
Happy reading♡
_______________
"Lo ga boleh nangis qel! lo anak kuat. Masa gitu aja nangis," ucap Raqel, sambil menenangkan diri dan mulai turun dari mobil.
Blomm (bunyi pintu mobil ketutup)
Raqel mengangkat ponselnya ke depan muka, guna memastikan tidak ada air mata yang mengalir, maupun ekspresi yang tidak enak di pandang.
Huhff
"Lo wanita kuat! jadi jangan sedih oke. Kasian nanti Oma, opa, sama Ano kalau liat Lo sedih," ujarnya lagi dan mulai melangkah memasuki mansion.
"ASSALAMUALAIKUM OMA, OPA, ADEKS KUU!! QUEEN RAQEL COMEBACK NI!! MANA RED KARPET NYA!!!"
Dengan membawa spatula masak di tangan, dan ekspresi garang Oma menghampiri Raqel ketika mendengar teriakan membahana dari cucunya, "WAALAIKUMSALAM jangan teriak-teriak qel, budek entar kuping Oma."
"Hehe, pice Oma," dengan cengiran andalannya, dan juga jari tunjuk dengan jari tengahnya yang di angkat, hingga menyerupai huruf V, jangan lupakan wajah tanpa dosa.
Oma yang melihat itupun hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan mulai kembali ke aktivitas yang di lakukannya sebelumnya, sedangkan Raqel berjalan menuju kamarnya.
Ceklek
Sontak ketika pintu mulai tertutup Raqel mulai berjalan menuju kasurnya, dan menjatuhkan tubuhnya di pinggiran kasur. Dengan posisi duduk di lantai dan punggung yang bersandar di kasur, "Hiks, gw ga boleh kaya gini," isakan demi isakan kecil mulai terdengar lolos dari mulut Raqel.
"Hiks, Hiks s-stop qel! jangan cry."
"J-jangan hiks nangisi! hiks o-orang sampah kayak mereka hiks qel."
"Hiks kok ga berhenti sih Hiks," Raqel mulai merambah dadanya.
"Agrghh!!! d-di hiks s-sini kok sakit," dengan tatapan nanar, Raqel mulai memukul-mukul dadanya dengan perlahan hingga sangat kuat.
"UDAA!! STOPP AGRGHHH!! Hiks, hiks sesak, perih, sakit," seakan tak puas, Raqel pun mulai menjambak rambutnya.
"ARGHHGGG!! Hiks c-cape, s-sakit, stop! Hiks R-raqel nggak kuat hiks s-sesak."
Sungguh rasa sakit itu selalu datang terus menerus, seakan tida henti takdir selalu mempermainkan dan menghadirkan rasa yang sulit di ungkapkan.
__ADS_1
Raqel lelah dengan semua yang dia alami, ia selalu bertanya-tanya kenapa takdir selalu mempermainkannya? Dimana kata tuhan itu maha adil? Kenapa dia harus mengalami semua ini? Pertanyaan itu selalu berputar-putar di kepalanya.
"ARGHHHGGG!!!!!"
BRUKKK
"KAKAK!!!! Apa yang kakak lakuin!" Panik itulah yang dirasakan Keano saat melihat keadaan Raqel, dengan segera dia menghampiri Raqel, dan menghentikan tangan Raqel yang terus menyakiti dirinya sendiri.
Tersentak, Raqel pun memusatkan pandangan kepada keano, "Hiks a-ano hiks k-kakak c-capek, s-sakit hiks s-sesak m-mereka k-kejam hiks," dengan air mata yang mengalir deras serta nada bicara yang penuh keputusasaan, Raqel mengadu kepada keano.
Sontak, keano yang melihat itu langsung membawa Raqel kedalam pelukannya, dengan pelan dia mengusap punggung kakaknya.
"AGRGGGH!!!"
Kembali Raqel mengerang kuat dengan kepalanya di dekap erat oleh keano.
"It's ok, kakak boleh nangis sepuasnya," dengan pelan keano berbisik kepada Raqel serta pandangan yang menatap tajam ke depan, dan tangan yang sedikit mengepal.
"B@ngs*! Gw pastiin orang yang buat Lo kaya gini bakal menderita kak!" Ucap keano dalam hati.
Merasa, Raqel mulai tenang keano pun kembali berucap dengan nada lembut dan lirih, "Kakak jangan kayak gitu lagi, kakak punya ano buat berbagi jangan pendam sendiri. Ano sakit liat kakak kaya gini."
Raqel hanya bungkam ,dan mulai memejamkan matanya. Ano yang menyadari hal tersebut lantas segera menggendong tubuh kakak nya yang lemah, dan membaringkannya di atas kasur.
Dengan perlahan Ano menutupi tubuh Raqel dengan selimut dan mengecup pelan pipi Raqel, kemudia Ano mulai melangkah pergi.
Raqel membuka matanya pelan dan melihat punggung adiknya yang mulai jauh dengan lirih dan lemah Raqel berucap "Makasi Ano."
Brukk(pintu di tutup Ano)
Setelah memastikan pintu tertutup dengan rapat Ano mulai mengangkat handphonenya, dan menghubungi seseorang
Drenggg
"Hallo tuan muda"
"Cari tahu kegiatan yang di lakukan Queen hari ini."
"...."
__ADS_1
"Kamu ga perlu tau."
"..."
"Nanti malam suda ada di atas meja saya."
"...."
"Ya."
Tutt( sambungan mati)
"Gak bakal gw lepas." Sekali lagi tatapan Ano menajam dan menggenggam erat ponsel yang berada di tangannya.
Ano tersandar di pintu kamar Raqel sembari memikirkan hal yang baru saja dia lihat. Sungguh keano sangat kaget ketika mendapati teriakan dari kamar kakaknya ketika, dia melintas di depan pintu kamar Raqel setelah pulang dari latihan basket.
Tak pernah sekalipun keano melihat kakaknya meraung-raung serta menyakiti dirinya sendiri, sakit. Itu yang di rasakan oleh keano ketika melihat keadaan kakaknya, adek mana yang akan tega melihat kakaknya sekaligus keluarganya serta orang orangtua baginya kesakitan.
Tes
Dengan cepat keano menghapus air mata yang tak sengaja jatuh dari matanya dan mulai menegakkan badannya dari pintu dan berjalan menuju kamarnya dengan menyempatkan diri melihat sebentar pintu kamar Raqel.
.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE COMEN AND FOLLOW AKUN AUTHOR OKY!
JIKA ADA KETIDAK SESUAI ATAUPUN TYPO TOLONG DI TANDAI JANGAN LUPA BERKOMEN MENGGUNAKAN BAHASA YANG SOPAN DAN TIDAK MENYINGGUNG