Hes My Husband

Hes My Husband
Dance With You


__ADS_3

Tidak peduli apa yang akan terjadi saat mengetahui jika ke dua sahabatnya itu tidak ada dan melakukan apa, Sinta dan Rara hanya tetap bisa pasrah saat lagu malah terdengar sangat lama mengalun. Membuat ke duanya harus terjebak dalam posisi yang tidak nyaman, tawa Rara karena Rara merasa terkejut dengan Zacky yang tiba-tiba memaksa dan meyakinkan dirinya kalau Zacky lah yang mau jadi pasangannya.


Gila bukan? Dia mendebatpun terasa percuma, pria itu juga tidak akan melepasknnya saat lagu yang di putar sudah berada di tengah-tengah. Ke palang tanggung untuk lepas dari Zacky, Rara juga melihat Sinta yang menerima Bintang walau Rara dapat melihat wajah di tekuk sahabatnya itu. Oh ternyata mereka bernasib sama, terpaksa menerima ajakan Pangeran berkuda hitam karena mereka tidak memiliki Pangeran berkuda putih yang gagah.


Dan sialnya Dea malah menghilang, ataukah mereka berdua sengaja menciptakan suasana yang seperti ini untuk Rara dan Sinta? Apa untungnya untuk mereka coba? Terjebak dengan Bintang dan Zacky yang juga sama jomblonya dengan mereka.


"Gue mau Lo lepasin Gue secepatnya setelah lagu menyebalkan ini selesai." Zacky hanya tersenyum tipis.


"Ok, Gue akan lepasin Lo. Emang Lo kira Gue mau lama-lama deketan terus sama Lo?" mata Rara menajam bagaikan pedang, gila siapa juga yang mau sama Lo? Jika Rara bisa berteriak seperti itu pada Zack, namun Rara menahannya.


"Terserah Lo mau ngomong apa." dan akhirnya mereka hanya berdansa tanpa adanya percakapan sama sekali dan juga tidak saling menatap. Wajah ke duanya berpaling, Rara ke kiri dan Zack ke kanan.


^°^


Dava membawa Dea, bahkan mengajak paksa Dea dengan terus menggenggam tangan Dea. Kadang Dava menoleh ke belakang dengan senyumnya yang di balas Dea dengan senyum juga meski Dea tidak tahu ke mana Dava membawanya. Ia percaya dan hanya menurut ke mana Dava akan membawanya.


Sekarang Dava membawa Dea menaiki tangga dengan hati-hati. Tangannya mengerat melewati lorong yang hanya beberapa lampu yang menyala. Dava melewati 5 kelas yang ada di lantai dua lalu Ia berbelok ke arah lorong sempit dan membuka pintu  kecil yang ada di sana. Dava menunduk karena tinggi pintu yang tidak setinggi tubuhnya di ikuti Dea yang ikut menunduk tanpa melepas tautan jari mereka.


"Hati-hati.".


Dava membalikkan badannya saat Dea baru saja melewati pintu itu. Dava mendekap tubuh Dea dengan tiba-tiba, Dea berjengit kaget karena Dava langsung memeluknya erat. Dea dapat mendengar detak jantung Dava yang berdetak cepat sama seperti dirinya. 


"Tutup mata!" Pinta Dava dengan menundukkan kepala agar dapat berbisik tepat di telinga Dea, rasa hangat Dea rasakan dari tubuh Dava yang hanya terbaluk kaus tipis dan kemeja yang sengaja di buka kancingnya 

__ADS_1


"Ke napa?" Tanya Dea, Dava menahan kepala Dea saat akan mendongak dan memberikan ciuman di puncak kepala Dea. Menghirup aroma shampo yang sangat Dava sukai, aroma strawberry yang selalu nyaman dan menenangkan.


"Tutup mata bunny!" Dea mendengus namun tetap mengangguk. Dava merasakan anggukkan Dea di dadanya hanya mampu tersenyum dan menepuk pelan puncak kepala Dea yang menurut padanya.


Dava mengurai pelukanya lalu kembali berbisik.


"Tunggu sebentar dan jangan buka mata!" Dea lagi hanya mapu mengangguk.


