
Dia balik ke tanah airnya di Inggris" ucap Kara yang berlalu meninggalkan Derald.
"Pulang ke tanah air? Dan itu pun gak kasih tau gue. Pacar macam apa itu?" gerutu Derald yang terdengar seluruh penghuni kelas.
Aderald berlalu meninggalkan kelas Nesya. Ia kembali berkumpul dengan teman-temanya. "Muka loe Rald seperti si tukang antri BLT." ucap Arfa memainkan tusuk gigi.
"Kenapa loe? Biasanya aja happy digelayutin cewe-cewe." Ledek Dhafin yang tau buasanya Derald itu paling anti duduk tanpa cewe.
"Nesya pulang ke Inggris." jawabnya cuek, yah seorang Nesya mampu membuat Derald sekesal ini.
"Bisa BT juga loe Rald cuma karna seorang Nesya" ledek Arfa yanb tahu kalau Derald itu anti ngebucin.
"Ialah, pulang ke sana bukanya ngasih kabar malah, boro boro pamit juga gak." jelas Derald dengan wajah sulit diartikan, walau sedang marah setidaknya pamit.
"Emang loe siapanya?" tanya Dhafin pengin tahu
"Pacar." sontak jawaban Derald membuat Dhafin melotot. Demi apa Nesya mau menerima Derald. Lelaki bejat, play, perayu handal, dan mesum maksimal.
"Serius loe nembak Nesya di terima?" tanya Dhafin, dan diangguki oleh Derald.
"Gimana critanya?" tanya Arfa kepada Derald. Kemudian Derald menceritakan kedekatanya sampai mereka marahan.
"Gue gak percaya loe bisa jadian secepat itu sama Nesya." keluh Dhafin yang pernah nembak Nesya 3x ditolak. Dhafin mainya alus kalau Derald bar bar.
"Terserahlah, gue mau balik, BT gue, gak mood buat sekolah." ucap Derald
Semenjak Aderald ditinggalkan oleh Nesya, ia menjadi pendiam, bahkan tidak ada satu wanitapun yang ia ajak bermesraan.
3 minggu lamanya, Nesya pergi ke Inggris. Hidup Aderald serasa hampa tanpa Nesya. Ia baru merasakan bahwa Nesya sangat tinggi posisinya di hati Derald.
*
Hari ini tepat dengan hari pertama masuk sekolah semester 2. Aderald menuju kelas Nesya dan menemui Kara. "Ka, mana Nesya?" tanya Aderald
"Nesya belum berangkat. Kayaknya sih masih di Inggris." ucap Kara remeh.
"Hari pertama masuk sekolahpun dia bolos. Astaga...... Sabar Rald.... Sabar." gerutunya yang diperhatikan seluruh kelas. Aderald berlalu meninggalkan kelasnya.
Hari pertama masuk sekolah masih di lalui dengan rasa sedih, dan tak nyaman. Sampai pada hari berikutnya pun sama, Nesya belum juga berangkat.
Hampir 3 hari Aderald ke kelas Nesya dan memastikan bahwa Nesya berangkat sekolah. Namun hasilnya sangat mengecewakan.
"Apa jangan-jangan Nesya keluar dari sini Rald? "Ucap Kara yang sudah menahan tawanya melihat ekspresi sedih Aderald. Padahal Kara tau kalau Nesya memang masih ijin 3 hari karna adiknya yang manja tidak mau ditinggal pergi oleh Nesya.
__ADS_1
"Derald tidak emnjawab, ia hanya memasang wajah super kesalnya pada Kara.
Pagi ini adalah hari Kamis. Pagi yang dilalui oleh Aderald selama 3 hari ini membuatnya malas untuk ke kelas Nesya. Ia takut hanya sekedar kecewa jika Nesya belum kembali.
Hari ini Nesya sudah berangkat sekolah. Kara menceritakan semua kelakuan Aderald setiap paginya. Nesya hanya tersenyum kaku mendengat cerita Kara.
"Loe mau ke kantin ga Nesy, gue laper nie, tadi istirahat pertama kita keasikan ngobrol jadi lupa makan." ajak Kara pada Nesya.
"Ayolah......" Ucap Nesya menyetujui ajakan Kara. Mereka keluar dari kelasnya menuju kantin sekolah. Tidak ada Derald dan kawan kawan disitu. Hanya ada berpasang-pasang mahasiswa sedang menikmati pesananya.
"pesen apa loe Ka?" tanya Nesya
"Baso pedes gila." jawab Kara
"Tar gila beneran loe Ka." ucap Nesya.
"Bisa aja loe Nesy."
Setelah selesai menikmati baksonya mereka kembali ke kelas. Pelajaran Kimia pun dimulai. Pelajaran yang menurut Nesya masih sangat mudah karena hanya mempelajari tentang senyawa.
