Hes My Husband

Hes My Husband
Rencana


__ADS_3

Seorang remaja wanita cantik duduk di sebuah bangku salah satu cafe tempat di mana anak muda jaman sekarang menghabiskan waktu mereka di saat menjelang weekend. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, tapi orang yang di harapkan sama sekali belum nampak batang hidungnya.


Di atas mejanya sudah tersedia milkshake pesanannya dengan di temani musik live dari band yang Dia sendiri juga tidak tahu dari mana dan siapa anggotanya. Ia hanya menikmati agar waktu menunggunya tidak terasa membosankan.


"Sudah lama nunggu?" akhirnya orang yang sejak tadi Ia tunggu datang juga, menilai penampilan orang itu sebentar. Namun bukan itu tujuannya ke mari.


"Apa planningmu?" pria itu berdecak tidak suka atas sikap to the point sang wanita.


"Setidaknya biarkan Aku memesan minuman dulu." si wanita memutar matanya malas, Ia sebenarnya tidak mau bertele-tele. Apalagi sepertinya pria di hadapannya bukanlah sekutu yang Ia harapkan. di lihat dari cara pandang pria itu.


Si pria menatap wanita yang menunggu sampai Ia membuka pembicaraan. Setelah mengucapkan terima kasih pada seorang pelayan yang mengantarkan minumannya, si pria berdehem.


"Apa rencanamu? Setidaknya apa yang menjadi rencanamu tidak membuat wanitaku terluka." si wanita berdecih tidak suka atas nada bicara si pria. Ia sudah tahu akan hal itu, sudah Ia katakan bukan? Bahwa pria di hadapannya ini bukanlah sekutu yang baik.


"Aku dengar Dia akan kuliah ke luar negeri?" mata si wanita melebar, ucapan pria itu seperti kejutan yang bisa saja melemparkan bola matanya ke luar.


"Kau juga mendengarnya?" pria itu tersenyum miring.


"Bukankah pemangsa harus tahu setiap gerak-gerik mangsanya?" si wanita mengangguk mengiyakan.


"Yah Kau benar, Aku akan mengikutinya.".


"Maksudmu Kau juga akan ke luar negeri?" nada pria itu seperti meremehkan membuat wanita itu nampak tidak suka, pria itu mengenal si wanita. Hidupnya yang penuh drama bisa menebak jalan pikiran wanita itu akan seperti apa.


"Kau jangan meremehkan ke mampuanku!" tegas si wanita tidak terima, bukannya merasa terintimidasi. Pria itu menaikkan ke dua bahunya acuh, tidak ingin berlama dan berdebat lebih panjang lagi.

__ADS_1


"Aku tidak bilang." si wanita mengibaskan tangannya meminta si pria tidak melanjutkan perdebatan mereka, lagian Ia juga malas menghubungi si pria ini.


"Apapun yang Kau rencanakan Aku tidak ingin Kau menggores sedikit saja kulitnya!" pria itu menekan setiap katanya dengan tegas membuat wanita itu sedikit merinding. Dulu aura pria itu padanya tidak seperti ini, Ia tahu alasannya dan sebenarnya Ia selalu di hantui rasa itu.


"Aku tidak yakin." mata si pria menajam, wanita itu memang selalu menutup rapat rasa yang dulu hingga kini menghinggapinya. Ego dan gengsi yang tinggi menutup hati dan rasa empati pada orang lain.


"Aku memaafkanmu atas kecelakaan itu, jadi jangan lagi membuatku segera mengenyahkanmu." wanita itu mengepalkan tangannya, Ia tidak ingin seorangpun tahu akan ke jadian lama itu. Seperti mengoyak hatinya yang paling rapuh, namun pertahanannya cukup mampu menjadi tameng akan rasa bersalahnya.


"Hentikan ucapanmu itu!".


"Kau sumbernya di sini, Aku rasa Dia cukup pandai untuk tetap menolakmu!" tidak berhenti. si pria terus memprovokasi. Ingin tahu apakah setitik rasa bersalah ada dalam hati wanita itu, namun sepertinya tidak ada sama sekali.


"Diam Kau Dewa, Kakakmu mati karena ke bodohannya! Bukan karena Aku!" amarah wanita itu sudah tidak bisa lagi terbendung, Dia tidak ingin di salahkan, wajah pria itu sudah sering mengganggu malam tenangnya.


