
Sherly menutup matanya sesaat ketika lidah Rey menyentuh lidahnya, ia seperti merasakan kejutan listrik kecil ketika lidah mereka saling bersentuhan dan membelit.
Lidah Sherly mulai bergerak dan mengikuti alur ciuman Rey, Rey yang merasakan Sherly membalas ciumannya mengerakkan tangan kanannya turun dan meremas pinggul Sherly yang sudah bulat tanpa sehelai benang pun.
Dan permainan mereka berlanjut, bukan lagi bibir mereka yang bertemu dan bergulat panas. Melainkan tubuh mereka yang kini menyatu sempurna tanpa pembatas apapun.
Rey terus memanjakan istrinya yang sudah dikuasai kabut nafsu. Des*han dan erangan berkali-kali lolos dari bibir tipisnya ketika dia mencumbunya lebih dalam.
Mata kanan Rey terus menatap Sherly yang memerah dibawanya. Pria itu menyeringai, dia kembali membenamkan bibirnya pada bibir Sherly dan mel*matnya seperti tadi. Namun ciuman kali ini jauh lebih singkat.
"Sudah siap?" Sherly mengangguk.
Tanpa membuang lebih banyak waktu lagi. Rey segera memasuki puncaknya. Dia membuka lebar-lebar kaki Sherly lalu mulai memasukkan sosis beruratnya yang sudah berdiri tegap ke dalam surga yang dimiliki istrinya.
******* panjang keluar dari sela-sela bibir Rey ketika seluruh sosis beruratnya masuk ke dalam diri Sherly yang lain. Lalu menggerakkannya dengan tempo cepat. Malam yang dingin ini akan menjadi malam yang panjang bagi pasangan muda itu untuk saling menghangatkan.
.
.
Percintaan mereka telah berkahir sejak satu jam yang lalu. Sherly sudah tertidur pulas karena lelah. Sedangkan Rey masih terjaga. Pria itu berdiri termenung di balkon kamarnya sambil menghisap sebatang rokok yang diapit kedua jarinya.
Rey menghisap kembali rokok itu, detik berikutnya asap beracun keluar dari sela-sela bibirnya. Aroma tajam pahit dari tembakau yang terbakar memenuhi udara di sekitarnya.
"Aku sangat kasihan dengan wanita itu, apa dia tidak malu memiliki seorang suami yang cacat?!"
"Dia memang tampan, kalau cacat untuk apa tetap dipertahankan?!"
Brugg...
__ADS_1
Rey meninju tembok disamping kanannya. Kalimat-kalimat tajam yang selalu berdengung di telinganya setiap kali dia melangkahkan kakinya di keramaian kembali berputar di ingatannya.
Awalnya Rey tidak ingin terlalu ambil pusing dengan keadaannya saat ini. Tapi omongan orang-orang diluar sanalah yang membuatnya meradang. Apa dirinya saat ini seburuk itu dimata orang lain? Rey benar-benar muak dengan kondisinya ini.
"Aarrkkhh!! Brengsek!!" Rey berteriak sambil meninju dinding itu sekali lagi.
Rasanya dia ingin sekali membungkam mulut mereka dengan bara api supaya tidak bisa berbicara lagi. Tapi dia masih memiliki kewarasan dan akal sehat.
Rey menutup mata kanannya dan menghela napas panjang. Dia kemudian beranjak dari balkon dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, tapi juga batinnya.
-
-
Masalah bisa menimpa siapa saja dan bisa berakibat pada apapun yang dilakukan orang yang terkena masalah, bukan? Begitu pun dengan Shelry. Beberapa hari ini ada hal yang mengganggu pikirannya. Dan lumayan berakibat pada beberapa pekerjaan yang dia lakukan.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, wanita itu bangun lebih pagi. Dia sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Wanita itu terlihat tidak begitu bersemangat melakukan aktivitas rutin di pagi hari. Keningnya berkerut, memikirkan entah apa, tapi yang jelas mengganggu pikirannya.
