Hes My Husband

Hes My Husband
I still want you


__ADS_3

Petikan gitar mengalun indah membuat seluruh orang menatap ke arah panggung, di mana seorang pria tengah menunjukkan ke mampuannya. Seolah semua terhipnotis akan permainan indah yang sedang Ia mainkan. Tidak ada suara lain yang mengganggu karena inilah yang mereka mau, melihat seseorang itu menjadi pusat dari perhatian mereka malam ini.


Seorang wanita tangannya di tarik oleh para sahabatnya membelah lautan manusia itu merangsak menuju tempat terdepan agar si pria di atas panggung mampu mengunci tatapan salah satu sumber ke hidupannya, pipinya mendadak merona saat semua orang tersenyum padanya. Membiarkannya Dia ada di depan mendesak semua orang, dan semua seolah memang sadar diri bahwa lagu dan petikan gitar yang terdengar hanya untuknya.


Suara gitar terus mengalun seiring dengan detak jantung ke dua insan manusia yang tengah mendamba ke sempurnaan dari rangkaian-rangkaian ke hidupan yang telah dan akan mereka lewati. Mereka terikat dan tidak ingin saling memisahkan hal itu.


Semua terasa indah saat mata dan bibir itu bergerak dengan ke tulusan yang ingin pria itu ucapkan, dengan sebuah lagu. Ya! sebuah lagu di mana berharap isi  hatinya dapat tersampaikan pada mata tajam nan meneduhkan yang sekarang menatapnya dengan penuh cinta. Bagaimana Ia tidak bisa tanpa hadirnya di sisinya.


This garden is filled with blossoming loneliness


I tied myself to this sand castle filled with thorns


What is your name?


Do you even have a place to go?


Oh could you tell me?


I saw you hiding in this garden


And I know


Your heat is real


Your hand picks the green flowers


I want to hold it but


This is my destiny


Don’t smile on me


Light on me


Because I can’t go to you


There’s no name to call


You know that I can’t


Show you ME


Give you ME


I can’t show you my weakness


So I’m putting on a mask to go see you


But I still want you


A flower that resembles you

__ADS_1


Blossomed in this garden of loneliness


I wanted to give it to you


As I take off this stupid mask


But I know


This can’t go on forever


I must hide


Because I’m ugly


I’m afraid


So pathetic


I’m so afraid


In the end, will you leave me too?


So I’m putting on a mask to go see you


What I can do is


To make a pretty flower that resembles you


Then breathe as the person you know


But I still want you


I still want you


Maybe back then


If I had just a little more courage and stood before you


Would everything be different now?


I’m crying


At this sandcastle that’s disappearing and breaking down


As I look at this broken mask


And I still want you


But I still want you


But I still want you

__ADS_1


And I still want you


Seulas senyum terukir, kalimat dalam lagunya yang mewakili hatinya akhirnya tersampaikan dengan benar. Teriakan histeris di sekitar tidak membuat dua manusia itu mengalihkan tatapan mata mereka, saling mengunci saling merasakan degup jantung yang ingin meronta dan juga menahan tubuh mereka agar tidak saling mendekat sampai petikan lagu itu berakhir. Euphoria tepuk tangan tidak bisa membuat ke duanya sadar, mereka tetap ke hilangan akal karena perasaan cinta yang sudah memuncak itu.


Dea terus menatap Dava yang turun dari panggung dengan terus menatapnya. Jantungnya berdebar tidak seirama, Dava mendekat ke arah Dea berdiri. Menyusupkan telapak tangannya yang besar dan hangat di samping telinga kiri Dea agar suara lain tidak terdengar oleh Dea, Dava hanya ingin suaranya yang mewakili hatinya yang di dengar oleh Dea.


"Love you bunny." Bisik Dava setelah jarak mereka sangat dekat. Dea memejamkan matanya merasakan hembusan nafas Dava yang menusuk kulitnya. Mereka saling mengunci pandangan seolah semua mahluk yang ada di sekitar mereka tidak terlihat juga mereka menulikan pendengaran mereka karena suara Jordan mulai menginteruksi acara kembali. Sebenarnya bagus, jadi pusat perhatian mereka semua teralihkan.


Setelah penampilan Dava yang seolah menghipnotis dan perlakuan Dava yang manis setelah lagu itu selesai membuat semua orang merasa iri pada Dea. Semua wanita ingin menjadi Dea dan semua pria ingin menjadi Dava yang gentle.


