Garuda Dan Ciwi-ciwi Cantik

Garuda Dan Ciwi-ciwi Cantik
6


__ADS_3

Pagi ini cuaca sedang tidak bersahabat. Awan mendung yang sudah menghitam hanya tinggal menghitungan waktu untuk minta dimuntahkan.


"Ma... Garu berangkat dulu ya." Pamit Garu pada mama Uci yang sedang membereskan meja makan.


"Sayang mending pake mobil aja deh berangkat sekolahnya!. Takutnya nanti hujan sebelum nyampe sekolah soalnya mendung gitu diluar."


"Gag ah ma, Garu naik marco aja biar kalo nanti jalanan macet Garu bisa nyalip gitu jadi gag bakal telat."


"Ya udah deh terserah kamu aja. Tapi hati-hati naik motornya!."


"Beres ma. Garu berangkat ya ma. Assalamualaikum." Pamit Garu sambil mencium tangan mamanya.


"Iya. Wa'alaikumsalam."


Setelah berpamitan, Garuda segera menuju garasi tempat dimana marco dan beberapa koleksi mobil dan motor Garuda diparkirkan. Garuda segera melajukan motornya menuju sekolahnya. Setelah Garuda memasuki kawasan tempat parkir sekolah, hujan langsung turun dengan derasnya.


"Untung aja udah sampai gue. Kalau gag bisa basah kuyup ni gue." Gumam Garu.


"Yah, tapi sama aja gue kan gag bawa payung buat nyebrang ke kelas, mana jauh lagi jaraknya. Bisa-bisa basah semua ni baju. Tapi mau gimana lagi, bisa telat masuk kelas dong gue kalau gag gue terjang." Ucap Garu dalam hati.


Garuda yang baru ingin melangkahkan kakinya untuk menerjang hujan sontak kaget. Karena tiba-tiba ada seorang cewek dengan sneakers putih sedang memayungi dirinya dari derasnya hujan.


"Kristal..." Ucap Garu. Ya cewek dengan sneakers putih itu adalah Kristal.


"Kita kekelas sama-sama aja. Toh hujannya deres banget gini, takutnya baju lo malah basah semua." Kristal memberi tawaran pada Garu.


Garu menatap kristal dan mengernyitkan keningnya.


"Modus gag ni anak." Batinnya.


Kristal yang mengerti arti tatapan dan kernyitan kening Garu sontak menjawab. "Tenang aja gue gag modusin lo kok. Kalau lo mau, kita bisa berbagi payung, tapi kalo lo gag mau juga gag apa kok."


Garuda yang mendengar ketulusan dari ucapan Kristal pun akhirnya mau berbagi payung dengan Kristal. Mereka berjalan berdampingan menuju kekelas mereka. Ditengah perjalanan menuju kelasnya Kristal memberanikan diri untuk bertanya kepada Garuda tentang penolakan yang dilakukannya beberapa hari yang lalu.


"Garu, kenapa lo kemarin nolak Gue?. Apa coba kurangnya Gue?."


Garuda yang mendengar pertanyaan Kristal pun seketika menghentikan langkah kakinya, dia membalikan badannya kesamping dan menatap Kristal. Sedangkan Kristal hanya menunduk mengamati sepatunya tak ada lagi keangkuhan dan kesombongan dari nada bicara seorang Kristal Adysa seperti yang dilihatnya hari-hari yang lalu, yang ada hanya perasaan kecewa dan keingin tahuan kenapa Garuda menolaknya.

__ADS_1


"Karena Gue ngehargain diri lo dan hati lo. Lagi pula Gue gag suka main-main kalau urusan hati."


"DEG"


Jawaban dari Garu membuat Kristal mendongak dan menoleh menghadap Garu. Jatungnya berdegub begitu kencang mendengar jawaban yang keluar dari mulut seorang Garu dan perlahan hatinya berdesir merasakan ketulusan dari jawaban Garu. Tidak seperti laki-laki yang selama ini dikenalnya yang selalu mau menerima cewek yang dirasa fisik dan mukanya OK tapi tak memperdulikan hatinya. Ada sesuatu yang aneh yang menggelitik hati seorang Kristal.


"Terus ngapain kalian jadiin Gue bahan taruhan genk kalian?." Garu balik tanya.


