Hes My Husband

Hes My Husband
Amarah Dava


__ADS_3

Setelah moment romantis dua hari yang lalu yang membuat hubungan mereka semakin romantis dan di penuhi cinta, dua hari ini juga Dava di sibukkan dengan acara perpisahan yang akan di selenggarakan seminggu lagi. Persiapan sekolah mereka memang sudah di siapkan jauh-jauh hari tapi pemantapan mengenai tema dan acara yang seperti apa yang mau mereka usung membuat mereka sangat sibuk. Dava harus bolak balik ke sekolah dan apartement, entah itu sekedar untuk ganti baju ataupun untuk mengunjungi isterinya.


Dava memang tidak menjabat menjadi ketua Osis tapi Ia juga di minta bantuan langsung oleh kepala sekolah, karena kepala sekolah percaya pada kinerja Dava yang dulu membawa sukses perpisahan Kakak kelas mereka. Dan kali ini adalah perpisahan angkatannya, membuat Dava berusaha sebaik mungkin. Tidak ingin mengecewakan teman satu angkatannya yang sudah selesai melewati tahap paling menyiksa mereka, ujian nasional.


"Yang.!" Dava menghentikan langkahnya saat Ia akan membuka knop pintu apartementnya untuk menuju ke sekolah saat mendengar panggilan dari lantai atas. Tentu panggilan lembut dari isterinya.


"Ya?" Dava membalikkan badannya ke arah Dea yang berjalan menuruni tangga dengan tergesa membuat Dava sedikit meringis, takut kalau isterinya itu salah langkah.


"Kamu lupa bawa ini." Dea memasangkan jam tangan rolex berwarna hitam milik Dava. Dava mengacak poni Dea dengan gemas.


Isterinya itu tidak mau melewatkan semua ke butuhannya barang sedikitpun.


"Aku stel alarm di ponsel Kamu, jam 4 sore. Kamu harus sudah makan. Aku tahu Kamu akan pulang telat." Dava mendekap Dea dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain menggenggam erat tangan isterinya.


Dava mencium kening Dea.


"Baiklah siap laksanakan bunny." Dea terkekeh dengan sikap Dava yang begini, tapi Ia selalu suka akan setiap perubahan sikap Dava padanya.


"Oh ya, nanti kita bahas masalah kuliahku ya?" Dava mematung, astaga Dava lupa akan hal itu. Dava mengangguk lalu tersenyum mengiyakan.


"Kita bicarain ke Mama Papa." Dea mengangguk.


"Kalau begitu kita bicarakan ini setelah malam perpisahan." Dava mengangguk setuju dengan ucapan isterinya, setidaknya Ia masih ada waktu untuk mengatakannya pada sang isteri. Dan memikirkan segala ke mungkinan yang akan terjadi serta langkah yang akan Dava ambil.


"Ya sudah Aku berangkat dulu." Dava sekali lagi mencium kening Dea lalu beranjak dari hadapan Dea yang melambaikan tangannya dengan senyum manisnya.


****


"Dav Lo baru datang?" tanya Dewa saat Ia berpapasan dengan Dava, oh iya Dava sempat mengucapkan terima kasih pada Dewa karena membantu membuat Dava cemburu agar surprize dari Dea berhasil. Ternyata setelah di perpustakaan itu Dea mempunyai ide untuk meminta tolong pada Dewa untuk memanas-manasi Dava, dan yeah ide Dea sungguh sangat berhasil.

__ADS_1


Dava membuka helmnya.


"Iya, Gue gak telatkan?" tanya Dava, Dewa tersenyum.


"Gak, Bintang Zacky dan Fani baru datang juga." Dava mengangguk


"Gue duluan, mau beli bahan." Dava lagi mengangguk saat Dewa berjalan menuju mobilnya. Dava turun dari motor sportnya lalu berjalan ke arah Aula yang berotasi menjadi tempat para anggota Osis untuk menyiapkan semua ke perluan perpisahaan sekolah mereka. Barang-barang kini berserakan dan tidak beraturan sama sekali.


"Oi Dav!" Dava menoleh ke arah di mana suara orang memanggilnya, Dava berjalan ke arah Jordan sang ketua Osis sekarang.


"Sudah sampai mana persiapannya sekarang?" tanya Dava yang sudah berdiri di hadapan Jordan, Jordan yang lagi duduk di lantai mendongak menatap Dava dan menjelaskannya.


"Tinggal tempelin saja di backgroundnya." Dava mengangguk lalu mengambil beberapa sterofoam yang sudah terbentuk menjadi serangkaian kata, ikut membantu dan bekerja sama. Dia dari dulu seperti itu, tidak hanya menyuruh dan menggunakan jabatannya saja.


