Genk Sosialita

Genk Sosialita
Penulis Sombong


__ADS_3

Felisia Cyntami.


Aku berjalan memasuki kampus tercinta dengan tegesa-gesa. Berjalan sambal melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Aduh, mampus aku sudah jam setengah 10 pagi. Jadwal menghadap dosen pembimbing kan jam 9 tepat. Aku sudah telat setengah jam. Aku telat gara-gara Gibriel Alexander, tadi malam kan aku baca novelnya sampai jam 12 tepat. Nunggu balasan sms dari sampai setengah 1. 



Setelah gagalnya pernikahan sama Aldy, aku memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku mau focus mengejar mimpiku yang terbengkalai karena sakitnya cinta. Ruangan dosen pembimbing sudah terlihat oleh bola mataku. Aku semakin mempercepat ahagia. Dalam hati aku terus berdoa semoga aku dapat dosen pembimbing yang nggak galak dan mau memaafkanku dating terlambat. Namun di luar dugaan, sesuatu yang tidak kuinginkan malah terjadi.



Bruk!



Aku terjatuh dan buku-buku yang kupegang berserakan di lantai. “Aduh, siapa sih yang nabrak gue segala? Nggak tepat waktunya. Gue kan lagi buru-buru buat menghadap dosen pembimbing,” gerutuku. 



Aku masih terduduk berharap orang yang menabrakku minta maaf dan membantu berdiri serta merapikan buku-buku yang berserakan di lantai akibat perbuatannya.



“Ngapain lo masih terduduk? Ngarepin gue bantuin lo berdiri? Sorry, aja layau gue ngelakuin itu,” ujar seseorang di depan. Kata-katanya membuat otakku mendidih. Bukannya minta maaf karena menbarakku eh dia malah berkata kasar.



Aku mendongakkan kepala. Seketika emosiku lenyap begitu saja saat melihat orang yang menabrakku tadi. Secara orang yang menabrakku tadi cowok cakep banget, wajahnya putih bersih blateran Jerman dan Arab gitu, hidungnya mancur, bibirnya manis kok rasanya aku pernah melihat dia ya? Sayangnya aku lupa pernah ketemu dia di mana. 


Aku memicingkan mata untuk mengenali wajahnya dengan seksama. Otakku sibuk berpikir keras mencoba mengingat pernah melihat cowok ini di mana sih? 5 menit kemudian, aku berhasil mengingatnya. Tak salah lagi cowok yang ada di depanku adalah Gibriel Alexander, penulis novel Kamu Adalah Cintaku. Benar-benar nggak menyangkan dia kuliah di tempat yang sama denganku.


Aku mengulurkan tangan, “Hay, kamu Gibriel Alexander kan? Kenalin aku Felis. Aku sangat suka sama novelmu.” Aku memasang senyum paling manis. 



Dia hanya menatapku sinis. “Penting gitu kenalan sama lo? Sorry aja ye gue nggak ada waktu.” Setelah berkata demikian Gibriel Alexander, pergi begitu saja dari hadapanku dan tanpa memedulikanku. 



Aku masih melongo karena sikap Gibriel Alexander. Baru kali ini aku menemukan penulis sombong. Mentang-mentang berwajah cakep jadi bisa sombong gitu? 



“Dasar penulis sombong! Gue doain nggak ada cewek yang mau sama lo dan lo bakal jomblo seumur hidup!” kata-kata sumpah serapah keluar secara spontanitas dari mulutku. 



“Fel, ngapain lo masih duduk cepetan lo ke ruangan dosen pembimbing lo! Beliau sudah nungguin lo lama. Wajahnya horror banget, sumpah!” ujar Nindya, sahabatku di universitas ini. 



Aku menepuk jidatku sendiri baru ingat tujuanku hari ini dating ke kampus adalah menghadap dosen pembimbing. Secepat kilat aku berdiri. “Nin, lo mau bantuin gue nggak?”



“Minta bantuan apa? Lo mau gue temenin buat menghadap dosen pembimbing?”



“Bukan itu. Gue Cuma minta tolong lo buat beresin buku-buku gue yang berserakan di lantai.”



“Kalau soal itu kecil. Biar gue yang beresin! Cepetan lo menghadap dosen pembimbing.”



Aku mengucapkan beribu terima kasih sama Nindya. Aku langsung ngacir, menuju ruangan dosen pembimbing. Di dunia ini nggak semuanya sombong, masih ada orang baik salah satunya Nindya. Beruntung banget dia jadi sahabatku.



