
×HENING×
PART 15
"Ragini... Jangan pergi.. Tunggu aku"
Suara teriakan itu membuat Ragini yg sedang berjalan ke arah sumber cahaya yg sangat terang langsung menoleh. Kini di depannya sedang berdiri sosok yg tak asing baginya, sosok yg kehadirannya selalu dia nanti. Sosok itu kini mengenggam erat tangannya dan tersenyum ke arahnya. Ragini terbuai, dia menatap lekat sosok itu dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Jangan pergi.. Jangan tinggalkan aku sendiri"
Ragini memejamkan matanya, tak menjawab.
"Aku sakit Laksh.. Sangat sakit. Aku sudah tak kuat.. Biarkan aku pergi" ucapnya pelan.
"Jangan.. Jika kau pergi bagaimana denganku? Apa kau tidak kasihan denganku, kau ingin aku kembali lagi terpuruk?"
Ragini terdiam, matanya terbuka dan menatap lekat wajah pria yg amat disayanginya. Butiran airmata terjatuh membasahi pipinya, nafasnya terasa sangat berat.
"Jangan.. Ku mohon.. Aku tak bisa hidup tanpamu"
Ragini hanya terdiam, bola matanya tak lepas menatap wajah teduh prianya itu.
***
"Ayoo lakukan lagi"
Ravish menggosokkan alat kejut jantung itu ke tubuh Laksh.
Tubuh Laksh terangkat ke atas.
Ravish menatap monitor alat mengetahui detak jantung Laksh.
"Ku mohon lakukan lagi"
Bulir airmata mengalir terus di pipi Ravish.
"Ya Dewa ku mohon selamatkan mereka"
Ravish menyingkap tirai yg membatasi tempat Ragini dan Laksh. Ravish menatap lirih tubuh Ragini yg sedang menjalani operasi.
"Ku mohon bertahanlah sayang, jangan tinggalkan kaka"
Dia menangis menatap tubuh adiknya yg tak berdaya.
"Dokter.. Detak jantung pasien semakin melemah, dan darahnya terus mengalir dari kepalanya"
Ravish langsung berlari dan meminta suster untuk menyiapkan alat operasinya.
"Suster tolong benang dan gunting"
Ravish mulai menjahit luka di kepala Laksh.
***
Setelah menjadi proses operasi, Ravish masih terdiam di ruangan itu. Tirai yg tadi membatasi Ragini dan Laksh terbuka, mata Ravish menatap secara bergantian Ragini dan Laksh. Mereka sama-sama berjuang melawan maut.
Ravish menghampiri Ragini dan menggengam erat tangannya. Dia menatapnya lirih dan menangis.
"Buka matamu sayang, mau berapa lama lagi kau tertidur"
Ravish mencium kening Ragini.
"Ragini.. Ragini.. Ragini" ucap Laksh pelan.
Ravish yg mendengar suara Laksh dia langsung menoleh.
"Laksh.. Buka matamu.. Laksh"
Perlahan Laksh mulai membuka matanya.
__ADS_1
"Akhirnya kau sadar juga Laksh"
"Ragini.. Ragini.. Ragini"
"Kau jangan banyak bicara Laksh.. Ragini.. Dia ada di sampingmu"
Laksh langsung menoleh, dia menatap tubuh Ragini yg masih terbaring lemah.
"Aku ingin menemuinya.. Aku ingin bertemu dengannya"
"Tubuhmu masih lemah Laksh.. Apalagi kau baru saja menjalani operasi"
"Tapi kak"
"Ssstttt"
Laksh hanya terdiam.
"Kak.. Apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Katakan Laksh.. Apa yg kau inginkan?"
"Tolong dekatkan tempat tidurku dan Ragini, Kak. Aku ingin tidur dengan memeluknya. Ku mohon"
"Tapi Laksh"
Laksh menatap lirih Ravish, Ravish tak tega dia langsung mengangguk.
***
Laksh mendekap tubuh Ragini di pelukannya. Sedari tadi wanitanya itu tak bangun juga. Laksh menepuk pelan dan sesekali mencium keningnya.
"Bangun sayang.. Aku berada di sampingmu sekarang" bisik Laksh di telinga Ragini.
Namun Ragini sama sekali tak memberikan respon. Laksh menggeser tubuhnya agar lebih leluasa untuk memeluk Ragini namun tak sengaja itu membuat selang transfusi darahnya terlepas, hingga meninggalkan bekas luka darah di tangannya dan lumayan banyak. Laksh meringis, dia merasakan perih di lengannya. Dia mengusap darah itu dengan jari jemarinya. Saat dia sedang menghapus darah di lengannya tak sengaja dia melihat ada nyamuk yg hinggap di kepala Ragini. Laksh langsung mengusir nyamuk itu, hingga ibu jari Laksh tak sengaja menyentuh kepala Ragini dan meninggalkan bekas darah di kepalanya seperti memakai sindoor.
"Maafkan aku sayang.. Aku hanya tak ingin tidurmu terganggu"
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu"
Perlahan kelopak mata Ragini terbuka, dia menatap Laksh dengan pandangan yg masih sedikit kabur.
"Laksh.. Kau disini"
Laksh tersenyum.
"Iyah.. Aku disini sayang"
"Laksh.. Sakit.. Sakit sekali"
"Dimana sayang yg sakit katakan?"
"Tulang punggungku sakit sekali Laksh, serasa remuk dan perutku sangat sakit Laksh.. Aku tak kuat menahannya" ucap Ragini pelan.
Airmata Laksh menetes, dia memeluk erat tubuh Ragini. Tangannya mengusap pelan punggung Ragini.
