
Jangan lupa kasih Vote Ratenya ya..
Hari di mana penentuan perjuangan dari siswa kelas 12 sedang di uji dari mulai hari ini, termasuk juga dengan Dea. Bagaimana tidak? Entah ke napa suaminya itu sangat manja hari ini, bahkan sejak semalam Ia tidak mau lepas dari Dea. Tidak mengganggu memang tapi terlihat sangat aneh dan tidak seperti biasanya.
"Yang buruan!" teriak Dea dengan berjalan menuruni tangga, ini hari pertama ujian mereka tapi mereka malah bangun ke siangan. Seolah bagi Dava tidak ada hari esok lagi untuk bersama Dea, dan Dea hanya mampu menuruti semua permintaan Dava.
"Yang jangan jalan cepat-cepat." tegur Dava melihat Dea yang berjalan cepat menuruni tangga, Dea mengabaikan ucapan Dava lalu berlari ke arah dapur. Menyiapkan segala ke perluan suaminya, yaitu ke butuhan nutrisi yang di perlukan tubuh Dava.
Dava menggelengkan kepala gemas melihat bagaimana paniknya Dea. Dava menangkap tubuh Dea dengan memeluknya dari belakang.
"Yang lepasin dulu, Aku mau buatin susu dan kopi untuk kita." bukannya melepas, Dava malah mengeratkan pelukannya.
Dea mencubit lengan Dava kesal, Dava sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya.
"Aww Yang, ke napa KDRT sih?" tanya Dava mengusap lengannya yang memerah karena cubitan maut dari Dea.
Dea membalikkan tubuhnya berkacak pinggang pada Dava, tidak lupa dengan mata melotot yang bagi Dava sangat lucu. Hingga terpaksa pelukan Dava terlepas begitu saja.
"Apa ?" tanya Dea garang melihat Dava yang malah tertawa dengan tingkah Dea, wajah garang Dea malah terlihat sangat lucu.
Dava dengan gesit mengecup bibir Dea yang merah.
"Dava!" teriak Dea yang membuat Dava tertawa terpingkal-pingkal.
"Ish kita bisa telat!" kembali Dea akan berkutat dengan dapurnya, namun tangan Dava lebih cepat mencekalnya.
"Gak usah Yang, Kamu pakaikan dasiku saja!" Dea mendesah tapi tetap mengambil dasi Dava dari tangan suaminya itu. Dea mengalungkan dasi Dava di leher pria itu dengan berjinjit karena Dava sama sekali tidak mau sedikit menurunkan badannya.
Dava tersenyum bahagia,istrinya itu tidak pernah benar-benar marah padanya. Itulah beruntungnya Dava ke napa Dea terlebih dulu mencintainya? Dava mendekatkatkan tubuhnya pada Dea, sedikit membungkukkan badannya agar Dea tidak susah untuk memasangkan dasinya setelah Dea setengah selesai memasangkannya.
Dea memang bergumam, namun Dava tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Dava memegang pinggang ramping Dea, dengan jarak yang sedekat ini Dava dapat melihat wajah cantik isterinya. Jantungnya selalu berdebar tidak karuan ketika bersama Dea, tidak dengan saat bersama Fani dulu. Mengingat wanita itu membuatnya kadang marah tanpa sebab.
__ADS_1
Memang ada perasaan bahagia dulu tapi juga ada ke hampaan di hatinya, tidak dengan Dea. Hatinya selalu terisi penuh, bahkan otaknya juga selalu berputar tentang wanita yang sekarang berstatus isterinya itu. Dava sadar bahwa Dea adalah cinta yang sesungguhnya dan Fani adalah gadis yang membuatnya nyaman, hanya nyaman karena wanita itu selalu ada untuk Dava selain ke dua sahabatnya.
"Sudah." Dava memeluk Dea erat dengan mencium puncak kepala Dea, sebagai tanda terima kasih karena telah membantu Dava memasangkan dasi dan hadir dalam hidup Dava.
"Kita beli makan nanti setelah ujian pertama." Dea mengangguk patuh, tidak ada waktu lagi. Tinggal 10 menit sebelum mata pelajaran ujian pertama berlangsung.
"Ya sudah Aku berangkat dulu." Dea mengambil tas sekolahnya, Dava menaikkan satu alisnya.
