GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL

GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL
Bab 35: Membutuhkanmu


__ADS_3

Menerima kenyataan...


Mungkin hanya itu yang harus Rey lakukan saat ini. Meskipun menanam mata palsu, namun hal tersebut tidak akan berpengaruh sama sekali. Hanya memperbaiki penampilannya, bukan mengembalikan penglihatannya.


Rey masih mencoba beradaptasi dengan keadaannya saat ini, dan tanpa dia sadari hal tersebut malah melukai perasaan seseorang. Perubahan sikapnya yang drastis membuat Sherly kehilangan sosok suami yang hangat dan penuh kasih sayang.


Kini Rey menjadi pribadi yang dingin dan tertutup, termasuk pada Sherly. Tapi Sherly mencoba mengerti dan memahaminya.


Memang tidak mudah berada diposisi Rey saat ini, apalagi tak sedikit orang yang terkadang membicarakannya dibelakang karena kondisinya yang tidak lagi sempurna.


"Pagi," suara bak lonceng serta senyum sehangat mentari pagi itu menyambut kedatangan Rey dimeja makan. "Duduklah, aku sudah menyiapkan kopi dan makanan kesukaanmu," ucap Sherly lalu meletakkan kopi yang baru selesai dia sedu di atas meja.


"Sherly, tanganmu kenapa?" Rey mengangkat kepalanya dan menatap Sherly penuh tanya.


Wanita itu menarik kembali tangannya yang digenggam oleh Rey lalu menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya tidak sengaja terkena tumpahan air panas saat menyeduh kopi," jawabnya.


"Tidak apa-apa bagaimana, jelas-jelas tanganmu tidak baik-baik saja. Seharusnya kau bisa lebih berhati-hati," Rey memarahi istrinya yang ceroboh itu.


Sherly tersenyum simpul. Dia menarik tangannya yang masih digenggam oleh suaminya itu.


"Sakit di tanganku tidak seberapa dibandingkan hatiku. Meskipun tidak terluka, tapi rasanya sangat tidak nyaman. Aku akan mengoleskan obat luka, kau sarapan saja lebih dulu. Tidak perlu menungguku," ucap Sherly dan pergi begitu saja.


Langkah kakinya terhenti saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Matanya berkaca-kaca mendengar bisikan kata maaf menggema di telinganya. Sherly mencengkram tangan Rey yang saat ini memeluknya.


"Aku tau sikapku tanpa sengaja melukai perasaanmu, tapi aku juga tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Apa yang menimpaku membuatku merasa jika Tuhan tidak adil, ditambah pandangan orang-orang padaku saat ini. Aku merasa seperti sebuah lelucon,"


Sherly menutup matanya rapat-rapat. Dia melepaskan pelukan Rey lalu berbalik dan berhambur ke dalam pelukan suaminya itu. Tidak seharusnya dia bersikap seperti ini, seharusnya dia bisa lebih memahami keadaan Rey saat ini.


"Maaf," lirih Sherly setengah berbisik. "Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Aku sungguh-sungguh minta maaf,"


Rey menggeleng. "Bukan salahmu, untuk apa kau meminta maaf. Beri aku sedikit waktu sampai benar-benar bisa beradaptasi dengan keadaanku sekarang." Kemudian Rey melepaskan pelukannya. Jari-jarinya menghapus jejak air mata di pipi Sherly.


Dengan lembut dia mengecup kening wanitanya ini. "Tunggu disini, aku ambil obat luka bakar untukmu," Sherly mengangguk. Wanita itu menggenggam tangannya yang terluka sambil mengurai senyum tipis.


Sebenarnya luka itu bukan karena tidak sengaja, tapi Sherly sengaja menuang air panas ke punggung tangannya sendiri karena dia ingin melihat bagaimana reaksi Rey saat melihatnya terluka.

__ADS_1


"Kemarikan tanganmu," Sherly mengulurkan tangannya yang terluka pada Rey.


Dengan lembut dan hati-hati, Rey mengoleskan salep berwarna transparan itu pada punggung tangan Sherly yang memerah. Wanita itu sedikit meringis, rupanya benar-benar sakit.


"Sudah, sebaiknya jangan sampai terkena air dulu. Biar aku yang mencuci piring setelah kita sarapan," lagi-lagi Sherly hanya menganggukkan kepala.


Kehangatan dan kelembutan seperti ini yang Sherly rindukan dari suaminya. Dan hari ini dia bisa merasakan kembali kehangatan yang sempat menghilang itu.


