
Pukul 19.00.
Mas Gibriel belum pulang dari kantor. Jadilah gue memanfaatkan waktu dengan video call Zoom dengan Genk Sosialita. Beberapa saat kemudian muncullah wajah Keyzia dan Risma di layar laptop.
“Eh, Genk kalian udah diintrogasi Detektif belum?” tanya Risma membuka obrolan.
Bukannya nanyain kabar dulu kek, ini langsung bahas yang berat.
“Udah. Kalian sendiri gimana?” Keyzia yang menjawab.
“Udah juga. Malah pas gue pulang dari makam Felis.”
“Gue belum. Duh, gue takut nih kalau kepoin gue.”
“Santai aja kali. Nggak osah takut. Jawab aja apa adanya. Mereka Cuma nanyain udah berapa lama temenan sama Felis, Felis ada curhat nggak, terus perjalanan persahabatan gimana, gitu-gitu aja sih.”
“Masalahnya adalah gue ketemu Felis tiga hari sebelum nikahan Risma. Gue takutnya itu yang bikin gue dijadiin tersangka. Karena terakhir Bersama korban.” Gue jadi parno sendiri.
Dahi Risma berkerut. “Hah? Ngapain lu ketemu Felis?”
“Minta temenin Felis bantuin nyari kado nikahan buat lu, Ris.”
Tok … tok … tok.
“Non, di bawah ada Bapak-bapak polisi.”
“Panjang umur tuh mereka. Baru digibahin udah nongol,” celetuk Keyzia.
Keringat dingin mulai mengucur. “Duh, gimana nih. Gue makin takut.”
“Lu ambil napas dalam terus embuskan. Lu jawab pertanyaan mereka dengan tenang. Kalau lu tegang atau panik, itu justru bikin mereka curiga,” saran Risma.
Gue ikutin sarannya. Benar, agak tenang sedikit. “Ya udah dulu ya. Gue mau temui mereka dulu. Bye.”
Sebelum menemui mereka, gue memasang kimono dulu. Nggak mungkin kan menemui polisi memakai lingerie seksi?
__ADS_1
***
“Selamat malam Bu Nindya Maharani, maaf mengganggu waktu Anda.”
“Ada apa, Pak?”
“Kami butuh informasi dari Anda mengenai Saudari Felisia Cyntami.”
“Mari silakan duduk dulu biar enak ngobrolnya.”
Tiga detektif tersebut duduk. Barulah aku duduk juga.
“Bisa Anda ceritakan bagaimana persahabat Anda dengan Saudari Felis?”
“Saya mengenal Felis itu sejak SMA. Sama-sama sekolah di SMA Katolik. Kami makin dekat saat kuliah. Terutama saat kami mengenal Gibriel Alexander yang kini jadi suami saya. Baik, saya akan ceritakan lebih detail tanpa ada yang dikurang atau ditambah. Jadi gini ceritanya …”
***
Gibriel Alexander
Ngomongin we chat, gue jadi kangen. Sudah lama juga nggak buka we chat. Hampir 2 bulan gue sibuk menyelesaikan novel perdana dan mengetik ouline buat novel baru makanya jarang online. Mumpung sekarang lagi mentok ide, dan nggak ada kerjaan bawa online we chat aja deh. Siapa tahu menemukan jodoh di we chat.
“Seluruh harta orangtuamu akan jatuh ke tanganmu ketika kamu lulus kuliah dan menikah. Jika usiamu 25 tahun, belum menikah maka hartamu akan disumbangkan dipanti asuhan.”
Kata-kata pengacara keluarga gue saat membacakan wasiat kembali terngiang di telinga gue. Umur gue sudah 21, tinggal 4 tahun lagi 25 tahun. Sampai sekarang gue belum menemukan cewek yang cocok. Makanya gue berinisiatif cari jodoh mulai sekarang. Kan bahaya kalau umur 25 tahun, gue belum nikah?
Gue mengambil android kesayangan. Setelah berada di tangan gue buka kunci android. Ternyata ada 2 pemberitahuan di we chat. Karena penasaran tingkat dewa, gue menyentuh tulisan pemberitahuan tersebut.
