Genk Sosialita

Genk Sosialita
Epilog


__ADS_3

Keyzia Anatasya.


Keyzia berada di ruang bawah tanah rumah peninggalan Eyang. Seketika mendapati sosok tergolek lemas dengan kondisi terantai bagian leher, tangan di belakang dan kaki. Mulutnya terlakban. Dia mendekati sosok itu. Kemudian …


Byurrr!


Menyiramkan seember air yang kubawa ke sosok itu. Dia terbangun megap-megap. 


"Hmmm …"


Keyzia berjongkok di depan cewek seraya mengelus pipinya yang mulus. "Dih, lemes ya? Maaf banget tiga hari nggak nengokin dan kasih makan lu. Gue sibuk ngurusin kasus Risma. Orang yang bawa lu ke tempat ini."


"Lu pasti bertanya-tanya kenapa bisa ada di sini? Lu sih pake mengetahui hal yang nggak seharusnya lu ketahui. Sekaligus mau balas dendam sih."


"Hmmmm …"


Keyzia mendelik menatapnya. "Mau ngomong ya? Males ah. Ntar lu jerit-jerit. Gue nggak suka berisik."


"Tadinya gue mau bikin lu bunuh diri sama kayak Felis. Gue pikir ulang, sayang banget kalau lu nggak dimanfaatin. Lu bisa jadi mahakarya gue biar go internasional. Mahakarya film jagal terus gue jual ke deep web hahaha."


"Oh iya. Tiga hari ke depan lu siap-siap aja ketemu malaikat maut." Mata Keyzia tertuju ke jari kaki sosok itu. "Hari ini gue bakal bikin jari-jari kaki lu ini jadi sop kikil. Hari kedua gue bakal ambil bola mata lu yang belo itu. Terus hari terakhir baru gue ambil ginjal, jantung dan hati lu. Baru deh gue kabur ke luar negeri, sama seperti yang lu lakuin abis nabrak Vindy, sepupu gue."


Keyzia berdiri untuk mengambil gergaji dan alat-alat pemotongan lainnya. Nggak lupa aku menyalakan kamera. 


"Hmmmm …"


Sosok itu geleng-geleng kepala dan mulai mengeluarkan air mata. Tanpa aba-aba, aku langsung memotong jari-jari kakinya sekaligus.


"Hmmmmmm …"

__ADS_1


Sosok itu menjerit dalam diamnya. Aku semakin puas tertawa menikmati penyiksaan ini. "Rasakan akibat perbuatan lu sendiri Nindya Maharani."


Tiba-tiba masuklah seorang pria yang sangat dikenal Nindya.


"Halo, sayang. Apa kabar? Asal lo tau ya gue selama ini pura-pura jatuh cinta dan nikahin lo demi nyusun rencana balas sama Keyzia. Hahaha."


***


Gibriel Alexander.


“Vin … Vindy!” teriak gue. Namun nggak ada sahutan sama sekali dari dalam. Vindy kemana ya? Gue merogoh saku celana, gue menemukan kunci rumah. Untung gue bawa kunci rumah cepat-cepat gue membuka pintu.


Begitu pintu berhasil terbuka gue berlari menuju kamar Vindy namun Vindy nggak gue temukan di kamarnya. Gue mengecek kamar mandi, tetap nggak menemukan Vindy. Gue panic sendiri, jam segini biasanya Vindy asyik menonton drama Korea kenapa sekarang dia nggak ada di rumah? 


“Lo nggak perlu tahu siapa gue. Yang jelas gue pengen lo mundur dari dunia penulis. Kalau lo nggak mau mundur dari dunia tulis, hidup lo akan sengsara dan adik kesayangan lo bakal celaka!”


Kata-kata si peneror terngiang di telinga gue lagi. Astaga, jangan-jangan Vindy diculik? Berbagai firasat buruk menyelimuti hati gue. Gue takut terjadi apa-apa dengannya. Gue teringat HP, aduh begonya gue kenapa dari tadi gue nggak sms Vindy menanyakan keberadaannya?


To : Vindy 


Vind, lo lagi dimana? Cepat pulang, firasat gue nggak enak nih.


