HENING

HENING
Rahasia


__ADS_3

×HENING×


PART 12


"Kakak.. Kau kemana saja baru pulang"


Ravish melirik jam di tangannya yg menunjukkan pukul jam 12 malam tapi adiknya masih terjaga.


"Kenapa kau belum tidur, hah?"


"Kakak.. Aku sangat merindukan kakak.. Aku ingin curhat kepada kakak"


Ragini memeluk erat tubuh Ravish, Ravish hanya mengelus rambut adiknya.


"Ada apa, hmm? Katakan"


"Kak.. Kau tau kan Laksh?"


Ravish mengangguk.


"Dia kekasihmu, kan? Kenapa? Kau bertengkar lagi dengannya?"


Ragini menggeleng.


"Kak.. Aku merasa ada yg aneh dengan Laksh"


"Aneh??"


"Iyah kak.. Kadang dia marah-marah dan membentak tak lama kemudian dia bersikap lembut seoalah tak terjadi apa-apa sebelumnya, aku benar-benar bingung dibuatnya"


Ravish berpikir sejenak.


'Apa harus aku mengatakan yg sebenarnya kepada Ragini' batin Ravish.


"Aku benar-benar bingung kak dibuatnya, kau kan seorang psikiater kak, apa menurutmu jiwa Laksh sedikit terganggu?"


Ravish menatap lekat wajah adiknya itu.


"Jika kejiwaaan Laksh terganggu apa kau lantas pergi dan akan menjauhinya?"


Ragini dengan cepat menggeleng.


"Tidak kak.. Aku ingin Laksh sembuh dan aku tak ingin meninggalkannya di saat dia terpuruk seperti itu, maka dari itu aku meminta pendapat kakak"


Ravish menyentuh pundak adiknya dan menatap lekat wajahnya.


"Apa kau sudah mencoba bertanya sendiri kepada Laksh?"


Ragini menggeleng.


"Kau tanyakan dulu kepada Laksh, jika dia benar-benar mencintainya dia pasti akan menceritakan segalanya kepadamu tanpa ada yg harus ditutup-tutupi"


Ragini mengangguk, dia memeluk kakaknya.


"Terimakasih kak atas sarannya, terimakasih"


Ravish hanya mengelus rambut adiknya.


"Sudah malam, kau pergi tidur sana"

__ADS_1


Ragini mengangguk, dia berlari menuju kamarnya.


Ravish menghela nafasnya dalam.


"Aku harap kau mau jujur kepada Ragini, Laksh" ucapnya pelan.


***


Ragini mondar-mandir di taman, dia gelisah sudah hampir satu jam tapi Laksh tidak datang juga, dia sengaja datang lebih awal ke kampus. Walaupun dia tak ada jadwal kuliah, dia sengaja mengajak Laksh untuk bertemu di kampus.


Tiba-tiba ada yg menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Laksh.. Lepaskan.. Akhirnya kau datang juga"


Laksh melepaskan tangannya dan duduk di samping Ragini.


"Kau hebat sekali langsung bisa tau jika itu aku"


Ragini hanya tersenyum.


"Kau lama sekali Laksh"


"Jalanan hari ini macet sekali Ragini"


Ragini menatap lekat wajah Laksh yg berkeringat, dia mengelap keringat Laksh dengan tangannya dan meniup wajah Laksh.


Laks hanya tersenyum.


"Hei.. Apa yg kau lakukan"


"Mengelap keringatmu, dan meniup wajahmu agar kau merasakan kesejukan"


"Astaga.. Kau ini lucu sekali. Sangat menggemaskan" ucap Laksh dengan mencubit gemas kedua pipi Ragini.


"Ishh.. Lepaskan"


Laksh menyandarkan kepalanya di bahu Ragini, dia memejamkan matanya.


"Kau tau Ragini.. Semenjak kau hadir di hidupku, hidupku jadi berwarna"


"Memangnya dulu hidupmu gelap?"


Laksh mengangguk.


Ragini kenapa iba ke arah Laksh.


Dia mengelus rambut Laksh, Laksh merubah posisinya, dia merebahkan tubuhnya dan menyadarkan kepalanya di paha Ragini. Ragini mengelus lembut rambut Laksh, mata Laksh terpejam. Dia menikmati sentuhan lembut yg diberikan Ragini dan membuatnya tenang.