Dava meraih tangan Dea dengan cepat lalu mengawali langkah dengan berlari, Dea yang tidak siap tersentak. Ia menyamakan langkahnya dengan langkah Dava yang tersenyum ke arahnya dengan terus melangkahkan kakinya.


Pasangan baru yang menurut mereka sedang hangat-hangatnya untuk di perbincangkan.


"Ok guys setelah penampilan kakak kelas kita Davanas Abigael sekarang saatnya kita happy! Musik!" Setelah mengatakan itu, Jordan turun dari panggung dan mencari pasangannya. Mereka tidak tahu saja kalau sepasang teman mereka sedang kabur entah ke mana.


" Loh Dava sama Dea ke mana?" satu orang yang sadar akan hilangnya dua pasangan itu.


"Bukannya tadi Lo yang pegang tangannya Dea ya?" Sinta, ya Sinta berdecak.


"Gue lepasin tangannya pas Dava turun dari panggung tadi buat nyamperin si Dea." Rara mulai celingak celinguk begitupun dengan Sinta.


Walaupun musik sudah mengalun namun hal itu tidak membuat ke duanya berhenti berusaha mencari ke beradaan Dea. Apalagi musik yang di putar sungguh tidak sesuai dengan mereka berdua yang jomblo.


"Lo pada ngapain?" Sinta menatap Bintang yang entah sejak kapan ada di belakangnya, tidak lupa juga dengan ke beradaan Zack di sampingnya.


"Lo lihat Dea gak? Kita lagi cari Dia. Masa selesai Dava samperin Dea, malah Dea ilang. Terus ke mana juga si Dava?" tanya Sinta bertubi-tubi, mereka berempat tidak hiraukan orang-orang yang sudah menikmati acara dengan musik yang sudah di stel seromantis mungkin dengan lampu yang minim untuk mendukung.


"Ini juga apaan deh, lampu di bikin minim cahaya kaya begini. Kitakan jadi susah cari Dea." tambah Rara, namun belum sampai beberapa detik keluhan Rara. Mereka berdua mendadak diam saat tubuh Sinta sudah di dekap Bintang dan tubuh Rara di dekap Zacky.


"Maksud Lo apa? Lepas gak?" Sinta yang sadar dulu menatap tajam Bintang. Matanya menyiratkan permusuhan namun tidak dengan Bintang. Wajah dan mata Bintang terlihat memohon lalu wajah Bintang mendekati Sinta.


"Untuk malam ini aja Ta, Gue mau damai sama Lo. Nikmati posisi kita yang seperti ini, Lo gak sadar sejak tadi hanya kita berempat yang gak punya pasangan.".


" Lo-" Sinta diam saat melihat sekitar, semua. Ya! semua orang tanpa terkecuali sudah saling berpegangan tangan layaknya orang berdansa dengan suasana malam yang indah, Sinta baru menyadari lagu yang di putar adalah lagu dansa yang romantis. Apa Ia harus larut juga dengan posisi seperti ini dengan Bintang? Tapi kalau Ia tetap menolak maka hanya Dia yang tidak memiliki pasangan. Mereka berpasang semua, entah itu dengan pacar teman atau sahabatnya. Ke napa hanya dirinya? Tunggu.


Sinta menahan bahu Bintang yang menempelkan ke duanya agar lebih dekat.


"Ke napa Gue harus sama Lo, Gue bisa sama Rara dan lihat? Ada yang berpasangan sesama wanita, ke-".


" Please Ta!" Sinta bungkam, nada memohon dari Bintang tidak bisa Ia abaikan. Lagian tidak ada yang salah dari berdansa dengan Bintang. Bintang jomblo dan Ia juga, Sinta menatap Rara yang sudah berdansa dengan Zacky dan wanita itu malah tertawa bersama Zacky.


"Lihat bukan? Rara saja mau dan gak protes." Sinta menggeram.


"Ok kali ini aja." Bintang mengangguk lalu tersenyum manis.


Dengan jarak 20 meter dari tempat semua orang berkumpul, di sana seseorang tengah berdiri di gelapnya malam. Mengamati sepasang ke kasih yang ada di rooftop lalu beralih ke seorang wanita yang entah sejak kapan malah menghuni ruang hatinya.


Senyum miris terbit kala wanita terus mendebat itu kini menerima pelukan dari pria lain yang bukan dirinya. Dia menghembuskan nafas panjang, entah sejak kapan dan ke napa Dia malah seperti penguntit saja.


"Sinta." satu nama yang mampu membuatnya tersenyum sendiri walau hanya dengan melihat tingkah lakunya saja.

__ADS_1


Madiun, 28/07/20


__ADS_2