
Jangan lupa Vote Rate dan Likenya ya readers tercintakuhh...
Hari yang di tunggu itu tiba, hari ini adalah hari di mana semua kelas 12 mengadakan acara perpisahan. Dava lebih dulu berangkat dengan kemeja putih yang di gulung, karena tema perpisahaan ini adalah bebas. Dan pada malam hari seperti acara prom night, mereka boleh menggunakan sekolah untuk menciptakan moment indah mereka untuk yang terakhir bersama teman-teman seangkatan.
"Dav, Lo jadi perform?" tanya Jordan, di sana seluruh anggota Osis berkumpul termasuk Dava Bintang Zacky Dewa juga Fani yang sama sekali tidak bisa dekat dengan Dava karena Bintang dan Zacky mengapit Dava ke manapun pria itu pergi. Dava tersenyum lalu mengangguk mengiyakan pertanyaan Jordan.
"Gue tahu pasti Lo mau perform buat Dea." tebak Renita, Dava tersenyum malu karena planningnya ke tahuan lebih dulu oleh semua temannya. Jordan dan semua yang ada di sana tertawa saat melihat wajah Dava yang memerah.
"Gue gak bisa bayangin Dea akan meleleh karena perform Lo Dav." tambah Zacky dengan kekehannya, 'semoga!' batin Dava mengamini ucapan Zacky.
"Tapi entar malemkan Lo perfomnya?" Dava mengangguk.
"Nanti malam kita bakal pesta guys, Gue harap acara malam ini benar-benar akan berhasil." semua mengamini doa Jordan dengan tangan menengadah.
"Nah itu si Dea." Dava menatap ke arah yang di tunjukkan Dewa, semuanya juga sama. Mata Dava tidak berhenti berkedip melihat penampilan Dea yang cantik hari ini.
"Dav, oi sadar!" Dava mengerjapkan matanya yang di tertawakan oleh semuanya, apa tingkahnya begitu konyol?.
"Gila liur Lo sampai netes cuma karena lihatin Dea saja." Dava berdecak atas ucapan Dewa padanya, semuanya tertawa melihat wajah kesal Dava.
"Sudah, bentar lagi kita mau upacara pembukaannya." semua mengangguk lalu berjalan ke arah ruang Osis guna menyiapkan segala ke perluan yang belum mereka siapkan untuk upacara pagi ini.
****
Setelah upacara pembukaan selesai dengan berbagai sambutan dari kepala sekolah, kini acara berganti dengan pengumumun juara umum untuk angkatan tahun ini. Juara umum untuk sekolah juga untuk ujian nasional yang telah berlangsung, inilah moment yang di tunggu-tunggu semua murid. Perasaan mereka yang mungkin akan siap dan tidak siap mendengar hasil belajar mereka selama tiga tahun ini di sekolah.
Hanya sepuluh siswa yang memang di umumkan dari ratusan siswa kelas 12 untuk menyandang juara umum sekolah maupun juara umum ujian nasional.
"Nah anak-anak ini saatnya bapak mengumumkan juara umum sekolah, mulai dari urutan no 5." Pak Jos yang ada di depan membuat siswa-siswa diam memperhatikan Pak Jos yang tiba-tiba menjeda ucapannya. Di lain tempat Bu Meggy senyum-senyum melihat bagaimana coolnya guru paling hot dan muda itu ada di depan podium.
"Arsa Wardana." semua bertepuk tangan ketika nama Arsya di sebutkan, Dava yang menjadi teman sebangku memberikan semangat lalu teman-teman yang lainnya yang satu baris saat upacara tadi.
"Euih Lo Sya!" ucap Bintang, Arsya tersenyum. Setidaknya di akhir sekolahnya Ia dapat teman-teman terbaik.
Asya maju ke panggung dengan senyum yang tidak pernah luntur.
"Ok tenang-tenang, masih ada juara ke empat kita." kata Pak Jos mendengar suara ribut setelah panggilan Asya membuat semuanya penasaran.
"No 4 di dapat oleh-" Pak Jos menatap semuanya, lalu tersenyum.
"Harus bangga ini ya Saya, anak didik Saya." Pak Jos tertawa yang di hadiahi dengan suara menuntut dari semuanya karena penasaran.