"Terserah padamu, tapi semua ini ulahmu. Dan Denis rela mati karena melindunginya. Dari wanita rubah sepertimu!".


"Baiklah, mungkin hanya itu yang ingin Aku katakan. Ingatlah, Aku tidak akan tinggal diam jika Kau melukainya. Denis dan Aku akan melindunginya!" setelah mengatakan hal itu, si pria beranjak dari kursinya lalu pergi dari hadapan si wanita yang terlihat merah padam karena amarah. Hasil akhir dari pertemuan tidak penting ini adalah luka lama yang kembali menganga. Sial!.


"Sialan Kau Dewa, Aku tidak akan membiarkan Dia lepas dariku lagi!" tekadnya sudah tidak bisa di bendung, walau akan kembali melukai orang yang tidak bersalah.


****


Dea menopang dagunya dengan satu tangan karena mati bosan, menunggu Dava yang sibuk berpose membuatnya kadang merona juga kadang membuat jantungnya tidak dapat terkontrol dengan baik. Pose-pose tubuh Dava saat di depan kamera membuat Dea tidak bisa mengalihkan pandangannya walau hanya sebentar.


Ya, tadi sepulang sekolah Dava memaksa. Ingat! Memaksa Dea untuk ikut ke tempat kerjanya sebagai model panggilan yang terakhir kalinya sebelum ujian nasional. Dava membuat janji itu tanpa Dea minta karena Dia ingin berkonsentrasi pada ujian akhir sekolahnya.

__ADS_1


"De, Lo jadi ikut?" tanya Bintang dari hadapan Dea, Dea menatap Bintang lalu mengangguk.


"Iya, Lo baru datang?" Bintang mengangguk lalu mata Bintang menatap Dava yang telah melewati berbagai sesi foto dengan arahan Edo di samping fotografer.


"Zacky mana?" tanya Dea mengedarkan pandangannya mencari sosok sahabat suaminya itu yang tidak ada kali ini. Biasanya mereka selalu bertiga dan jarang eekali terpisah.


"Hari ini Dia gak bisa ikut." Dea beroh-ria menanggapi ucapan Bintang.


"Bin, Lo ganti sana!" teriak Edo menginterupsi ke duanya, Bintang mengacungkan jempolnya tanda menyetujui perintah Edo.


"Gue duluan ya De." Dea mengangguk, lalu Bintang berlalu dari hadapan Dea menuju wardrobe.


"Lo harus sering bawa cewek Lo ke sini!" Dava menaikkan satu alisnya tidak mengerti dengan ucapan Edo padanya.


"Kalau ada Dia, senyum Lo bisa ke lihatan natural. Yah Gue akui walau Lo kaku kaya batu tapi penjualan fashion Gue tetep laku banget. Yah Gue suka kalau ada cewek Lo, Lo akan fokus sama kerja." Dava tidak menanggapi ocehan Edo, dan Edo sendiri hanya mampu mendesah melihat satu modelnya itu. Untung penjualan fashion yang di kenakan Dava selalu meningkat dari bulan ke bulan karena wajah tampannya, kalau tidak? Entah Edo tidak tahu akan sefrustasi apa Edo untuk memaksa Dava tersenyum.


Dava menuju pass room,dan di saat bersamaan Bintang ke luar. Mata Bintang menajam pada Dava, Dava menaikkan alisnya seolah berkata 'ada apa?' tapi Bintang malah menggeleng dan melewati Dava begitu saja dengan dahi mengerut.


Dava tidak ambil pusing mengenai Bintang, laki-laki itu pasti akan berbicara jika di rasa penting. Dava ke luar dari pass room lalu berjalan ke arah Dea berada


"Kita cari makan." ajak Dava pada Dea yang sejak tadi mengerucutkan bibirnya karena ke bosanan, Dava tahu itu.


Tapi Ia khawatir karena Dea belum makan siang tadi, makanya Ia lebih memilih tidak membuang waktunya saat berganti.


Dea beranjak dari kursi tunggunya dengan tangan yang di genggam erat oleh Dava, Dea tidak mampu menyembunyikan senyumnya saat apapun yang di lakukan Dava padanya selalu terasa manis, sikap fisik dan apapun tentang pria tampan itu.

__ADS_1


Madiun, 19/07/20


__ADS_2