Bruk!



Aku menjatuhkan tubuh ke pulau kapuk tercinta. Sampai di kamar sudah jam setengah lima sore. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Dosen pembimbing mengambek, aku telat menghadapnya 45 menit. Awalnya sih beliau nggak mau jadi pembimbingku tapi kurayu terus dan alhasil hati beliau luluh juga. Ada tapinya, beliau memberi tugas tambahan yang bejibun. Makanya tadi ke aha buku dulu mencari buku buat mengerjakan tugas.



Tanpa sengaja aku menyentuh sebuah benda. Benda itu berbentuk segi ahagia, kulit bendanya ada timbul-timbul gitu. Rasa penasaran yang tingkat dewa membuat kumeraih ahagiaa. Astaga, ahagia novel penulis songong itu. Mending sekarang aku buang novelnya. ahagia menyimpan novelnya jika penulisnya saja tidak menghargai pembaca?

__ADS_1



Brak!



Kulemparkan novelnya ke lantai lalu kuberdiri dan mulai menginjak-injak novel. Emang sih dia nggak akan tahu apa yang kulakukan tapi setidaknya ini bisa mengurangi kekesalanku terhadapnya. Gara-gara dia aku jadi telat ke kampus. 



Setelah puas menginjak-injak novelnya, kubuka tong sampah yang ada di belakang pintu kamar. Plung! Novelnya berhasil mendarat di tong sampah dengan selamat. Dan sekarang saatnya tidur sore, badanku capek banget. Berharap nggak ketemu Gibriel di alam mimpi. Bagiku bertemu Gibriel merupakan mimpi buruk.


***


Pohon beringin, bagi banyak orang adalah pohon paling angker. Tempat tinggalnya para dedemit seperti kuntilanak, pocong, dan lain-lain. Tapi bagiku pohon beringin adalah tempat yang asyik buat mencari kedamaian hati. Mana mungkin orang berani rebut di dekat pohon beringin?


Setiap kali nggak ada dosen, pasti larinya ke pohon beringin ini. Sekadar menulis diari atau mendengarkan music aja sih. Aku membuka diari kesayangan. Diari adalah tempat curhat paling aman. Diari-ku dilengkapi fasilitas kunci jadi dijamin rahasiaku nggak terbongkar oleh siapapun.



Hal 1



Di kala malam hadirkan sunyi. Terdiam aku di tengah sepi. Melihat aku dengan tatapan kosong. Seolah tak percaya ahagiaa yang kamu lakukan ahagi? Dimana cintamu yang dulu diberikan ahagi? Cinta yang mampu membuatku ahagia. 



Dimana canda tawa kita? Dimana impian kita untuk hidup berdua selamanya? Semua hilang tak terduga. Lenyap ahagia janji manismu yang busuk. Kini kamu menghadirkan air mata dan kepedihan hati. Andai kamu bisa melihat air mata tanpa suara. Tangisan hati tak terdengar. Hanya kepedihan yang kurasa.



Kenapa ada pertemuan jika berakhir dengan perpisahan? Kenapa berawal dengan perkenalan jika berakhir tanpa menyapa? Rasa kehilangan akan terus bersemayam di hati. Berusaha melupakan saat-saat indah bersamamu, semakin menambah luka di hatiku.



Sendainya tidak ada pertemuan, pasti aku tidak akan merasakan sakitnya sebuah perpisahan. Tapi jika tidak diawali dengan pertemuan, maka aku tak kan pernah bisa merasakan indahnya cintamu. Kini aku sadar dan mengerti, perpisahan mengajarkanku betapa indahnya sebuah pertemuan.



Aku tersenyum sendiri membaca tulisan di halaman pertama. Aku menulis tulisan itu tepat saat Aldy memutuskan hubungan denganku. Kini Aldy hanyalah kenangan masa lalu. Sebab hatiku telah terisi oleh pria lain. Jari-jari tanganku mulai menggoreskan pena di buku diari tercinta.



Aku terpesona akan wajah tampanmu


Saat ku dengar suaramu


Jantungku berdegup kencang


Saat dekat denganmu


Hatiku merasa nyaman


Hatiku berkata kau lah yang selama ini yang ku cari


Apakah ini cinta?


