
pagi yang rada redup. matahari serasa enggan membuka selimut kabut pagi. udara dingin menyelusup ke sela-sela ketiak para pecandu asmara. mereka semua menjadi pengabdi dewa pemalas.
sudut sekolah SMANCERIA juga tampak sepi, karena sekolah belum juga dibuka. murid-murid masih belajar daring dari rumah. pandemi telah merampok semua kebebasan manusia. 2020 akan menjadi tahun yang paling kelabu bagi para pencinta keramaian. segalanya menjadi terbatas. karena semua harus mengatur jarak.
“selamat pagi ibu.” dua orang anak muda telah berdiri di depan Ruscita.
“ Oh, iya, selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, pak?” Ruscita agak gelagapan karena terkejut dari konsentrasinya pada buku yang ia baca di ruang guru.
“ibu ngga kenal saya ya?” tanya seorang anak muda kepada Ruscita.
“Aduh maaf, saya...” Ruscita agak kebingungan.
“Saya Gilang, anak Bapak Rusna.” Gilang menjawab.
“Oh, Rusna, Rusna udah punya anak segede ini?” Ruscita masih seperti tidak percaya
“ Ya, bu, saya sudah tamat SMA setahun lalu, di SMANDES.” Jawab Gilang
“Ow pantesan saya, ek ibu ngga pernah lihat kamu. Ibu masih sepupu dari ayah kamu, cuma udah lama ngga pernah ketemu, kan ayah kamu lama di kota kan?” Ruscita sudah agak lancar menguasai keadaan.
“ Ya, bu. Ada salam dari ayah.” Gilang menambahkan.
“Ya, salam juga, semoga sehat semuanya ya!” Ruscita tersenyum.
“trus ada apa? ada yang bisa ibu bantu nak?” tanya Ruscita
“begini bu, ini Swarnita, masih ada hubungan keluarga sama saya, seminggu yang lalu ayahnya meninggal, kan dia udah dari kecil ngga ada ibunya, jadi...” Gilang belum selesai menjelaskan.
“Oh, ya ampun, mogi amor ring acintya. yang sabar ya nak. kelas berapa nih si Swar?” Tanya Ruscita
__ADS_1
“saya baru kelas X bu, di kelas X4.” Jawab Swarnita agak malu.
“maaf ibu ngga dengar kalo ayah kamu telah meninggalkan kamu. yang kuat dan sabar ya nak. Tuhan pasti slalu ada untuk kita semua.” Ruscita memberikan semangat.
“Itulah bu, jadi tujuan saya kesini agar ibu berkenan membantu untuk pengurusan beasiswa, agar dia tetap bisa melanjutkan sekolahnya bu.” Gilang menjelaskan. Ruscita tersenyum menatap kedua anak itu.
“Ibu pasti bantu nak.” Ruscita mengembil tas kecilnya, dan beberapa lembar uang ia sodorkan ke Swarnita. Kedua anak itu menolak, tapi bersikeras Ruscita telah mengalahkan rasa malu kedua anak itu.
Perjalananan sang waktu kian tiada yang mengerti. Ia lakon segala cerita sekehendak hati, entah berhati atau tidak. sang waktu hanya bergerak tiada henti, melahap segala yang ada di dunia. tanpa sisa.
Ruscita dan temannya sekantor. Guru BK. meluncur ke tempat Swarnita, anak yang kini telah menyandang status yatim piatu, karena sang waktu telah merenggut satu-satunya orang tua yang selama ini telah menemani hari-harinya.
Ruscita dibonceng Ibu Ianti, guru BK yang menangani permasalahan anak-anak sekolah.
“ini rumahnya bu Rus?” Tanya Bu ian.
“Ya, bu, rasanya ini, saya juga rada-rada lupa, soalnya lama banget ngga pernah kemari.
“Ya, masa lalu bu, masa anak-anak.” Jawab Ruscita
“Selamat siang” sapa Bus Ruscita dengan Ibu Ianti.
