HENING

HENING
Sedih


__ADS_3

×HENING×


PART 9


Hembusan angin seakan menembus ke dalam tubuh Ragini, dia menikmati angin yg berhembus dengan sangat kencang.


Tak lama turun hujan dengan sangat lebat, hujan pun seolah mengerti dengan kegundahan yg sedang Ragini rasakan. Tetes airmatanya kini tak terlihat seakan menyatu dengan ribuan air hujan yg jatuh.


Dia tetap terdiam di posisi yg sama, pandangannya tak menentu, dia hanya memikirkan tentang sikap Laksh yg berubah dan itu sangat mengusik dirinya.


"LAKSH.. LAKSH.." teriak Arjit dengan nafas terengah.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Laksh bingung.


"Ragini.. Dia.. Dia..."


"Ragini? Ada apa dengannya? Katakan kepadaku!"


"Dia.. Dia berdiam diri di tengah taman, padahal hujan turun dengan sangat deras. Aku sudah berkali-kali memanggilnya tapi dia tak menoleh"


Laksh langsung berlari untuk menemui Ragini. Dia menatap dari lobby kampusnya Ragini tengah terdiam dengan mata yg tertuju ke sungai.


Laksh langsung berlari, dia melepaskan switernya dan memakaikannya di pundak Ragini.


"Apa yg kau lakukan? Kau akan sakit Ragini" teriak Laksh di tengah hujan deras.


"Lepaskan Laksh.. Aku tak mau lagi melihatmu" teriak Ragini dengan menepiskan tangan Laksh di lengannya.


"Hei.. Apa kau sudah kehilangan akalmu, hujannya sangat deras nanti jika kau sakit bagaimana?"


"Biarkan saja aku sakit, memangnya apa pedulimu, Laksh?"


"Ragini.. Kau kekasihku jadi wajar jika aku sangat memperdulikan dirimu"


"Peduli? Kau peduli kepadaku?"


Laksh mengangguk.


"Lalu yg tadi pagi kau lakukan apa Laksh? Sudahlah Laksh lupakan, aku tak mau lagi mendengar alasanmu"


Laksh menarik lengan Ragini untuk pergi tapi Ragini tam menghiraukannya. Badan mereka telah basah kuyup karena di guyur hujan.


"Ragini.. Nanti kau akan sakit"


"Tidak mau Laksh.. Tak usah kau memperdulikan aku"


"Ragini.. Ku mohon jangan keras kepala"


"Kau yg keras kepala Laksh.. Kau tadi pagi mengacuhkan aku, membentakku, lalu untuk apa kau masih peduli kepadaku.. Tak usah kau pedulikan aku, ini hidupku dan hanya aku yg......."


Laksh mencium bibir Ragini, agar Ragini berhenti mengoceh. Laksh mengecup pelan bibir kekasihnya itu, dia menekan tengkuk Ragini agar ciuman mereka semakin dalam, mereka saling melumat dan membalas ciuman panas mereka.


Laksh melepaskan pagutan mereka, dia menangkup wajah Ragini.


"Jangan keras kepala.. Aku sangat mencintaimu, aku peduli kepadamu.. Ayoo kita pergi"


Ragini tersenyum dan mengangguk.


Laksh merangkul pinggang Ragini.


***


"Dasar Romeo dan Juliet kampus, banyak sekali drama yg kalian lakukan" ledek Mrunal.


"Drama? Kau pikir itu drama? Makanya kau jatuh cinta biar bisa merasakan apa yg aku rasakan" ucap Ragini kesal.


Mrunal hanya tersipu malu dengan melirik Arjit.


"Ragini.. Kau sudah ganti bajumu?"


"Sudah Laksh.. Apa tak kau lihat ini?"

__ADS_1


Laksh tersenyum dengan menatap lekat wajah Ragini.


"Eheemm.. Kita nampaknya jadi obat nyamuk disini, Mrunal ayo kita pergi"


Mrunal mengangguk dan mengikuti langkah Arjit.


Kini hanya tinggal Ragini dan Laksh di ruang kesehatan itu.


Ragini dan Laksh saling tatap, Laksh menggenggam erat tangan Ragini.


"Jangan pernah lalukan hal bodoh itu lagi, yah?" ucap Laksh dengan menatap lekat wajah Ragini.


Ragini hanya tersenyum, dia lalu merebahkan tubuhnya di dada Laksh.


"Asalkan kau tidak membentakku Laksh, aku benar-benar takut saat kau marah dan membentakku"


Laksh mengecup pucuk kepala Ragini.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku yg telah membuatmu ketakutan"


Ragini hanya mengangguk.


***


"Paman.. Paman sudah pulang?" tanya Sradha, keponakan Laksh.


Laksh lalu menggendong tubuh mungil keponakannya itu. Laksh tersenyum melihat kelucuan Sradha.


"Laksh.. Bersihkan dirimu dulu, lalu kau boleh melanjutkan bermain dengan Sradha" ucap Parineeta.


"Iyah kak"


Laksh melepaskan Sradha dari gendongannya, dia lalu melangkah menuju kamarnya.


***


Setelah selesai membersihkan diri mata Laksh tertuju pada sebuah pas foto ayahnya yg sudah di kalungkan karangan bunga. Laksh mendengus kesal.


"Kakak.. Kenapa foto pria itu ada disini?"


