin siang, rasa sakit itu semakin menjadi dan tidak tertahankan. Rey yang baru kembali dari dapur terkejut melihat Sherly yang tampak kesakitan sambil memegangi perutnya.


Sadar jika istrinya akan segera melahirkan. Rey pun bergegas membawanya ke rumah sakit. Tak lupa dia memberitahu ibu mertuanya jika Sherly akan segera melahirkan.


"Uhhh, Rey... Sakit!!"


"Bertahan, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang. Kau harus kuat demi aku dan anak kita."


"Huhuhu, sakit!!"

__ADS_1


Rey pun semakin panik mendengar rintihan kesakitan Sherly. Karena tidak mungkin mengemudi sendiri. Rey pun meminta supir untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Sedangkan dia duduk di jok belakang bersama Sherly. Rey harus menenangkannya.


-


Oekk.. Oekkk... Oekk...


Suara tangis bayi dari ruang persalinan menyita perhatian tiga orang yang sedang menunggu dengan gusar. Rey segera menghampiri pintu ruang bersalin yang masih tertutup rapat itu. Dia surga tidak sabar ingin melihat bagaimana keadaan Sherly dan buah hati mereka.


Cklekk ..


Pintu itu terbuka. Seorang perawat keluar dari sana sambil menggendong seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan di pelukannya. Perawat itu tersenyum lebar.


"Selamat Tuan, Putri Anda lahir dengan selamat. Ibu dan bayinya sangat sehat."


Rey menerima bayi mungil itu lalu menciumnya dengan penuh rasa haru. Malaikat kecil yang sudah lama dia dan Shelry impikan akhirnya hadir dan menyempurnakan keluarga kecil mereka.


"Sus, apa aku bisa menemui Ibunya?"


"Tentu, Tuan. Tapi setelah istri Anda di pindahkan ke ruang inap." Jawab suster itu dan pergi begitu saja.


.


.


Rey menghampiri Sherly sambil menggendong di kecil di pelukannya. Dia membawa bayi mungil itu pada Sherly yang sedang menyusut air matanya. "Lihatlah, Sayang. Putri kecil kita, dia sangat cantik, persis seperti ibunya." Ucap Rey tersenyum.


"Dia sangat mungil dan menggemaskan. Rey, apa aku sudah memiliki nama untuknya?" Sherly mengangkat wajahnya. Menatap suaminya itu penuh tanya.


"Bagaimana jika Laura?"


"Laura, nama yang sangat cantik. Baiklah, aku setuju dengan nama itu. Dan kita bisa memanggilnya Rara."


"Bagaimana kalau kebahagiaan ini kita abadikan. Kebetulan kakak membawa kamera baru." Perhatian keduanya teralihkan.


Kakak Sherly datang bersama Nyonya Ivanka dan Tuan Robert. Tuan Zian juga datang, dia sengaja meninggalkan semua pekerjaannya demi bisa melihat cucu pertamanya yang baru saja lahir.


"Bukan ide buruk." Jawab Sherly seraya mengangguk setuju.


Sherly mengukir senyum lebar dibibir merah mudanya. Impiannya untuk menjadi seorang ibu akhirnya terwujud. Tuhan mengabulkan doanya, kehadiran si kecil dalam hidupnya akan menyempurnakan kebahagiaanya dan Rey.


Setelah kisah panjang yang begitu melelahkan. Akhirnya Tuhan memberikan kebahagiaan yang sempurna dalam hidupnya. Kehadiran Rey dan malaikat kecil mereka, adalah kebahagiaan terbesar yang pernah Sherly dapatkan dalam hidupnya.

__ADS_1


-


The End.


__ADS_2