
'Bisakah?'
'Datanglah padaku!'
Dava tidak membuang waktu Ia melompati pagar tanpa kendala apapun sebelum Dea benar-benar merentangkan tangannya. Dava memeluk Dea erat,sangat erat. Rasanya Dava tidak akan mau melepaskan pelukannya dari Dea. Begitu hangat dan nyaman, Dava selalu betah berlama-lama dalam pelukan Dea.
Dea terkekeh karena Dava mengayunkan tubuhnya ke kanan ke kiri, seperti memainkan boneka saja. Ya, pelukan erat Dava yang memang selalu menyalurkan rasa hangat bagi tubuh dan hati Dea. Dea suka akan pelukan Dava yang seperti ini, seolah Dava memang benar-benar membutuhkan Dea hadir dalam hidup Dava.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Dea merasakan rasa bahagia yang luar biasa meletup-letup di hatinya. Perasaan menghangat menjalari seluruh tubuhnya, ya Dia juga mencintai suaminya. Lebih dari yang Dava bayangkan rasa cinta Dea pada Dava.
"Aku jauh lebih mencintaimu." rasa marah Dava menguar entah ke mana, rasa bahagia membuncah dalam hatinya lebih mendominasi.
"Terima kasih." Dava mengurai pelukannya, menatap lekat isterinya. Senyum tidak pudar dari ke duanya dengan tangan Dea yang masih berada di pinggang Dava. Mereka seolah berat saling melepaskan diri, mereka saling bergantung satu sama lainnya. Saling membutuhkan dan saling mencintai.
Tangan Dava terulur menyelipkan anak rambut nakal Dea yang berterbangan karena angin yang berembus di sore ini. Semburat warna jingga seolah menjadi background untuk moment ke bersamaan mereka.
"Mana barang yang Aku minta?" Dea menengadahkan tangannya, Dava baru ingat kalau tadi Ia membawa piring kecil serta lainnya.
Dava menepuk jidatnya, lalu Ia menoleh ke belakang. Nah itu Dia! Dava berjalan ke arah pagar di mana barang-barang itu berada.
"Ini." Dava memberikan alat-alat itu setelah kembali di hadapan Dea, entah untuk apa Dava tidak tahu.
Dava menaikkan satu alisnya saat Dea tidak mengambilnya namun malah tersenyum ke arahnya, Dava terperanjat saat Dea malah menubruk tubuhnya dengan erat. Dea membisikkan kata yang membuat Dava mengerjapkan matanya.
__ADS_1
"Happy birtday my bunny." bisik Dea tepat di telinga Dava, Dava mencerna apa yang di katakan oleh Dea. Dava melepas pelukannya lalu memegang ke dua bahu Dea. Ah seumur hidup Dava, ini adalah ulang tahun terindah yang pernah Ia rayakan. Tidak peduli jika ini bukanlah sweet seventeen. yang kelas ketika Dea hadir dan Ia mampu menerima wanita itu semua ke bahagiaan rasanya baru saja di mulai.
Dava tersenyum bahagia,isterinya itu ke napa bisa hafal dengan hari ulang tahunnya? Bahkan Dava saja lupa jika umurnya hari ini bertambah. Dea memegang pinggang Dava, pasti Dava tidak menyangka bukan?.
"Kamu tahu?" Dea terkekeh akan pertanyaan suaminya. Jelas Ia tahu, saat perayaan ulang tahun Dava dan ke adaan belum membaik seperti sekarang. Dea sengaja mendatangi mertuanga untuk merayakannya, jelas tanpa Dava karena Dava saat itu sedang merayakannya dengan Fani. Mengingat itu hati Dea rasanya sakit, tapi kali ini setiap perayaan ulang tahun akan ada dirinya di samping Dava.
"Mana mungkin Aku tidak tahu, Aku fans terberatmu." Dava tertawa, oh iya Dia hampir lupa kalau isterinya itu sudah sejak dulu diam-diam mencintainya.