__ADS_1
Termasuk kelas Dea yang wali kelasnya memang pak Jos, rasa penasaran sudah membumbung tinggi di kelas Dea.
"Rara Rafalya.".
"Ye, Rara Rara." semua satu kelas Dea bersorak menyebut Rara, Rara memeluk Dea Sinta lalu semua teman-temannya sebelum bergabung bersama Arsya di atas panggung.
"Wah-wah Pak Hamid maaf ya ini kelas Saya benar penghasil bibit-bibit unggul." celoteh Pak Jos membuat seisi sekolah tertawa, terutama Pak Hamid wali kelas Dava yang hanya memutar mata malas karena ocehan Pak Jos yang membanggakan diri.
"No 3 di raih oleh, Sinta Alvaro.".
"Ye!" kembali kelas Pak Jos paling bising karena panggilan salah satu murid terbaik dalam kelasnya. Sama halnya Sinta memeluk Dea dan semua teman-temannya lalu ke panggung.
"No 2, harus ke kelas Pak Hamid ini." seloroh Pak Jos, kelas Dava mulai diam mendengarkan siapa nama yang akan terpanggil.
"Davanas Abigael." teriakan kencang menggema, bukan hanya dari kelas Dava tapi hampir semua siswa cewek menyebutkan nama Dava. Dava tersenyum, tidak lupa tersenyum kepada Dea yang menatapnya bangga.
"Ok-ok Saya merasa jadi obat nyamuk di sini." ucapan Pak Jos membuat semua mulai berbisik-bisik, 'apa maksudnya?'.
"Anak tercinta dan favorite Saya ini." nah dengan kata tersebut semua murid dapat menebak, hingga belum sempat Pak Jos menyebut nama siswanya kelas Dea heboh menyebut namanya.
"Deandra Navela." Dea memeluk semua temannya lalu Ia ke panggung dengan menjabat tangan semua temannya yang sudah sampai panggung, saat menjabat tangan Dava. Upil satu bernama Bintang berteriak kencang.
"Dava lepasin dong tangan Dea!" semua tertawa akan teriakan Bintang, mau tidak mau Dava memutar matanya malas. Suara ke bisingan mulai menjadi, apalagi meski Dava kesal dengan teriakan Bintang namun senyum tidak juga luntur dari bibirnya.
"Ini sekarang juara umum nasional." kini giliran Pak Hamid yang naik mengambil alih untuk mengumumkan.
"No 5 di raih oleh Rara Rafalya." semua bersorak ketika nama itu di sebut kembali, Rara ke atas panggung.
"No 4 Davanas Abigael." lagi sorakan nama paling kencang semua wanita saat nama Dava kembali terpanggil ke atas panggung, Dava menarik sudut bibirnya saat lagi pelukan dan ucapan selamat Ia dapatkan dari teman-teman prianya.
"Ok-ok, sekarang Bapak akan sebut juara ke tiganya. Ini ke napa murid Pak Jos yang mendominasi?" seloroh Pak Hamid, Pak Jos menepuk-nepuk bahunya seolah bangga membuat semua murid tertawa akan aksi guru hot nan muda itu. Pak Hamid memutar mata jengah lalu melanjutkan pengumuman yang semakin membuat suasana penasaran kian menjadi.
"Ya sudah Saya bacakan no 3, Sinta Alvaro." Sinta berteriak dengan meloncat-loncat karena namanya di panggil lagi, Ia memeluk Dea dengan bahagia. Dea ikut menepuk-nepuk bahu Sinta dan memberitahu bahwa sahabatnya itu harus segera naik ke atas panggung.
"Ok, sepertinya Saya buka amplop yang ke dua ini deg-degan sekali. Saya berharap semua nama ada di amplop ini." yah, nama-nama tadi adalah nama-nama yang berada di amplop putih. Sehingga semua guru tidak tahu kecuali orang yang membuat lampiran dalam amplop itu bersama kepala sekolah. Semua tertawa akan selorohan Pak Hamid, walau itu sangat mustahil terjadi.
"Wah murid terbaik Saya ini." Pak Hamid tertawa membuat suasana mendadak sunyi.
