
Pagi-pagi sekitar jam 7, Felis sudah bangun dari tidurnya. Hal pertama yang ia lakukan bukan mandi ataupun sarapan melainkan menyetel televisi. Kegiatan wajibnya tiap bangun tidur adalah menonton berita infotainment.
“Pemirsa, kabar terbaru dating dari Keyzia Anastasya. Sejak hari Minggu kemarin anak sutradara ternama ini sudah resmi menjadi kekasih Rasya Affandi. Rasya Affandi ini adalah seorang pengusaha muda dan mantan pacar teman Keyzia sendiri. Berikut tayangannya,” ujar host infotainment di televisi.
Mata Felis melotot ketika melihat Rasya Affandi dan Keyzia berpelukan di ahag televisi. “Itu kan Keyzia? Kenapa jadian sama Rasya sih?” teriak Felis. Ia mengucek matanya berharap dirinya salah lihat. Namun, ternyata apa yang ia lihat benar adanya.
Rasa perih pun menyeruak di hati Felis. Sudah lama ia mencintai Rasya. Baginya Rasya itu cowok nyaris sempurna di mata cewek. Namun, untuk Kesekiankalinya cowok yang ia suka diambil Keyzia.
“Ini nggak bisa dibiarin, jika dulu gue ngeralain Reynold, Evan buat Keyzia kali ini gue nggak akan relain Rasya. Pokoknya gue harus bisa misahin mereka. Tapi gimana caranya ya?”
Felis bangkit dari tempat duduknya dan mulai mondar-mandir tidak jelas. Inilah cara Felis berpikir untuk menemukan ide cemerlang. Namun, bukan ide cemerlang yang ia dapat tapi malah kakinya pegal.
Felis menggetok kepalanya sendiri menggunakan tangannya. Ia kesal karena ahagia satu pun ide cemerlang yang menyangkut di otaknya. Felis melirik jam yang menempel di sudut ruang keluarga. Jarum jam telah menunjukkan pukul Sembilan pagi.
“Aha, ada baiknya gue ke mall aja kali ya? Siapa tahu ide abis ke mall ide cemerlang muncul.”
Tanpa banyak cincong Felis langsung menuju kamar mandi. “Mall, I’am coming!” teriak Felis sebelum memasuki kamar mandi.
***
Blok M square, tempat Felis berpijak saat ini. Tujuannya ke tempat ini adalah menghilangkan kekesalannya pada Keyzia. Felis menuju aha buku. Felis jika sudah berada dekat dengan novel-novel terbaru bisa lupa akan masalahnya.
Sesampai di aha buku Felis malah bingung mau beli buku apa. Maklum lah di sini ada banyak buku berjejer rapi. Felis pun mulai mengitari rak-rak buku, sesekali ia membaca ahagia yang ada di belakang cover novel. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah novel yang berada di rak buku kategori “Best Seller.” Judul dan covernya sangat menggugah hati Felis untuk membeli novel itu. Kebetulan novel itu hanya tersisa 1 eksampler. Cepat-cepat Felis menyambar novel itu.
Jelp!
Novel yang ia incar tiba-tiba raib dalam sekejap. Felis menoleh ke samping. Ada seorang cowok, badannya tinggi dan memakai jaket hitam dan topi, cowok itu memegang novel yang incar tadi.
__ADS_1
“Mas, itu kan saya duluan yang mau beli. Kok malah diambil sih?” tanya Felis.
“Yeee … siapa cepat dia dapat,” jawab cowok itu. Hati Felis makin dongkol dibuat cowok itu. Tiba-tiba ia teringat teman SD-nya yang ahagia Jonathan. Suara cowok menyebalkan itu mirip dengan suara Jonathan.
Felis menoleh ke samping seketika matanya menangkap sosok cowok yang sudah tidak asing lagi. Wajahnya mirip dengan Jonathan tapi cowok di depannya ini berkulit sawo matang. Dulu terakhir bertemu Jonathan sekitar 6 tahun yang lalu kulit Jonathan masih putih. Dia Jonathan atau bukan sih?
Untuk meyakinkan hati, Felis memberanikan diri bertanya pada orangnya langsung. “Lo Jonathan, teman gue di SD itu bukan?”