Sebelum jam mata pelajaran usai, terdengar suara gaduh yang membuat guru Kimia tak konsen lagi mengajar.
Guru Kimia yang terkenal sangat halus itu hendak keluar dan menasehati mereka. Namun sesaat langkahnya terhenti oleh bel pulang sekolah.
"Baik bu" jawab mereka serempak. Suara gaduh di luar kelas masih seperti pasar. Dimana di kelas X-2 terdapat banyak perempuan berhamburan di luar sana.
"Nesy, balik ke rumah gue yu, gue kangen nie." ajak Kara kepada Nesya.
"Besok aja kali ya Ka, gue baru sampe tadi pagi, dan gue belum beres-beres rumah. Gue janji besok main ke rumah loe." ucap Nesya kepada Kara sambil menunjukan dua jari membentuk huruf V.
"Janji ya!" pinta Kara yang sudah memanyunkan bibirnya.
"Ia ia, jangan manyun gitu, jelek tau." ledek Nesya.
Setelah guru Kimia keluar dari kelas, barulah kelas X-1 membubarkan diri. Kara dan Nesya berjalan beriringan keluar dari kelas, namun dari arah kelas X-2 tampak sosok laki-laki tampan, gagah nan tinggi, pokoknya bikin cewe-cewe pada ngiler deh.
Dia berjalan ke arah Nesya. "Ya siapa lagi kalau bukan artis sekolah kita yang dari tadi bikin gempar, ternyata Rama Aderald Kalingga." ucap Kara melirik Nesya.
"Bisa aja loe Ka." ucap Nesya yang lama kelamaan arah Nesya dan Aderald berhadapan.
Dengan sigap Aderald meraih tangan Nesya dan menariknya menuju sebuah atap gedung. Tidak ada pemberontakan dari Nesya. Ia hanya mengikuti apa yang Aderald inginkan.
Banyak mata memperhatikan mereka berdua. Memperhatikan Aderald yang menggenggam erat tangan Nesya.
__ADS_1
Sesampainya di atap gedung Aderald melepaskan genggamanya. Tatapan mata Aderald yang begitu tajam, dan penuh emosi membuat Nesya risih.
"Kemana aja selama ini?"
"Pulang." jawab Nesya ketus
"Apa loe gak bisa kasih kabar Nesy sama gue? Gue cowo loe"
"Emang penting ya? Hmmmm gue pikir loe udah gak anggep gue cewe loe"
"Loe........ " kalimat Aderald berhenti, tampak suara yang meninggi kembali dan emosi yang menyulut.
"Kenapa? Marah?" tanya Nesya
Aderald mencoba menarik nafasnya dalam-dalam, agar menurunkan emosinya. Lalu dengan sigap Aderald memeluk Nesya. "Gue rindu sama loe, gue tersiksa gak bisa lihat loe Nesy." kalimat itu lolos mengungkapkan perasaanya yang selama ini dipendam.
Perlahan Nesya mulai memeluk balik Aderald. Rindu, Nesya juga sangat rindu. "Jangan pergi tanpa kabar lagi." pinta Aderald
"Bukanya loe bahagia bersama cewe-cewe yang kemarin?" ledek Nesya pada Derald.
"Mereka cuma gue manfaati agar loe cemburu. Ehhh malah loe balesnya dengan ninggalin gue selama 1 bulan."
"Lebai banget.... Cuma 3 minggu ko." ucap Nesya tertawa. Aderald yang mungkin karna sangat rindu langsung menyambar bibir Nesya. Spontan Nesya membrontak karna perjanjianya waktu lalu.
"Sekali ini Nesy, gue janji ini yang terakhir." ucap Aderald yang kemudian memautkan bibirnya kembali. Tidak ada penolakan dari Nesya. Aderald melepaskan rasa rindunya yang selama ini menyiksanya.
Lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi brutal, bukan hanya ciuman panas biasa. Hingga Nesya hampir kehabisan nafas dan melepas pautan bibirnya.
Aderald tampak tersenyum. Lalu memeluk lagi tubuh Nesya. " Cukup Rald...... Jangan memelukku ini sudah sangat intim bagiku. Kamu ingat perjanjian kita terakhir kali kan."
Aderald menganggukan kepalanya, "gue janji ini yang tetakhir. Gue gak akan maksa loe Nesy. Tadi itu karna gue kangen banget sama loe."
Nesya mulai memanyunkan bibirnya yang berwarna merah muda dengan polesan lip ice, membuat gemas Derald yang menatapnya. Deral langsung menarik hidung Nesya.
"Ah.... Sakit tau." ucap Nesya
"Gemes banget sama kamu Nesy." mendengar ucapan Derald Nesya tersipu malu.
Bonus Visual
Bonus Visual Aderald
__ADS_1