Hes My Husband

Hes My Husband
Surprise


__ADS_3

Sungai yang mengalir di depannya adalah pemandangan Dava kali ini, Ia juga menghembuskan nafas berulang kali seolah Ia menahan beban yang menyesakkan di rongga pernafasannya. Bayangkan, Deanya itu dengan tanpa dosanya mengabaikan panggilan telfon juga pesannya. Seperti tadi siang tidak melakukan apapun yang membuat Dava harus merefresh otaknya seperti sekarang ini. Dea bahkan pulang lebih dulu dan tidak menunggui Dava untuk pulang bersama.


Apa yang tidak lebih menyesakkan bagi Dava setelah tadi di kantin melihat ke akraban Dea dengan Dewa. Mereka terlihat seperti sengaja untuk tidak melihat ke beradaan Dava.


"Lo gak mau pulang?" oh Dava sampai lupa kalau sekarang Ia tidak sendiri, ada Bintang dan juga Zacky.


Dava menoleh, menatap sahabatnya dengan pandangan yang sulit di artikan bagi ke duanya.


"Iya Dav, Lo gak pulang? Gih kurung Dea seharian di bawah Lo!" Zacky terkekeh mendengar ucapannya sendiri, apalagi melihat pelototan mata Dava yang menajam padanya. Seolah berkata 'Tahu apa Lo kunyuk?'.


"Mulut Lo?" Bintang menoyor kepala Zacky, Zacky mendengus.


"Gue saranin ya, Lo harus jaga Dea. Dewa adalah kandidat terkuat buat Lo selain kita berdua." bukannya berhenti, Zacky malah memanasi. Mencoba memprovakasi pikiran Dava yang sepertinya memang butuh di panaskan agar jernih.


"Lo masih ngarepin Dea?" tanya Bintang tidak percaya, Zacky mengabaikan mata tajam Dava padanya dengan mengangguk. Ya apalagi yang bisa Ia jawab ketika memang itulah yang terjadi.


"Ya iyalah, secara Dea cantik gitu." Dava tidak tahan, Ia memiting kepala Zacky. Zacky memberontak dengan mencoba melepaskan kepalanya dari lengan Dava.


"Awas sampai Lo ngerusak hubungan Gue sama isteri Gue!" Dava terus memiting kepala Zacky.


"Lepasin Gue, dasar gunung es! Ketek Lo bau tahu!" Zacky memberontak, mau tidak mau Bintang terkekeh geli. Memang Zacky gila dengan berkata jujur tapi setidaknya omongan Zack bisa membuat Dava berpikir, bahwa banyak pria yang menginginkan Dea dan Dava harus siap untuk itu.


"Salah Lo bangunin singa jantan yang buas!" bukannya membantu, Bintang malah meledeknya membuat Zacky berdecak.


"Temen la**at Lo! Dav beneran ini Gue gak bisa nafas." bohong, jelas.Dava melepaskan pitingannya membuat Zacky bernafas lega lalu menatap tajam Dava. Tidak ada takut-takutnya sama sekali dengan tatapan tajam Dava padanya.


"Lo mau bunuh Gue ya?" tanyanya.


"Ya!" mata Zacky melebar dengan jawaban absurd berlogo ke jujuran dari Dava.


"Astaga! Gila Gue mau temenan sama Lo!" Dava tidak menanggapi ucapan Zacky, Ia memikirkan saran Zacky yang mengurung isterinya di bawah tubuhnya. Membayangkan hal itu Dava mengembangkan senyumnya, benar juga apa yang di katakan Zack.


"Gila, tadi galau sekarang senyum gaje!" Dava melunturkan senyumnya lalu menatap Zacky datar, Bintang tertawa.


"Jadi?" Dava mengedikkan bahunya.


"Lo gak mau traktir kita?" Dava menaikkan satu alisnya dengan ucapan Zack.


"Saran Gue gak gratis kali Dav." Dava memutar matanya malas, Ia beranjak dengan tas yang berada di bahunya.


"Lo mau ke mana?" Bintang dan Zacky mendongak menatap Dava yang mulai berjalan ke arah motornya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya duduk.

__ADS_1


"Ngurung isteri Gue!" tawa ke duanya langsung lepas kala teriakan Dava terdengar penuh antusias.


****


Dava membuka knop pintu apartementnya saat sesudah Ia memasukkan kode ke amanan yang sudah Ia ganti setelah acara membaiknya hubungannya dengan Dea. Kode yang hanya untuk ke duanya.