Dava berjalan ke arah pagar pembatas memastikan apa yang akan Dava berikan dengan sebuah kejutan kecil akan berhasil. Dava menunduk menatap dasar, di mana semua teman-temannya berdansa bersama. Lampu terlihat juga di minimkan cahaya.


Musik yang mello dan romantis di bawah sana menambah ke beruntungan bagi Dava. Dava mengeluarkan ponselnya lalu menatap Dea, Ia tersenyum karena Dea menuruti ucapannya.


Dava membuka galeri musiknya lalu menyetel lagu yang sudah Ia siapkan sebelumnya, suara lagu mengalun saat Dava mendekati Dea dengan tangan Dava yang mengarahkan tangan Dea pada lehernya dan tangannya sendiri memeluk pinggang Dea posesif.


Dea dapat mendengar lagu dengan musik yang mengalun lembut, lagu milik Shania Twain-From This Moment On. Dea mengenal lagu itu, lagu yang dalam jajaran lagu romantis. Lagu lama memang, tapi liriknya masih terus mengena hingga kini. Terutama untuk beberapa orang yang sedang di mabuk cinta seperti dirinya ini, Dea terkekeh.


"Ke napa?" tanya Dava.


"Rasanya tidak nyaman Aku berdansa tapi Aku tidak bisa melihat Pangerannya.".


Dea bergerak mengikuti interuksi Dava, dengan menggerakkan badannya.


"Buka mata!" di tengah-tengah lagu mengalun, Dava baru menginteruksi agar Dea membuka matanya. 

__ADS_1


Mata Dea melebar karena wajah Dava yang begitu dekat  dengannya, di tambah lagi Dava yang sedikit mendongakkan kepalanya dengan menekan tengkuk Dea. Dava tersenyum, rasanya Dea ingin lagi memejamkan mata. Jantungnya tidak siap menerima semua senyum manis Dava padanya.


Nafas mereka beradu, Dea memejamkan mata saat wajah Dava mendekat ke arahnya. Dea merasakan sesuatu yang kenyal dan hangat menempel pada bibirnya. Lalu dengan perlahan Dea dapat merasakan cecapan yang meninggalkan basah di area bibirnya. Dea menautkan jarinya di ceruk leher Dava, Dea yakin pipinya sudah semerah buah cherry. Lebih baik Ia menyembunyikan rasa gugupnya, apalagi kinerja jantungnya yang luar biasa menggila, walau Ia sudah sering melakukan ini dengan suaminya.


Tapi tetap Dea merasakan kakinya lemas karena sentuhan Dava yang selalu dapat memenangkan organ tubuhnya, terutama jantungnya yang terus berdetak tidak beraturan. Untung tangan kekar Dava mendekap pingganggnya.


Dava sendiri memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Dea juga memeluk pinggang Dea agar lebih merapat padanya. Dava tersenyum saat Dea membalas ciumannya.


Dava sengaja menggigit bibir bawah Dea, mencari akses untuk menjelajahi setiap inci dalam mulut Dea saat Dea melenguh. Dava tidak menyiakan ke sempatan, Ia mengabsen deretan gigi Dea yang rapi dan mengaitkan lidah mereka. Saling mencecap lalu merekam setiap rasa yang mereka nikmati dan lalui.


Dava melepas pagutannya saat Dea mulai ke habisan nafas, Dava menempelkan keningnya pada kening Dea. Ia tersenyum dengan mengatur nafasnya juga. Dia melihat Dea yang bersusah payah mengatur nafas sama seperti dirinya.


Dava mengusap bibir Dea dengan ibu jarinya, Ia merasa bangga saat melihat bibir Dea yang bengkak karena ulahnya. Dava memberikan kecupan di dahi Dea, dalam juga penuh perasaan. Bahkan lagu yang mengiringi dansa mereka telah habis tapi merasa enggan merubah posisinya.


Dea memejamkan matanya menerima perlakuan manis Dava saat bibir tebal milik suaminya menempel di dahinya.


"I love you bunny." bisik Dava setelah melepaskan ciumannya.


Dea menatap Dava dengan senyum cerahnya lalu berkata.


"I love you more bunny.".


"Aku ada kejutan lagi untukmu." alis Dea tertarik ke atas, rasa penasaran dengan apa kejutan Dava sudah memenuhi kepala Dea.

__ADS_1


Madiun,29/07/20


__ADS_2