“iya, selamat siang ibu-ibu.” jawab seorang laki-laki dari teras rumah.
“Wow, Ruscita?” serobot laki-laki itu setelah yang ia lihat Ruscita dan seorang teman wanitanya.
“Oh, Ya, mas, eh pak.” Ruscita agak kikuk.
“Apa kabarmu, lama tak jumpa kau. wah sudah guru nih. Oh maaf ibu, silahkan duduk, saya teman lama Ruscita bu.” Lelaki itu menjaleskan denga gamblang.
__ADS_1
ada rasa yang tersangkut di hati Ruscita. Hal tu yang membuatnya agak kikuk dan kaku menguasa situasi.
“Ini benar rumah Swarnita ya?” Tanya ibu ianti.
“Betul bu, kebetulan saya tetangga satu wilayah disini, jadi saya juga datang kemari sekedar memberikan bantuan, seadanya bu, kasihan anak yatim piatu.”Jelas lelaki itu.
“Kamu tambah muda aja Rus.” desak lelaki itu.
“ngga juga, maaf kami kemari agar bertemu Swarnita.” Jelas Ruscita.
Swarnita datang dari kamar kemudian menunduk kepada kedua gurunya. tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan kecuali menyembunyikan rasa malu dan sedih kepada tamu-tamunya. Ibu ianti kemudian membuka percakapan dengan Swarnita. itulah tugas guru BK. setelah beberapa saat Ruscita bangkit dari duduknya kemudian berjalan melihat-lihat sekeliling rumah Swarnita.
“Kamu masih memikirkan masa itu Rus?” pertanyaan itu mengejutkannya. Ada seseorang yang telah mengikutinya melihat-lihat sekeliling rumah. Perlahan Ruscita membalikkan tubuhnya.
“Mas. maaf aku telah melupakannya. sengaja untuk melupakannya.” Ruscita menjawab.
“Jangan bohong Rus. Masa itu tak mungkin terlupakan. Aku saja belum mampu melupakannya.” Jawab lelaki itu.
“Tapi aku sudah melupakannya mas. dan itu harus aku lakukan. biarkanlah hidup kita ini kita jalani bersama orang yang memang seharusnya menemani kita mas.” Jawab Ruscita. Pandangan matanya ia lepaskan sejauh mungkin dari kenangan itu.
“tapi aku belum bisa Rus.” Desak lelaki itu.
“Jangan mas. Jangan kau bangkitkan masa lalu itu. aku telah menjadi istri dari suami aku, dan kamupun telah memiliki istri yang kau pilih untuk menemani hidupmu, kita sama-sama telah memiliki keluarga.” Ruscita menatap mata lelaki itu.
“maaf Rus, aku tidak akan melupakan kamu, masa lalu itu. Terserah kau. bagiku mencintai adalah takdir dan berkeluarga adalah nasib. Nasibku tak bisa menjadikanmu istriku, tapi cintaku jangan kau haruskan aku untuk mengapusnya. terserah kau! masih mencintaiku atau tidak itu hakmu. aku hanya menanyakan sisa-sisa masa lalu itu.” Lelaki itu kemudian pergi dari hadapan Ruscita. Seorang laki-laki yang dulu pernah menambatkan cinta padanya. namanya Juna Arianta. Juna Arianta pernah menjadi harapan hidup. menjadi tema mimpi-mimpi indah masa remajanya.
Tak sadar air mata Ruscita telah membasahi pipi halusnya.
“Bu Rus...” suara Ibu ianti terdengar dari balik tembok kamar.
__ADS_1
Segera Ruscita menyeka pipinya. kemudian menuju ke tempat ibu ianti bersama Swarnita.
Rumah murid yang masih memiliki hubungan kerabat dengannya telah mengingatkan masa lalunya yang manis, tapi tiada terasa manis lagi. Itulah misteri waktu...