“Puji Tuhan, akhirnya kamu inget juga sama aku. Iya, aku Jonathan, teman di SD-mu dulu.”
Mata Felis berbinar, tak percaya dipertemukan lagi dengan teman lamanya. Felis langsung memeluk Jonathan erat. “Jo, apa kabar lo? Gue kangen banget sama lo. Lo sekarang makin ganteng, tapi sayang lo makin item hehehe…”
“Puji Tuhan gue baik-baik aja. Kabar lo sendiri gimana? Pasti baik dong.”
Felis menggeleng, wajahnya berubah murung. “Gue malah makan hati mulu jadi temennya Keyzia.”
Jonathan menaikan satu alis. “Kok bisa? Harusnya kan lo senang jadi temen Keyzia, lo bisa nebeng popular gitu.”
“Gimana kalau kita ke restaurant aja? Sekalian makan siang, gitu. Perut gue dah keroncongan.”
“Boleh juga tuh idenya. Perut gue juga udah keroncongan.”
Karena bertemu teman lama Felis jadi lupa akan kekesalannya pada Jonathan yang telah mengambil novel incerannya. Mereka pun berjalan ke luar aha buku dan menuju restaurant yang ada di blok M Plaza ini.
Di Blok M Plaza ini ada banyak tersedia tempat makan yang asyik dan nyaman. Namun Felis dan Jonathan lebih memilih mendatangi restaurant Platinum, yang terletak di lantai Ground. Alasan mereka memilih Restaurant ini adalah karena menu makanan yang tersedia cukup komplit. Ada menu Jawa Food, Chinese Food dan Westren Food. Harga makanan di sini lumayan terjangkau.
Mereka pun duduk di kursi nomor 2, letaknya paling depan bagian tengah. “Nah, Fel sekarang kita dah ada di restaurant. Lo bisa certain apa yang lo nggak suka jadi temen Keyzia,” ucap Jonathan membuka pembicaraan.
“Sebenarnya gue nggak suka jadi temen Keyzia itu karena Keyzia selalu mengambil cowok yang gue cintai.”
“Jangan-jangan cowok yang lo cintai itu Rasya Affandi?”
__ADS_1
Felis mengangguk pelan. “Rasya Affandi cowok yang gue cintai saat ini, sebelumnya gue cinta sama Reynold. Tapi Reynold cintanya sama Keyzia. Gue bingung kenapa sih cowok-cowok yang gue taksir pasti cintanya sama Keyzia? Gue kan nggak kalah cantik dengan Keyzia.”
“Lo yang sabar ya Fel. Gue tahu apa yang lo rasain. Gue juga berada di posisi yang sama sama kayak lo.”
“Maksud lo? Ayo sekarang giliran lo yang cerita sama gue!”
“Rasya Affandi itu sebenarnya teman gue sejak SMA, semua cewek yang gue cintai ujung-ujungnya juga berpindah ke hati Rasya.”
“Jangan-jangan lo juga suka sama Keyzia?”
Giliran Jonathan yang mengangguk. “Harus gue akui kalau gue suka sama Keyzia.”
Bola lampu di otak Felis menyala. “Bagaimana kalau kita berusaha memisahkan Keyzia dan Rasya?”
“Boleh juga. Tapi gimana cara misahin mereka?”
“Lo tau nggak apa yang paling disukai Rasya?”
“Main game. Kalau yang nggak disukai Keyzia apa?”
“Keyzia paling benci sama orang yang ngaret alias suka ahagi terlambat.”
“Aha! Gue punya ide misahin mereka.”
“Apa?” tanya Felis antusias.
“Sini gue bisikin,” ucap Jonathan.
Felis menundukkan kepalanya, Jonathan pun membisikkan sesuatu di telinga Felis. Cewek itu manggut-mangut mengerti apa yang dikatakan Jonathan. Wajahnya berubah cerah. Ia menyunggingkan senyuman licik.
“Keyzia, tunggu aja tanggal mainnya. Gue bakal bikin lo hancur, itu akibatnya kalau suka ngambil cowok yang gue suka,” batin Felis penuh kemenangan.
__ADS_1