GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL

GAIRAH CINTA JANDA BERSEGEL
Bab 37: Kebahagiaan


__ADS_3

Kabar baik tentang kehamilan Sherly membuat Nyonya Ivanka dan Tuan Robert sangat bahagia. Sherly hamil, yang artinya tak lama lagi mereka akan segera memiliki cucu. Pasangan suami-istri itu sudah tidak sabar dipanggil kakek-nenek oleh cucunya.


"Ini adalah kabar yang sangat membahagiakan, Sayang. Kau harus menjaga janin di dalam perutmu ini baik-baik. Jangan banyak pikiran apalagi melakukan pekerjaan yang berat-berat." Nasehat Nyonya Ivanka sambil menggenggam tangan putrinya.


Sherly mengangguk. "Aku mengerti, Ma. Lagipula Rey pasti akan mengomeliku habis-habisan jika aku sampai bandel dan tidak menurut padanya." Jawab Sherly sambil menatap Rey. Pria itu tidak memberikan tanggapan apa-apa. Dia hanya diam sambil mengukir senyum tipis.


"Rey, kau harus tegas pada Sherly. Papa mengenalnya dengan sangat baik. Dia itu keras kepala dan susah diatur. Jika dia tidak mau menurut dan bandel, getok saja kepalanya. Nanti pasti langsung nurut."


Sherly berdecak sebal. "Itu sama saja membuatku jadi orang bodoh, Pa. Aku adalah ibu dari janin ini. Pasti aku akan menjaganya dengan sangat baik." Sherly mengusap perutnya yang masih rata.


"Dan semoga saja kau bernasib baik, Rey. Jangan sampai seperti Papa dulu. Saat mengandung Sherly dulu, Mamamu suka sekali menyiksa Papa. Dia selalu meminta ini dan itu tapi saat Papa sudah mendapatkannya, tapi dia malah tidak mau menyentuhnya sama sekali."


"Pokoknya nasib Papa sangat-sangat menyedihkan saat Mamamu mengandung Sherly dulu." Papa Robert curhat pada menantunya ketika Ivanka mengandung Sherly dulu.


"Jangan melebih-lebihkan. Aku tidak separah itu. Jangan di dengar, Rey. Papamu terlalu mengada-ada. Orang ngidam saat hamil adalah hal yang sangat wajar. Dan semua suami pasti pernah mengalaminya," Tutur Nyonya Ivanka.


Obrolan mereka berlangsung sampai malam. Dan karena sudah larut, Nyonya Ivanka melarang mereka berdua untuk pulang. Akhirnya Rey dan Sherly pun menginap. Saat ini pasangan suami-istri itu berada di kamar mereka.


Rey membuka kemejanya lalu menyampirkan di belakang pintu. Menyisakan tank top hitam yang melekat pas ditubuh kekarnya. Dia menghampiri Sherly yang sedang berbaring dalam posisi terlentang.


"Ehh,"


Wanita itu terkejut saat merasakan usapan pada perutnya. Detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas. Wanita itu mengukir senyum tipis.


"Apa kau bahagia?" Sherly menatap Rey yang sedang mengusap perutnya.


Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Sherly dengan tatapan bertanya. "Apa masih perlu aku jelaskan bagaimana perasaanku saat ini? Tentu saja aku bahagia, sangat-sangat bahagia malah. Saking bahagianya sampai-sampai ingin membuatku menangis." Ucapnya.


Sherly tersenyum. Dia bangkit dari berbaringnya lalu duduk dipangkuan suaminya. Kedua tangannya memeluk leher Rey sambil mengunci mata kanannya.

__ADS_1


"Ini adalah kebahagiaan yang sempurna. Dan kebahagiaan ini tidak bisa lagi aku ungkapkan dengan kata-kata. Tuhan telah mengganti apa yang telah dia ambil darimu dengan hal yang luar biasa ini."


Rey tersenyum. Dia memeluk pinggang Sherly dan menatapnya semakin dalam. "Benar, dan aku sudah merelakan apa yang hilang sejak dia hadir dan menyempurnakan cinta kita." Ia memiringkan kepalanya dan mengecup singkat bibir istrinya.


Rey mengangkat tubuh Sherly lalu membaringkannya di atas tempat tidur. "Ini sudah larut malam. Ayo, sebaiknya kita tidur." Sherly mengangguk. Dia masuk ke dalam pelukan suaminya dan membiarkan pria itu memeluknya sepanjang malam.


