
Tolong tinggalkan jejak ya? beri vote dan juga comment yang mendukung..
"Apa yang Dea sembunyikan?" tanya Dava tegas pada ke dua sahabat Dea.
"Maaf De." ucap Sinta.
"Lo mau tahu apa yang Dea sembunyikan?" tanya Rara dengan pandangan meremehkan pada Dava, Dava mengangguk dengan pasti. Ia akan mendengarkan semuanya, semua tentang istri tercintanya.
"Lo sadar gak selama ini Dea udah C-I-N-T-A sama Lo dalam diam dari pertama masuk sekolah.".
>°<
Tubuh Dava serasa membeku, apa iya Dea mencintainya selama ini? Dava menatap Dea yang terus menunduk. Dea sendiri sama sekali tidak berani menatap ke arah Dava, entah ke napa ke beranian dalam dirinya begitu menciut.
"De.".
"Dea, apa semua itu benar?" tanya Dava lembut, bukan marah yang Dava rasakan tapi bahagia yang memenuhi hatinya. Selama ini Dea memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Dava dan Dava kira itu karena Dea memang belum bisa mencintainya. Tapi ini? Wanita itu malah mencintainya sejak lama, lama sebelum dirinya tahu dan kenal.
"Ya semua benar. Apa Lo gak curiga sama semua siswa cewek yang selalu-.".
__ADS_1
"Ta!" potong Dea memperingati agar Sinta berhenti bicara.
"Gak De, Dava harus tahu semuanya. Biar Dia bisa ambil ke putusan mau pertahanin lo atau kembali ke pelukan Fani." Rara menyetujui ucapan Sinta karena Ia tidak mau jika Dea sampai sakit hati untuk yang ke sekian kalinya.
Meski Ia juga marah karena sahabatnya itu menyembunyikan hubungan yang penting itu, setidaknya mereka saat itu juga bisa menjaga perasaan Dea saat mereka inging mendekati Davalah dan hal-hal lain yang mungkin akan membuat Dea cemburu dan sakit hati.
"Lo gak curiga sama siswa cewek yang tiba-tiba berhenti kirimin Lo surat dan kado ke dalam loker Lo?" Dava mengangguk, Ia juga merasa aneh waktu itu tapi bukannya, kini pandangan Dava intens pada Dea yang masih menunduk dalam.
"Lo tanya sama Dea, Dia yang selalu bersihin loker Lo tiap hari sebelum Lo dateng dan gunain loker Lo. Setelah Lo ultimatum semua siswa untuk gak nyampah di loker Lo, emang mereka pada mau dengerin Lo? Gak Dav, tapi Dea yang bersihin. Dan Gue tahu alasannya! Bukan karena Dea cinta saja sama Lo tapi juga karena waktu itu Dea sudah jadi istri Lo dan itu bentuk perhatian Dea ke Lo agar Lo gak ngerasa marah karena loker Lo penuh sampah!" Dava membeku, apa benar? Dava bahkan lupa hanya untuk bernafas dengan baik. Dea begitu baik untuknya, meski wanita itu selalu jadi pelampiasan marahnya Dava setelah putus dari Fani tapi? Dadanya terasa sesak mendengar semua ke nyataan dari Sinta.
Dava memejamkan matanya sejenak menetralkan pernyataan yang sangat menyakiti hatinya, bukan karena cinta Dea tapi karena betapa banyak Ia menyakiti wanita itu.
"Ta lanjutin!" pinta Dava tidak hiraukan permintaan Dea, Sinta menyeringai. Ini ke sempatannya agar sahabatnya mendapatkan orang terbaiknya. Tidak peduli nanti Dava akan bagaimana pada sahabatnya, ke jujuran akan Sinta ungkapkan di sini.
"Dea pernah ke tahuan karena Dia bersihin loker Lo tanpa kita berdua dan Lo tahu Dia di bully karena hal itu. Dan wanita yang Lo cintai itu memanfaatkan ke adaan dengan mengaku sebagai penyelamat Lo bukan? Dengan bilang Dia yang bersihin loker Lo dari semua sampah itu?" Dava mengangguk membenarkan, ya Fani pernah bilang kalau Fani yang membersihkan lokernya meski hubungan mereka sudah gak jadi sepasang ke kasih saat itu.
