
"De." Dea menghentikan langkahnya saat seseorang memanggilnya di koridor sekolah menuju perpustakaan, hari ini Sinta dan Rara memilih ke kantin dan tidak menemani Dea ke perpustakaan untuk mengembalikan buku setelah ujian berlangsung. Buku yang selama ini Ia pinjam sebagai reverensi menghadapi ujian yang banyak menguras waktu dan tenaga.
Ujian yang selalu membuat tegang itu akhirnya berakhir, dan setiap harinya Dea dan Dava hanya berada di rumah sibuk belajar. Dava yang kadang ke luar sifat manjanya membuat Dea mengurungkan niat belajarnya untuk menuruti permintaan suaminya itu. Bahkan Dava tidak pernah sungkan lagi untuk menunjukkan sifat manja yang sebenarnya tidak pernah orang tuanya tahu pada Dea.
Dea menoleh ke belakang,di sanalah Dewa sedang berlari ke arahnya dengan membawa beberapa buku juga. Mungkin sama dengan yang di bawa Dea sekarang.
"Lo mau kembalikan buku?" tanya Dewa, Dea menaikkan satu alisnya. Biasanya Dewa akan berbicara Aku-Kamu, tapi kali ini berbeda. Dan Dea menyukai perbedaan itu, entahlah. Rasanya lega jika Dewa bersikap biasa saja padanya, tidak menimbulkan masalah dan Dea tidak perlu menghindari cowok keren itu. Itu sih kata-kata beberapa siswa yang memang menyukai Dewa, namun bagi Dea. Dava adalah cowok terkeren dan kini adalah suaminya.
"Ya, ini." Dea tidak mau berpikir lebih, Ia menunjukkan bukunya pada Dewa.
"Gue bareng Lo ya? Gue mau balikin buku juga." Dea tersenyum lalu mengangguk, membiarkan Dewa berjalan bersamanya. Tidak ada salahnya juga mereka bersama, biasanya juga Dewa sering ada di samping Dea ketika cowok itu ingin mengajaknya mengobrol, atau tidak saat cowok itu mengajaknya untuk ke luar dan hal lainnya
Mereka berjalan beriringan dengan Dewa yang selalu mendominasi percakapan dan sesekali Dea menanggapinya.
"Buku Lo banyak banget De?" tanya Dewa saat Dea membawa buku melebihi buku yang seharusnya.
"Oh ini? Ini sama pinjaman buku punya Dava." Dewa ber-oh ria menanggapi jawaban Dea.
Mereka mengembalikan buku ke petugas perpustakaan dengan mengisi data dan tanda tangan bukti pengembalian.
"Lo mau langsung cabut apa mau di sini?" tanya Dewa setelah urusannya selesai.
"Gue mau ke kantin." Dewa mengangguk.
__ADS_1
"Gue duluan deh ke kantinnya." Dea mengerutkan dahinya, seolah Dewa sengaja menghindarinya.
"Gak sekalian bareng saja?" tanya Dea menghentikan langkah Dewa yang sudah ke luar dari perpustakaan.
"Entar cowok Lo marah?" Dea menaikkan satu alisnya, bukan rahasia lagi kalau Dea dan Dava mendominasi gosip seantero sekolah.
Mengenai hubungan mereka meski mereka tidak mengumumkan secara resmi. Tapi seisi sekolah dapat menebak kalau mereka punya hubungan spesial di tilik dari perlakuan Dava pada Dea, dan juga sekarang setiap harinya Dea selalu berangkat-pulang sekolah bersama Dava.
"Gak kok, Dia lagi nunggu di sana. Kita ke sana bersama saja." Dewa mengangguk pasrah, Ia berjalan bersamaan dengan Dea.
Entah ke napa Dewa merasa senang, tidak perlu mendekati Dea secara menggebu. Karena bukan untuk menjadi pacar Dea sekarang yang menjadi prioritasnya. Ada lelaki yang jauh lebih tepat mencintai Dea, yaitu Dava.
