
“Aku harus selalu mengingatkan, karena aku berhak untuk bahagia
Jus melon dalam gelas dengan lekuk yang menawan serta lelehan coklat pada pinggir-pinggir gelas membuat sang penikmat sangat menikmati. Namun hal itu tidak terjadi pada Rio.
“Sial, dimana duit aku ya? Apa diambil Anton saat minum alkohol di basecamp? Sial pokoknya sial.” Gerutu Rio dalam hatinya. Hatinya gelisah. Pemuda yang banyak akal dan selalu bisa menguasai medan pergaulan adalah dia. Tapi saat ini dia diujung kekalahan. Hatinya kini ciut. Mengkerut. Tiada celotehnya, tiada kejahilannya lagi. Sisca menikmati nasi goreng pesanannya dengan lemon leci yang teramat segar. Baru kali ini Sisca bersedia ditraktir Rio yang selalu mengganggu hari-harinya di sekolah.
“Kamu kok ngga dimakan nasgornya?” Tanya Sisca kepada Rio.
“Oh. nggak, ntar dimakan kok, nih mau dimakan, sekarang, he, hi..” Rio rada keblinger. Minder. Kaku. Kalah gaya. Tidak seperti biasanya.
“Hai nak, wah ada yang makan bareng nih.” Rio dan Sisca rada tersentak di belakang mereka ada yang berbicara.
“Eh, ibu, maa.. makan bu.” Sisca terbata bata. Menahan rasa malu. Mukanya rada memerah.
“Ya, Ibu juga mau makan nih, silahkan dilanjutkan nak!” Bu Rus tersenyum kepada mereka berdua, sembari menuju sebuah meja makan yang terletak di pinggir kolam koi.
“Yo, aku malu banget sama Bu Rus.” Celoteh Sisca pada Rio
“Sama, aku juga.” Rio menjawab ala kadarnya. Ia masih berkutat pada pikiran kacaunya. Ia masih mengumpulkan semua kemampuannya untuk menanggung rasa malu pada wanita yang ia sangat puja-puja. Kali pertama bisa mengajak Sisca makan sebagai awal ped-katenya.
“Aku kebelakang sebentar ya.” Rio langsung kebelakang. Entah kebelet pips atau apa. Mungkin mengeluarkan ajian jail pamungkasnya.
“Sial, Sial. Kenapa keberuntungan tidak memihak aku sekarang? HP ngga ada pulsa. Jadi ngga bisa minta tolong ke siapa. Gimana ya? Masa aku harus gadein ktp di kasir? Kalo Sisca sampai tahu, waduh, bisa mlorot harga diriku. Dan, ach dia malah ngejauhin aku, waduuuhhh. Sial.” Rio mengumpat-umpat dalam kamar mandi. Ia siram kloset. Padahal ia tidak mengeluarkan urien nya.
__ADS_1
‘Ups...hampir saja.” Bu Rus hampir bertabrakan dengan Rio karena pintu toilet yang mereka gunakan bersebrangan. Mereka keluar bersamaan. Seperti film bollywood saja. Untungnya antara murid dengan guru.he he.
“Wah, maaf bu, maaf, saya ngga liat ibu.” Rio membungkuk, tidak seperti biasanya. Selalu percaya diri.
Ruscita. Guru kimianya tersenyum.
“Ayo lanjutkan makannya.” Ajak Ruscita pada Rio.
“Ya, silahkan bu.” Rio menjawab.
Ruscita berjalan mendahului Rio yang masih mematung di depan pintu toilet. Tanpa solusi atas masalah besarnya. Uang dalam dompet untuk mentraktir Sisca hilang. Harapannya hancur. Pikirannya buntu.
Rio berjalan menuju meja makan. Sisca telah menghabiskan makan dan minumnya.
“Cepet habisin. Kita Pulang.” Ajak Sisca.
“Pulang?” Sergah Rio.
“Ya, pulang, emang mau kemana?” Sisca rada ngotot.
“Waduh, ya, aku habisin dulu makannya.” Rio duduk lalu mencoba memakan nasi goreng dan meminum jusnya. Rasanya hambar. Tak semanis harapannya.
“Ibu duluan ya nak.” Sapa Bu Rus.
__ADS_1
“Oh, ya bu, mari bu.” Jawab Sisca. Rio masih mencoba merasakan pedasnnya nasi goreng dan dinginnya jus melon. Tapi tiada rasa.
“ Aku yang bayar ya Yo!” Sisca mengangkat duduknya.
“Eh, jangan aku, aku yang bayar. Jangan, Aku yang bayar, aku kan laki, dan yang ngajak makan kan aku. Aku yang bayar.” Rio dengan kegagahannya seperti biasa. Tiada tanding dalam gaya dan gaul. Rio langsung menuju kasir. Depan kasir hatinya mengkerut. Ia buka dompetnya disertai hayalan. bim salabim dalam dompet ia berhayal ada uangnya dua ratus ribu. Ia pejamkan matanya. dan....
Amzyong....kosong. Tetap kosong seperti saat ia tiba di depan cafetaria tempat ia mengajak cewek idamannya untuk ia dekati dengan makan sambil gmbal gambilin si Sisca. Tapi kandas, malah kena masalah duit hilang dalam dompet. Dasar Rio.
Mukanya merah. Harapannya hanya satu KTP. KTP yang kan jadi taruhan ditambah muka memelas dan menahan geburan rasa malu.
“Bu, berapa semua?” tanya Rio dengan nada lemas gemetar.
“Meja 4 ya?” Tanya kasir.
“Ya Bu...Tapi saya...” Rio melihat ke arah Sisca. Ia takut kalo Sisca memerhatikannya. Tapi tidak. Sisca sibuk dengan Androidnya.
“Ini notanya gus. Terima kasih atas kunjungannya, besok-besok agar berkenan kembali, terima kasih.” Kasir menyodorkan nota dengan stempel LUNAS.
“Kok?” Rio heran. Mukanya tanpa daya. Tanpa kepedeeannya lagi.
“Tadi dibayar sama ibu-ibu yang cantik yang duduk disana.” Kasir menunjuk sebuah meja dekat kolam ikan koi.
Rio mematung, ia langkahkan kakinya menuju tempat Sisca. Entah apa kata-kata Sisca kepadanya hampir tak terdengar olehnya. Ia menuju motor gedenya. Menstarternya. Dan membonceng Sisca.
__ADS_1
“Aku berkali-kali ditolong peri ini.” Bisik hati Rio. Sisca tiada lagi menjadi yang terutama dalam hatinya. Rio seperti mengalami perubahan yang teramat besar dalam sikap dan perilaku sebelumnya.