Baru beberapa menit sms terkirim HP gue bordering. Ketika melihat layar HP gue kecewa, HP gue bunyi bukan karena dapat sms atau telpon dari Vindy tapi telpon dari nomor yang tidak dikenal. Gue penasaran, dengan orang yang nelpon gue. Gue tekan tombol answer.


“Halo, dengan siapa dan dimana?” Tanya gue ramah. Meskipun gue lagi panic tapi gue harus tetap berkata ramah pada siapapun.


“Kami dari rumah sakit Kasih Ibu, apakah anda mengenal Vindy Putri.”


“Ya, saya kenal. Saya adalah kakaknya Vindy. Ada apa dengan Vindy?”

__ADS_1


“Vindy mengalami kecelakaan dia saat ini dirawat di rumah sakit kami.”


“Oke, saya segera ke sana. Sus, tolong berikan perawatan terbaik buat Vindy.”


Gue mematikan sambungan telepon. Lalu bergegas pergi ke rumah sakit. Gue berharap Vindy baik-baik saja. 


***


Suasana di kamar pasien itu terasa senyap. Hanya terdengar bunyi jam yang berdetak dan alat-alat rumah sakit. Vindy sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien, kepalanya dibalut dengan perban.


Ia bagaikan Putri Tidur yang sudah hampir seratus hari tetap setia mengatup kedua matanya. Karena kecelakaan mobil yang menimpanya, dia koma, itulah yang terjadi pada Vindy. Vindy satu-satunya keluarga gue di dunia ini. “Ah, gue benar-benar takut. Gue sangat takut kehilangan dia,” batin gue yang duduk di tepi ranjang Vindy. Sedari tadi gue terus setia duduk di sini, menangis sambil menggengam tangannya. 


“Pokoknya gue harus menemukan orang yang menabrak Vindy. Gue nggak akan membiarkan orang itu hidup tenang,” tekat gue.


Gue merogoh saku celana untuk mengambil HP. Gue mau menelpon teman gue yang detektif buat melacak keberadaan orang yang menabrak Vindy. 


Kuingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu.


Baru saja gue pengen menelpon eh HP gue bunyi. Gue lihat layar HP, 1 Pesan diterima yang tertulis di layar HP. Klik open untuk membaca pesan itu.


From : Nindya


Saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi jauh dari hidupmu. Perlu kamu ketahui aku mencintaimu tapi aku juga yang membuatmu gelisah. Aku lah yang mengirim terror-teror kepadamu dan aku juga yang menabrak Vindy. Itu berkat suruhan Nindya Maharani. Aku melakukan ini karena sakit hati sama kamu, kamu jadi penulis sombong banget. Cacian dan perlakuan kasarmu masih melekat di hatiku. Nindy, juga dendam sama kamu karena kamu pernah bikin adeknya sakit hati. Semoga apa yang aku lakukan bisa menyadarkanmu dan membuat kamu menjadi lebih baik. Selamat tinggal Gibriel. 


Emosi gue langsung naik ke atas kepala ketika membaca sms dari Nindya. Kedua kalinya gue dipertemukan dengan iblis berwajah bidadari. Gue mulai jatuh cinta dengannya eh dia tega melakukan hal jahat kepada gue. Kenapa cewek-cewek yang gue cintai nggak ada yang waras?


HP yang gue pegang, gue lempar jauh-jauh. 


Prang!

__ADS_1


Kepingan-kepingan HP jatuh berserakan di lantai. HP pecah bisa beli yang baru. Nah, kalau hati yang hancur kemana membeli hati yang baru? Semua cewek sama aja. “Mulai detik ini gue nggak akan jatuh cinta lagi.” Gue bertekad meneruskan sumpah yang pernah gue ucapkan di Restaurant Segarra.


Hmmm … Felis dan Nindya gue nggak akan biarin dia hidup tenang. Enak aja bikin adik gue koma eh main kabur aja. Gue harus cari dia sampai ketemu. “Vin, doain gue ya agar gue bisa menemukan Felis dan Nindya. Dia orang neror kita selama ini dan dia juga yang menabrak lo. Gue harus bikin hidup dia menderita.”


__ADS_2