Genk Sosialita

Genk Sosialita
Pengkhianat


__ADS_3

Beberapa jam sebelum di ruang interogasi.


Risma Samaya.


"Ris, gawat!"


Aku terheran-heran ketika melihat Keyzia tiba-tiba datang ke rumah dengan wajah pucat.


"Gawat kenapa?"


"Tadi kan gue mau ke rumah Nindy, eh ternyata rumahnya dipagari garis polisi. Pas gue tanya ke tetangganya, ternyata Nindy menghilang."


"Hah? Serius lu?"


"Iya. Ngapain boong coba."


"Oh. Makasih infonya."


Kali ini Keyzia memancarkan wajah yang heran. "Kok lo santui banget sih responnya pas tau Nindy hilang?"


"Terus gue mesti ngapain? Panik? Panik nggak bikin Nindy tiba-tiba nongol di hadapan kita."


"Iya, juga ya. Gue ke sini mau ngasih tau itu aja sih. Gue balik dulu. Mau otw syuting."


Keyzia pulang. Aku langsung masuk kamar beberes pakaian dan menelepon Mas Bima.


"Halo, Sayang. Baru satu jam aku berangkat kerja, udah kangen ya?"


"Mas Bim, aku mau izin ke rumah Mama ya. Mama mendadak sakit. Covid katanya."


"Hah? Yang bener? Mau aku anter nggak?"


"Nggak usah. Aku bisa sendiri kok."


"Ya udah, ntar pulang kerja langsung aku susul ke rumah Mama ya."


Klik. Sambungan telepon terputus. Aku melanjutkan beres-beres pakaian ke koper.


***


Di ruang interogasi.


"Jadi apa motif kamu membunuh Saudari Felisia Cyntami dan menghilangnya Saudari Nindya."


"Sudah saya bilang, saya nggak membunuh Felis. Saya sahabatnya. Mana tega saya membunuh dia. Kalian nggak ada bukti ya."


Detektif yang di depanku perawakannya gagah, bercambang, tapi nggak brewok. Rambutnya gaya undercut. Pria itu tersenyum kecut. Dia terlihat merogoh saku jaket kulitnya. Nggak lama mengeluarkan HP-nya. Lalu memperlihatkan video ke arahku.


Wajahku memucat melihat video tersebut. "Da … dari mana kalian dapatkan video ini?"


"Dari gue."


Mataku membulat tatkala melihat Keyzia muncul dari pintu ruang introgasi. Seketika aku menggebrak meja. 


"Dasar pengkhianat! Bisa-bisanya lu serahin video itu ke mereka."

__ADS_1


"Lu duluan yang mengkhianati persahabatan kita dengan membunuh Felis."


"Dia duluan yang mengkhianati gue!"


"Pak, jika saya di penjara, dia juga harus di penjara. Dia kaki tangan saya."


"Bohong, Pak. Jika saya kaki tangan dia, mana mungkin saya menyerahkan video ini ke kalian."


Aku mengepal tangan. Marah besar. Seketika aku bangkit dari tempat duduk hendak mencakar mulutnya yang ember itu. Namun, dua polisi di sebelahku gerak cepat mengunci pergerakanku. Sial.


"Bawa dia kembali ke sel."


Aku diseret kembali ke sel. Di dalam sel aku menangis sejadi-jadinya. Pikiranku tertuju ke arah hari pernikahanku sama Mas Bima.


***


Menikah muda adalah impianku sejak lama. Namun, aku nggak pernah menyangka pria yang duduk bersamaku di pelaminan adalah saudara sepupuku sendiri.


Satu per satu tamu yang hadir mulai pulang. Tiba-tiba dua personel Genk Sosialita -Keyzia dan Nindy- datang. 


"Hey, Cin. Cantik banget lo," puji Keyzia basa-basi.


"Makasih. Keknya lebih cantik lu deh pas nikah kemarin."


"Sumpah, nggak nyangka gue plot twist banget gagal moveonnya ke Bastian ealah nikahnya sama sepupu sendiri," timpal Nindy.


"Jangankan lu, gue aja nggak nyangka nerima lamaran Mas Bima. Efek khilaf atau pengaruh guna-guna kali ya."


"Sori ya. Aku make gituan," sahut Mas Bima nggak terima aku tuduh main dukun.


"Eh, selfie yuk."


Keyzia celingak-celinguk. "Felis mana? Kok nggak keliatan?"


"Di dapur keknya. Dia dari tadi keliatan sibuk sendiri. Bentar gue panggil dulu."


Aku mencari Felis ke dapur, tapi nggak ditemukan. Ternyata dia di halaman belakang. Terlihat sibuk menelepon seseorang. Rasa penasaran merasuki dadaku. Aku coba dekati dia untuk mencuri dengar obrolannya di telepon.


"Lo ke mana sih? Gara-gara lo nikahan Risma tetep berjalan lancar. Gue dah bayar mahal lo ya buat menghancurkan nikahannya. Nggak rela gue dia nikah sama cowok yang gue cinta. Gue yang mendem cinta bertahun-tahun sama Bima masa endingnya Risma yang dapatin Bima?"