Dalam hidupnya. Sherly tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti yang dia rasakan saat ini. Ini benar-benar luar biasa. Tuhan memberikan sebuah kejutan yang sangat indah.


-


"Sampai kapan kalian akan mengurungku di tepat terkutuk seperti ini?!"


Nyonya Veronica terus berteriak dan membuat keributan di dalam selnya. Wanita itu kesal, marah karena ia belum juga dilepaskan padahal 3 bulan sudah berlalu.


Dan selama itu, tidak seorang pun datang mengunjunginya termasuk Amanda. Perempuan yang bersikukuh ingin dia nikahkan dengan Rey.


Dia dijatuhi hukuman dengan pasal berlapis. Niat awalnya ingin menghabisi Nyonya Ivanka, endingnya malah dia sendiri yang terjebak di dalam tempat terkutuk ini.


Veronica menoleh dan menatap tajam teman satu selnya itu. "Diam!! Sebaiknya kau tidak usah ikut campur!!" Bentaknya penuh emosi.


Wanita itu yang tersulut emosi langsung menarik rambut panjang Veronica. "Oh, kau mulai berani ya. Ambilkan gunt*ng itu," dia mengulurkan tangannya. Salah seorang teman satu selnya memberikan gunt*ng yang dia minta.


"Ma..Mau apa kau?" Nyonya Veronica memegangi kepala dan rambutnya.


"Wanita tak tau diri sepertimu sekali-kali harus diberi pelajaran!!" Jawab wanita itu dan mulai m*nggunting rambut panjang Nyonya Veronica secara acak.


Nyonya Veronica terus berteriak dan meminta agar wanita itu menghentikannya. Tapi dia tidak peduli apalagi menghentikan aksi gilanya.


Mendengar ada keributan. Salah seorang penjaga sel menghampiri mereka dan menghentikannya.

__ADS_1


Nyonya Veronica dipindahkan ke sel lain agar keributan seperti ini tidak terjadi lagi. Sedangkan wanita itu diberi peringatan keras juga hukuman karena menyelundupkan gunting ke dalam sel secara sembunyi-sembunyi.


"AARRRKKHHH!! SIALAN, KALIAN SEMUA BR*NGSEK!!!"


-


"Rey, apa yang sedang kau lakukan?"


Sherly yang baru saja bangun terkejut melihat beberapa hidangan sudah tersusun di atas meja. Dan dia mendapati suami tercintanya itu berada di dapur sedang menyiapkan menu terakhir.


Rey menoleh. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Dia mengukir senyum tipis dibibir kiss ablenya."Kau sudah bangun, aku sudah memasak makanan kesukaanmu. Duduklah, ini hampir selesai. Setelah ini selesai," ucapnya.


Sherly terharu. Dia menghampiri suaminya lalu memeluknya dari belakang. Rey kembali mengukir senyum di bibirnya. "Kau tidak perlu melakukan ini sebenarnya, jika hanya memasak saja. Aku juga masih sanggup."


Rey menggeleng. Kemudian dia melepaskan pelukan Sherly lalu berbalik badan. Posisi mereka saling berhadapan. "Apa kau lupa dengan apa yang dokter katakan, juga nasehat Mama. Kau tidak boleh sampai kelelahan." Ucapnya.


"Memasak bukanlah pekerjaan yang melelahkan, Rey. Tapi terimakasih, kau membuatku terharu." Kedua mata Shelry tampak berkaca-kaca.


Rey membawa Sherly ke dalam pelukannya. Memeluk wanita itu dengan hangat. Dagu Rey bertumpu pada kepala coklat Sherly. Bibirnya mengukir senyum tipis.


"Aku sudah berjanji untuk selalu menjaga kalian berdua. Besarnya Saham yang aku miliki membuatku tidak perlu harus setiap hari dalang ke kantor. Aku bisa bekerja dari rumah dan menjaga kalian."


Sherly menutup matanya. Akhirnya dia mendapatkan kembali kehangatan yang pernah hilang itu. Sherly bahagia, saking bahagianya sampai-sampai membuatnya hampir menangis.


Wanita mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Rey. "Kebetulan sekali aku memang tidak ingin jauh darimu. Tapi ingat, ini bukan permintaanku. Ini adalah permintaan janin di dalam perutku ini." Ujar Sherly.


Rey melepaskan pelukannya. "Dan aku akan memenuhi keinginannya itu. Duduklah, aku selesaikan menu terakhirnya. Setelah ini kita sarapan sama-sama." Sherly tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2