"Nineteen eh?" tanya Dea, Dava mencium kening Dea dengan sayang. Angin senja membuat semua lebih terasa sangat indah. Kado terbaik dari Tuhan bagi Dava adalah penyatuan status dirinya dengan wanita berambut pirang dengan mata tajam nan meneduhkan yang sekarang ada di hadapanya. Tidak ada yang Dava sesali menikah dengan Dea, bahkan ini adalah sebuah rezeki yang patut Dava syukuri.
"Terima kasih." bisik Dava tepat di depan hidung Dea, aroma mint dari nafas Dava tercium di hidungnya. Dea menurunkan tangan Dava pada bahunya untuk Ia genggam bersamaan dengan piring kecil dan yang lainnya beralih ke tangannya.
"Tutup mata." pinta Dea, Dava menaikkan satu alisnya tapi tetap menutup matanya sesuai intruksi Dea. Tidak ingin mengecewakan isterinya.
"Jangan buka mata sampai Aku kembali!" Dava mengangguk dengan senyum yang tidak pernah luntur. Dia begitu penasaran dengan apa yang akan Dea lakukan.
Dea masuk ke dalam kamarnya dengan tergesa lalu membawa sebuah kue ulang tahun dengan tangan kanannya lalu tangan kirinya memegang sebuah map. Dea berdiri tepat di hadapan Dava tanpa melunturkan senyumnya.
"Nah sekarang buka mata!" pinta Dea setelah menyalakan lilinnya yang hanya satu itu tanpa angka 19.
Dava perlahan membuka matanya, apa yang ada di hadapannya adalah sebuah kue black forest dengan satu lilin kecil berwarna merah darah. Dava tersenyum lalu menatap Dea yang menginteruksinya untuk meniup lilin.
"Make a wish dulu." Dava mengangguk, Ia menutup matanya.
__ADS_1
'Tuhan, jangan pernah jauhkan Aku dari wanita dihadapanku saat ini. My angel!'
Doa singkat Dava yang mengartikan pengharapan besar bagi hubungan ke duanya, Ia akan sangat sulit jika jauh dari Dea. Tanpa isterinya Ia bukanlah Dava yang sempurna meski memang manusia tidak ada yang sempurna. Dea melengkapi Dava yang begitu kurang jika sudah berhadapan dengan Dea.
Dava membuka matanya menatap Dea yang tersenyum ke arahnya, mata Dava menatap manik mata Dea yang indah. Semoga Tuhan mengabulkannya, mengabulkan doa dan pengharapan Dava yang tulus.
Dava meniup lilin hingga padam, Dava tersenyum yang di balas oleh Dea.
"Potong kuenya." Dea mengarahkan pandangannya pada piring kecil berisi pisau kecil juga garpu.
Dava memotong kuenya kecil lalu menusuknya dengan garpu lalu mengarahkannya pada Dea.
"Jadilah wanita yang pertama dan terakhir dalam hidupku." Dea menerima kue yang di suapkan Dava di saat ucapan itu ke luar dari bibir tebal Dava yang membuat Dea merasakan debaran yang begitu hebat pada dadanya.
Dea mengerjapkan matanya, Dava yang melihat tidak ada respon dari Dea terus menatap Dea. Hingga beberapa detik Dea kembali tersadar, Ia tidak langsung menjawab. Ia menusukkan kue sisa potongan Dava lalu mengarahkannya pada mulut Dava.
Dea tersenyum saat Dava menerimanya.
"Seperti kue yang Kamu telan, bukan fisik yang hanya Aku serahkan padamu bunny. Melainkan perasaan cinta sama seperti rasa yang pertama Kamu rasakan saat Kamu pertama mengunyah kue itu. Bukan hanya tubuhku yang bisa di makan usia seperti sisa kue yang nanti di cerna tubuh lalu di buang. Aku akan menjadi nutrisi dalam kue, di mana akan menetap dalam tubuhmu dan berbaur dengan berbagai jenis organ tubuhmu seperti hatiku yang akan tertambat di hatimu. Tidak akan menua dan tidak akan menjadi sisa kue yang terbuang.".
Madiun, 23/07/20
Siapa di sini yang merasa Baper? Belum semua ya? Karena jika kalian membaca lebih jauh, kalian akan selalu merasa Baper akut. So? jangan berhenti baca di sini..
__ADS_1