
Di kantor polisi.
Detektif Tiga Serangkai sudah berdiri 10 tahun silam. Personelnya terdiri dari Taufiq, Hambali dan Ilham. Taufiq ketuanya. Sedang dua lainnya hanya asisten. Mereka saling melengkapi satu sama lain.
Pintu ruangan terbuka. Masuklah Kompol Arief. Atasan mereka.
"Gimana kasus Felis? Ada kemajuan?"
Taufiq berdiri dengan membawa tiga foto personel Genk Sosialita. Foto tersebut ditempel Taufiq di whiteboard.
"Kami sudah menginterogasi ketiga sahabat Felis. Ternyata drama percintaan. Mereka bertiga punya motif jadi tersangka. Dikarenakan Felis juga mencintai pasangan mereka bertiga."
"Tapi menurut saya, yang paling dominan jadi tersangka itu si Nindya. Soalnya kan dia katanya pernah ada niat kriminal terhadap adeknya Gibriel," celetuk Hambali.
Hambali kelebihannya di menganalisa kasus yang jeli.
"Bener juga." Arief melingkari foto Nindya. "Berarti kita fokus menyelidiki Nindya lebih jauh."
Pandangannya beralih ke Ilham. Taufiq tahu kelebihan Ilham terletak memiliki mata yang tajam. Ilham bisa melihat benda tersembunyi atau hal yang tak terlihat oleh mata awam.
"Kalau menurutmu gimana, Ham? Kamu nemuin barang yang janggal nggak pas kita interogasi di rumah mereka bertiga?"
"Rumah mereka nggak ada barang mencurigakan sih. Tapi, saya justru menemukan sikap Nindya yang tak wajar. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu."
Tiba-tiba Kompol Arief mengangkat ponsel. "Apa? Baik kami segera ke sana."
Hanya kalimat itu yang didengar Taufiq.
"Jatuh korban baru. Nindya menghilang selama dua hari. Segara juga kalian harus ke sana."
Detektif Tiga Serangkai terperangah. Baru dibahas, malah Nindya yang menghilang.
"Baik, Pak."
***
Rumah Nindya sudah terpasang garis polisi. Ada beberapa polisi TKP dan tim forensik yang bertugas memeriksa rumah Nindya. Taufiq menerobos garis polisi. Muncul polisi TKP, orang pertama yang ditelepon oleh suami Nindya.
"Kalian siapa?"
"Kami Detektif Tiga Serangkai, di bawah Kompol Ariel."
"Baik. Silakan."
Hambali masuk ke rumah ikut memeriksa bagian dalam rumah Nindya. Sedangkan Ilham memilih mengecek bagian luar rumah. Terutama di sekitar sampah. Siapa tahu menemukan petunjuk. Taufiq mengobrol-ngobrol sama polisi TKP dulu.
"Pembantu sama suami Nindya sudah diinterogasi?"
"Sudah. Kata pembantu dia terakhir lihat Nindya dua hari lalu mau pergi. Tapi nggak tau pergi ke mana. Si suami baru pulang semalam. Abis dari luar negeri."
Tak puas dengan jawaban polisi TKP. Taufiq kembali mengintegorasi suami Nindya.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak. Boleh saya menanyakan beberapa hal?"
"Saya sudah menceritakan semua ke polisi yang tadi."
"Saya ingin menanyakan yang belum dia tanyakan."
"Baik. Apa yang ingin Anda tanyakan?"
"Apakah Anda sering pergi ke luar negeri tanpa Saudari Nindya?"
"Iya. Karena salah satu bisnis saya ada di Jerman."
"Apakah Anda pergi ke luar negeri dalam waktu yang lama?"
"Tergantung. Bisa tiga atau sepuluh hari."
"Terakhir hubungan Anda dengan saudari Nindya apakah ada masalah?"
Suami Nindya menggeleng. "Selama tiga tahun menikah. Kami baik-baik saja."
"Apakah Anda tahu istri Anda punya musuh atau sedang ada masalah?"
"Dia selalu cerita apa pun ke saya. Terakhir istri saya cerita bahwa sahabatnya bernama Felis meninggal dunia. Dan tiga hari lalu dia menelepon memberitahu ke saya dia sedang diinterogasi oleh kalian."
"Bisa diceritakan awal mula Anda menikahi istri Anda?"
"Adik saya ditabrak mobil. Saya depresi berat. Om dan Tante saya mengirim saya keluar negeri untuk terapi psikolog terbaik di Jerman. Nah, di Jerman saya ketemu kembali dengan Nindya. Nindya pelan-pelan mengobati luka hati saya kehilangan Vindy. Karakter Nindya nggak beda jauh dengan karakter Vindy."
