GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL

GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL
Bab 27: Gagal Bercocok Tanam


__ADS_3

Rey kembali mel*mat bibir merah Sherly dengan lembut, melanjutkan aksi ciuman mereka tadi. Rey memasukan tangannya kedalam baju yang membalut tubuh istrinya, membuat Sherly kembali menggeliat. Rey meremas dengan lembut pay*dara Sherly, mempelintir putt*ngnya yang mulai mengeras.


"Aaahh… Rey…ohmmmhmm!" Rancau Sherly di tengah kenikmatan yang Rey berikan.


Rey melanjutkan aksinya dengan menjelajahi leher jenjang nan putih milik istrinya. Perasaan wanita itu semakin terbang. Ciuman Rey kembali pada bibir ranum Sherly dan menciumnya seperti tadi. Namun ciuman kali ini lebih singkat.


Rey melepaskan tautan bibir mereka dan menatap wajah Sherly, wajah mereka semakin merah, pertanda kalau libido mereka semakin di puncak.


"Apa kau sudah siap?" Ucap Rey sambil mengunci manik mata Sherly yang tampak sayu karena tertutup oleh kabut nafsu. "Jika kau lelah, kita bisa menundanya. Masih ada lain waktu."


"Um," Sherly mengangguk. Rey menyeringai lebar. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Sepertinya Sherly juga sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.


Tapi tiba-tiba hal yang tak terduga terjadi. Ketika Rey hendak memulainya. Sebuah cairan merah keluar dari bagian bawah Sherly, Rey pun langsung mengusap wajahnya sambil tertawa membuat wanita itu kebingungan.


"Kenapa kau tertawa dan tidak jadi melakukannya?" Sherly menatap sang suami dengan kebingungan.


Rey mengecup singkat bibir wanitanya itu."Kita tidak bisa melanjutkannya, Sayang. Karena kau sedang ada tamu." Ucapnya sambil mengunci mata itu.


Sontak kedua mata Sherly membelalak. Buru-buru dia melihat ke area bawahnya dan benar apa yang Rey katakan. Wanita itu langsung memerah dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Rey, ini.."


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku bisa mengerti. Segeralah ke kamar mandi. Biar aku saja yang mengganti seprei nya." Ucap Rey yang kemudian dibalas anggukan oleh wanita itu.


Sherly terus saja menggerutu. Padahal tinggal sedikit lagi. Tapi kenapa tamunya harus datang diwaktu yang tidak tepat, membuat moodnya buruk saja. Sedangkan Rey malah terkekeh melihat setiap kata yang keluar dari bibir istrinya. Sudut bibir Rey tertarik ke atas, dia menggelengkan kepala.


Jika suami lain mungkin akan marah dan kecewa karena gagal bercocok tanam karena tamu sialan yang selalu menghambat setiap bulannya, tapi tidak dengan pria satu ini. Rey bisa mengerti, karena setiap wanita pasti akan mengalaminya. Dan dia tidak mempermasalahkannya.


.


.



"Ya Tuhan, Rey!! Kenapa foto itu ada disini?"

__ADS_1


Sherly yang baru saja selesai mandi terkejut saat melihat sebuah foto besar yang terpajang didinding kamar. Foto dimana dirinya yang sedang memakai sebuah hanfu (Baju Tradisional China) sambil memegang payung.


Foto itu diambil beberapa bulan lalu ketika dirinya berlibur ke China. Dua bulan setelah perceraiannya dengan Bima. Dan Sherly tidak tau darimana Rey bisa mendapatkan fotonya itu.


"Kenapa? Bukankah sangat cantik. Dan aku sangat menyukainya. Kau terlihat sangat cantik, persis seperti seorang putri."


"Tapi darimana kau mendapatkan foto itu? Bahkan aku tidak pernah memberitahumu tentang foto itu. Dan kau juga tidak ada disana saat foto itu diambil."


Rey menyeringai. "Benarkah? Lalu siapa yang memotretmu hari itu jika aku tidak ada disana." Jawab Rey masih dengan seringai yang sama. "Pria berkacamata, bertopi hitam dengan rompi hitam yang kau memotretmu hari itu adalah aku."


Mata Sherly lantas membelalak. Dia membekap mulutnya. Lalu dia memukul suaminya itu karena kesal. "Lalu kenapa kau harus menyamar, kenapa kau tidak menegurku langsung?! Dasar menyebalkan!!" Wanita itu mempoutkan bibirnya.


Rey terkekeh. "Kau saja yang tidak bisa mengenaliku. Padahal aku selalu mengikuti kemana pun kau pergi. Karena aku takut kau akan tersesat jika pergi sendirian." Tutur Rey.