Dadaku nyeri mendengar kalimat itu. Seketika aku tertuju kayu berada di samping pohon beringin. Entah setan apa yang merasukiku hingga aku bisa memukulkan kayu tersebut ke kepala Felis.


***


Felis Linanda.


Ketika aku bangun mendapati diri mulut memakai lakban, tanganku terborgol di belakang dan leher di rantai pada rak buku. Aku melihat sekeliling. Tempat kotor berdebu, sarang laba-laba. Sekeliling masih ada sofa telantar dan alat musik sudah rusak. Ini sepertinya music studio telantar. Aku di mana? 


Aku mencoba mengingat kejadian terakhir. Di nikahan Risma, terus telepon seseorang. Tiba-tiba ada orang memukulku dari belakang. Selebihnya nggak ingat apa-apa lagi.


"Hmmm … hmmmm." Aku coba teriak minta tolong. Nihil. Bego. Ngapai pakai teriak. Siapa juga yang bisa dengar kondisi terlakban gini.


Aku meronta mencoba melepas rantai terkutuk ini. Nyatanya hanya membuat tangan dan leherku sakit.


Tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang bertopeng muncul membawa HP. 

__ADS_1


"Nih, bos mau ngomong sama lo."


Aku seperti mengenali suara tersebut, tapi siapa?


Dia mengarahkan HP-nya ke arahku. Seketika aku bisa melihat siapa orang di balik menyekapanku ini. Risma.


"Hmmm…" Aku melirik orang yang di depanku. Sial, dia nggak melepas lakban di mulutku.


"Hahaha … nggak bisa ngomong ya? Enak di sana? Ini hukuman yang layak buat pengkhianat macam lo."


Aku meronta-ronta seolah minta lepasin ke Risma. 


"Oiii … lepas lakbannya. Biarin dia ngomong sama gue."


Orang di depanku menarik lakban. "Aw," jeritku kencang.


"Risma, salah gue apa jadi lo segini tega sama gue?"


Risma melotot tajam. "Masih nanya salah lu apa? Gue dah tau semuanya. Bertahun-tahun kita sahabatan, tapi lu nggak pernah bilang kalau lu cinta sama Mas Bima. Malah sok-sokan nyuruh nerima lamaran Mas Bima. Di belakang mau menghancurkan pernikahan gue. Dasar ****** pengkhianat."


Aku geleng-geleng kepala. Air mata turun deras. "Ris, gue nggak maksud mengkhianati lo. Cinta ini datang gitu aja. Please, maafin gue."


"Sayang, udah terlambat."


"Apa yang mesti gue lakuin biar lu maafin gue?"


"Hmmm … apa ya?" Risma terlihat berpikir serius. "Ada dua pilihan sih. Lu mau mati cepet bunuh diri atau lu mau disiksa pelan-pelan sama orang suruhan gue di tempat itu? Setelah lu mati baru gue bisa maafin lu."


"Nggak. Nggak mau. Please jangan lakuin itu." Aku masih berusaha memohon maaf dari Risma.


"Percuma muka melas, nggak ngaruh. Oh iya, satu jam lagi orang suruhan gue bakal nyamperin lu buat nagih keputusan lu mau mati cepet atau pelan-pelan? Hahaaha."


Sambungan video call terputus. Orang suruhan Risma kembali melakban mulutku. Dia keluar dari ruangan ini. Ya Tuhan inikah akhir hidupku. Detik ini juga aku memilih untuk mati cepat. 


***


Risma Nabila.


Sejuta pembelaan dariku percuma karena penyidik menemukan bukti bahwa Felis meninggal di studio musik telantar milik nenekku.


Kini aku di ruang sidang siap mendengar keputusan hakim. Saat mataku terpaku ke Mas Bima. Hatiku teriris. Dia membuang muka. Sepertinya dia muak memiliki istri pembunuh.


"Saudari Risma Nabila, Anda terbukti bersalah atas meninggalnya Saudari Felisia Cyntami. Anda dikenakan pasal 345 yang berbunyi: Barangsiapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk membunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu, atau memberikan daya upaya kepadanya untuk itu, maka jika orang itu jadi membunuh diri, dihukum penjara selama-lamanya empat bulan."


Hakim getok palu. Aku bernapas lega. Hukumanku tidak terlalu berat. Keluar Felis teriak-teriak, mereka menganggap keputusan hakim nggak adil dibanding nyawa anaknya menghilang akibat perbuatanku.


Sebelum dibawa kembali ke sel oleh petugas. Aku menghampiri orang tua Felis. 'Om, Tante saya minta maaf."


Plak!


Tangan kanan mamanya Felis melayang tepat mengenai pipiku. Perih ini nggak sebanding oleh perihnya beliau kehilangan anak mereka.


"Sampai ke neraka pun, saya tidak akan memaafkan kamu!"


Akhirnya aku dibawa kembali ke sel.

__ADS_1


__ADS_2