"Garing ya?" tanya Pak Hamid, semua murid kompak tertawa.
"Ck, baiklah gak usah lama-lama, pembaca sudah gemas ini. Hahhha no 2 di raih oleh Arsya Wardana." suara tepuk tangan kembali membahana, apalagi kelas Arsya yang memang semua kelas di dominasi oleh murid wanita.
__ADS_1
Pak Hamid membuka amplop terakhir dengan pelan-pelan agar semua muridnya merasa penasaran setelah Arsya berjalan ke atas panggung.
"Ok kalian sudah siap?" Tanya Pak Hamid yang menatap selembar kertas siap membacanya.
Semua murid diam, berharap mereka adalah nama yang akan di sebutkan guru bahasa Indonesia itu. Pak Hamid tertawa melihat wajah berharap semua muridnya.
"Kita pasti tahu murid wanita satu ini tidak akan melepaskan gelarnya baru saja yang Ia dapat." Semua mata menyorot pada Dea terutama Dava, Ia tidak bisa menghentikan detak jantungnya yang bertalu dengan kencang. Ia merasa bangga dan bahagia atas ke berhasilan isterinya.
"Deandra Navela." Saat nama itu di sebut Dea menutup mulutnya tidak percaya akan apa yang baru saja Ia dengar.
Entah apa yang terjadi, dadanya terasa sesak dan Ia tidak menyadari bahwa air mata telah membasahi pipinya yang mulus. Dea mendapat ucapan selamat dan pelukan yang di balas Dea dengan ucapan terima kasih.
"Dea silahkan ke panggung!" Dea melepas pelukan teman-temannya lalu menguasap air matanya saat Ia mendengar interuksi Pak Hamid. Dea menyapu pandangannya hingga tidak sengaja mata Dea bertemu dengan Bintang Zacky yang mengacungkan ibu jari mereka padanya. Dea tersenyum untuk membalas ucapan selamat dari ke dua sahabat suaminya.
Ia naik ke atas panggung yang di sambut dengan Rara yang memeluknya lalu Sinta. Dea menjabat tangan Arsa saat pelukan sahabatnya terurai setelah mengucapkan selamat.
"Selamat ya Dea." Dea mengangguk lalu tersenyum.
"Selamat juga ya Sya." Arsya tersenyum.
Kini giliran Dava yang terus memandangi Dea. Dava mengunci mata Dea, jantungnya berdebar karena rasa bahagia yang membuncah juga bangga.
"Yaelah Dava tinggal peluk saja lama Lo!" Teriakan itu membuat mata Dava menajam pada sang empunya.
"Peluk peluk!" Seolah mendukung ucapan Zacky yang ngelantur semua siswa malah mendukung hal itu.
Dea menatap Dava yang hanya diam menatapnya, entah ke napa Dea merasa Dava sangat menggemaskan saat mati kutu. 'apa yang Ia pikirkan?' Batinnya.
Dava dengan cepat menarik tangan Dea dan memeluknya. Dea mematung dengan apa yang di lakukan Dava.
"Selamat Yang, Kamu yang terbaik dalam segala hal terutama mengambil hatiku." Bisik Dava pada ceruk leher Dea.
Kalian tahu bagaimana reaksi semua orang? Mendadak suasana hening. Namun beberapa detik kemudian suara riuh tepuk tangan terdengar, menyoraki perlakuan manis Dava pada Dea.
Dea mendadak kaku meski Ia tanpa ragu membalas pelukan Dava.
"Selamat juga, your the best husband." Dea mencari ke nyamanan di dada bidang Dava, Dea tidak peduli jika semua orang tahu status mereka sekarang. Lagi pula mereka akan lulus dan siapa yang akan mempermasalahkan status?.
Dava tersenyum mengusap surai Dea lalu melepas pelukannya.
"Banyak yang iri lihat kita." Dea merona, bagaimana tidak? Semua menatap ke arah mereka termasuk para guru dan staf. Dava tersenyum menenangkan Dea bahwa semua akan baik-baik saja. Dea mengangguk dan berdiri di dekat Arsya.
__ADS_1
Madiun,25/07/20