Dava mengerutkan keningnya saat Ia masuk, matanya di sambut dengan suasana gelap. Semua tirai sudah Dea tutup tapi tidak dengan lampu yang di biarkan tetap mati. Meski ini belum malam, tapi jam 5 lebih membuat suasana menjadi gelap.


"Yang!" tidak ada jawaban,Dava berjalan ke arah ruang tengah. Mata Dava menyipit saat ada sebuah lilin di atas meja ruang tengah. Dava mendekat lalu berpikir apakah Ia lupa membayar tagihan listrik? Seingatnya Ia tidak lupa.


Dava menemukan sebuah kertas note berwarna merah darah, Dava mengambil dan membukanya.


'Datanglah padaku' 


Kalimat singkat dengan gambar sebuah cangkir kopi, 'apa maksudnya?' pikir Dava menebak-nebak. 


"Cangkir? Kopi?" Dava tersenyum dengan note yang Ia bawa, langkah Dava menuju ke dapur. Yah! Tempat cangkir kopi ada di dapur bukan?.


Dava mengobrak abrik kitchen set yang sudah Dea tata rapi, Dava tersenyum saat mendapat sebuah note di dalam cangkir favoritenya. Cangkir dengan warna putih, ada gambar dirinya dengan Dea yang Ia pesan dua bulanan yang lalu bersama Dea.


'Datanglah padaku!' 


Dava hanya tersenyum saat kalimat itu lagi yang Dea tulis, namun dengan gambar yang berbeda.


'Datanglah padaku!' 


Kalimat ke tiga, Dava berjalan dengan intruksi note. Di mana Ia harus menaiki tangga, itu yang tergambar di note.


Dava menimang-nimang Ia akan masuk ke kamarnya atau ke kamar tamu, Ia berjalan ke arah kamarnya. Dava mengerutkan keningnya, saat Ia mencoba membuka pintu. Sepertinya pintu itu terkunci dari dalam.


Dava mengubah arah, Ia berjalan ke arah kamar tamu. Suasana gelap kembali menyapanya, semilir angin menerbangkan tirai dengan pintu balkon yang terbuka.


Dava melihat ada dua buah balon dengan bentuk hati berwarna merah dan putih. Dava mengambil dua balon itu yang terikat pada sebuah kotak dengan bungkus berwarna merah darah.


'Datanglah padaku!' 


Note ke empat terselip di antara pita yang mengikat balon dan kotak sedang itu, Dava menatap sebuah petunjuk anak panah yang mengarah ke kanan. Di mana arah balkonnya berada, balkon kamar tamu dan kamarnya memang jadi satu lantai hanya saja terbatas oleh pagar yang sebatas perutnya


Hal pertama yang Ia lihat adalah, Dea yang tersenyum ke arahnya. Sama seperti biasanya, senyum favorite Dava dan senyum yang selalu dapat menular kepadanya.


Dava terkekeh geli saat Dea mulai aksinya, Dea membawa buku note besar dengan tulisan tangannya mengarah padanya.

__ADS_1


'Kau adalah cinta diamku'


Dea membuka lembar berikutnya, Dava tidak bisa menahan senyumnya. Rasa haru menyelimuti hatinya dengan apa yang di lakukan Dea kali ini. Rasa cemburu dan marah menguar seketika.


'Kau adalah cinta nyataku'


Dea tersenyum manis, siapapun pasti akan sangat terhipnotis.


'Kau adalah sandaranku' 


Dava mengangguk seolah menjawab ungkapan Dea.


'Dava'


Dava mengangguk, saat lembar itu tertulis namanya. Seolah memanggilnya.


'Aku akan mengatakan dengan benar'


'Aku'


'Kamu'


'Bisakah'


'Terus bersama?'


Dava ingin mendekap tubuh itu sekarang, tapi Dea tersenyum tulus padanya. Menginteruksi bahwa Ia belum selesai, Dava mengangguk. Tentu Ia dan Dea akan terus bersama! Sampai mereka menua.


'Bisakah'


'Kamu'


'Menerima'


'Cintaku yang nyata'


Dava melelehkan air matanya, Tuhan! Dia seorang pria dan di sana isterinya yang tengah menyatakan cintanya pada seorang pria yang notabennya adalah suaminya. Dava mengangguk sebagai jawabannya.


'Bisakah?'


'Datanglah padaku!' 

__ADS_1


Dava tidak membuang waktu Ia melompati pagar tanpa kendala apapun sebelum Dea benar-benar merentangkan tangannya. Dava memeluk Dea erat, sangat erat.


Madiun, 22/07/20


__ADS_2