Hidrokarbon

Hidrokarbon
"sang penista''


__ADS_3

“Guru memberi tugas. Guru tidak mengajar. Gaji tetap mengalir ke kantong. Sedangkan murid, terus membuat tugas, terus beli paket internet...” Sebuah status di WA.


Status yang di,miliki oleh seorang murid bernama Handoko. Murid dengan seorang ayah tokoh parpol terbesar di daerahnya. Parpol penguasa.


WA group sudah ramai dengan beragam pendapat. Handoko menjadi tokoh pendobrak di masa pandemi ini dengan statemen vulgar. Guru tiada mengajar tapi tetap digaji, murid harus menderita dengan tugas-tugas dari guru. Group menjadi ribut. Ribut mengecam para guru.


Pagi yang sunyi. Enam bulan sudah jalanan menuju sekolah jarang terdengar deruan suara motor berkejar-kejaran mengejar sang waktu. Pukul 07.00 wita biasanya jalanan penuh dengan desingan suara knalpot dan asap mengepul memenuhi ruas jalan. Jalanan ramai. Tapi pagi ini, masih lengang, hanya beberapa pejalan kaki yang berjalan dengan masker menutupi hidung dan mulut. Mereka para ibu-ibu yang berbelanja sekedarnya untuk makan keluarga mereka. Epidemi telah mengubah segalanya.


Rio, terbangun oleh teriakan HP nya yang berdering. Jam weker, pengingat waktu yang ia setel kemaren malam. Telah menepati janjinya untuk membangunkannya pukul 07.00 pagi. Diambilnya HP itu, didiamkannya. Seperti seorang ibu yang dengan sigap meninabobokan bayinya ketika menangis. Begitu istimewanya android di masa kini.


“Wow, pada ribut apaan nih?” Rio mengernyitkan dahinya, karena tak paham apa bahasan di group. Begitu banyak pendapat, begitu banyak hujatan.


“Nih ngomongin apa ya?” Rio belum tahu pokok persoalan.


Segera ia pencet tobol-tombol androidnya, dan, serrr terkirim.


Di HP Sisca ada pesan masuk.


“Pada ngributin apaan Sis?” Pesan WA dari Rio.


“Ach, dia, pasti baru bangun nih.” Hela Sisca membaca pertanyaan Rio.


Segera ia jawab dengan rekam suara. “We, baru bangun ya? Kau nih ngga berubah berubah, tetep aja.” Terkirim.


“Pada ngributin statusnya Handoko, baca tuh statusnya, kini banyak yang menyerang para guru, termasuk orang tua murid.” tambah Sisca dalam rekam suara WA.

__ADS_1


Rio segera melihat status Handoko.


“Gila, anak sialan itu, sok-sokan membela rakyat. Cih...******** kelas sebelah ini, emang gemar bikin sensasi.


Rio kembali memencet-mencet androidnya, ser terkirim. Entah peperangan apa yang terjadi selanjutnya. Perang tagar, perag statemen, perang cacian dan sebagainya. Itulah perang di zaman android ini. Melelahkan pikiran, menguras energi otak. Perang otak tepatnya. Perang urat saraf.


Rio mencueki HP nya, dia kesal dengan gerombolan Handoko kelas sebelahnya. Geng sekolah saingan geng Rio berulah. Membuat Rio sedikit geram. Padahal ia ingin berubah, berubah untuk menjadi murid yang baik.


Tiga hari sudah Rio tak hirau HP. Dia mencari kesenangan baru. Menata kebun bunga rumahnya. Ibu dan Ayahnya menjadi agak terkejut dengan perubahan prilaku Rio. Tapi Ibu dan Ayahnya tidak serta merta mencari keterangan dari Rio. Dibiarkannya anak itu bertumbuh menjadi pria dewasa. Ayah Ibunya senang. Bunga-bunga di taman rumahnya Rio sulap, bahkan dibelinya bunga-bunga yang baru. Menambah keindahan kebun rumahnya.


“Selamat Siang Bapak, apakah ini betul Rumah Rio anak SMA...” Salah satu personel Polisi berbicara kepada ayah Rio.