"Kau tau Ragini.. Hadirnya dirimu benar-benar membuatku sangat bahagia. Aku bisa melupakan semua masalahku saat berada dekat denganmu" ucapnya dengan mata yg masih terpejam.


Ragini hanya tersenyum dan menatap lekat wajah Laksh.


"Kau tau.. Hanya dirimu wanita yg pernah hadir di dalam hidupku, karena sebelumnya aku mengunci rapat pintu dihatiku. Dan kau tau aku tak pernah membayangkan jika aku akan melabuhkan hatiku kepadamu, karena kau tau sendiri bukan awal pertemuan kita benar-benar sangat tidak Bagus, hahaha"


Ragini tersenyum, dia mengingat awal pertemuannya dengan Laksh.


"Aku sangat mencintaimu, benar-benar sangat mencintaimu" ucapanya.


"Aku lebih mencintaimu, Laksh"

__ADS_1


Laksh membuka matanya, dia menekan tengkuk Ragini untuk mendekat ke wajahnya. Bibir mereka saling bersentuhan, mereka saling membalas ciuman. Setelah cukup lama mereka melepaskan pagutan di bibir mereka.


Laksh tersenyum dan mengelus pipi Ragini.


"Laksh" ucap Ragini pelan.


"Apa sayang? Katakan"


"Aku ingin bertanya satu hal kepadamu, tapi kau harus janji jika kau tak akan marah kepadaku" ucap Ragini dengan menggigit bibir bawahnya.


Laksh menganggukan kepalanya dan mengedipkan matanya.


"Katakan"


"Laksh.. Sebenarnya siapa dirimu? Dan apa masalahmu? Kenapa sikapmu bisa berubah menjadi dua sosok yg berbeda dalam waktu yg sangat singkat?"


Laksh terkejut dengan ucapan Ragini. Dia memejamkan matanya, dia berpikir sejenak untuk mengatakan segalanya kepada Ragini.


Dia bangkit dari posisinya, dia kini duduk berhadapan dengan Ragini. Dia menatap lekat wajah Ragini dan menggenggam erat tangannya.


"Apa kau benar-benar ingin mengetahui segalanya tentang diriku?"


Ragini mengangguk.


"Baiklah.. Aku akan menceritakan kepadamu"


Laksh mulai bercerita tentang peristiwa kelam yg terjadi di masa kecilnya, dia sesekali menangis dan Ragini tak percaya dia benar-benar merasa iba dengan Laksh.


Dia memeluk erat tubuh Laksh.


"Aku mempunyai kelainan Ragini.. Aku punya penyakit kejiwaan yg biasa disebut bipolar, maka dari itu aku kadang bersikap aneh, sebentar marah dan sebentar lagi tertawa. Aku sengaja selama ini menyembunyikan semuanya darimu karena aku takut kehilanganmu, Ragini. Aku benar-benar takut kehilanganmu"


Ragini merasakan sesak di dadanya, dia merasakan kesedihan yg sama dengan Laksh. Dia semakin mengeratkan pelukannya kepada Laksh.


"Laksh.. Kau jangan takut jika aku akan meninggalkanmu, aku tak akan pernah bisa meninggalkanmu Laksh. Aku akan selalu ada untukmu. Aku tak akan membiarkanmu melewati semuanya sendiri Laksh"


Laksh melepaskan pelukannya. Dia menatap lekat wajah Ragini dan menghapus airmatanya.


"Jangan menangis, aku tak ingin melihatmu menangis"


Ragini juga menghapus airmata di pipi Laksh.


"Kau juga.. Jangan pernah berpikir jika aku akan meninggalkanmu"


Ragini dan Laksh saling tersenyum.


"Aku sangat mencintaimu, Laksh"


"Aku lebih mencintaimu, Ragini"


Mereka saling berpelukan.


Sepasang mata memperhatikan mereka.


"Aku tak akan membiarkanmu bahagia Ragini, lihat saja. Tunggu sebentar lagi aku akan mengubah senyuman di wajahmu menjadi kesedihan. Hahahaha"


Wanita itu lalu pergi meninggalkan Ragini dan Laksh.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2