Apa yang kutulis adalah curhatan hatiku terdalam. Ya, aku jatuh cinta lagi. Gibriel Alexander adalah pria yang berhasil mencuri hati dan mampu menggantikan posisi Aldy. Benar kata orang benci bisa berubah jadi cinta. Awalnya aku juga benci banget sama Gibriel, abis jadi penulis sombong banget. Tapi setelah kemarin ketemu dia di aha buku dan makan bareng di kafe aku jadi kesemsem. Dia nggak seburuk yang kukira.



Kemarin dia bercerita banyak ke aku katanya dia sombong seperti itu karena dia mengucapkan sumpah cinta. “Nggak akan jatuh cinta sama cewek manapun.” Makanya itu dia menghindari pembaca novelnya karena takut jatuh cinta sama salah satu dari mereka. Cara dia menghindari mereka adalah bersikap jutek dan cuek.”



“Woy! Lagi ngapain nih?” teriak Nindya, sahabatku. 



“Eh copot… eh copot.” Penyakit latahku kumat. Nindya sih ahagi-datang ngagetin aja, aku itu orangnya latahan. Aku mengelus dada, untung jantungku nggak copot beneran. Aku gelagapan menutup diari tercinta lalu menguncinya. Bisa gawat kalau diariku dibaca Nindya. Nidya itu orangnya ember, ceplas-ceplos dan nggak bisa menjaga rahasia.



“Hay, Nin tumben lo nyamperin gue? Katanya pohon beringin serem? Kok lo mau sih ahagi ke sini?” tanyaku.



“Gue nyamperin lo ke sini karena ada perlu sama lo penting!”

__ADS_1



“Hah? Perlu sama gue penting? Ada apa coba?”



“Orang yang nabrak lo kemarin Gibriel Alexander kan?”



“Iya, emang kenapa?”



“Berati lo benci banget kan sama dia?”



“Udah nggak lagi. Emang ada apa sih ngomongin dia terus?”



“Gue mau ngajakin lo ahagiaa buat ngasih pelajaran ke Gibriel.”



“Gue yang dibikin kesel kenapa lo yang pengen ngasih pelajaran sama Gibriel.”



“Adik gue itu patah hati gara-gara ulah Gibriel yang sok. Gue mau balas dendam sama dia. Biar dia kapok dan bisa menghargai pembacanya.”



“Ya, ampun Nindya. Balas dendam itu dosa, dan dendam bisa menghapus semua amal baik lo. Sayang ahagia baik yang sudah lo kumpulin harus lenyap dalam sekejap?”



“Lo kagak usah ceramahin gue! Pokoknya lo harus bantuin gue buat ngasih pelajaran ke Gibriel tengik!”



“Bantuin apa dulu nih? Emang lo punya rencana apa?”



“Sini gue bisikin.” Nindya mendekat ke arahku lalu membisikkan sesuatu ke telingaku. Aku memasang telinga baik-baik. “Zttttt…. Bla..blabla.” 



Mataku melotot mendengar apa yang dia ucapkan di telinga. “What? Lo gila? Gue nggak mau bantuin lo!”



“Lo mau menentang gue? Lupa siapa yang bayarin kost lo, uang kuliah lo dan belanja lo tiap bulan?” 



Aku terdiam. Ya, selama ini aku banyak berhutang budi pada Nindya. Uang kuliah, uang kost bahkan uang belanja bulanan semua dari dia. Aku pikir dia selama ini tulus membantu tapi ternyata nggak. Dia punya maksud terselubung. Sekarang dia ingin memanfaatkanku untuk menjalankan rencana jahatnya.



“Kalau gue nggak mau bantuin lo gimana?”



“Kalau lo nggak mau bantuin gue, nggak masalah sih lo harus balikin uang yang gue keluarkan buat lo sepuluh juta.Nggak sanggup bayar terpaksa gue jeblosin lo penjara. Pilihan ada di tangan lo Felis.”



Whats? 10 juta? Uang darimana coba? Orang tuaku di kampung aja hanya berprofesi sebagai petani, buat makan aja susah apalagi bayar 10 juta? Nggak mampu bayar dia akan menjebloskanku ke penjara. Hiiii … merinding aku membayangkan hal itu terjadi.



“Oke, gue mau bantuin lo tapi kalau ketahuan jangan bawa-bawa gue!” ujarku akhirnya. Nggak ada pilihan lain, selain menuruti permintaannya. 



“Nah, gitu dong itu baru sahabat gue!” Nindya merangkulku erat. 

__ADS_1



“Ya, Allah, maafkan aku. Aku nggak bisa mencegah rencana jahatnya Nindya.” Doaku dalam hati. 


__ADS_2