Sherly duduk di samping Rey, tampak malas menyentuh sarapan dan lebih memilih menyesap teh hijau hangatnya pelan-pelan. Rey menatap istrinya itu dengan dahi mengernyit.
"Kau kenapa, kenapa pagi ini kau terlihat tidak bersemangat sama sekali? Apa kau sedang kurang enak badan?" Tanya Rey memastikan.
Sherly menggeleng. "Aku tidak apa-apa, mungkin hanya terlalu lelah saja." Jawabnya.
Sherly tidak menyentuh sarapannya sama sekali. Dia benar-benar tidak berselera pagi ini, tidak bisanya dia seperti ini. Bahkan Sherly sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini.
"Kenapa tidak dimakan? Apa perlu aku suapi?" Tanya Rey memberi tawaran.
Wanita itu menggeleng. "Aku agak mual dan sedikit pusing. Melihat nasi rasanya sangat tidak enak, sebaiknya aku simpan saja nasi ini di dapur." Ucapnya lalu membawa nasi itu pergi ke dapur.
__ADS_1
Rey merasa ada yang tidak beres pada istrinya. Memang tidak biasanya Sherly bersikap seperti ini. Apalagi malas-malasan saat pagi hari, kemudian dia bangkit dari kursinya dan menghampiri sang istri.
"Bagaimana kalau setelah ini kita ke dokter? Kau terlihat agak pucat," Rey menatap Sherly dengan cemas.
Sherly menggeleng. "Tidak usah, aku akan istirahat sebentar. Nanti juga akan membaik sendiri. Aku mual dan sedikit pusing. Maaf, aku tidak bisa menemanimu sarapan." Baru juga dia berjalan dua langkah, tapi Sherly malah jatuh pingsan, membuat Rey membelalakkan matanya dan memekik keras.
"SHERLY!!"
.
.
"Dokter, bagaimana kondisinya? Apa istri saya baik-baik saja?" Tanya Rey memastikan.
Rey langsung membawa Sherly ke rumah sakit setelah wanita itu jatuh pingsan. Dokter itu mengangguk. "Dia baik-baik saja dan Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saat ini istri Anda sedang hamil dan usia kandungannya baru memasuki Minggu ke 5," jawab Dokter itu menjelaskan.
Mata kanan Rey sontak membelalak. "Hamil?" Dokter itu mengangguk. Mendengar hal itu membuat Rey tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Jika Sherly hamil, itu artinya ia akan segera menjadi seorang ayah.
Rey menghampiri Sherly. Dia mencium kening istrinya. Sherly menangis haru setelah mengetahui jika dirinya sedang hamil. "Kau dengar itu, Sayang. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua." Sherly mengangguk. Dia menyeka air matanya dan berhambur ke dalam pelukan suaminya.
"Ini adalah berita yang sangat membahagiakan, dan aku sudah tidak sabar untuk segera memberitahu Mama dan Papa. Pasti mereka sangat bahagia saat mengetahui akan segera memiliki cucu," Rey mengangguk.
Pria itu melepaskan pelukannya. "Nanti kita memberitahunya sama-sama. Mereka pasti akan bahagia mendengarnya. Dan mulai hari ini kau tidak boleh banyak pikiran apalagi kelelahan. Aku akan menjaga kalian berdua dengan baik," ujar Rey dan kembali membawa Sherly ke dalam pelukannya.
Dada Rey ingin meledak rasanya. Dia benar-benar sangat bahagia hingga tidak bisa berkata-kata lagi. Ternyata Tuhan memiliki rencana yang sangat indah dibalik musibah yang menimpa dirinya.
Dia kehilangan sebelah matanya, tapi Tuhan menggantinya dengan sesuatu yang luar biasa. Janin dalam perut Sherly akan menjadi kekuatan bagi Rey untuk bangkit dari keterpurukannya. Dia tidak boleh terlalu larut dalam duka, karena ada hal berharga yang harus dia jaga.
-
__ADS_1
-
Bersambung.