Dea merasakan tangannya di cekal dari belakang saat Ia akan ke luar apartement mereka.
"Ada apa?" tanya Dea saat tangannya tidak di lepas oleh Dava.
"Kita berngkat bersama!" ucap Dava mutlak, Dea ingin memprotes tapi kecupan Dava di bibirnya membuatnya bungkam. Kalau sudah begini apa Dea mampu menolak ajakan dari suaminya?.
"Ke napa suka sekali sih main cium-cium aja?" omel Dea, Dava menaikkan ke dua bahunya lalu menggenggam erat tangan Dea menuju basement. Jika di tanya begitu? Apa yang akan Dava jawab? Naluri lelakilah yang membutnya begitu mendamba cinta dan hati Dea.
****
"Bagaimana ujiannya?" tanya Dava setelah Ia sampai ke kantin guna memastikan bahwa Dea sudah makan. Dan benar, setibanya Ia di kantin. Isteri cantiknya itu telah menghadap pada semangkuk bakso dengan ke dua sahabatnya tentu saja.
Dea menoleh ke belakang di mana Dava masih berdiri di belakangnya dengan tangan yang mengusap surai Dea naik turun, Dea memberikan senyumnya. Tidak lagi menyembunyikan ke romantisan mereka di hadapan umum.
"Bisa kok, Kamu?" tanya balik Dea, Dava tersenyum.
"Tentu." dengan nada sombongnya Dava menjawab, Dea hanya mencebikkan bibirnya membuat Dava terkekeh.
"Bagaimana sama kalian?" tanya Bintang pada Sinta dan Rara yang malah fokus pada makanan mereka. Mereka mendongak lalu menatap sumber suara, takut mereka salah dengar.
"Lo tanya kita?" tanya Sinta tanpa dosa.
"Gak, Gue tanya pada penggembala domba di padang pasir." ketus Bintang, Sinta hanya beroh-ria. Mau tidak mau tingkah ke duanya membuat Dea hampir menyemburkan minuman yang baru akan Ia telan.
__ADS_1
Dava menepuk-nepuk bahu Dea.
"Yang, hati-hati!" ucap Dava, mata Dava menajam pada Bintang dengan pandangan memperingati. Bintang memutar matanya malas melihat mata Dava juga adegan manis yang setiap saat akan tersaji jika Dava dan Dea bertemu.
Dea meminum sisa air putihnya untuk meredakan batuknya.
"Gak apa-apa kok." jawab Dea yang berhasil menetralkan batuknya.
"Dasar cewek astral." Sinta menimpuk kepala Bintang dengan kepalan tisunya karena kesal. Dea Rara dan Sinta mempunyai ke biasaan yang sama. Paling benci jika acara makannya sampai terganggu, makanya dari tadi mereka khusyuk pada makanan di hadapan mereka tanpa mau menanggapi ocehan Bintang yang gak bermutu.
Jika Dea menanggapi itu karena Dava yang bertanya, yang statusnya adalah suaminya.
"Lo mau tanya apa?" tanya Sinta setelah selesai dengan makanannya.
"Gak jadi!" Sinta menggelengkan kepala tidak habis pikir sama jalan pikiran Bintang, cowok satu itu selalu saja bertingkah seolah-olah ingin mengajaknya perang dunia selanjutnya.
"Nih ya dengerin Gue ngomong!" Sinta menaruh ke dua lengannya di atas meja, Ia berkata sangat-sangat serius kali ini. Khususnya pada mereka bertiga, cowok paling di gandrungi di SMA mereka.
Bintang tidak menanggapi hanya melirik Sinta sekilas lalu memakan makanannya yang baru saja datang, berbeda dengan Dava dan Zacky yang serius menatap Sinta.
"Kita itu punya ke biasaan yang sama." Sinta menunjuk dirinya Rara dan Dea.
"Saat kita makan kita gak akan nanggapi lawan bicara kita kecuali memang serius." Dava menatap Dea yang memberikan senyumnya seolah mengiyakan ucapan Sinta.
"Kalau Dea jawab pertanyaan Dava karena takut dosa, secara Davakan husbannya." Sinta melirih saat kata terakhirnya terucap dengan menatap Dava.
Dava tersenyum, mengusap pipi Dea sayang.
"Makasih.".
Madiun,20/07/20
__ADS_1