
Setelah acara pengumuman dan Dava memilih pulang ke rumah bersama Dea. Ia tidak ingin meninggalkan isterinya itu, entah ke napa juga Dea begitu manja meminta Dava untuk pulang. Dea merajuk tadi, dan mau tidak mau Dava harus izin pada Jordan untuk tidak ikut antusias dalam mempersiapkan acara nanti malam. Sebagai malam puncak perpisahan angkatannya.
"Dan, Gue balik dulu!" pamit Dava pada Jordan yang kini mulai sibuk. Pasti semua anggota Osis lainnya juga tidak pulang.
"Lah Lo gak ikut nyiapin acara entar malem Dav?" tanya Dewa, Dava menghembuskan nafas kasar.
"Sorry, Gue mau antar Dea dulu. Entar Gue pastiin tampil baik di acara, meski Gue gak latihan terakhir." Jordan mengangguk, Ia juga tidak bisa memaksa. Apalagi Dava sebenarnya bukan anggota Osis begitupun juga dengan Dewa Bintang Zacky dan Fani. Mereka hanya sekedar membantunya dan anggota lainnya, Dia juga sudah sangat bersyukur Dava mau membantunya sampai sejauh ini.
"Sorry, gue duluan ya?" Ucap Dava beranjak dari para temannya sebelum mereka membalas ucapannya, Zacky dan Bintang yang tahu hanya bisa mengedikkan bahu pasrah. Kini hanya tinggal mereka yang tersisa sebagi anggota Osis lama.
"Lama nunggu?" tanya Dava yang telah sampai di hadapan Dea yang menunggunya di parkiran. Dea menggeleng, Ia tidak masalah menunggu Dava yang sedang berpamitan pada semua anggota Osis yang lain.
"Siap." ucap Dava setelah bunyi klik pada helm yang Ia pakaikan pada Dea. Dea terseyum mendapat perlakuan manis Dava yang terus membuatnya merasa menjadi wanita yang sangat bahagia. Tanpa Dava sadari itu dan membuat Dea merasa spesial untuk Dava.
Dea memegang pinggang Dava erat, Dava hanya mampu tersenyum.
"Kita ke rumah Mama?" tanya Dava. Dava tadi sempat mengabari Sabrina dan Sabrina begitu heboh dengan pencapaian anak dan menantunya hingga Ia mengundang Tamara dan Ferdy ke rumah untuk acara syukuran, bersyukurlah juga karena Ferdy dan Tamara tidak sedang bekerja hari ini.
****
Setibanya di rumah Dava membuka pintu agar Dea dapat masuk lebih dulu, di ikuti Dava di belakangnya menutup pintu kembali.
"Surprise!" teriakan itu menggema saat Dea dan Dava membalikkan badan mereka dari pintu, Dea dan Dava menahan senyumnya karena semua anggota keluarga berkumpul.
Ini Dava hubungi Mamanya baru 3 jam yang lalu tapi semua orang sudah berkumpul. Ada Tamara dengan couplenya Ferdy lalu Sabrina dengan Fandy dan juga ada Sean yang sudah berganti baju santai.
"Papa." Dea berhambur memeluk Ferdy yang seminggu ini berada di Singapura guna mengepakkan sayap bisnisnya. Dea begitu rindu pada sosok Papanya yang jarang Ia temui ketika Ia sudah menikah.
__ADS_1
Ferdy menerima pelukan Dea dengan senyuman bahagia seorang Ayah, bangga juga membayangi seluruh otak pria itu. Sudah biasa Dea mendapat juara dan di akhir ke lulusan dengan nilai tertinggi itu membuat nilai plus tersendiri bagai Ferdy. Sudah biasa tapi tetap saja rasa bangga tidak pernah luntur untuk gadis mandirinya.
"Katanya anak Papa ini jadi murid terbaik ya di sekolah?" Dea mengangguk dalam dekapan sang Papa, Dea malu. Bukan karena prestasi yang Ia dapat tapi karena pandangan semua orang kini terarah padanya.
Tamara berdehem.
"Mama gak ikut di peluk ini?" Tanya Tarama, Dea dan Ferdy terkekeh lalu mengulurkan tangannya pada Tamara agar ikut bergabung dalam pelukan itu.
Sama halnya Dea, Dava mendapat pelukan hangat dari pada Papa dan Mamanya serta Kakak satu-satunya yang Dava punya.