"Apa terasa baikkan jika aku usap seperti ini?"
Ragini mengangguk.
Laksh mengecup pucuk kepala Ragini.
Ragini menatap wajah Laksh, dia memegang kepala Laksh yg terbungkus perban.
"Kau kenapa?"
Laksh menggeleng.
"Laksh.. Jika aku tidak ada, kau harus mampu melanjutkan hidupmu tanpaku"
__ADS_1
Laksh menaruh jari telunjuknya di bibir Ragini.
"Jangan pernah katakan itu, jika Dewa mencabut nyawamu hari ini, aku harap Dewa juga mencabut nyawaku sebelum atau sesudah dirimu, aku tak bisa hidup tanpamu"
Ragini menyandarkan kepalanya di bahu Laksh.
"Sakit Laksh.. Sakit sekali" ucapnya dengan terus terisak.
Laksh berusaha tegar, dia sebenarnya masih merasakan sakit di kepalanya, namun dia tahan karena dia tak ingin Ragini khawatir kepadanya.
"Sudah sayang.. Sudah.."
"Sakit.. Sakit sekali.. Tulangku terasa remuk" ucapnya dengan masih terisak.
"Ssssttttt.. Diamlah.. Kita tidur saja yah sayang.. Kita tidur, mungkin dengan tidur itu akan mengurangi rasa sakitmu"
Ragini mengangguk pelan, dia lalu menutup kembali matanya dan di susul oleh Laksh.
***
Ravish menatap lirih kobaran api di hadapannya, airmatanya tak berhenti menetes terurai, dia menatap kobaran api yg terdapat di kanan dan kirinya.
"Cinta kalian memang sejati, sangat sejati. Bahkan Dewa merenggut nyawa kalian secara bersamaan" ucap Ravish lirih.
Dia menjatuhkan tubuhnya di tanah, menatap kobaran api yg semakin besar.
***
"Aaahhh.. Laksh.. Laksshh"
Laksh yg sedang tidur langsung membuka matanya.
Dia menatap tubuh Ragini yg sudah mengejang, dia meremas jemari Laksh dengan sangat kuat.
"Laksh.. Laksh.. Laksh.. Sakit.. Sakit" ucapnya pelan.
Laksh panik, dia berusaha untuk bangkit dari kasurnya dan memanggil dokter namun tangan Ragini menahannya.
"Dia sudah datang Laksh.. Dia sudah datang"
Airmata Laksh terurai, dia menatap wajah Ragini yg semakin pucat. Peluh keringat mengalir dengan deras dari wajah Ragini.
"Ragini.. Jangan membuat aku takut sayang"
Mata Ragini menatap lurus ke depan, nafasnya terasa sangat berat dan tak beraturan.
"A-ku.. Su-dah tak ku-at la-gi"
Laksh menggengam kuat telapak tangan Ragini. Keringat yg mengucur dari tubuh Ragini terasa sangat dingin. Genggamannya terasa semakin kuat meremas telapak Laksh.
"Aaaaaaaa"
Tak lama genggaman itu melemah dan terlepas.
Laksh menatap tubuh Ragini yg sudah melemah, dia berusaha untuk bangkit. Dia meletakkan jari telunjuknya di dekat hidung Ragini, airmatanya mengalir dengan derasnya, dia menyandarkan kepalanya di dada Ragini, tak lagi dia mendengar suara detak jantung Ragini. Dia meraih lengan Ragini untuk mengecek denyut nadinya.
"Ragini.. Ragini.. Bangun"
Laksh berusaha untuk bangkit dari kasurnya, namun saat dia mencoba untuk bangun, kakinya tak sengaja tersandung selang transfusi darah Laksh, tubuh Laksh jatuh dan terhempas di lantai rumah sakit, kepalanya terbentur sangat kencang hingga mengakibatkan luka jahita di kepalanya kembali terbuka dan mengeluarkan banyak darah. Laksh menahan rasa sakitnya, tubuhnya merangkak untuk meraih tangan Ragini, dia berusaha dengan sisa tenaga yg dia punya meraih lengan Ragini yg sudah melemah itu, saat tubuhnya sudah dekat dengan lengan Ragini dia langsung meraih lengan Ragini dengan tangannya. Dia menggenggam kuat lengan Ragini. Nafasnya terasa sangat berat, tubuhnya sedikit terangkat. Tak lama tubuhnya melemah dan matanya terpejam.
Ravish yg baru sampai di ruangan mereka langsung terkejut saat melihat tubuh Laksh tergeletak di lantai dengan banyak darah mengalir di kepalanya. Dia menghampiri Laksh untuk mengecek keadaannya namun hasilnya nihil, tubuh Laksh sudah tak bernyawa. Ravish langsung menangis, dia menatap ke arah lengan Ragini dan Laksh yg saling berpegangan. Dia menghampiri tubuh adiknya dan dia langsung memeluknya. Dia benar-benar tak menyangka jika Ragini dan Laksh harus meninggal di hari yg sama.
Ravish menjatuhkan dirinya, dia menangis histeris.
***
"Kalian yg tenang di alam sana Ragini dan Laksh.. Cinta kalian benar-benar sejati.. Kakak akan sangat merindukanmu sayang, tapi kakak bahagia karena kau bisa bersatu dengan pria yg sangat kau cintai"
Ravish menyeka airmatanya, dia lalu membuang abu jenazah Ragini dan Lash tersenyum.
__ADS_1
Tanpa Ravish sadari Ragini dan Laksh sedang menatapnya dan tersenyum, mereka lalu saling menatap dan berpegangan tangan.
---THE END---