"Karena genk ciwi-ciwi cantik itu anti banget sama penolakan. Karena itu bakal ngerusak reputasi kita yang udah kita bangun. Makanya pas mereka tau lo nolak Gue, mereka pada gag terima." Jawab Kristal.


"Emank harus sampai segitunya ya?." Tanya Garuda lagi.


"Sebenernya, gag segitunya juga sih. Biasanya kita tu cuma nargetin cowok-cowok yang b****sek aja. Buat ngasih mereka pelajaran aja. Tapi buat lo itu pengecualian, karena lo beda dari yang lain jadi temen-temen gue ngerasa penasaran dan tertantang buat dapetin lo."


"Dasar aneh."


"Lho, kok aneh?."


"Gimana gag aneh coba, dimana mana tu ya kalo orang mau nyatain cinta itu mesti satu paket sama yang namanya ditolak atau diterima gitu."


" Ya... Gimana dong. Namanya juga menyangkut reputasi." Tak terasa mereka pun sudah sampai dikelas mereka. Mereka pun duduk dikursi mereka masing-masing.


"Jadian pala lo!. Orang dia nawarin buat bagi payung doang." Jawab Garu.


"Jadi ngarep ni buat ditembak lagi sama Kristal." Goda Haikal lagi.


"Bisa diem gag lo?!. Atau gag Gue s***el tu mulut!."


"Ih... Takut." Jawab Haikal dengan tawanya.


Tak terasa waktu pun berlalu, Bel pulang sekolah pun telah berbunyi. Namun hujan tak kunjung reda. Mau tidak mau Garu pun memakai mantelnya dan membelah hujan untuk pulang. Namun Garu tidak pulang kerumah melainkan kebengkel milik kakeknya.


*****


Dilain tempat, ditengah hujan ada seorang cewek cantik yang tengah mengotak atik mobil kesayangan yang entah kenapa tiba-tiba saja mogok. Lala yang tidak tahu menahu soal mesin pun akhirnya angkat tangan. Ingin meminta bantuan tapi tak ada seorangpun yang lewat. Hujan yang sedikit deras menyebabkan tubuhnya basah sehingga membuat baju yang dipakainya tembus pandang memperlihatkan dalaman yang sedang dipakainya.


"Kayaknya sekitar sini ada bengkel deh." Gumam Lala.

__ADS_1


Lala pun melangkahkan kakinya mencari bengkel yang tak begitu jauh dari mobilnya yang mogok.


"Mas bisa minta tolong benerin mobil saya yang mogok disana gag?." Tanya Lala pada seorang montir.


"Bisa Mbak. Mobilnya disebelah mana ya?"


"Itu Mas, empat rumah dari sini"


"Baik saya akan coba periksa, silahkan ditunggu dulu ya Mbak!." Jawab sang montir.


Lala pun mengangguk dan langsung mencari tempat duduk yang kosong. Ia duduk di ujung deket dengan jendela. Bajunya yang basah menarik perhatian para kaum Adam yang sedang menunggu mobil mereka yang sedang diperbaiki dibengkel tersebut.



"Sial!. Mana Gue gag bawa jaket lagi. Mana dingin pula." Gumam Lala dalam hati.


Lala duduk dan memperhatikan sekitar. Matanya tertuju pada motor yang menurutnya sangat familiar dimatanya. Saat tengah memperhatikan sekitar. Lala melihat ada laki-laki setengah baya tengah memperhatikan dirinya. Dengan pandangan yang penuh dengan tatapan m**** . Lala yang j**ik ditatap seperti itu lantas membuang muka berharap laki-laki itu segera pergi. Namun sayang yang diharapkan Lala tidak terjadi, laki-laki itu malah berjalan menghampiri Lala. Dia memandang Lala dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kaki dan tangan Lala gemetar karena takut. Ia menggigit kuat-kuat mulutnya untuk menutupi rasa takutnya. Tiba-tiba laki-laki itu bertanya kepada Lala.


"Sendirian aja ni cantik?. Gimana kalau abang temenin adek mau kan?." Tanya Laki-laki itu dengan tampang mesumnya.


"Iy—" Baru Lala mau menjawab, tiba-tiba sesorang sudah berdiri didepannya dan berkata


"Cewek ini bareng gue, Bro!."


.


.


.


.


.


.


.... TBC ....

__ADS_1


~Happy Reading~ 😘😘🥰🥰


__ADS_2