Helena has just added you send a messages to make friends
Sebelum gue memulai chat dengan Helena, gue ingin melihat wajahnya terlebih dahulu. Gue sentuh bagian foto profilnya untuk memperjelas. Tapi ternyata fotonya pecah, nggak jelas gitu. Mungkin resolusi fotonya kecil. Yang gue tangkap dari foto wajahnya itu dia memiliki alis yang tebal, kulitnya putih, dan bibirnya tipis agak kemerah-merahan gitu. Waw, type gue banget.
Karena penasaran sama cewek satu ini, gue pun mulai mengajaknya chat. Semoga dia lagi online, biar cepat balasnya.
Gibriel Alexander : Hay, thanks for add.
__ADS_1
Helena : Hay juga. Sama-sama. Btw, anak mana?
Gibriel Alexander : Bekasi, kamu?
Helena : Tangerang.
Gibriel Alexander : Oh, senang berkenalan denganmu. Eh, btw foto profilmu asli wajahmu gak?
Helena : Asli dong! Ngapain make wajah orang?
Gibriel Alexander : Bisa nggak kamu kirim fotomu yang resolusinya gede? Soalnya fotomu pecah, nggak jelas gitu.
Helena : Kalau kamu jodohku, suatu hari nanti pasti ketemu dan kamu bisa lihat wajahku sejelas-jelasnya.
Gibriel Alexander : Kamu masih single?
Helena : Ya
Gibriel Alexander : Boleh dong daftar hehehe. Btw tipe wanita idamanmu gimana?
Setengah jam telah berlalu namun Helena nggak balas chat dari gue juga. Helena kemana ya? Apa dia sudah off? Tunggu, ada yang aneh dengan diri gue. Biasanya, kalau orang di we chat terlalu pelit kata-kata gue ngomel. Si Helena juga kalau chat terlalu pelit kata-kata tapi kok gue nggak bisa marah ya? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Mendadak mataku tertuju dengan batangan berwarna merah di pojok kanan android. Itu artinya menandakan baterai android mau drop. Perasaan tadi sebelum chat baterainya masih full deh dan baterai bisa bertahan sampai 3 jam. Berarti gue chat dengan Helena sekitar tiga jam? Alhamdulillah, sesuatu banget. Ini pertama kalinya gue tahan chat sama orang sampai tiga jam.
Berhubung Helena nggak balas chat lagi gue mau off juga deh. Mau charge baterai android dulu. Sebelum off update status dulu kali ya mumpung baterai belum benar-benar habis dan android mati mendadak. Pas berada di we chat, gue nggak sengaja lihat status Helena.
Adakah cinta yang tulus datang padaku? Bulshit! Bagiku semua cowok sama saja, PENGKHIANAT!
Sumpah, hati gue sesak baca status Helena. Dia menganggap semua cowok itu pengkhianat. Gue kan nggak seperti itu. Langsung gue komentari status Helena.
Hay, nggak semua cowok itu pengkhianat. Kalau kamu menganggap seperti itu kapan kamu menemukan pemilik tulang rusukmu? Semua orang pernah terluka, tapi yang penting orang berusaha menyembuhkan luka hati dengan cinta yang baru. Aku siap kok jadi teman dan tempat curhatanmu. Kalau mau curhat telpon atau sms aku, nomornya 085654910277.
***
Hari demi hari berganti. Tanpa terasa sudah 3 bulan gue berhubungan dengan Helena. Kami berhubungan bukan hanya melalui we chat tapi juga melalui sms dan telpon. Meskipun di we chat Helena pelit kata-kata tapi kalau di telpon dia orang asyik diajak ngobrol, humoris juga. Telponan sama Helena bisa sampai tiga jam. Dia banyak cerita tentang karir dan cintanya. Di dunia karir Helena sangat percaya diri dan pantang menyerah. Sedangkan dalam dunia percintaan Helena sangat minder dan takut terluka lagi. Mantannya itu selingkuh sama sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Pelan-pelan gue menyembuhkan luka hati Helena. Yang ada malah benih-benih cinta tumbuh di hati gue. Kedengarannya sih aneh jatuh hati pada orang yang belum pernah ditemui. Namun, saat cinta telah mengetuk pintu hati tak ada satu orang pun yang dapat menolaknya. Ya, cinta bisa tumbuh dimanapun dan kapanpun. Masalahnya adalah gue nggak tahu gue merasakan cinta sama gue atau nggak. Yang penting bagi gue sekarang Helena sudah nggak menganggap semua cowok pengkhianat lagi.