Dewa adalah saksi di mana dulu Dea dengan sukarela mencintai dalam diam, dan Dewa yang selalu berusaha mendekati Dea hanya karena sebuah pengalihan ke sedihan Dea dari perlakuan Dava yang acuh pada gadis itu. Dewa tersenyum melihat wajah cantik itu kini kembali bersinar, senyumnya Dewa masih teringat jelas. Tidak ada yang berubah dari Dea meski di otak gadis itu tidak ada memori tentang dirinya
Dava yang tadinya sibuk mendengarkan, ingat hanya mendengarkan tanpa mau menanggapi ocehan para sahabatnya hanya terus menatap pintu kantin. Berharap wanita pujaannya segera datang dan membuatnya senang. Mungkin!.
Tapi yang di harapkan tidak sesuai dengan ekpektasinya, apa yang Ia lihat saat ini membuatnya mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih. Bintang adalah orang pertama yang tahu akan perubahan Dava ikut menatap ke arah pandangan Dava. Bintang menggelengkan kepala tidak tahu bagaimana nasib si pelaku di sana menghadapi amukan Dava jika itu benar-benar terealisasi.
"Maaf lama." Dea meminta maaf atas ke terlambatannya ke kantin, Dea tersenyum ke arah Dava. Dewa berdiri di belakang Dea lalu dengan senyumnya mencoba menyapa.
"Hai." sapa Dewa, Sinta dan Rara memutar matanya malas. Pria yang selalu mengejar-ngejar Dea itu menyapa mereka, tapi si Sinta menaikkan satu alisnya.
"De, Lo ke napa sama si kunyuk satu itu?" Dea menatap Sinta.
__ADS_1
"Dewa maksudnya?" seolah tidak paham dengan orang yang di pertanyakan ke hadirannya, Dea memastikan.
"Ya iyalah siapa lagi?" ketus Sinta, Dewa hanya tersenyum maklum mendengar jawaban Sinta.
"Gue ke temu Dewa tadi saat mau ke perpus, dan Dia juga mau ke kantin. Ya sudah Gue barengan sama Dewa saja." mata Dava melebar, jadi Dea yang mengajak dengan sengaja orang yang mengusik percintaannya dengan Dea. Dava mengeraskan rahangnya, rasa panas menjalar sampai di puncak kepalanya.
Dea mengajak Dewa duduk, dan sialnya kursi yang tersisa hanya di mana Dea yang duduk di antara Dewa dan Dava. Bintang yang melihatnya ngeri sendiri.
'Lo kena masalah bro!' batin Bintang bersorak apalagi melihat tatapan Dava yang menajam pada Dewa, memandang pria itu dengan tatapan permusuhan yang kentara
Sinta berdecak, pandangan Sinta tidak sengaja menangkap pemandangan di mana Dava terlihat buas. 'oh astaga De, Lo bakal kena damprat suami Lo!' ingin sekali Sinta berteriak pada Dea tapi sahabatnya itu sama sekali tidak peka.
Dava menghembuskan nafas berulang kali, menghilangkan rasa panas yang entah ke napa siap membakar semua yang ada di sekitarnya. Ia ingin sekali membuang bogem mentahnya pada lelaki yang malah dengan santainya memesan makanan pada Ibu kantin. Apa gosip yang beredar tidak sampai pada pria itu? Dea sedang pacaran dengan Dava, atau perlu Dava mengakui kalau Dea adalah isterinya?.
Dava juga melihat bahwa Sinta beberapa kali memberikan kode pada isterinya itu, tapi sayangnya Dea sama sekali tidak peka dengan ke adaan yang membuat Dava mengibaskan tangannya.
Bintang hampir tidak mau memandang pemandangan di hadapannya, Dava Bintang dan Zacky bukan orang yang benar-benar diam. Dulu mereka sebelum naik kelas dua sudah menjadi anggota tetap tawuran antar sekolah, Dava mungkin bukan ketuanya tapi Ia yang paling banyak andil dalam mengalahkan musuh lain sekolahnya. Bahkan Ia tidak segan menghajar sampai musuh mereka minta ampun.
Apalagi dulu di perparah hubungan Dava dengan Fani yang notabennya pernah beberapa kali selingkuh di belakang Dava, tapi Bintang patut bersyukur sekarang. Hubungan yang awalnya di paksakan itu mengubah Dava menjadi sesosok orang yang dapat mengendalikan emosinya. Jika Bintang pasti langsung meninju tanpa ampun wajah tanpa dosa Dewa.
Bintang menggeleng, cinta mengubah semuanya. Termasuk sahabatnya yang kini sudah banyak melalui proses menyempurnakan cinta.
Madiun, 22/07/20
__ADS_1