
"Terserahlah, gue cape debat sama loe. Tiap hari berantem terus. Gue pulang" ucap Aderal yang pulang dan memasuki mobilnya lalu membanting pintu mobilnya.
Brak
"Rald dengerin gue dulu." pinta Nesya sambil mengetuk kaca mobil Nesya. Namun Derald tak merespon dan berlalu meninggalkanya.
Sungguh Nesya bingung, harus seperti apa meladeni Aderald yang seperti itu. Disisi lain ia juha takut kalau Derald bertindak lebih kepadanya, disisi lain Nesya juga gak bisa kalau harus marahan sama Derald.
*
Malam berlalu begitu saja. Tanpa ada kabar dari Derald. Meski ia sanggup mendapat perlakuan cueknya, namun jujur di lubuk hatinya ia sangat merindukan Derald begitu juga dengan Aderald.
Pagi ini Nesya berjalan ke arah kelas Aderald. Bisik demi bisik berdenging di telinga Nesya. Yah, seorang Nesya yang cuek mendatangi Aderald.
"Ngapain tu Nesya kesini? " tanya siswa Y
"Gue tebak dia udah dibuang sama Derald" timpal siswa lainya
"Udah diperawanin di tinggal gitu aja." ucap siswa lainya ikut mengejek.
"Nes, nyari Aderald?" tanya Arfa dan diangguki olehnya. "Bentar ya!" Arfa memasuki kelasnya dan memanggil Derald agar menemui Nesya.
"Rald Nesya di depan?" ucap Arfa. Dhafin yang mendengar itu, tak percaya seorang Nesya bisa bertekuk lutut pada Derald, dan dengan mudahnua datang ke kelas XII hanya demi Derald.
"Gue udah bosen sama Nesya. Suruh pergi aja." pinta Derald pada Arfa dengan suara keras, membuat seisi kelas berfikir negatif tentang ucapan Derald. Gak perlu bilang ke Nesya, dia sendiri mendengar ucapan keras yang terucap oleh Aderald.
"Seorang Nesya datang kesini mencari loe, loe apain dia Rald? Jampi -jampi?" tanya Dhafin sengit, jujur Dhafin tidak maj Nesya dimainkan oleh Aderald.
Nesya kembali ke kelasnya dengan rasa kecewa. Berharap bisa menyelesaikan masalah denganya, tapi apa yang di dapat, cacian dan makian.
"Kan bener, udah di buang aja tu si Nesya. " ucap siswa D
"Meskipun bekas, gue mau lah sama Nesya, cantik banget soalnya." ucap siswa cowo yang masih menatap jeli tubuh indah Nesya.
"Yee, Nesyanya kali yang gak mau sama loe" Timpal siswa Z.
Sesampainya dikelas ia sudah ditunggu kedatanganya oleh Kara. "kenapa tu muka?" Cerca Kara yang melihat Nesya murung.
"Gak papa."
"Pasti gara-gara Derald." ucap Kara
__ADS_1
"Mulai sekarang jangan sebut namanya Ka." pinta Nesya masih dengan wajah di tekuk.
"Loe udah putus?" tanya Kara penasaran.
"Anggap aja gitu." jawab Nesya cuek, dan tak mau membahas masalahnya.
Mereka memulai pelajaran senyawa kimianya, sampai di akhir pelajaran ada Ekonomi sebagai penutup.
Sesaat Nesya berpapasan dengan Derald saat kembali dari kantin, tidak ada sapa, bahkan tatapan yang biasanya romantis sekarang berubah menjadi benci. "Nesy, loe udah bener-bener jatuh cinta sama Derald ya? " tanya Kara
"Hah... Maksud loe Ka?"
"Gue suka loe yang sedang jatuh cinta, rasanya gue menemukan loe yang berbeda dari biasanya, dan sekarang loe seperti ini lagi." ucap Kara yang melihat Nesya sedih jadi ikutan sedih.
"Ka, gue mau balik. Ijinin gue ya." ucap Nesya pada Kara.
"Tu kan loe kaya gini lagi." keluh Kara karena Nesya seperti dulu lagi.
Bersamaan dengan kelas XII IPS 1 sedang olahraga, Nesya berjalan keluar dari kelas. Derald tampak memperhatikan langkah Nesya. "Kalo kangen disusulin, jangan sok cuek begitu." ledek Arfa
"Males gue sama dia, pacaran harusnya pergi berdua, ngapa-ngapa berdua, lah ini, ajak Kara terus, BT gue. Sebenernya yang pacarnya dia Kara atau gue" jawab Derald malas.
"Jadi loe bosen sama dia, karna dia gak mau di ajak berduaan sama loe, kirain loe udah dapetin apa yang loe harepin." tebak Dhafin yang rasanya ingin tertawa
"Yaaaaa seorang loe, yang play boy nya kelas kakap, mikir perkataan loe tadi pagi dengan kalimat bosen sama Nesya, udah pasti anak -anak mikirnya loe udah dapetin semua milik Nesya. Ternyata, udah jadi pacar masih aja dicuekin kan? " ucap Dhafin meledek.