-


-


Sasa dan Mirah kembali ke kehidupan lamanya. Mereka telah kehilangan segalanya, harta benda yang pernah mereka miliki dengan sangat singkat.


Tidak ingin hidup dalam kemiskinan. Sasa kembali ke dunia malam. Dia tidak Sudi jika harus hidup terlalu miskin dan menyedihkan.


Mirah sendiri menjadi Mami di tempat Sasa bekerja. Dia menjual gadis belia yang membutuhkan uang pada para hidung belang dengan imbalan yang lumayan.


"Mi, bisa tidak jika bayatanku, aku ambil lebih awal. Ayah sakit dan butuh uang untuk membeli obat,"


Mirah menghisap kembali rokoknya dan menatap wanita muda di depannya dengan tatapan sedikit sinis. "Berapa uang yang kau butuhkan?"


"Hm. Tapi kau harus menghasilkan uang yang lebih banyak untukku malam ini." Wanita itu mengangguk, dia menerima uang tersebut dan pergi begitu saja.


Sasa datang bersama pria tua yang sepertinya baru saja memberinya banyak uang. "Ini, Om Teddy. Dia teman kencanku malam ini. Om, ini Mamaku." Sasa memperkenalkan pria itu pada Ibunya.


"Anda terlihat sangat luar biasa, Tuan. Semoga putriku bisa selalu memuaskanmu. Sasa, layani tamu istimewa kita ini dengan baik. Kau pergilah bersenang-senang."


"Tentu, Mi." Sasa mengangguk lalu dia pergi bersama partner ranjangnya tersebut.


Mirah menghisap kembali rokoknya. Dia menghitung berapa banyak jumlah uang yang didapatkan malam ini, Mirah tersenyum lebar. Menjadi germ* ditempat pel*curan ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan. Kini ia dan Sasa tidak perlu pusing lagi soal uang.


-


-

__ADS_1


"Sayang, dimana suamimu?"


"Dia ada di kamar, Ma. Mungkin sedang istirahat."


"Bagaimana keadaan, Rey. Apa dia baik-baik saja?"


Sherly menggeleng. "Dia tidak baik-baik saja. Rey masih sangat terpukul dengan apa yang menimpanya. Dia belum bisa menerima kenyataan jika dia sekarang menjadi orang cacat." Jelas Sherly.


Nyonya Ivanka melihat kesedihan dan putus asa dari tatapan putrinya. Pasti sangat berat berada diposisi Sherly saat ini. Dan sebagai seorang ibu, tentu saja Ivanka harus terus mendukungnya dan memberikan kekuatan padanya.


Nyonya Ivanka menggenggam tangan putrinya. Bibirnya mengurai senyum tipis. "Dia sangat membutuhkan saat ini, jangan sekali-kali kau mencoba meninggalkannya. Jangan pernah tersinggung ataupun terluka oleh sikapnya."


"Sangat berat berada di posisinya. Biarkan dia beradaptasi dengan keadaannya saat ini, dan yang paling Rey butuhkan adalah dukunganmu." Ucap Nyonya Ivanka, Sherly tak kuasa menahan air matanya mendengar nasehat ibunya.


Terkadang dia mengeluh dengan perubahan sikap suaminya tanpa Sherly memikirkan bagaimana perasaan Rey sendiri. Apakah dia terlalu egois? Memang tidak seharusnya dia bersikap seperti ini.


"Ya sudah, Mama pergi dulu. Jaga suamimu baik-baik,"


Sherly mengangguk. "Tentu, Ma."


.


.


Selepas kepergian Ibunya. Sherly menghampiri Rey di kamarnya. Wanita itu tersenyum melihat Rey yang sedang sibuk dengan laptopnya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Sherly menghampiri Rey dan langsung memeluk lehernya.


"Aku merindukanmu, Rey." Bisik Sherly sambil menutup matanya.


Rey melepaskan pelukan Sherly lalu menarik wanita itu dan menempatkannya di atas pangkuannya. "Kau ingin bagaimana?" Rey menyibak rambut panjang Sherly lalu menyelipkan ke belakang telinganya.


"Malam ini sangat dingin. Bisakah kita..." Sherly tidak melanjutkan ucapannya dan menunduk dengan wajah tersipu.


Rey tersenyum. Dia mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya ke tempat tidur. Dia tau betul apa yang Sherly inginkan. "Tentu, Sayang. Malam ini kita akan saling menghangatkan."


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2