Hamil Anak Mantan

Hamil Anak Mantan
2


__ADS_3

PLAK


Satu tamparan mendarat di pipi Derald dengan kuat. Nesya berlari sekuat tenaga menghindari kerumunan, pasalnya dirinya sangat malu mendapatkan pelecehan seksual dari Derald.


Bukan hanya cctv yang menyaksikan perpaduan kasih mereka, hampir semua ponsel merekam adegan yang tidak selayaknya dipertontonkan oleh khalayak yang usianya masih di bawah umur.


Kara berlari mengejar Nesya yang sudah tidak nampak di area sekolah. Kara menghubungi ponsel Nesya, namun ponselnya masih utuh di tas sekolahnya yang ditinggal.


"Nesya pasti balik ke rumah ini, gue samper aja kali ya ke rumah." terbesit rasa ingin mengunjungi sahabatnya itu sepulang sekolah, yang jelas keturunan anak psikolog lebih tau cara memperhatikan sahabatnya yang punya masalah isolasi sosial.


Sesampainya dirumah. Ia merebahkan dirinya, memorinya penuh dengan tatapan siswa siswi yang memperhatikan kejadian memalukan disekolahnya. Air matanya membasahi bantal yang berwarna putih itu.


"Ya Alloh, apa ini, aib seperti ini kenapa menimpa padaku. Bagaimana aku melanjutan hidupku. Apa harus seperti dulu, menyerah lagi. Lagi lagi menyerah, apa kata ayah bunda kalau sampai aku tidak bisa bertahan, pasti aku harus menghabiskan waktu dengan dr. psikologku lagi."


Nesya tinggal seorang diri dirumahnya. Karna keluarganya berada di luar negeri, ia hanya ditemani oleh ibu Rohmah seorang IRT yang sudah paruh baya, dan Pak Rebo sebagai suami ibu Rohmah.


Nesya mengurung dirinya di kamar, bahkan Kara yang sudah jauh-jauh datang ke rumah, tidak ditemuinya.


Ia mencoba menepis ingatan buruknya, bahkan sampai tengah malam Nesya belum bisa memejamkan matanya. Gambaran menjijihkan itu kenapa selalu terngiang dan memenuhi fikiranya.


Mata bengkak, terdapat kantung mata, masih memakai seragam sekolah putih abu-abu, ya dia adalah Nesya. Yang hanya memejamkan matanya sekitar 1 - 2 jam.


Tepat pukul 05.00 pagi, ia memaksa membangunkan dirinya, berendam di air hangat, sampai waktu menunjukan pukul 06.00.


Berat hati ia mengenakan seragamnya. Masih terngiang jelas ingatan buruk, yang mungkin sepanjang sejarah tidak akan terhapus dari agenda sekolah.


Rasanya ingin sekali melarikan diri. Namun ia berjanji akan bertahan sekolah disini. Karna memang Nesya berbeda dengan gadis lainya, ia sangat susah bergaul. Berapa kali ia harus berpindah sekolah karna tidak pernah bisa berinteraksi dengan temanya.


Pak Rebo mengantarkan Nesya ke sekolah. Sesampainya di gerbang sekolah, tubuhnya bergetar. Ia sangat takut tidak dapat menghadapi teman-temanya.


"Nesy.... " sapa Kara

__ADS_1


"Kara... " Nesya menjawab sapaan Kara dan langsung memeluk sahabatnya itu.


"Gak papa Nesy, ada gue. Tarik nafas panjang.... tahan..... Keluarkan. Lagi ulang tiga kali Nesy. Dan katakan kamu bisa menjalaninya " ucap Kara dengan menepukan tanganya di pundak Nesya.


Nesya mengikuti ucapan Kara. Setelah 3 kali tarik nafas panjang dan memusatkan fikiran, Nesya kembali percaya diri. "Ayo masuk Ka!" ajak Nesya dengab suara lirih.


