
Risma Samaya.
Pukul 06.00 aku sudah sibuk di dapur. Sumpah, ini bukan aku banget. Aku dari orok sampai 27 tahun terbiasa bangun tidur sudah ada sarapan di meja makan, kini harus menyiapkan makanan untuk suami tercinta.
Well, menu pertama yang aku hidangkan Omelet telur cabe ijo. Hasil bolak-balik ngecek Google. Aku kreasikan memakai cabe ijo di dalamnya soalnya Mas Bima suka banget pedes. Tenang aja cabenya 1 biji doang. Masih pagi. Takut sakit perut di kafenya.
Bersamaan dengan tersajinya Omelet telur, Mas Bima keluar dari kamar. Dia mengenakan kemeja biru tua yang tadi subuh aku pilihkan.
"Mas, sarapan dulu yuk. Aku dah bikinin omelet telur nih."
Mas Bima mengeluarkan senyum mengejek. "Seorang Risma masak? Yang ada aku kejang-kejang keracunan. Atau darah tinggi gegara garam kebanyakan."
Aku manyun. "Ih, cobain dulu. Enak tau."
"Iya deh. Aku makan. Ngehargai masakan istri tercinta pahalanya gede."
"Nah, gitu dong."
Mas Bima duduk di meja makan. Sedangkan aku berjalan membawa dua piring omelet. Mas Bima langsung mencicipi omelet yang aku buat.
"Gimana?" Aku excited riang.
"Hmmm … enak."
"Masa?" Aku nggak percaya. Takut dia hanya merasa nggak enak sama aku. Aku buktikan dengan mencicipi masakan sendiri.
Not bad. Biasanya di novel atau sinetron orang yang baru belajar memasak hasilnya keasinan lah, kurang garam lah. Untung masakanku rasanya pas. Ternyata orang baru belajar memasak nggak selamanya buruk dan hasil nggak enak.
Ting!
Terdengar notifikasi HP. Aku sama Mas Bima sama-sama cek HP. "Ternyata WA di HP-ku."
Chat di grup Genk Sosialita.
Nindya Maharani
Genk @keyzia @risma kalian sibuk nggak hari ini? Ketemu yuk. Di tempat biasa. Jam 9an. Ada yang mau gue bahas. Penting.
Aku mengernyitkan dahi. Bahas hal penting? Soal apa? Aku jadi penasaran.
"Mas, aku boleh nggak hari ini hang out bareng Keyzia sama Nindy?"
__ADS_1
"Boleh dong. Biar kamu nggak bete di rumah terus."
"Makasih."
Mas Bima selesai makan dan langsung berangkat ke kafenya. Sedangkan aku kembali ke kamar siap-siap untuk ketemu dua makhluk Genk Sosialita.
***
Tempat biasa dimaksud Nindya adalah AT Cafebook. Seperti namanya kafe ini penuh dengan buku. Koleksinya lumayan komplit. Ada fiksi dan nonfiksi. Lebih dominan fiksi novel sih. Pantas saja Felis lebih nongkrong di sini dibanding ke KFC atau MCD. Felis juga yang sering memaksa Genk Sosialita yang lain nongkrong di sini Duh, jadi kangen Felis.
Di tengah sibuk nostalgia kenangan bersama Felis, tiba-tiba netraku menangkap dua makhluk yang aku tunggu.
"Oiii … gue di sini!" teriak gue sambil melambaikan tangan.
Mereka pun menghampiriku. Terjadilah cipika-cipiki terlebih dahulu. "Udah lama nunggu? Sori telat. Biasalah macet."
"Gue juga baru nyampe," kilahku.
Mereka duduk di depan kursiku. Tatapan gue beralih ke Nindya. "Jadi hal penting apa yang mau lu bahas?" ujarku langsung the point membuka pembicaraan.
"Kemarin kan gue diinterogasi detektif. Duh, gue deg-degan banget."
"Terus lu dikepoin apa aja?" tanya Keyzia antusias.
Nindya menggigit bibir bawahnya. "Nggak sepenuhnya jujur sih. Tepatnya ada beberapa yang gue sembunyikan dari mereka."
"Bagus. Jujur tak selamanya indah."
