
Nesya mulai memanyunkan bibirnya yang berwarna merah muda dengan polesan lip ice, membuat gemas Derald yang menatapnya. Deral langsung menarik hidung Nesya.
"Ah.... Sakit tau." ucap Nesya
"Gemes banget sama kamu Nesy." mendengar ucapan Derald Nesya tersipu malu.
"Gue anter pulang ya!" ucap Derald. Nesya mengangguk, lalu mereka berjalan berdampingan. Tampak Derald menggenggam tangan Nesya dengan erat.
*
Nesya Kara dan teman-temanya mendengarkan pelajaran yang dijelaskan oleh ibu guru. Pelajaran Matematika dengan materi sin cos
Nesya tampak sibuk memperhatikan bu Susi, guru yang sangat pelan saat menjelaskan matematika. Membuat siswanya seperti terhipnotis.
"Nesy ponsel loe bunyi tu." ucap Kara
"Biarin lah." ucap Nesya cuek. Kara yang melihat langsung membuka ponsel Nesya. Terdapat notifikasi pesan dari Aderald dan teman-temanya.
"Nesy... Satu nomor baru masuk, gue buka ya" ucap Kara. Nesya hanya menganggukan kepalanya.
Bunyi pesan dari 089675........
Loe yakin masih mau pertahanin hubungan loe dengan Aderald. Laki-laki playboy yang punya banyak kekasih, dan cintanya mentok cuma buat mantanya yang pergi meninggalkanya.
Laki-laki yang suka gonta-ganti cewe. Apalagi loe cuma cewe yang dia dapat dari hasil taruhan. Taruhanya dengan Dhafin, loe inget kan waktu tanding basket, nah mereka taruhan. Loe cuma bahan taruhan. Gue jamin 1 minggu kalau udah ditidurin juga dibuang seperti sampah.
Nie ya gue kasih tau Aderald masih mencintai mantan terindahnya.Gue yakin dia posisinya masih sama gak akan terganti walaupun loe beneran jadi pacarnya.
Kara yang membaca pesan tersebut hendak menghapus pesanya. Namun Nesya mencegahnya. "Jangan dihapus Ka!" pinta Nesya
"Ini cuma pesan sampah Nes." ucap Kara
"Biarin aja, gue udah baca setengahnya." ucap Nesya yang matanya mulai berkaca-kaca. Nesya melanjutkan membaca pesanya. Setelah selesai ia ijin untuk ke kamar mandi.
"Nes temenin gak?" tanya Kara khawatir. Nesya masih menahan tangisnya dan menggelengkan kepalanya. Ia berlari menuju toilet, bahkan menangis di dalam toilet.
"Loe tau Nesya gak, yang akhir-akhir ini lagi jadi sorotan anak anak sekolah?" ucap salah satu siswa bernama x kelas XII IPS 1 teman Derald. Sedangkan Nesya adalah adik kelas Aderald kelas X
"Yang di tembak bolak balik sama Dhafin dan ditolak, dan sekarang jadian sama sahabatnya Dhafin kan?" jawab temanya y.
"Yah tepat, gila gak punya muka kali tu cewe ya, udah nolak Dhafin berkali kali malah pacaran sama sahabatnya." ucap siswa x
__ADS_1
"Loe tau gak si, Deral kan cewenya banyak, dan suka nidurin cewe lagi. kata temen gue yang dulu satu sekolah sama dia" ucap siswa y.
"Yakin loe?"
"Ngapain boong, tuh ya kata temenku anaknya aja tergila gila sama Derald karna udah di pake, dan gak bisa nglepasin Derald."
"So what, Nesya?"
"Mungkin korban berikutnya"
Obrolan demi obrolan yang tiada habisnya dari penghuni sekolah. Membuat hati Nesya tercabik-cabik. Nesya kembali ke kelas dengan wajah yang masih sisa air mata.
Tak terasa bel pun berbunyi. Nesya keluar dari kelasnya. Sesampainya di depan kelasnya ia disambut dengan senyum Aderald.
"Kenapa rasanya rasa sakit yang tadi datang, hilang begitu saja setelah melihat senyum Aderald." ucapnya dalam hati
"Nes. Kantin yu! Ajak Aderald kepada Nesya
"Gue ajak Kara dulu." jawabnya cuek yang berlalu meninggalkan Aderald dan masuk kembali ke dalam kelas mengajak Kara.