"Selamat ya Sayang." Ucap Sabrina bangga meski prestasi Dava tidak sebagus menantunya tapi Sabrina patut bersyukur, gadis pintar itu menjadi menantu dan pendamping anaknya yang dengan mudahnya luluh dari sifatnya yang dingin.
Sabrina beralih pada menantunya yang sangat cantik dengan senyumnya yang sangat mempesona.
"Oh mantu Mama. Selamat ya Sayang." Dea menghambur ke pelukan Sabrina saat mertuanya itu merentangkan tangannya, Dea memeluk erat Sabrina sama seperti memeluk Tamara. Tanpa sungkan karena Dea menganggap Sabrina adalah Mamanya juga setelah Tamara, makanya Ia selalu dekat dengan Sabrina maupun Fandy juga Sean.
Jika mereka mau itu mudah, namun ini Dea dan Dava. Yang memang tahu dan mengerti bahwa ke sederhanaan yang mereka ciptakan saja sudah mampu membuat ke duanya bahagia.
"Nanti malam kalian berangkat jam berapa?" Tanya Tamara yang tahu acara perpisahan mereka nanti malam, Tamara terlihat antusias dalam pertanyaannya.
"Em mungkin setelah magrib Ma biar party nightnya gak sampai tengah malam." Jawab Dava.
"Temanya apa?" Tanya Sabrina dengan mengambilkan anak dan menantunya makanan.
"Party Ma, tapi juga gak bisa di katakan party juga karena gak formal banget." Tambah Dava, Sabrina mengangguk lalu menatap Tamara dengan mata berkedip. Dava memicingkan matanya penuh curiga akan tingkah Mamanya.
"Jangan aneh-aneh Ma!" Tegur Dava pada ke dua Mamanya, Sabrina mengedikkan bahu seperti menuduh Dava 'Jangan berlebihan deh Dav!'. Para lelaki hanya menggelengkan kepala tidak paham dengan kepala cantik para wanita dalam hidup mereka itu.
__ADS_1
"Yang jangan mau kalau dua Mama apa-apain Kamu." Ucap Dava lantang yang membuat dua wanita itu mendelik ke arah Dava. Dea hanya terkekeh tidak bisa menolak Dava juga ke dua Mamanya jika peringatan Dava itu benar-benar ada maksud.
"Memang duo Mama mau apain Aku Yang?" Tanya Dea tidak menutupi lagi ke mesraan mereka di hadapan keluarga. Namun Dea tetap harus memastikannyakan?.
"Entahlah Aku punya firasat yang sangat merugikan. Terutama buat Aku." Semua tertawa geli melihat perubahan ekspresi Dava yang tanpa mereka duga.
"Emang Mama mau apain Dea?" Tanya Sabrina sedikit tidak terima dengan tuduhan anak bungsunya itu.
"Entahlah! Aku rasa itu gak baik buat Aku." Dava mengangkat bahunya acuh. Perasaan Dava memang was-was saat Mamanya memberikan kode pada Mama mertuanya.
Semua orang tertawa dengan tingkah Dava yang mungkin berlebihan ke pada isterinya itu.
"Kamu jangan nuduh Mama yang enggak-enggak dong Dav.".
" Lo aja Dava yang takut isteri Lo bakal ke pincut sama cowok yang lebih keren dari pada Lo." tambah Sean yang mendapat pelototan tajam dari Dava.
"Gak usah provokasi deh Kak, kalaupun ada tuh kandidat terberat Gue itu Lo." Sean menjulurkan lidahnya lalu seperti orang berpikir.
"Bagaimana kalau Gue coba, iyakan Dea?" Sean menaik turunkan alisnya pada Dea yang menggelengkan kepala pelan. Tidak percaya sekaligus penolakan halus sebenarnya, ini di depan Dava loh ya? Hanya itu yang dapat Dea berikan.
"Jangan gila!" sentak Dava, bahkan paha ayam meluncur begitu saja mengenai baju Sean yang berwarna cream.
"Sial!" umpat Sean yang membuat Dava tertawa dan yang lain hanya menggeleng. Bagi keluarga Dava, ke kacauan yang Dava dan Sean buat sudah biasa terjadi. Dan sepertinya keluarga besan juga memaklumi akan hal itu. Sean mengambil tisu, membersihkan bumbu ayam yang menempel di bajunya lalu menatap Dava sang pelaku pelemparan paha ayam.
"Makanya jangan halu di sore hari, takutnya Lo bakal ke sambet mbak-mbak penunggu pohon Akasia di depan jalan sono.".
Madiun,26/07/20
__ADS_1