"Huft, kau benar-benar ya. Tapi terimakasih karena selalu memperhatikanku." Sherly kemudian menghambur ke dalam pelukan suaminya.


Rey tersenyum. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan wanitanya ini. "Sama-sama, Sayang. Apa yang aku lakukan karena aku terlalu mencintaimu. Dan aku hanya memastikan kau aman." Ucapnya.


"Pasti, Sayang."


-


-


Bima memukul tembok dengan kepalan tangannya. Entah apa yang terjadi padanya, dia merasa tak nyaman setiap kali mengingat senyum lebar Sherly ketika dia menatap pria yang kini menjadi suaminya.


Ada ketidakrelaan dalam hati kecilnya saat melihat Sherly tersenyum untuk orang lain. Hingga terbesit dalam hati kecilnya untuk menghancurkan pernikahan mereka lalu merebut Sherly kembali.


"Kau masih memikirkan tentang mantan istrimu yang telah bahagia. Bukankah ada Yuri, sepertinya dia tertarik padamu." Ucap seorang pria yang merupakan rekan kerjanya.


"Aku tidak tertarik padanya. Dia terlalu kekanakan, dan itu membuatku muak." Jawab Bima.


Bima meneguk kembali minuman beralkoholnya. Pria itu dalam keadaan kacau sekarang karena memikirkan Sherly. Setelah wanita itu pergi dan dia terlihat bahagia, barulah Bima menyadari jika Sherly memang yang terbaik yang pernah ada di dalam hidupnya.

__ADS_1


Gyutty...


Tangan Bima terkepal kuat. Matanya berkilat tajam. "Sherly adalah milikku, sejak awal dia sudah memilihku. Dan aku tidak akan tinggal diam apalagi membiarkan dia bahagia bersama pria lain. Sherly, aku pasti akan mendapatkanmu kembali!!"


-


-


Delima menyusuri jalanan kota Seoul sambil memegangi perutnya yang keroncongan. Sudah dua hari dia tidak makan nasi, hanya beberapa potong roti yang dia dapatkan dari tong sampah.


Wanita itu terlihat begitu menyedihkan. Air mata mengalir dari pelupuk matanya. Wajahnya mendongak menatap langit yang telah menghitam.


"Ya Allah, apakah ini karma untuk hamba? Sesungguhnya engkau adalah maha pengasih dan pengampun. Jika masih ada kesempatan untukku memperbaiki diri. Aku ingin berada dijalan mu," Isah Delima menyesali semua dosa-dosanya.


Lalu pandangannya bergulir pada jalanan yang tampak ramai dengan lalu lalang kendaraan. Tempat ini memang asing baginya, dan tidak seharusnya dia berada di tempat yang asing ini.


"Bibi, kenapa kau menangis? Apa kau lapar? Aku memiliki makanan yang banyak tapi tidak bisa menghabiskannya. Apakah Bibi mau makan bersamaku?" Seorang gadis kecil menghampiri Delima sambil membawa makanan yang sangat banyak.


Delima menatap bocah perempuan itu lalu tersenyum tipis. "Makanan ini terlalu mewah dan mahal. Bibi juga sangat kotor, jadi tidak pantas jika harus makan bersama dengan gadis cantik sepertimu." Ucapnya.


Gadis kecil itu menggeleng. "Itu tidak benar. Bibi sangat cantik, tapi kecantikan Bibi tertutup dengan penampilan yang buruk. Jika Bibi mau merubahnya sedikit, pasti Bibi akan terlihat cantik. Lagipula kecantikan bukan dilihat dari penampilan, tapi dari hati. Jika hati cantik, maka paras juga akan terlihat cantik." Tuturnya.


Delima kembali menitihkan air matanya mendengar ucapan gadis kecil itu. "Aku baru saja kehilangan Ibuku, dia meninggal karena melahirkan adikku. Adikku juga meninggal, dan ini adalah pakaian milik Ibu. Aku berniat membuangnya, karena aku pikir akan sangat menyakitkan jika melihat baju-baju ini di rumah."


"Jika Bibi mau,kau boleh memilikinya. Dan jika Bibi malu makan denganku. Aku akan meninggalkannya separuh disini, Bibi makan ya. Aku pergi dulu, sampai jumpa lagi Bibi." Gadis kecil itu melambaikan tangannya pada Delima dan pergi begitu saja.


Delima kembali menyeka air matanya. Ucapan gadis kecil itu membuatnya sadar, jika di atas langit masih ada langit. Jika bukan dari dirinya sendiri, bagaimana dia bisa menjadi orang lebih baik?!


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2