Ilham kembali masuk ke halaman rumah Nindya. Dia menyenggol Taufiq.
"Tadi saya melihat mobil Keyzia. Sepertinya mau ke sini, tapi nggak jadi begitu liat banyak polisi.
"Hmmm … mencurigakan," gumam Taufiq.
"Pak, kami mohon undur diri dulu. Ada suatu hal mesti kami selidiki selamat siang."
"Ilham, ayo ikut saya kejar mobil Keyzia."
Taufiq bergegas ke mobil. Setelah itu tancap gas menyusul mobil Keyzia.
"Mobilnya yang mana sih? Lupa gue," cetus Taufiq.
Taufiq, Ilham dan Hambali kalau di luar jam kerja mereka berbicara santai. Memakai bahasa gaul anak muda. Secara mereka seumuran dan sahabatan dari SMP, SMK sampai masuk kepolisian.
"Mobil Alpard. Warna item. Yang itu." Ilham menunjuk mobil yang sudah jauh di depan.
Taufiq menambah kecepatan mobilnya untuk menyusul mobil Keyzia. Namun, ketika sudah agak dekat, tiba-tiba lampu merah. Mobil Keyzia semakin jauh.
"Sial, padahal tinggal dikit lagi."
***
__ADS_1
Detektif Tiga Serangkai kembali ke kantor polisi. Hambali masuk dengan muka masam.
"Sialan kalian. Masa saya ditinggal?"
"Sori. Kami buru-buru kejar mobil Keyzia. Abis mencurigakan."
"Terus ketemu?"
"Keburu kabur gara-gara lampu merah."
Taufiq kembali memegang HP-nya mengscroll instagram Felis. Isinya penuh qoutes bucin.
Dia beralih memutar kembali video bunuh diri Felis. Kini matanya menangkap bingkai foto tergantung di pojok dinding. Foto wanita cantik bersanggul. Taufiq mengernyit heran. Pasalnya tak asing di matanya. Namun, siapa?
Dia berusaha mengingat. Nihil. Dia screenshoot foto tersebut. Lalu mengecek di Google Foto. Muncul profil Rianti Samaya. Taufiq pun meyakini wanita itu merupakan Ibu atau Neneknya Risma Samaya. Yang artinya tempat bunuh diri Felis berhubungan dengan Risma Samaya.
Ting!
Muncul notifikasi sebuah email berisi video. Ketika Taufiq mengunduh dan memutarnya, Taufiq kaget sekaligus memperkuat dugaannya tadi.
Taufiq bangkit dari tempat duduk. "Kalian berdua ikut saya ke rumah Risma Samaya. Saya sudah menemukan pelakunya."
Saat keluar dari kantor polisi, mereka berpapasan dengan Kompol Arief.
"Mau ke mana kalian?"
"Kebetulan ada Bapak. Pak, tolong buatkan surat penggeledahan dan penangkapan untuk Risma Samaya. Saya yakin dia tersangka utama."
"Baik. Segera saya buat. Nanti saya nyusul kalian ke rumah Risma Samaya."
***
Detektif Tiga Serangkai datang tepat waktu. Risma Samaya sudah berada di dekat mobil dengan menenteng satu koper besar.
"Saudari Risma Samaya, Anda mau ke mana?"
"Saya mau ke rumah saudara suami saya yang di Singapura."
"Sayangnya, Anda tidak bisa ke mana-mana. Detik ini Anda kami tangkap atas kasus kematian Saudari Felisia Cyntami."
Hambali bergerak cepat memborgol Risma. Risma berontak. "Apa-apaan kalian. Gue bukan pembunuh Felis. Kalian nggak punya bukti dan saksi."
"Akan saya jelaskam di kantor apa bukti dan siapa saksinya."
Dengan terpaksa Risma mengikuti perintah Detektif Tiga Serangkai. Ketika hendak masuk ke mobil polisi, tiba-tiba …
"Bentar … bentar, saya mau nelepon suami saya dulu."
Taufiq tahu itu hanya alasan untuk mengulur waktu. Bisa jadi dia cari cara untuk kabur. "Soalnya itu biar kami yang menghubungi suami Anda. Suami Anda langsung menyuruh ke kantor polisi. Anda silakan masuk ke mobil."
Risma memanyunkan bibir. "Ish, nyebelin. Nggak sabaran amat sih."
__ADS_1
Taufiq mendorong Risma untuk segera masuk ke mobil. Risma diapit dua detektif. Sedangkan Ilham yang menyetir mobil.