Mereka melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke dalam kelas. Bisik demi bisik berdenging di telinga, membuat Nesya ingin sekali mencabik mulut kotor yang menyebabkan fitnah.


"Lihat itu si ******, masih punya nyali masuk sekolah. " ucap siswa satu dengan nada menghina.


"Cantik si, sayang, mau aja dicium di depan umum." ucap siswa dua tak kalah hinaanya.


"Bukanya Nesya ditaksir sama Dhafin, ehh malah nikung sahabat sendiri. " ucap siswa tiga, dan masih banyak lagi ucapan yang membuat hati Nesya menciut.


Tak berselang lama, bell berbunyi tanda masuk kelas masing-masing. Dengan hikmat anak kelas X1 ipa 1 menimba ilmu pelajaran.


Mereka tidak ada yang menggunjing Nesya tentang kejadian kemarin. Karna mereka tau betul seperti apa karakter Nesya. Yah terasa jam pelajaran pertama berlalu dengan cepat.


Nesya dengan berat membangunkan badanya beranjak dari duduknya menuju tempat guru Fisika berada."Nesy, kamu disuruh ke ruang BK." pinta guru Fisika selaku wali kelas X1 IPA 1. Nesya sudah memperkirakan kejadianya akan seperti ini.


Ia berjalan menuju ruang BK. Bisik demi bisik pun tiada henti berputar bagai radio rusak yang mengganggu pendengaran.


ceklek


Perlahan Nesya membuka handle pintu tersebut. Bukan kepalang kagetnya, ternyata ia bertemu dengan laki-laki bejad yang kemarin melecehkanya.


Derald menatap kagum kecantikan Nesya. Tanpa berkedip, hingga Nesya menjatuhkan badanya di kursi yang agak jauh dari Derald.


"Aderald.... " panggil guru BK kepada Derald. Aderald yang awalnya fokus pada Nesya menatap sang guru BK


"Ya pak. "

__ADS_1


"Sebelumnya mungkin kalian sudah tau kenapa saya memanggil kalian, yaitu karena kejadian kemarin" Sang guru BK menjeda ucapanya " kalian bisa bisanya berpacaran di depan umum, apalagi sampai....... " ucapan pak Kumis berhenti seketika karena di potong oleh Nesya


"Maaf pa, saya gak kenal sama dia, dia bukan pacar saya. " elak Nesya atas tuduhanya


"Bukan pacar bagaimana, coba jelaskan! " pinta pak Kumis.


"Memang dia bukan pacar saya pa."


Jawab Aderald dengan santainya.


"Bukan pacar lalu kamu berani beraninya mencium bibir Nesya Rald." ucap pak Kumis dengan nada menginterogasi.


"Ya abisnya Nesya cantik banget si pa jadinya kan khilaf" Jawab Aderald enteng membuat Nesya dan pak Kumis geram.


"Sudah - sudah, ini surat pemanggilan orang tua kalian, dan selama satu minggu, sepulang sekolah ke perpustakaan untuk membereskan buku.


"Pa, kalau mau panggil, panggil orang tua saya aja, tapi jangan keluarga Nesya. Kasian dia pa, diakan gak tau apa apa, dia cuma korban." Pinta Aderald


"Ya saya pertimbangkan nanti, sudah - sudah sana pergi. " ucap pak Kumis gugup, ponselnya sejak tadi berdenging men


Nesya hendak pergi meninggalkan Aderald. Namun langkahnya terhenti oleh langkah Aderald. "Jangan lupa nanti pulang sekolah membersihkan perpustakaan"


"Hmmm" jawab Nesya


"Loe mau jadi pacar gue Nesy? " tanya Aderald


Deg


Nesya yang merasa mulai dilecehkan lagi, melambaikan tanganya mengarah ke Aderald.


PLAK

__ADS_1


Satu kali lagi tamparan tersebut mendarat di pipi Aderald.


__ADS_2