
“Ibu mau minum?” Tanya Rio pada Ruscita.
“Terima kasih Rio.” Ruscita meneguk air mineral yang disodorkan Rio. Dahaganya terlepas. Kerongkongan yang awalnya kering, kini basah oleh air pemberian seorang murid yang teramat ia sayangi.
“Masih Jauh bu?” Tanya Sisca dengan nafas agak tersengal. Ia pegangi lututnya dan menghela nafas melepas kepenatannya.
“Udah dekat nih, belokan lagi sekali dan turunan, nnyampe dah.” Jawab Ruscita dengan senyuman memandangi Sisca.
“Topan dan Anto kok belum muncul-muncul?” Tanya Ruscita sembari menoleh-noleh jauh keujung jalan yang telah mereka bertiga lewati.
“Paling lagi sibuk photo-photo bu, mereka senengnya begitu.” Jawab Rio.
“Bagus juga buat dokumetasi.” Jawab Ruscita kembali dengan senyumnya.
“Kita jalan aja bu, ntar mereka pasti nyusul, jalan kan cuma ini doang, ngga ada jalan bercabang.” Terang Rio sambil mengulurkan tangan pada Ruscita karena jalan agak menanjak. Ruscita meraih tangan Rio dan naik mlewati jungkatan tahan yang lumayan tinggi. Selanjutnya Rio menjulurkan tangan buat Sisca.
Jalan setapak menuju rumah Pajo dan Atum kembali membuat trauma Ruscita bangkit. Ia tak mampu melupakan peristiwa yang menimpanya. Masih beruntung nyawanya selamat, walau ia harus kehilangan tas kecil dan beberapa barang penting di dalamnya. Lamunannya membuat jalan terasa lebih singkat ditelusuri.
“Udah, ini dah rumahnya. Mudah-mudahan orangnya ada.” Terang Ruscita.
Sisca dan Rio menghela nafasnya. Menata nafasnya yang bagaikan geburan angin fuyuh.
“Permisi Pak, Pak Pajo, Atum, permisi.” Ruscita memanggil manggil dari depan pagar rumah.
“Misi Pak, Buu.” Rio menimpali.
“Wah akhirnya nyampe juga kita. Kalian cepat sekali jalannya.” Keluh Anto.
“kamu sih jalannya kayak keong.” Canda Sisca.
“Nih, sih Topan, dikit-dikit ngaso, dikit-dikit minum.” Terang Anto.
Topan menggeleng-geleng, dengan dahi mengernyit dan masih menata nafasnya.
Seorang perempuan keluar dari bilik rumah sambil menata kain yang dikenakan. Ia Rapikan rambut yang agak acak-acakan.
“Ya, maaf lama menunggu. Och Ibu Ruscita, waduh jauh-jauh ke tempat kami bu.” Jawab Atum.
Ruscita tersenyum dan memeluk Atum. Saya mau ngucapin terima kasih ke Atum, udah nolongin saya waktu kemaren, coba kalo ngga ada atum dan Pak Pajo, udah jadi apa saya.” Terang Ruscita penuh dengan senyum.
“Mari-mari bu, ayo adik semua, ini siapanya ya bu? Maaf.” Tanya Atum.
“Anak-anak kelas. Mereka bersedia menemani saya mengunjungi Atum, sambil rekreasi katanya.” Terang Ruscita.
“Kok sendiri Atum, Pak Pajonya mana?” Tanya Ruscita.
“Lagi ke hutan bu, nyari kayu, nyari buah-buahan dan sayur. Kerjaan sehari-hari lah bu.” Jawab Atum.
“Berladang ya bu?” Tanya Sisca.
“Ya begitulah dik, la wong namanya juga tinggal di pegunungan.” Jawab Atum merendah.
“Hebat ya, bisa bertahan hidup di dalam hutan gini, kalo kita udah nyahok nih.” Gurau Topan.
“Yah sekelas lho pasti nyahok lah, orang makan tinggal beli aja kamu susah makannya kalo ngga dibeliin ibu, huuu.” candaan Anto.
Topan mencibir sahabatnya. Semua tersenyum gembira.
__ADS_1
“Sebentar ya bu, adik, saya bikinkan minum.” Kata Atum.
“Ngga usah reput Tum, kami bawa minum kok. Kasih Bu Atumnya yang kita beli untuk kasih ke Bu Atum.
Dengan sigap Anto mengambil tas belanjaan yang penuh dengan belanjaan makanan dan minuman yang dibelinya di kota.
“Wah, kok repot begini ibu.” Kata Atum.
“Ngga kok, makanan ringan. Dan juga kami kayaknya akan merepotkan Atum lagi deh. Kami ingin menginap satu atau dua malam di sini. Ada yang perlu kami cari soalnya.” Terang Ruscita.
