Happy Or Sad?

Happy Or Sad?
HOS BAB 9


__ADS_3

HAPPY READING GUYS ♡⁠(⁠>⁠ ⁠ਊ⁠ ⁠<⁠)⁠♡


Terlihat matahari yang bersinar terik, malu-malu mengintip di sebuah kamar yang di penuhi oleh warna coksu(coklat susu). Sementara di atas kasur yang terdapat di ruangan itu, terlihat sebuah gumpalan atau yang lebih tepatnya seorang gadis yang menutupi semua bagian tubuhnya dengan dengan selimut, dan hanya menyisakan rambutnya yang tergerai acak.


TELOLET TELOLET TELO LE LO LET(alarm)


Bunyi itu sungguh mengganggu gadis tersebut, hingga mau tak mau dia menyumbulkan kepalanya, dan meraih benda yang telah berani dengan lancangnya mengganggu tidur nyenyak nya.


Hoam, "CK, ganggu aja elah," dengan mata melek gadis itu melihat handphonenya.


"Baru jam 07:00 juga," dengan mengucek-ngucek mata, gadis itu berkat hingga.


BRAKKK!


"Njir, ini kesiangan woyy!" hebonya, dan mulai bangkit dari tempat tuju sambil berlari memasuki kamar mandi.


___________________________


-RUANG MAKAN


"Nih, kak Raqel mana si," gerutu Ano kesal, ketika sudah hampir 15 menit menunggu di meja makan.


"Apa, jangan-jangan belum bangun lagi? aelah daripada bingung mending samperin aja!"


Tap


Baru selangkah keano berjalan, sudah terhenti oleh sebuah suara.


"Den, ini sarapannya mau langsung di makan, apa di jadiin bekal?" tanya bil amih, salah satu pekerja di rumah Raqel.


"Jadiin bekal aja bik, Ano keatas dulu mau liat kakak,"


"Baik den."


"Oh iya, nanti bekalnya langsung taro aja dalam mobil."


"Baik den."


Tap


Tap


ROOM QUEEN, itulah hal yang terpajang di pintu kamar Raqel yang berwarna putih.

__ADS_1


Tok, tok...


"KAK, LOH UDAH BANGUN BELUM?" teriak Ano, setelah mengetuk pintu.


"IYAA!! INI BENTAR LAGI!"


"CEPETAN ELAH!!"


"SABAR NAPA DEK!"


"SABAR-SABAR UDAH JA-.."


Ceklek


"Udah ayok, katanya mau cepet," ujar Raqel sambil menarik tangan Ano.


Ano yang melihat perlakuan Raqel terhadapnya hanya bisa pasrah, sepasrah-pasrahnya.


____________________________


-SMA KIK


"KYAAA, GANTENG BANGET WOY!'


"GAK NANGGGUNG-NANGGUNG LOH!"


"ITU YANG TENGAH NAMANYA SIAPA WOY!"


"DIH, CAKEP LO GITU? 08 BERAPA?"


Begitulah teriakan-teriakan yang menggelar, neyapu pendengaran Rasya, Farel, Afel, Ifan, dan Kiko.


"Gila, ga ada bedanya sama sekolah yang dulu," ujar Afel.


"Bener, nasib orang ganteng mah gini," dengan pedenya Farel berucap.


"Alah bacot lo," sinis Ifan.


"Kita yang pinggiran roti kalau di banding sama bos aja di gini-in, gimana kalau mereka liat bos ya. Apa ga mimisan?" tanya Kiko.


"Gw tau lo yang paling jujur di antara kita ko. Cuma, jangan juga lo perjelas," sembari menepuk bahu Kiko, Rasya membalas ucapan Kiko.


"Eh, btw si bos jadi nyamar?" tanya afin.

__ADS_1


"Kayaknya si jadi" balas Rasya.


"T-tapi kok belum keliatan ya, batang hidungnya si bos?" tanya Kiko lagi.


"Coba Lo call si bos rel," pinta Irfan yang langsung di patuhi oleh Farel.


DRETTTT...


"Di angkat g?" tanya Rasya.


"Belum, tapi berdering."


"Hallo,"


Mendengar suara king yang serak, seperti baru bangun tidur, sontak para dayang-dayang King ternganga.


"Baru bangun Lo bos?" tanya Ifan.


"Hm, ada apa."


"Lo ngga sekolah bos?" giliran Farel yang bertanya.


"H-hah? sekolah? Emang ini j-jammm.. wanjir telat gw."


Brakk, drukk, barkakk


Tut.


Ekspresi yang lain, H-hah?


Sungguh, ingin mereka menangis rasanya.


"CK, udahlah mending kita ke ruang kepala sekolah aja," ungkap Afel, dan melangkah meninggalkan parkiran.


Sementara yang lain, dengan paruhnya mengikuti perintah Afel. Sambil ngintip seperti anak ayam, yang mengikuti induknya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2