"Pengin berduaan bareng Nesya malah ajak Kara, gagal deh. " ucapnya dalam hati
"Cantik Fin, gak usah dilihatin terus, pacar orang loh." ledek Arfa pada Dhafin
"Rese banget loe Ar." ucap Dhafin yang kesal kemudian berlalu meninggalkan kantin.
"Ntar malem nonton yu Nes!" ajak Aderald
"Ajak Kara ya!" pinta Nesya. Sebenarnya Aderald sangat membenci Nesya saat diajak berduaan selalu mengajak Kara. "Oke.... loe ikut ya Ar!" Pinta Aderald
"Kalau loe maksa gue gak nolak si" ucap Arfa yang memainkam alis matanya.
*
Mereka mengendarai 2 mobil, Kara dengan Arfa dan Nesya dengan Aderald. Derald sengaja mengajak Arfa, agar nanti bisa bareng Kara, dan Derald bisa berdekatan dengan Nesya.
Film yang mereka tonton adalah film romantis, sehingga membuat Nesya dan Kara tertarik dengan filmnya. Padahal Derald mengajak nonton film romantis agar bisa romantis - romantisan juga.
Setelah film usai Derald keluar dengan rasa kecewa. "Muka loe kenapa si? " tanya Arfa.
Derald mengkode Arfa, yah Arfa yang tau maksud Derald agar menjauhkan Nesya dari Kara, mulai mengajak Kara untuk menjauhi Nesya dan Aderald.
__ADS_1
"Ka pulang yu, gue disuruh balik sama nyokap." ajak Arfa bohong.
"Ya udah ka Arfa balik aja, nanti Kara pulang bareng kita." ucap Nesya. Spontan Arfa dan Derald beradu pandang.
"Ia sana Fa pulang." pinta Kara. Arfa yang di usir pulang pun akhirnya pergi, dengan rasa kecewa Derald yang gagal menyuruh Arfa menjauhkan Nesya dari Kara, menekuk wajahnya.
Setelah berjalan agak jauh, Nesya, Kara dan Derald menikmati makanan di sebuah restaurant kecil yang ramai.
Dirasa sudah selesai malan Deral yang sudah hilang mood mengajak mereka pulang.
Derald mengantarkan Kara terlebih dulu. Setelah itu di sepanjang perjalanan pulang, Derald tampak bad mood, wajahnya ditekuk dan tidak ada percakapan yang keluar dari Derald.
Nesya memperhatikan wajah Derald dengan jelli. "Rald kamu kenapa? " tanya Nesya penasaran. Namun Aderald tidak menjawab.
Sesampainya dirumah Nesya, Aderal membukakan pintu untuk Nesya. Lalu bergegas meninggalkan Nesya. Nesya yang tau bahwa Aderald sedang tidak baik baik saja menahan tangan Derald. "Jangan diamkan aku seperti ini Rald!" pinta Nesya
"Rald... " panggil Nesya kepada Derald
"Harusnya loe tau, sejak tadi siang itu gue pengin berduaan dengan loe, tapi apa, kemanapun loe pergi loe ajak Kara. Sebenernya yang pacar loe gue apa Kara si Nesy?" tanya Derald
Nesya sebenarnya tau, kalau Derald sangat ingin berduaan denganya, namun ia sangat takut kalau Derald akan menghancurkan masa depanya. Sehingga ia sengaja menahan Kara sebagai pelindungnya.
"Hanya karna itu kamu marah? " tanya Nesya
"Hanya ucapmu Nes? Menurutmu itu masalah biasa?" tanya Derald
"Apa yang jadi masalah si, kalau kita pergi bareng sama Kara?" tanya Nesya
"Loe gak tau mana yang privasi tanpa ada campur tangan orang luar kah Nesy?"
"Dia bukan orang luar Rald, dia sahabat gue, dia jauh lebih berharga dibanding siapapun" ucap Nesya
"Jadi Kara jauh lebih berarti dari pada gue?" tanya Derald "Oke, gue terima, kalau pacar gue lebij mentingim sahabatnya dari pada pacarnya" Deral berbalik menuju pintu mobil dan hendak pulang.
"Bukan gitu maksud aku Rald, dengerin penjelasan aku dulu."
"Terserahlah, gue cape debat sama loe, tiap hari berantem terus. Gue pulang" ucap Aderal yang membanting pintu mobil.
Brag
"Rald dengerin gue dulu." pinta Nesya sambil mengetuk kaca mobil Derald. Namun Derald tak merespon dan berlalu meninggalkanya.
__ADS_1