"Sebenarnya gue penasaran deh, si Feli kan udah jelas bunuh diri ya. Terus kenapa pake ada introgasi segala dari detektif?" ceplos Nindya.
"Mungkin polisi nemu kejanggalan di jenazah Feli kali. Kan kita datang Felis udah dimakamin. Bisa jadi polisi berasumsi Felis bukan bunuh diri melainkan dibunuh," sahut Keyzia.
Selain Felis, yang hobi baca novel adalah Keyzia. Namun, Keyzia fokus baca genre thriller kriminal. Dia juga hobi nonton drakor kriminal.
"Kebanyakan nonton drakor dan baca novel thriller lu," timpalku.
"Kalau Felis dibunuh siapa kira-kira yang bunuh Felis? Dia pernah cerita ke kalian kalau dia punya musuh? Atau jangan-jangan kalian berdua yang bunuh Felis?" tuduh Nindya.
Aku menggebrak meja nggak terima dituduh. "Enak aja. Lu kali yang bunuh Felis. Secara di antara gue sama Keyzia, lu yang paling nggak deket sama Felis. Apalagi Felis pernah cerita hal nggak nyenengin di SMA sama lu."
"Eh, gue sama Felis udah baik-baik aja ya. Felis udah memaafkan gue begitu putusan sama Gibriel. Lu kali yang bunuh Felis. Secara biasanya pembunuh tuh orang paling dekat sama korban," celetuk Nindya nggak mau kalah.
__ADS_1
Akhirnya aku sama Nindya gelud cangkem alias adu mulut.
"Udah stop. Kenapa kalian yang berantem sih? Kita sebagai sahabat Felis harusnya bantu polisi menyelidiki kasus kematian Felis bukan malah berantem sendiri," ceramah Keyzia melerai pertengkaranku sama Nindya.
"Bener juga sih. Masalahnya kita memulai penyelidakan dari mana? Kalian tahu Felis tertutup banget. Jarang banget cerita masalah pribadi ke kita."
"Kita pikirin nanti deh. Bay the way, abis ini kalian ke mana dan mau ngapain?"
"Ke lokasi syuting. Ada syuting web series baru."
"Oh, kalau lu?"
"Langsung pulang ke rumah. Rebahan paling. Mas Gibriel lagi ada kerjaan di luar negeri."
"Kalau ke rumah gue aja mau nggak?"
"Boleh."
Tiba-tiba pelayan datang membawa buku menu. Kami memilih menu favorit masing-masing.
***
"Selamat datang di kamar baru gue," ucapku memperkenalkan rumah baru ke Nindya. Yup, setelah menikah aku tinggal di rumah Mas Bima. Notabennya lebih gede daripada rumahku. Namun, nggak ada apa-apanya dibanding rumah Nindya. Nindya sudah kaya raya dari orok. Bapaknya pengusaha di berbagai negara. Sebelas dua belas sama bisnisnya Gen Halilintar.
"Jadi ini tempat lu ***-*** sama Mas Bima?" ujar Nindya jail.
Aku melempar guling ke arahnya. "Apaan sih lu. Mesum. Eh, sori ya kamarnya nggak segeda kamar lu."
"Ini aja udah lumayan gede kali. Apalagi bersih, rapi, nyaman ditambah wallpaper dan sprei motif bunga kecil-kecil. Duh, kiyut banget. Laki lu nggak ngomel gitu lu desain kamar ginian?"
"Kenapa harus ngomel? Sebelum nikah, dia menyerahkan desain kamar di tangan gue. Katanya biar gue betah tidur di sini."
"Duh, so sweet banget. Laki gue make sarung bantal warna pink aja ngomel. Katanya cewek banget. Dia nggak bisa tidur kalau ada atribut yang nggak dia suka."
"Cowok ternyata memiliki kebawelan yang nggak kalah ribet dari cewek ya. Eh, lu mau minum apa?"
"Apa yang ada aja deh."
"Gue ambilin es sirup aja ya biar seger panas-panas gini."
"Nah, pas banget tuh."
__ADS_1
Aku pun ke dapur mengambil minuman untuk Nindya. Begitu kembali ke kamar seketika kaget. Aku melihat Nindya menemukan sesuatu yang nggak seharusnya dia temukan.