Seisi kelas yang mendengar pun menjadi tau tentang kesalahpahamanya terhadap Nesya. Bahwa Nesya tidak seperti yang difikirkan siswa-siswa dikelas.
"Terserah lah, gue gak mau tau pemikiran anak-anak sekolah pada gimana, gue cabut, ijinin gue bolos." ucap Derald yang melempar bolanya lalu kembali kekelas dan mengambil ranselnya.
Derald melangkahkan kakinya menuju area parkir, dan mengemudikanya. Setelah keluar dari halaman sekolah, Derald melihat Nesya sedang menanti Taxi. Derald menghampiri Nesya dan berhenti tepat di depan Nesya.
"Masuk!" pinta Derald kepada Nesya dari arah jendela mobil. Nesya yang melihat Derald bukanya mematuhi perintahnya untuk masuk, malah berdiri dan berjalan meninggalkan Derald.
"Baru kali ini ada cewe yang susah banget gue takhlukin." Aderald melajukan mobilnya mengejar Nesya. "Nes masuk!" Namun Nesya tetap berjalan menyusuri trotoar.
"Nesy gue bilang masuk, apa perlu gue seret loe masuk ke dalam!" ancam Derald yang sukses menghentikan langkah Nesya.
Namun Nesya tak bergeming, ia masih melajukan langkahnya dengan cepat. Derald yang sudah tidak tau cara agar Nesya mendengarkanya langsung keluar dari mobil dan menarik tanganya.
"Masuk ku bilang" pinta Derald. Nesya meronta mencoba melepaskan genggaman tanganya.
__ADS_1
"Lepas!" pinta Nesya pada Derald
"Nesy.... Jangan keras kepala" ucap Aderald kepada Nesya.
"Keras kepala, Menurutmu tadi pagi aku ke kelas kamu hanya untuk menyelesaikan masalah, dan kamu cuma bilang kamu bosen sama aku, masih disebut keras kepala kah sifatku?" tanya Nesya dengan wajah yang kesal.
"..... " Derald terdiam, yah Derald akuitadi ia masih marah sama Nesya.
"Sudahlah, aku lelah, aku mau pulang." ucap Nesya melepaskan tanganya, dan hendak melenggang pergi.
"Kalau kamu berjalan satu langkah saja, aku anggap kita putus." ancam Derald kepada Nesya.
Deg
Kalimat itu seperti belati, yang berjalan pelan tapi langsung menusuk katub jantung Nesya, sehingga aliran darah seperti tak bisa memasok ke seluruh tubuh.
Namun tekadnya bulat Nesya tetap berjalan meninggalkan Derald yang terpaku di belakangnya.
"Nes....!" teriak Derald pada Nesya. Lalu Derald berlari mengejar Nesya yang berada di tengah zebra cros dan menghentikan langkah Nesya. Tampak tetes air mata yang sudah jatuh membasahi pipi Nesya.
"Perasaan sakit dan sedih ketika melihat seseorang yang aku cintai meneteskan air mata. Perasaan apa ini? " tanya Derald dalam hati.
Derald mendekat lalu menghapus air mata yang membasahi pipi Nesya. "Jangan menangis, air matamu membuatku takut kehilanganmu." ucap Derald disusul dengan pelukan.
Tampak lalu lintas yang macet akibat perdebatan kecil Nesya dan Aderald. Tidak ada yang mengklakson, namun mereka malah mengabadikan momen romantis tersebut.
Tak lama kemudian suara tepuk tangan mulai terdengar di telinga. Membuat Nesya dan Aderald melepas pelukanya, dan berjalan ke trotoar karna mengganggu arus lalu lintas. Untunh saja mereka memakai jaketnya.
"Gue minta maaf Nes." ucap Derald. Nesya masih terdiam, Derald menarik Nesya ke dalam mobil. Lalu mengajaknya pergi untuk menyelesaikan masalah.
Tak lama kemudiam mereka sampai di sebuah taman, ramai dan banyak anak kecil yang ada disana.
"Gue minta maaf, karna ucapan gue semalam dan tadi pagi nyakitin loe banget." ucap Aderald. Mereka masih sama sama diam
"Nesy... Loe bisa gak si, anggep hubungan ini serius." tanya Aderald. Nesya memandang Aderald dengan tatapan heran.
"Gue itu serius sama loe, gue suka sama loe, dan gue pengin hubungan kita seperti hubungan normal lainya." ucap Aderald.
Nesya sebenernya juga pengin hubunganya seperti lainya, tapi mengingat lelaki seperti apa Aderald itu membuat Nesya takut menjalaninya.
"Loe sebenernya kenapa si? Akhir-akhir ini sedikit berubah." tanya Derald. Kemudian Nesya membuka ponselnya dan memberitahu tentang chat yang pernah dikirim seseorang kepada Nesya. Derald membaca pesan tersebut, sedikit kaget Derald membacanya.
__ADS_1
"Loe percaya sama apa yang diucapkan orang itu? " tanya Derald kepada Nesya.