
“Aduh sial, bensin habis nih, sial...sial.” Rio mengumpat-umpat kesialannya. Motor cross kesayangannya kehabisan tenaga. Bensinnya zonk. ha..ha..
“Sial nih, gimana nih? Waduh pulsa amsyong pula. Aduhhh gimana ya?” Rio masih menggerutu dengan kesialan yang menimpanya. Mondar mandir ia di pinggir jalan. Pikirannya masih buntu. Harus berbuat apa. Kejahilan tak mumpuni untuk mengatasi masalah pribadinya saat ini. Bensin habis, Paket internet cekak, dan pulsa tak sedikitpun tersisa. Kecut muka mulai menjadi-jadi ketika sudah setengah jam ia harus mondar-mandir tanpa solusi apapun. Skak mat Rio.
“Lho Rio? Ngapain kamu? Tunggu siapa disini?” Rio terkejut dengan seorang perempuan yang sangat ia kenal menyambanginya ketika jalan buntu di otaknya tak punya solusi apapun.
“Ha, Ibu. Mm anu bu, gini, oh ngga kenapa bu, he.” Rio kikuk sekali.
“Kamu tuh kenapa Rio? Kok cengangak cengunguk gitu, och lagi nunggu ceweknya ya, maaf..maaf ibu ganggu...” Ibu Rus rada menjahilinya.
“Ah nggak bu, nggak, anu, mm, gini. Saya kehabisan bensin bu. Duit habis. Aku tadi dari Taman Geopark sama temen-temen. Sial bensin habis, duit juga habis bu, tadi buat jajan, hi hi.” Rio tertunduk malu.
“Oh gitu, wah dimana ada kios bensin ya, ibu cariin dulu ya, tunggu disini.” Ruscita menstarter motornya meninggalkan si Rio.
__ADS_1
“Waduh, jadi malu nih gua. Nas bedag. Bu Rus baik banget ya, aduh aku jadi malu nih, berhutang budi sama guru. Ya udah, ngga ada pilihan.” Rio berbisik dalam hatinya.
Rio duduk memasrahkan dirinya pada waktu. Menunggu peri yang kan memberinya pertolongan, Bu Ruscita guru sekolahnya.
“Untung dapet Rio. Nih bensinnya. Tapi ngga dikasi corong lho buat masukin. Gimana nih?” Ruscita datang dengan tentengan plastik berlapis-lapis, agar bensin tiidak ambyar.
“Oh ngga apa bu, bisa kok.” Jawab Rio senang.
“Terima kasih bu, aku jadi ngga enak sama ibu, nanti aku kembalikan bu.” Rio tertunduk menyembunyikan rasa malunya pada Ruscita.
“Terima kasih banyak bu, saya berhutang pada ibu. Mari bu kita sama-sama jalan!” Rio menstarter motornya. Ia persilahkan Ruscita untuk jalan duluan.
“Gila bener, aku malu banget hari ini. Guruku sendiri yang menolongku. Waduh.. Tapi aku akui Bu Rus memang baik banget. Walau aku tak suka dengan mata pelajaran yang ia bawakan. Tapi aku sangat segan dengannya.” Batin Rio menerawang dengan kejadian tadi sore.
__ADS_1
Malam kian larut, dan semua orang telah bercengkrama dengan mimpi-mimpi malamnya. Rio telah larut dalam perjalanan angannya.
Disebuah tanah lapang dengan ilalang yang sangat luas. Ia berjalan dengan tubuh terhembus oleh angin. Semakin kedalam ia tembus lapang ilalang itu. Ia terperanjat melihat sosok wanita berpayung membelakanginya.
“Wow, siapa wanita ini? Anggun sekali.” Bisik Rio dalam hati.
“Hai, siapa dirimu, hai yang memakai payung?” Tanya Rio
Wanita itu rada terkejut mendengar orang bertanya di belakangnya. Wanita itu segera membalikkan tubuhnya.
“Wow cantik sekali. Wow siapa dirimu wanita cantik?” Gelora dalam dada Rio berkecamuk.
Wanita cantik itu tersenyum tanpa kata-kata. Didekatinya si Rio, dan didekatkannya pipinya yang halus.
__ADS_1
“Waow, aku...oh aku.” Rio tersengal-sengal. Didapatinya dirinya sedang menggelinjang di atas kasur. Rio mencoba mengingat-ingat, menata nafasnya kembali.
“Wah, aku bermimpi. Mimpi aneh. Tapi sungguh terkesan sekali. Waow...aku mimpi itu. Dan aku keluar. Keluar walau hanya setetes. Ohhh...” Rio mengerutkan seluruh tubuhnya menikmati sisa-sisa perjalanan sukmanya dalam mimpi indahnya.