Dava memijit pelipisnya karena kepalanya yang mendadak berdenyut-denyut. Memikirkan bagaiamana saat itu menderitanya Dea, dan Dava tanpa sadar menambah beban penderitaan Dea.
"Gue dan Rara saksinya, bahkan surat dan kado itu masih Dea simpan." semua beralih menatap Dea yang menunduk semakin dalam, tangan gadis itu bergetar. Sungguh ini juga seperti penghakiman bagi Dea, penghakiman yang siap memvonis Dea kapan saja.
__ADS_1
"Gue rasa cinta Dea berlebihan sama Lo sampai korbanin dirinya buat di bully hanya karena cowok macem Lo! Tapi sekarang Gue bener-bener tahu apa alasanya. Karena Dia selalu jaga perasaan Lo dan gak akan bisa Dea ngebiarin Lo sampai terusik dan hidup Lo gak aman." jelas Sinta, satu air mata lolos dari pelupuk mata Dava.
Untuk pertama Ia merasa telah menyakiti orang yang benar-benar membuat hidupnya berarti. 'apa kata maaf mampu Ia ucapkan pada Dea? Apa maafnya cukup membuat luka itu sembuh? Apa ke diaman Dea saat ini adalah karena Dea tidak memaafkannya? Apa Dea sudah ke hilangan rasa cintanya pada dirinya karena selama ini Dea sama sekali tidak pernah membalas pernyataan cintanya? Apa Dia sudah sangat terlambat? Bodoh Kamu Dava, jelas! Dia mana mau mencintai orang sepertimu?' batin Dava bermonolog menyesali semua.
Semua yang sudah sangat terlambat untuk Ia sesali. Barang kali Dea akan segera meninggalkannya, meninggalkan kenangan yang baru saja Dava bangun susah payah.
Dea memeluk Dava yang masih bermonolog dengan dirinya, Dava tersentak karena ucapan maaf padanya dengan isakan yang memilukan bagi Dava. Dava tidak habis pikir, terbuat dari apa hati istrinya itu? Dava meneteskan air mata, bahagia juga terharu akan baiknya Tuhan memberi Dia pendamping hidup yang sempurna.
Dava mengurai pelukan Dea padanya, Dea semakin menjadi dalam menangis. Dea menggeleng, pikirannya berkecamuk 'Apa Dava akan meninggalkannya?' Dea mencoba mengusir bayangan Dava yang melepaskan pelukan mereka karena Dava sudah tidak ingin bersamanya.
Dava tersenyum dengan air mata yang dengan kurang ajarnya terus saja mendesak ke luar, Dava berjongkok di depan Dea yang duduk dengan terisak. Dava mengulurkan tangannya, mengusap air mata Dea dengan ibu jarinya. Dava memberikan senyum terbaiknya pada wanita yang melakukan banyak hal untuknya, yang Dava sendiri tidak tahu apa lagi pengorbanan Dea untuknya.
"Maafkan Aku." Dea menggeleng mencoba menarik Dava agar berdiri tapi tidak di hiraukan Dava. Dava menggenggam tangan Dea erat dan sangat erat. Dengan kening berada di atas genggamannya pada Dea Dava mengungkapkan rasa menyesalnya.
"Dea maafkan Aku, maaf karena Aku tidak menyadari semuanya. Maaf karena Kamu sudah jadi pelampiasan Aku selama ini, maaf karena dari awal pernikahan kita. Aku sama sekali tidak pernah melihat ke beradaanmu Sayang." Dava mendongak untuk menatap reaksi Dea. Tapi Dea? Wanita itu hanya menangis, sunggub Dava tidak tahan melihat genangan air mata Dea.
Ini melukai hatinya, melihat Dea menangis karenanya. Ulah dari perbuatannya yang tidak pernah berpikir dewasa, hanya ego yang Ia punya hingga membutakan matanya untuk melihat cinta yang sesungguhnya dan orang yang benar-benar tulus padanya.
"Sayang-!".
__ADS_1
Madiun, 25/06/20