"Guys ini minumannya dan makanannya kalau kalian lapar!" Fani berteriak dengan menaruh semua makanan yang Ia bawa pada sebuah meja yang langsung di serbu oleh semuanya, kecuali Dava tentu saja.


"Dav ini minuman Kamu." ucap Fani lembut, Dava bergeming. Memang tubuhnya ada di Aula itu tapi tidak dengan pikiran Dava yang berkelana entah ke mana.


Fani mulai jengah, Ia beberapa kali memanggil Dava dan cowok itu hanya diam saja. Fani memberanikan diri mengambil bahu Dava yang membuat Dava reflekĀ  menghentakkan tangannya hingga membuat milkshake yang Fani bawa jatuh ke lantai. Fani terkejut juga yang lainnya yang mendengar benda jatuh.


Dava menatap tajam Fani.


"Hentikan semuanya Fan!" Dava berkata dingin datar dan penuh penekanan. Dava tahu Fani tadi memanggilnya meski hanya satu kali panggilan dari beberapa panggilan tapi Ia sengaja mengabaikan karena Ia sudah bosen dengan sikap Fani yang terus mengganggunya. Entah itu di kelas ataupun saat-saat Dava akan menemui Dea.


Fani mematung, ini peetama kalinya Dava benar-benar marah dan terlihat begitu menakutkan.


"Dav-!" Dava beranjak dari posisinya ke luar dari Aula dengan rahang mengeras, Ia sudah di ambang batas. Pikirannya sedang kalut di tambah Fani yang membuatnya muak, sejak saat itu Dava sudah tidak lagi mau memandang ke hadiran Fani.


Semua yang ada di Aula hanya diam, menatap Fani kasihan juga jengkel. Sedangkan Bintang dan Zacky menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Hentikan semua Fan." Bintang menepuk bahu Fani setelah menghampiri Fani. Ia kasihan pada wanita itu yang menjadi pelampiasan amarah Dava hari ini, Dava sedang banyak pikiran sepertinya. Bintang hanya tidak mau Fani akan lebih terluka nantinya jika terus memaksa, dulu mereka juga pernah dekat dan Bintang hanya menengahi untuk ke duanya.


Bintang beranjak di ikuti Zacky guna menemui Dava yang pastinya sedang kalut saat ini, tujuannya adalah rooftop sekolah mereka. Tempat yang paling menenangkan untuk Dava dan mereka saat ada masalah di sekolah.


"Dava." Dava hanya menatap sahabatnya lalu kembali menatap pemandangan jalan raya yang sesak saat pulang jam kerja.


"Lo ada masalah?" tanya Zacky, Dava tidak bergeming membuat Zacky serta Bintang pasrah, nanti Dava pasti akan memulainya sendiri kalau sudah siap. Hening menyelimuti mereka, mereka hanya sama menatap padatnya jalan raya sore ini.


"Apa yang harus Gue lakuin?" Zacky dan Bintang reflek menoleh, setelah mendudukkan diri bersebelahan dengan Dava.


"Soal apa?" Dava menatap sahabatnya lalu menghembuskan nafas kasar.


"Soal kuliah Gue.".


"Jangan bilang Lo belum bicarain ini ke Dea?" Dava mengangguk akan tebakan sahabatnya itu, lalu menatap jalanan lagi.


"Gue rasa gak sekarang Dav." Dava menatap Bintang dengan dahi mengerut, tadi mereka terkejut dan sekarang mereka mencegah Dava.


"Gue hanya yakin kalau Dea bakal marah sama Lo, dan ini kita mau liburan. Emang Lo mau Lo gak bisa habisin waktu Lo sama Dea?" Dava menggeleng, itu moment terakhir mereka nanti mana mungkin Dava akan melewatkannya. Dan mungkin benar apa yang di katakan Bintang barusan, bukan saat ini tentu saja.


"Nah Lo tahu kalau Dea marah hanya diemin Lo? Jadi Gue rasa Lo ngomongnya setelah akhir liburan saja, masih ada seminggu untuk membujuk Dea sebelum ke berangkatan Lo." Dava tersenyum, tumben Zacky bijak kali ini.


"Apa ?" tanya Zacky tahu senyum remeh Dava padanya.


"Tumben Lo?" bukan Dava tapi Bintang.


"Sial!" umpat Zacky, mereka tertawa dengan menikmati angin sore yang mereka sukai di rooftop sekolah mereka.


Madiun,24/07/20

__ADS_1


__ADS_2