“Ya Ngga apa-apa bu, malah atum senang ada teman disini, cuma mohon maaf tempat tidurnya seadanya.” Atum merendah.
“Ngga kok.” Ruscita melihat-lihat sekeliling bilik berdinding bambu itu.
“Atum!” suara lelaki dari halaman rumah.
“Oh Pajo sudah datang bu.” Terang Atum kepada Ruscita.
Atum dan Ruscita keluar bilik untuk menyamperi Pajo.
“Walah dalah ada Mba Rus toh, waduh jauh-jauh mengunjungi kami.” Pajo menyapa dengan mata sedikit genit. Hal itulah yang sesungguhnya membuat Ruscita kurang enak hati. Padahal ia ingin sekali mengucap terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pajo yang telah banyak menolongnya waktu lalu. Tetapi Pajo sepertinya memiliki tabiat yang kurang menyenangkan kalau melihat wanita yang agak bersih dan cantik.
“Ya pak, saya lagi merepotkan bapak dan Atum istri bapak. Maaf sekali.” Terang Ruscita sedikit tersenyum.
“Ngga apa-apa lho Mbak, saya senang sekali malah kalo Mbak sering-sering main ke rumah kami. anggap Rumah sendiri walau jelek. Pajo tersenyum agak menggoda.
“Udah dibikinkan minum Mbak Rusnya Tum?” Tanya Pajo kepada istrinya.
“Belum Mas.” Jawab Atum.
“Wah gimana toh kamu ini. Ayo bikin minum. Ayo Mbak masuk!” Ajak Pajo.
“Siapanya ini Mbak?” Tanya Pajo.
“Anak-anak kelas pak.” Jawab Ruscita.
“Anak kelas?” Pajo kebingungan.
“Iya pak, saya kan guru, jadi ini murid-murid saya, yang saya ajar di sekolah.” Terang Ruscita.
“Ooo, murid toh. Wah saya kapan ya punya murid segede ini?” Pajo berharap.
“Emang anak Pak Pajo seberapa, kok ngga lihat waktu kemaren?” Tanya Ruscita.
Pajo tertunduk. Ia buka topi dan mengelap tubuhnnya penuh keringat.
“Anu Mbak, saya belum dikauniai anak. Sudah sebelas tahun kami menikah dulu, dan sudah hampir tujuh tahun saya disini, belum ada tanda-tanda atum Hamil Mbak.” Terang Pajo dengan nada melemah.
“Oh maaf Pak Pajo, saya sudah membuat hati bapak sedih.” Ruscita seperti memelas.
“Ngga apa Mbak.” Jawab Pajo.
“Sisca katanya mau jadi anak bapak.” Topan nyeletuk dari pojok bilik. Nada candaan membuat suasana sontak ramai dengan tawa-tawa.
Huss, kamu tuh Pan. Kenapa ngga kamu aja. Kamu kan terlatih di hutan. Kau kan anak Tarzan.” Serag Sisca.
Semua tertawa.
__ADS_1
“Kami merepotkan bapak lagi, kami akan menginap lagi satu sampai dua malam disini, selain itu bapak kami mintai untuk bisa mendampingi kami mencari tempat dimana saya pernah disekap dan dirampok pak.” Terang Ruscita.
“Ngga apa-apa Mbak, saya malah senang.” Jawab Pajo.
“Ibu masih bisa mengingat-ingat tempat ibu dengan perampok itu?” Tanya Rio.
“Setahu ibu, ruangan bilik seperti ini, dindingnya papan dengan cat putih yang sudah kotor Rio. Pas Ibu sudah ditinggal, diluar sudah gelap. Dan Hanya lampu rumah Pak Pajo ini yang ibu liat kecil dari kejauhan. Dan hanya dengan terus menuju cahaya kecil lampu rumah ini ibu bisa sampai di tempat ini. Ibu ngga tahu arah.” Terang Ruscita.
“Kalau rumah dengan dinding papan, adanya jauh di utara Mbak. Itu dulu kantor polisi Hutan. Tapi lama sudah tak ada yang patroli, kadang-kadang orang-orang yang pakai motor dengan roda bergerigi segerombolan disana.” Terang Pajo.
“Bapak tahu tempat itu?” Tanya Rio.
“Tahu dik, tapi kesananya jangan sekarang, sudah sore, nanti kemalaman dijalan.” jawab Pajo.
“Besok pagi kita lihat tempat itu bu.” Pinta Rio.
“Iya Rio.” Jawab Ruscita.
“Silahkan diminum tehnya bu, adek!” Atum mempersilahkan tamunya.
“Makasi Atum.” Kata Ruscita. Demikian pula anak-anak yang lain.
“Nanti Mbak tidurnya di kamar yang kemaren yah. Anak-anak agar maklum di bilik ini.” Terang Pajo.