"Laksh.. Itu kan foto ayahmu dan Adars"


"Iyah paman, itu foto kakek" ucap Sradha dengan nada riangnya.


"Apa kakak yg menyuruhmu untuk meletakkannya di rumah ini?"


Parineeta terdiam.


"Memangnya kenapa Laksh? Apa kau merasa keberatan? Itu adalah foto ayahku jadi aku berhak untuk meletakkan dimanapun yg aku suka dan aku tak perlu meminta izin darimu terlebih dahulu"


Laksh beranjak dari kursinya, dia tersenyum sinis kepada Adars.


"Mau sampai kapan kau akan terus membelanya, kak? Dia adalah seorang pembunuh dan sampai dia meninggal pun bagiku dia adalah tetap seorang pembunuh, dia yg telah membunuh ibu kita, apa kau lupa, kak?"


Adars memejamkan matanya.


"Cukup Laksh.. Jangan mengungkitnya lagi, sudah cukup"


Laksh mendengus kesal, dia lalu berlari menuju kamarnya.


Parineeta menyentuh pundak Adars.


"Luka yg diterima oleh anak itu sangat dalam Adars, apa lagi dia menyaksikan sendiri peristiwa tragis itu terjadi, biarkan dia bersikap seperti itu"


"Tapi Pari.. Dengan dia terus menyimpan luka dan dendam itu, itu akan mempengaruhi dirinya, aku juga menyaksikan peristiwa itu tapi aku tak bersikap seperti Laksh yg terus menerus menyalahkan ayah"


Parineeta hanya terdiam.


"Mau sampai kapan? Kau lihat dia? Penyakitnya tak akan pernah sembuh jika dia tak mau berdamai dengan masa lalunya itu"


***

__ADS_1


Laksh mengingat kejadian yg terjadi saat dia berumur empat tahun.


#FLASHBACK ON...


"Laksh.. Keluar sayang, kau ikut ibu ayooo, nak" ucap ibunya Laksh


"Jangan Nak, kau akan tetap tinggal disini bersama ayah dan kakakmu, kau akan menyesal jika ikut dengan wanita ini"


"Kau apa-apaan Durga Prasad, jangan mempengaruhi putraku"


"Apa kau pikir kau pantas mengambil Laksh setelah apa yg kau lakukan kepada kami? Tak akan aku izinkan kau mengambil Laksh dariku"


"Minggir Durga Prasad, aku harus mengambil Laksh.. Kau bawa saja Adars dan aku bawa Laksh itu adil bukan"


"Tidak.. Laksh.. Kau tetap bersembunyi di toilet, jangan keluar jika belum ayah perintahkan"


"Jangan.. Laksh.. Ayoo ikut ibu sayang.. Laksh"


Annapurna mengambil sesuatu dari balik sakunya.


"Kau serahkan Laksh, atau aku akan melenyapkanmu" ucapnya dengan menodongkan pisau.


"Astaga! Kau benar-benar tidak waras, singkirkan benda itu"


"Tidak akan.. Sebelum kau memberikan Laksh kepadaku"


"Ayah.. Ibu" teriak Adars.


"Ibu.. Apa yg akan ibu lakukan?"


"Adars.. Kau pergi dari sini, Nak. Ibumu sudah tidak waras"


Adars bersembunyi di balik pintu kamar. Durga Prasad dan Annapurna saling bertengkar, dan akhirnya kini Durga Prasad berhasil mengambil pisau itu.


"Keterlaluan kau" Annapurna mengambil sebuah gucci dan melemparkannya ke arah Durga Prasad, untung dia menghindar jadi dia tak terkena sasaran itu.


Annapurna berlari, namun tanpa di sadari pisau yg di pegang Durga Prasad menembus ke perut Annapurna.


"Aaaaaaaa" rintihnya.


"Annapurna" teriak Durga Prasad histeris.


Laksh yg sedari tadi bersembunyi di kamar mandi langsung membuka pintunya.


"Ibuuuuuu" teriaknya dengan menangis.


"Ibuuuu" teriak Adars.


Laksh menatap ke ayahnya yg tengah memegang pisau.


"Ayah jahat.. Kau telah membunuh ibu" teriak Laksh.


"Tidak nak, ini bukan seperti yg kau pikirkan"


"Ayah jahat.. Aku tak mau lagi bertemu ayah, aku benci ayah.. Aku benci ayah"


#FLASHBACK OFF


Laksh membuka kembali matanya. Airmatanya tak sengaja menetes. Dia menghapus airmatanya dan langsung tertawa.


"Hahaha.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hahahaha.. Hiks.. Hiks.. Hiks"


Adars yg mengintip Laksh hanya menggelengkan kepalanya.


"Mau sampai kapan kau bersikap seperti itu Laksh, aku harus mencari dokter yg terbaik agar bisa membuatmu terlepas dari penyakitmu dan bayang-bayang masa lalumu itu" ucap Adars lirih.


"Hahahahahaha" suara tertawa Laksh begitu menggelegar.


Tak lama terdengar suara tangisannya.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Ayah kau jahat.. Aku sangat menbencimu ayah.. Hiks.. Hiks.. Hikss"

__ADS_1


Adars meneteskan airmatanya, dia sangat sedih. Dia tak ingin jika adiknya terus mempunyai penyakit seperti itu.


To be continued...


__ADS_2