“Ya, pak, ada apa ya? anak saya tidak dapat kemana-mana, apa yang dia lakukan pak polisi?” Ayah Rio gemetar dan sedikit gugup.


“Kami menerima laporan dari pelapor bahwa, anak bapak Rio telah mencemarkan nama baik seorang anggota DPRD, jadi anak bapak kami tahan untuk kami mintai keterangan.


Rio akhirya digelandang oleh Polres, untuk dimintai keterangan.


Tiga hari sudah, SMA tempat Rio dan teman-teman sekolah geger, Rio ditangkap karena mencemarkan nama baik.


Ruscita tak kuasa menahan tangis, mendengar Rio ditangkap polisi.


“Ibu menangis?” Tanya Sisca.


“Ya, nak, ibu tak tahan, Rio anak yang baik, kenapa ia mendapat perlakuan seperti itu?” Ruscita tersengal.

__ADS_1


“Ya bu, kami anak-anak yang tak tahu apa-apa, harus berurusan dengan aparat penegak keadilan. Rio hanya menyatakan kalau bapak-bapak DPR juga jangan hanya tidur saat ada wabah ini. Ia tulis itu menentang status yang ditulis Handoko bu.” Sisca menjelaskan. Hari-hari menjadi sangat suram. Keadaan saling hujat dan menghujat menjadi trending di medsos.


Tujuh hari sudah Rio ditahan.


“Rio,?” Ruscita memanggil Rio dibalik sel tahanan.


“Oh Ibu? Mengapa ibu menjengukku bu?” Mata Rio berkaca-kaca, jauh dari watak sebelumnya.


“Mengapa kau lakukan itu Rio?” Tanya Ruscita, Guru kimia Rio.


Rio tertunduk.


“Aku, aku kesal dengan hujatan Handoko bu. aku tak terima kalau dia seenaknya menyebut para guru makan gaji buta. Aku anak nakal bu, tapi aku insaf karena didikanmu, karena kasih sayangmu bu Rus.”


Ruscita tak kuasa menahan air matanya. seandainya mereka berdekatan, akan ia peluk anak didiknya itu.


“Kamu anak baik, Rio, ibu bangga. Tapi jangan kau sia-siakan waktu remajamu, dengan hal-hal tak berguna seperti ini.” Ruscita berkata.


“Tidak bu, ini berguna. Ini sangat berguna. Aku kagum pada perjuanganmu bu, dirimu inspirasi pejuang pendidikan bus Rus. Aku bangga padamu bu. Jadi yang menghina, guru-guruku, akan aku libas, akan aku tantangi. Walau aku tahu, aku bukan siapa-siapa bu. Aku punya nurani. Aku punya rasa perikemanusiaan. Seharusnya, Handoko yang tak tahu malu itu, yang ibu berikan peringatan agar tidak melakukan hal-hal yang tak berguna.


“Ya, nak, ya, tapi, apa yang bisa kita lakukan untuk membebaskanmu, nak?” Ruscita terus menangis.


“Bu, aku sudah yakin dan benar-benar merasa terlindungi, oleh air matamu itu. air mata seorang guru kepada muridnyaa. aku punya nasib sendiri ibu guruku. Kasih sayangmu selama ini kepada kami, telah mendidikku untuk menjadi yang sepantasnya. nasibku adalah karma yang harus aku jalani ibu. Terima kasih atas kasih sayangmu pada kami.” Rio kemudian digelandang kembali ke ruangan tahanan.


Ruscita hanya mampu menangis, entah rasa apa yang sedang berkecamuk dalam dadanya. Hingga ia harus sedih seperti itu.

__ADS_1


“Prinsip-prinsip itu, yang membuatku selalu memperhatikanmu nak, kau seperti suamiku. Keras, dan tiada rasa penyesalan jika sudah merasa benar. Semoga kita segera bisa kembali berkumpul untuk belajar bersama nak. Bercanda, belajar, dan berdiskusi, mempersiapkan masa depan kita.


__ADS_2