“Iya pak, terima kasih. Saya sama Sisca. Rio, Topan dan Anto di ruang ini ya. Kalian bisa kan tidur tanpa lampu. Pak Pajo dan Bu Atum pake lampu minyak disini.” Terang Ruscita.
“Tenang bu, kami bawa lampu LED, PowerBank juga sudah siap. Untuk dua malam cukup bu.” Terang Anto.
“Kalo mandi sama BAB gimana?” Tanya Topan.
“Mandinya dibelakang dik, kamar mandi seadanya. Kalo mau mandi disungai juga boleh, deket sini ada sungai. Nanti Bapak antar. deket kok, cuma jalannya turunan.” Terang Pajo.
“Terima kasih banyak Pak.” Kata Ruscita. Pajo tersenyum gent pada Ruscita. Hal yang paling membuat Ruscita risih dalam segala kebaikan yang mereka-Pajo dan Atum miliki.
Malam kian pekat. Suara hewan hutan telah terdengar. Irama alam yang memenuhi waktu dalam hutan. Anak-anak itu sibuk dengan gawai mereka masing-masing. Lampu tempel meliuk-liuk menahan hembusan angin yang menembus dinding bambu. Udara dingin merasuk. semua dengan selimut mereka masing-masing.
“Ini Teh hangatnya adik-adik semua.” Kata Pajo telah membuat teh dalam wadah yang terbuat dari bambu.
“Makasih Pak.” Kata Topan sembari tersenyum pada Pak Pajo.
Kemuadian Pak Pajo masuk dalam kamar Ruscita dan Sisca sambil membawa teh dalam wadah dan dua buah gelas kosong. Rio melirik Pak Pajo dengan mata sedikit kurang enak. Beberapa saat Pak Pajo keluar. Topan menuangkan teh kedalam tiga gelas, dan langsung meminum segelas teh hangat.
“Nih minum, enak lho hangat. ada rasa jahenya.” jelas Topan. Lalu melilit tubuhnya dengan selimut. Anto menaruh HP dan mengambil segelas teh yang dituanngkan Topan. lalu kembali pada HPnya.
Malam kian melarut. Suara dengkuran telah memenuhi rumah itu. Rio belum bisa menutup matanya. Ia rebahkan tubuhnya dengan lilitan selimut. Sama seperti dua kawannya-Topan dan Anto. Setelah beberapa saat, pintu kamar Pak Pajo terbuka dengan perlahan. Pelan sekali seperti memang sengaja agar tidak berbunyi. Rio menutupi wajahnya dengan selimut, namun masih bisa melihat sekeliling. pak Pajo terlihat keluar kamarnya, dengan sedikit mengendap-endap Pajo mendekati Topan dan Anto. Disentuhnya kaki anak-anak itu, tapi tak bergeming. Mereka masih dengan dengkurannya. Kemudian kaki Rio digoyangkan Pajo. Rio pura-pura tak merespon. Hatinya menjadi curiga dengan laki-laki paruh baya itu.
Pajo kemudian melangkah dengan hati-hati menuju kamar Bu Ruscita dan Sisca. Rio berdebar. Nafasnya mengencang. Sudah ia simpulkan bahwa Pajo akan melakukan hal-hal yang tidak senonoh pada guru dan temannya Sisca. Ia tahan maksudnya, karena ia belum sepenuhnya paham. Setelah Pajo benar-benar masuk dalam bilik Ruscita dan Sisca, Rio bangun dan mengendap-endap. Ia intip dari celah dinding, apa yang dilakukan Pajo dalam kamar. Lampu tempel yang meliuk-liuk mengaburkan bayang-bayang dalam ruangan. Rio menempelkan matanya pada dinding.
“Sial orang tua itu, kurang ajar.” Umpat Rio dalam hatinya. Dadanya bergemuruh.
Ia pukul dinding gedek bambu, yang membuat Pajo terkejut dan langsung keluar kamar.
“Mas, Mas, suara apa itu mas?” Suara dari dalam kamar Pajo. Pajo langsung masuk ke dalam kamarnya. Rio sudah dalam posisi tidur kembali. Rio heran, mengapa Ibu Ruscita dan Sisca tidak bangun setelah ia pukul dengan keras dinding gedek kamar itu. Rio mengguncang tubuh Topan yang tidur ditengah-tengah, dan Anto disebelah Topan. Topan tidak bangun begitu pula Anto. Mereka tidur sangat lelap. Rio tak bisa memejamkan mata. Ia marah dan dadanya terasa panas.
Malam kian melarut, Rio ambil HPnya. Ia lihat angka dalam HPnya. 03.00. Matanya belum bisa terpejam. Ia teringat terus dengan kelakuan Pajo dalam kamar Bu Ruscita dan Sisca.
...Thank you readers 💚...
__ADS_1
ayo dukung author! dengan like,komen and vote✨💚 see you readers💚✨